
Dinginnya angin malam menembus pori-pori hingga terasa sampai ke tulang yang membuat Tiara menggigil karena kedinginan. Bibirnya bergetar, sorot matanya masih menangkap kekecewaan di wajah Diko tentu Tiara tau apa yang menyebabkan Diko bersikap seperti ini.
"Aku mencintai Daniel begitupun sebaliknya." Tiara menepis tangan Diko. Meskipun tau bahwa pengakuannya ini akan semakin menyakiti hati Diko, namun Tiara harus melakukannya.
Diko mengusap wajahnya dengan gusar. Punggungnya bergetar menangkis jawaban yang terlontar dari bibir Tiara. Pengakuan Tiara seolah berubah menjadi benda runcing yang menghujam jantungnya membuatnya sakit hati.
"Tapi aku pun cinta sama kamu. Dulu, kamu pun begitu! Semua berubah karena Daniel!"
"Waktu yang sudah merubah semuanya. Dulu, aku masih Tiara yang tidak tau apa itu cinta. Aku tidak pernah dekat dengan laki-laki manapun selain kakak sampai aku mengangap kakak sebagai cinta pertamaku tapi akhirnya kakak pergi bersama semua kenangan kita. Kakak pergi membawa janji yang tidak pernah ditepati. Aku tidak butuh janji dan kata cinta yang hanya terucap di bibir saja!" teriak Tiara, ia berusaha meyakinkan Diko agar tidak lagi berharap padanya.
"Lalu kenapa kamu bisa segampang itu percaya sama cinta dan janji yang diucapkan Daniel?" Diko meraih kedua bahu Tiara. "Kenapa? Apa bedanya kami?"
"Daniel memberikan bukti," lirih Tiara seraya menggelengkan kepala. "Bukan janji," imbuhnya lagi. "Daniel tidak menjanjikan apapun yang membuat aku terkesan. Tapi, tindakannya membuat aku nyaman dan percaya kalau Daniel memang mencintai aku. Caranya menatapku, memerlakukan dan mengakui aku sebagai istrinya, Daniel berusaha mencariku ketika aku melarikan diri darinya. Daniel ...." Tiara meraba perutnya. "Daniel tidak pernah menolak anak ini. Dia mencintai kami." Cairan bening keluar dari sudut mata Tiara. Dia menakupkan tangan dan memohon. "Aku juga mencintai Daniel, ntah sejak kapan cinta ini ada. Tapi, hati ini sudah memilih Daniel. Tolong terima dan jaga sikap kakak. Aku tidak mau Daniel salah paham dan meragukan aku."
Air mata Tiara semakin membasahi pipinya. Bagaimana jika Daniel tiba-tiba datang dan melihat mereka berduaan di tempat yang sepi. Mengingat watak Daniel yang keras kepala. Laki-laki itu pasti akan marah bahkan, bisa membunuh Diko.
Diko bergeming menatap Tiara. Dia sangat ingin memeluk Tiara, namun ia tau kalau Tiara pasti akan menolaknya lagi.
"Jadi ... kamu bahagia dengan dia?" Diko menjatuhkan tangan Tiara dan menghapus air matanya.
Tiara mengangguk. "Sangat, meskipun terkadang dia menyeramkan dan menyebalkan tapi, aku tidak mau jauh dari Daniel. Cuma dia yang bisa buat aku bahagia."
Diko menghembuskan napas panjang. Dia tidak bisa melihat Tiara memohon seperti ini, dibelainya rambut Tiara dengan lembut. "Terima kasih untuk semuanya Tiara. Aku sadar bahwa, cinta pertama belum tentu menjadi yang terakhir. Sekeras apapun aku berusaha meyakinkan kamu untuk menerimaku, semua akan sia-sia kalau kita memang tidak ditakdirkan untuk bersama. Mulai hari ini, aku tidak akan mengganggumu. Berbahagialah." Diko mundur beberapa langkah namun, tidak sedikitpun matanya berpaling dari Tiara. "Ini akhir cerita kita," ucapnya lirih dengan sudut bibir melengkung hampir membentuk senyuman. Namun, sudut matanya mengeluarkan setetes cairan bening.
"Kakak juga harus hidup bahagia bersama istri dan anak kalian nanti," jawab Tiara.
__ADS_1
Diko semakin tersenyum kecut. Istri? Dia geli mendengarnya, kemudian ia pergi meninggalkan Tiara seorang diri.
Tiara kembali bernapsa lega karena yakin kalau Diko sudah menerima keputusannya. Tiara tersenyum dan menatap bintang malam yang bertaburan di langit. Namun, senyumnya memudar ketika ada yang memeluknya dari belakang.
"Aku cinta kamu."
Tiara meremang mendengar kata cinta yang dibisikkan di telinganya. Bahkan, bulu-bulu halus di sekitar leher jenjangnya yang putih bersih itu seolah berdiri. Tiara memegang tangan yang menggurita di perutnya. Tiara tersenyum saat meraba cincin pernikahan yang tersemat di jari laki-laki ini. Kenapa suaminya ada di sini?
"Daniel...."
"Panggil apa?" Daniel menggigit daun telinga Tiara dan membenamkan wajahnya di cengkuk leher Tiara, menghirup aroma wangi dari tubuh istrinya.
"Mas Daniel. Mas buleku." Tiara terkekeh. "Tau dari mana kalau aku di sini?" Tiara berbalik badan. Dia menangkup wajah Daniel. Apa sebelumnya Daniel sempat melihat Diko di sini?
Bukannya menjawab pertanyaan istrinya. Daniel malah memilih menyatukan bibir mereka. Benar, Daniel ada di balik pintu tanpa ada yang menyadarinya, awalnya Daniel marah saat tidak sengaja melihat Diko menarik dan membawa Tiara ke tempat ini. Daniel ingin mengetahui lebih banyak sejauh apa hubungan Diko dengan istrinya dan berhasil mendengar semua yang dibahas Diko dan Tiara.
"Mas, acaranya gimana?" tanya Tiara.
Daniel mendongak. "Sudah aku bubarkan, semakin malam semakin banyak tamu, kalau begini kapan kamu bisa istrahat?" Daniel mencium perut Tiara lagi. Tiara menggelengkan kepala. Baru sekarang pengantin pria membubarkan pesta pernikahannya sendiri.
***
Seorang MC mengumumkan kalau pesta terpaksa dibubarkan demi menjaga kesehatan Tiara yang tengah mengandung. Semua tamu percaya karena tidak melihat Tiara di pelaminan. Satu persatu orang keluar meninggalkan tempat itu.
Laura tidak tau harus ke mana. Dia tidak melihat Mike ataupun mama Delia di manapun dan baginya terlalu sulit mencari orang ditengah kerumunan. Karena terlalu panik, Laura tidak sengaja menyenggol bahu seorang laki-laki yang tengah memegang gelas berisi minuman hingga tumpah membasahi tuxedo yang dipakai laki-laki tersebut.
__ADS_1
"Sory ... maaf. Aku tidak sengaja." Laura mengibaskan noda yang tercipta karena ulahnya.
Nick tersenyum dan mengamati wajah Laura. "Tidak kusangka, takdir begitu cepat menyatukan kita."
Laura melihat wajah tampan di depannya. "Kau? Kenapa ada di sini?"
"Aku ada di sini karena kamu juga ada di sini." Nick mengerlingkan mata. "Sudah bisa sebutkan namamu?"
Laura berdecih ia tidak suka Nick sok akrab dengannya. Berhubung pesta sudah usai, Laura pun pergi seorang diri tanpa Diko yang dari awal tidak perduli dengannya.
Begitu keluar dari hotel. Laura semakin kebingungan. Satu persatu mobil keluar pergi meninggalkan tempat itu. Namun, mobil Diko tidak ada di tempat parkir.
"Ke mana dia? Aku pulang sama siapa?" Laura mencoba menghubungi Diko dengan nomor lokal yang baru beberapa hari yang lalu dibelinya. Tetapi, ponsel Diko tidak bisa dihubungi.
"Sudah larut malam, kenapa kamu masih di sini? Kamu menginap di hotel ini?" Nick bicara dari balik kaca jendela mobil yang dibuka sebagian. Dia memang sengaja mengikuti wanita cantik ini.
"Pergilah, kenapa kau selalu mengganggu aku?" ketus Laura.
Nick keluar dari mobil dan mendekati Laura. "Aku cuma mau berteman. Ayolah, aku tidak punya niat jahat. Biarkan aku mengantarmu." Nick membukakan pintu mobil untuk Laura. "Di sini banyak CCTV. Kalau ada yang mencarimu mereka akan melihat CCTV dan akan mudah melacakku. Jadi, aku tidak mungkin menyakitimu."
Laura tampak berpikir, dia mengamati penampilan Nick dari ujung rambut sampai ujung kaki. Penampilannya cukup meyakinkan dan mungkin Nick memang orang yang baik.
"Kalau gitu, antarkan aku ke apartmen X." Laura akhirnya luluh dan duduk di bangku samping kemudi.
Nick tersenyum senang dan siap melajukan mobilnya.
__ADS_1
***
Readers, jangan lupa dijempolin.