
Begitu lama Genta dan Liana berbincang. Dari situlah, Liana tahu jika Genta bukanlah pria seperti yang ada dalam pikirannya.
Liana memahami, posisi Genta memang sangat sulit. Mencintai seorang wanita, namun harus bisa bersandiwara dengan wanita lainnya. Berpura-pura tersenyum dan mencintai Istri palsunya.
"Pria ini hebat sekali, tidak semua orang bisa sepertinya. Bersandiwara dan terus menahan diri," batin Liana.
"Genta, bagaimana dengan Felicia dan Papanya?" tanya Liana.
"Tentu saja akan mendapatkan hukuman, Ma. Berani mulukai Maurine, aku tidak akan biarkan siapapun lolos begitu saja."
"Apa kau mengenal baik Felicia? maksudku, apakah kau tahu kehidupan atau gaya hidup Felicia, termasuk teman-temannya?" tanya Liana.
"Tidak, Ma. Aku tidak begitu peduliakan soal itu. Ada apa, Ma?" tanya Genta.
"Begini, ini hanya pemikiranku saja. Wanita sekelas Felicia, dia tidak mungkin tidak punya koneksi bukan? kau jarang perhatikan dia jiak di luar rumah, tidak kah kau perlu waspada? siapa yang tahu dia punya orang yang bisa diandalkan untuk membantunya. Yah, ini hanya pemikiranku saja."
Genta terdiam, "Mama Liana ada benarnya. Aku terlalu lalai mengawasi Felicia, siapa teman-temannya pun aku tidak tahu. Siapa orang yang dekat dengannya juga aku tidak tahu," batin Genta berpikir.
Liana menatap Genta yang melamun, "Genta, kau baik-baik saja?" tanya Liana membuyarkam lamunan Genta.
"Ahh..., maaf, Ma."
"Ada apa? apa sesuatu terjadi?" tanya Liana.
"Aku hanya memikirkan kata-kata Mama. Semua masuk di akal, tetapi aku bodoh tidak perhatian sampai ke sana," jawab Genta.
"Ingin cari tahu siapa temannya? mudah saja, cari informasi siapa saja yang melihat atau bertemu dengan Felicia beberapa waktu terakhir. Biasnaya, teman akan datang berkunjung, bukan?" ucap Liana.
"Mama hebat," puji Genta.
"Lupakan, itu hanya hal yang mudah ditebak-tebak."
"Aku akan coba cari tahu, Ma. Oh ya, aku ingin memberitahu sesuatu pada Mama," kata Genta.
"Ada apa?" tanya Liana lagi.
"Bobby semalam datang ke kantorku. Aku curiga pada pemilik club tempat Maurine bekerja dulu, tapi setelah aku paksa bicara, dia tidak buka suara pada Bobby, justru mengusir Bobby pergi."
"Bobby mencari Maurine, pasti ingin uang. Begini saja, soal Bobby aku yang akan urus. Aku juga ada sesuatu yang ingin aku katakan padanya secara langsung."
"Hm, apakah itu tidak apa-apa?" tanya Genta.
"Tidak apa-apa. Apa yang kau khawatirkan," kata Liana.
"Seperti yang sudah diketahui, Mama sekarang adalah Nyonya dari keluarga Sharloz, apakah Tuan Sharloz tidak keberatan akan hal ini? Mama tidak berncana untuk diam-diam menemui Bobby bukan?" terka Genta.
Deg....
Jantung Liana seakan berhenti berdetak. Liana diam berpikir, Liana mencerna ucapan Genta yang menurutnya benar.
"Bagaimana ini? apakah memang lebih baik aku bicara dengan Nicky? Genta benar, aku adalah Nyonya Sharloz, apa yang aku lakukan nantinya akan mempengaruhi reputasi keluarga Sharloz. Aku akan bicara saja sepulang melihat Maurine," batin Liana.
"Aku pasti akan bicara pada suamiku, Genta. Jangan khawatirkan itu," kata Liana tersenyum.
"Ya, itu bagus, Ma. Jangan sampai hanya karena keinginan sesaat Mama dan Suami Mama bertengkar," jawab Genta.
"Benar, aku sudah cukup sulit menghadapi Norry, aku tidak akan bisa lagi menghadapi murka Nicky," kata Liana.
__ADS_1
"Soal Norry, aku juga minta maaf. Sempat membuat kekacauan pada perusahaan Sharloz," kata Genta.
"Tidak apa-apa Genta. Norry memang sudah sejak lama membenciku, kebenciannya juga merambah pada Maurine yang tidak tahu apa-apa. Hanya karena tidak ingin Papanya berbagi kasih sayang dia jadi seperti itu, sebenarnya aku merasa kasihan juga, tapi mau seperti apapun jika tidak suka padaku, aku tidak bisa memaksanya."
"Baiklah, Ma. Pemhabasan kita sudah cukup panjang. Mama bisa menemui Maurine langsung, aku masih akan tinggal menunggu asistenku datang untuk melihat sebuah berkas penting."
"Baiklah jika seperti itu, Mama akan pergi sekarang. Terima kasih untuk waktumu dan penjelasanmu, menantuku."
Genta tersenyum, "Sama-sama, Mama Liana."
Liana berdiri dari duduknya dan pergi meninggalkan kedai kopi. Genta masih tetap tinggal untuk menunggu Alvian yang masih dalam perjalanan.
***
Maurine dan Liana bercerita banyak hal. Mereka berdua puas melepas rindu. Tidak beberapa lama, pintu ruangan terbuka dan Genta pun masuk.
"Kau lama sekali," sapa Maurine.
"Ada apa? merindukanku kah?" tanya Genta menggoda Maurine. Genta melangkah mendekati Maurine dan Liana.
Wajah Maurine memerah, Maurine merasa malu. Bagaimana tidak? didepan Mamanya, suaminya berani menggodanya.
Liana tersenyum, "Apa urusan pekerjaanmu sudah selesai?" tanya Liana.
"Sudah, Ma. Maaf tidak menemani Mama tadi," kata Ganta.
Maurine kaget, "Mama?" kata Maurine menatap Genta lalu menatap Liana bergantian, "Sejak kapan Mama dan Genta...," kata-kata Maurine terhenti.
"Sejak tadi," jawab Liana.
"Oh, begitu. Baiklah-baiklah," kata Maurine.
"Ada apa sayang?" tanya Liana.
Maurine menggelengkan kepala, "Tidak ada apa-apa, Ma. Maurine senang, Mama dan Genta sudah saling kenal dan dekat."
"Tentu saja. Jadilah istri yang baik untuk suamimu sayang, Mama percaya kau bisa diandalkan."
"Terima kasih, Mama."
Liana mengecup kening Maurine lembut, "Mama pulang dulu, nanti akan datang bersama Paman Nicky. Sampai nanti sayang," kata Liana.
"Ya, Ma. Maurine akan menunggu Mama datang."
Liana melambai dan lalu pergi meninggalkan ruangan Maurine. Genta merasa tidak enak, ia pun mengantar kepergian Liana sampai di depan pintu ruang kamar Maurine dirawat.
"Terima kasih sekali lagi, Ma. Dan, hati-hati di jalan."
"Hm, kau juga perhatikan kesehatanmu. Aku akan datang lagi nanti," kata Liana.
"Ya, Ma. Oh, Ma...," panggil Genta.
"Ya?" jawab Liana.
"Mama datang menggunakan apa? apa perlu aku antar?" tawar Genta.
"Tidak perlu, Genta. Ada supir yang menunggu Mama di bawah, tidak perlu mengantar sampai keluar juga. Masuk dan temani saja Maurine."
__ADS_1
"Oke," jawab Genta.
Liana berbalik dan pergi meninggalkan Genta. Genta memandangi kepergian Liana, Genta merasa jika sebenarnya Mama mertuanya adalah wanita yang baik dan cerdik. Genta pun jadi penasaran, mengapa Liana bisa sampai terikat dengan Bobby.
Genta kembali masuk dalam ruangan dan menemui Maurine. Maurine menatap Genta bertanya perihal Mamanya.
"Apakah Mama sudah pulang?" tanya Maurine.
"Ya," jawab Genta.
"Oh, kau bicara apa saja dengan Mama? ada rahasia apa diantara kalian berdua?" tanya Maurine menyelidiki.
"Sebelum aku jawab, boleh aku bertanya? sebernarnya, hubungan seperti apa yang Papa dan Mamamu jalani?" tanya Genta, " Ceritakan padaku tentang Papa dan Mamamu sayang.
"Kenapa kau tiba-tiba tertatik dengan cerita Papa dan Mamaku?" tanya Maurine lagi.
"Sudah, kita bahas nanti. Ceritakan saja apa yang kau ketahui dari orangtua mu. Aku penasaran, dan ingin sangat ingin tahu."
"Oh, oke. Aku kan ceritakan apa yang aku tahu. Aku juga dapat cerita ini dari seorang Bibi yang mengaku dulu adalah pelayan rumah di rumah Mama yang lama," jawab Maurine.
"Hm, ceritakan saja. Aku akan dengar," kata Genta duduk disamping Maurine.
***
Diperjalanan, Liana menghubungi Nicky. Liana ingin bertemu dengan Nicky di kantor.
(Percakapan di telepon)
"Ya, sayang?" sapa Nicky.
"Hallo, sayang. Boleh aku datang ke kantor?" tanya Liana.
"Datanglah, kenapa harus bertanya. Ada apa?" tanya Nicky pada Liana.
"Aku takut kau sibuk, maka dari itu aku bertanya dulu."
"Tidak sibuk sayang, datanglah."
"Baiklah jika seeprti itu, aku dalam perjalanan. Tidak lama lagi aku sampai," kata Liana.
"Oh, oke. Hati-hati di jalan sayang."
"Ya, sampai bertemu," jawab Liana yang langsung mengakhiri panggilan.
Liana merasa cemas, panik dan gelisah. Liana belum pernah lagi membahas mengenai Bobby dengan Nicky, semenjak ia memutuskan untuk pergi meninggalkan Bobby. Liana tidak ingin Nicky kesal atau jengkel, itulah mengapa Liana selalu berusaha bersikap baik- baik saja selama ini.
***
ig: dea_anggie
Line id: dea_anggie
Fb: dea anggie
Grup FB: Lelaki Bayaran Amelia
❤❤❤❤❤
__ADS_1