Menjadi Istri Simpanan

Menjadi Istri Simpanan
Bertemu


__ADS_3

Genta kembali ke Rumah Sakit. Genta duduk disamping Muaurine. Genta merebahkan kepalanya di samping bahu Maurine.


"Aku akan bicarakan soal ini setelah kau benar-benar sembuh. Selama itu, aku tidak akan izinkan kau bertemu siapapun selain aku," batin Genta.


Genta terus memikirkan ucapan Bobby. Genta berpikir keras mencerna setiap kata-kata yang Bobby ucapkan.


"Begitu percaya diri. Apa yang dia punya untuk menggoyahkanku? apakah Rey mengatakan sesuatu tentangku? aku rasa tidak," batin Genta lagi.


Genta merasa ada sesuatu dibalik pertemuannya dengan Bobby. Rasa penasarannya tak kunjung hilang, justru semakin bertambah.


***


Keesokan harinya....


Maurine sedang menikmati waktu luangnya. Genta sedang pergi keluar karena ingin membeli sesuatu. Maurine duduk bersandar melihat acara televisi.


Tok.....


Tok....


Tok....


Pintu ruangan terketuk, tidak lama terbuka. Dari jauh Maurine menatap kearah pintu, ia ingin tahu, siapa orang yang masuk dalam ruang kamarnya.


Mata Maurine melebar, saat melihat seseorang yang tidak asing masuk dalam ruangannya. Seseorang itu, tidak lain adalah Liana, Mama kandung Maurine.


Liana masuk dan menutup pintu, ia berjalan perlahan mendekati Maurine yang jauh darinya. Langkah kakinya semakin dekat, sampai akhirnya Liana menghentikan langkahnya tepat di sisi Maurine.


"Ma-ma," sapa Maurine.


"Ya sayang, ini Mama. Mama datang untuk melihat keadaanmu, Mama sangat merindukanmu."


"Mama," panggil Maurine menangis.


Liana langsung memeluk Maurine dan menenangkan hati Maurine. Liana membelai lembut kepala belakang dan punggung Maurine.


"Mama sangat rindu, Maurine."


"Mama...," panggil Maurine lagi dengan suara serak.


Beberapa saat kemudian, pelukan terlepas. Mereka berdua saling memandang lekat. Liana membelai wajah Maurine begitu lembut, air mata Liana tidak terbendung lagi.


"Apa yang terjadi? mengapa bisa seperti ini?" tanya Liana.


"Maurine baik-baik saja. Tidak perlu cemas," jawab Maurine diiringi senyuman cantiknya.


Liana menyeka air matanya sendiri, "Mama sangat takut saat mendengar kau ada di Rumah sakit. Mama tidak punya kebaranian untuk datang, sampai...," kata-kata Liana terhenti.


"Sampai?" ulang Maurine.


"Sampai suamimu menghubungi Mama secara pribadi," jawab Liana.


"Genta?" kata Maurine.


"Ya, Genta. Kau bahkan tidak beritahu Mama jika kau sudah menikah."

__ADS_1


"Itu hanya pernikahan sederhana, Ma. Kami bahkan tidak melakukan resepsi perikahan karena suatu hal," jelas Maurine.


"Mama mengerti. Suamimu sudah ceritakan semuanya pada Mama. Maafkan Mama sayang, Mama adalah Mama yang jahat."


"Tidak, Ma. Jangan seperti itu," kata Maurine.


Liana menggeleng, "Mama begitu egois pergi meninggalkanmu dengan Bobby. Mama tidak menduga Bobby akan seperti itu padamu," ucap Liana merasa sedih dan kecewa.


"Bukan salah Mama, jangan menangis, Ma."


"Bagaimana tidak menangis? kau sampai dijual ke club demi uang. Apakah dia harus seperti itu?" jawab Liana.


"Mama, apakah Mama bertemu Genta? apakah dia mengatakan sesuatu?" tanya Maurine sedikit cemas.


"Tentu saja bertemu, Genta dan Mama tadi minum kopi bersama di bawah. Dia menceritakan semuanya pada Mama, Mama sempat berpikir jika Genta adalah pria yang dingin dan mungkin suka mengekang. Kesan pertama Mama padanya seperti itu, di saat dia menerima panggilan Mama saat itu. Dia bicara dengan suara dingin, membuat Mama membeku seketika."


"Begitu ya, Maurine tidak perlu jelaskan lagi jika seperti itu. Maurine percaya pada Genta, Ma. Karena Maurine sayang padanya."


"Kau bahagia?" tanya Liana.


Maurine mengangguk, "Memang sulit saat dulu Genta menyembunyikan sesuatu dariku, Ma. Tapi, aku memahaminya sekarang. Dia melakukan itu untuk keluarganya, demi keluarganya. Siapa yang tahan dan tak ingin membalas jika kelaurganya disakiti. Bukan kah seperti itu?" kata Maurine.


"Kau sudah tumbuh dewasa sayang," kata Liana membelai lagi wajah Maurine.


"Aku bersyukur bisa bertemu Genta, Ma. Dia adalah penyelamatku. Jika saja aku tidak bertemu dengannya, aku masih harus bekerja di club melayani banyak tamu demi melunasi pinjaman Papa."


"Mama senang ada seseroanga yang baik mau menolongmu. Genta terlihat sangat sayang padamu, saat membicarakanmu tadi, matanya dipenuhi oleh cinta dan kasih sayang padamu. Semoga kau selalu bahagia sayang, Mama sayang sekali padamu."


"Aku juga sayang Mama," jawab Maurine memeluk Liana lagi.


Liana dan Maurine masih berpelukan melepas kerinduan. Maurine sangat senang juga terharu, bisa bertemu kembali dengan Mamanya. Sudah cukup lama semenjak terakhir kali bertemu.


***


Sebelumnya....


Liana dan Genta bertemu di sebuah kedai kopi tidak jauh dari Rumah Sakit. Liana masuk ke kedai kopi dan mencari Genta, setelah dirasa yakin jika seseorang yang di carinya ada, Liana segera berjalan menghampiri untuk memastikan.


"Genta?" sapa Liana.


"Ya, silakan duduk."


Liana duduk dihadapan Genta, "Ada hal penting apa yang ingin kau sampaikan?" tanya Liana.


"Maaf mengganggu, sebelumnya saya akan memperkenalkan diri secara resmi. Saya adalah Genta Aiden, suami Maurine Stella. Maaf saat pernikahan kami, kami tidak mengundang Anda ataupun kelaurga Anda. Semua terjadi begitu saja," jelas Genta.


"Tidak masalah, karena kau suami putriku, kau bisa memanggilku Mama jika kau berkenan. Dan tolong, gunakan bahasa santai saja."


Deg....


Genta kaget, awal pertemuannya dengan Mama mertuanya membuatnya gugup. Dengan senyuman dan kelembutan, Liana meminta Genta memanggilnya Mama. Hal itu tentu saja membuat Genta kaget, Genta tidak menyangka Liana adalah seorang yang lemah lembut seperti Maurine.


"Ada apa? apa kau tidak mau memanggilku, Mama?" tanya Liana.


Genta tersadar dari lamunanya, "Bu-bukan seperti itu. Maaf, aku hanya terkejut saja. Ini pertama kalinya dalam sekian lama aku bisa memanggil seseorang lain dengan sebutan Mama."

__ADS_1


"Biasakan mulai dari sekarang, meski hanya Mama mertua. Kau tetap akan ku anggap seperti anakku sendiri," jawab Liana.


"Terima kasih, Mama...."


"Imut sekali. Sama-sama, terima kasih kembali sudah menjaga putriku. Sekarang, ceritakan semuanya padaku. Bagaimana dan kenapa bisa Maurine seperti ini? apakah terjadi sesuatu diantara kalian berdua?" tanya Liana penasaran.


"Mama tenang dulu, aku akan ceritakan semuanya dari awal agar Mama mengerti. Apa tujuanku, mengapa semua ini terjadi dan Bagaimana bisa kejadian itu menimpa Maurine."


"Ya, ceritalah. Mama akan dengar," jawab Liana bersuara lembut.


Genta mengambil napas dalam-dalam, lalu mengembuskan napas perlahan. Genta mulai bercerita mengenai kehidupannya, sampai akhirnya dia menikah palsu dengan Felicia. Mencetitakan tujuan menikah palsu dengan Felicia apa dan rencananya seperti apa.


Menceritakan awal pertemuannya dengan Maurine, dimana Mauirne mau mendengar keluh kesahnya. Maurine memberikan nasihat untuknya, meski hanya beberapa kata untuk menyemangati namun hal itu mampu menggoyahkan hati seorang Genta.


Jantung Genta berdegup kencang, saat mendengar suara lembut Maurine juga saat Genta melihat senyuman Maurine. Lebih tepatnya, Genta sudah terjerat cinta pada padangan pertama dengan Maurine. Dan saat itu juga, Genta memutuskan ingin menikahi Maurine, membawa Maurine pergi dari club.


Alvian di diperintahkan Genta untuk bertemu Rey. Alvian meminta Rey membuka harga untuk Maurine. Dari situlah semua rahasia terbongkar, Genta dan Rey akhirnya bicara empat mata mengenai Maurine. Rey bercerita jika Bobby, Papa dari Maurine lah yang sudah menjual Maurine untuk melunasi hutang ditempat judi.


Awalnya sulit untuk bisa mengeluarkan Maurine. Tanpa berpikir panjang, Genta langsung bertanya berapa jumlah keseluruahn uang yang Rey berikan pada Bobby. Setelah Rey menjawab, Genta pun membuka harga, menebus Maurine dengan harga 5 kali lipat dari uang Rey yang di berikan kepada Bobby.


Rey kaget, demi seorang wanita asing, Genta mau melakukan semua ini. Rey pun akhirnya menerima penawaran Genta, bagaimana tidak? 5 kali lipat bukan nominal yang sedikit. Rey juga mengatakan, Maurine belum tentu bisa menghasilkan uang melampaui apa yang sudah berikan genta dalam waktu 5 tahun kedepan.


Kesepakatan terjadi. Genta memenangkan penawaran pada akhirnya. Ganta meminta Rey mengantar Maurine ke mobilnya. Genta akan menunggu diparkiran.


Cukup lama menunggu, Rey dan Maurine datang. Rey meminta Maurine untuk masuk dalam mobil dan ikut bersama seseorang dalam mobil. Rey menjelaskam jika seseorang dalam mobil sudah membebaskannya dari jeratan hutang piutang Papanya, Bobby.


"Lalu? kalian akhirnya menikah?" sela Liana saat Genta menjeda ceritanya.


Genta mengangguk, "Ya, kami menikah. Dan saat itu pikiranku bimbang, antara aku harua jujur pada Maurine atau terus-menerus bersandiwara. Aku harus membagi peranan menjadi orang yang tulus dan berpura-pura baik."


"Posisi yang sulit, kau hebat Genta. Tidak semua orang akan tahan dalam keadaan sepertimu," kata Liana.


"Mama benar," jawab Genta.


"Satu sisi, kau berjuang begitu lama demi misimu, tujuanmu untuk membalas perbuatan mereka yang menyakiti keluargamu. Di satu sisi kau mencintai Maurine dan tidak ingin Maurine terlibat masalah sekecil apapun. Itulah mengapa kau menyembunyikan, Mauirne. Apakah penilaian Mama salah?" tanya Liana lagi.


"Mama benar. Aku menyembunyikan Maurine bukan karena aku tidak mau mengakui Maurine sebagai istri didepan umum. Namun, itu semua aku lakukan karena misiku belum bisa terselesaikan. Aku tidak bisa mengacaukan misiku yang sudah aku rancang selama bertahun-tahun. Aku memang egois," keluh Genta.


"Keegoisanmu untuk kebaikan Maurine. Tidak apa, Genta. Itu lebih baik daripada Maurine terseret dalam misimu."


Genta menatap Liana, "Terima kasih, Mama. Mama mau mengerti keadaanku, Mama seperti Maurine."


"Hei, dia putriku. Tentu saja pasti akan ada kemiripan," jawab Liana tersenyum.


Genta tersenyum, lega rasanya jika ada seseorang yang bisa mengerti tentang perasaanya.


****


ig: dea_anggie


Line id: dea_anggie


Fb: dea anggie


Grup FB: Lelaki Bayaran Amelia

__ADS_1


❤❤❤❤❤


__ADS_2