Menjadi Istri Simpanan

Menjadi Istri Simpanan
Pembalasan Genta [Bagian 2]


__ADS_3

1 minggu kemudian....


Pagi hari, Genta membantu Maurine makan bubur. 1 minggu berlalu, Genta dengan setia dan sabar mendampingi Maurine, sampai rela mebawa pekerjaanya ke Rumah Sakit.


Wajah Genta tidak terlihat segar, menjaga Maurine diimbangi dengan bekerja. Belum lagi membereskan masalah Felicia dan Ferdian, membuat Genta tidak bisa berlama-lama memejamkan mata untuk terlelap tidur.


"Kau tidak tidur dengan baik seminggu ini," ucap Maurine.


"Tidak masalah, kau harus cepat sembuh. Jangan banyak bergerak agar lukamu tidak terbuka," jawab Genta.


"Maafkan aku," kata Maurine merasa bersalah.


"Bukan salahmu sayang, akulah yang bersalah. Aku tidak bisa melindungimu, maafkan aku sayang. Seharusnya aku yang terluka, bukannya kau...," kata Genta.


"Justru karena aku tau kau yang akan di serang, aku mengubah posisiku. Aku tidak ingin Felicia melukaimu Genta, aku pasti akan sangat sedih," jelas Maurine.


"Terima kasih sayang, kau segalanya untukku. Cepatlah sembuh," ucap Genta yang lalu mencium lembut kening Maurine.


Maurine tersenyum, menutup matanya saat Genta mencium keningnya. Genta mencium kedua kelopaka mata Maurine, mencium hidung Maurine, kedua pipi Maurine dan dagu Maurine. Genta mengusap lembut kepala Maurine, lalu mencium lembut kilas bibir Maurine.


"Ake merindukanmu sayang," bisik Genta.


"Kau tidak kekantor?" tanya Maurine tiba-tiba.


Genta mengambil mangkuk berisi bubur lalu mengaduk-aduk bubur dalam mangkuk sembari meniupnya sesekali.


"Ayo makan dulu," kata Genta.


"Kau tidak jawab pertanyaanku sayang, apa kau tidak kekantor?" tanya Maurine lagi.


"Tidak sayang. Aku sudah bekerja di sini," jawab Genta.


"Kapan aku boleh pulang?" tanya Maurine.


"Besok, Dokter masih harus melihat lukamu. Jika semua baik, beberapa lagi kita bisa pulang. Atau mungkin kita masih harus di sini sedikit lebih lama lagi. Karena lukamu juga dalam, banyak resiko yang akan terjadi jika tidak hati-hati."


"Aku mengerti," jawab Maurine.


"Jika mengerti harus menurut, buka mulut dan makan," kata Genta tersenyum.


Maurine menganggukan kepala, membuka mulutnya dengan segera. Genta dengan hati-hati menyuap bubur ke mulut Maurine.


Maurine mulai mengecap rasa bubur, terasa hambar dan tidak enak. Namun Maurine ingin cepat sembuh, agar bisa segera keluar dari rumah sakit dan pulang kerumah. Dia tidak lagi menghiraukan rasa, Maurine melahap semua bubur di mangkuk. Genta meletakan mangkuk kosong kembali ke nampan.


"Lahap sekali, baru beberapa menit sudah habis."


Maurine terdiam, Genta memberikan obat dan air putih pada Maurine. Perlahan-lahan, Genta membantu Maurine minum obat.


"Istirahatlah, aku ke kamar mandi dulu."


"Oke," jawab Pamela.


Genta meletakan gelas, dan menyeka mulut Maurine dengan kain lap bersih. Genta tersenyum, mengusap pipi Maurine. Beberapa saat kemudian, Genta berjalan menuju kamar mandi.


Saat Genta pergi ke kamar mandi, pintu ruangan terbuka, terlihat Alvian dan Nina datang. Alvian dan Nina mengunjungi Maurine sebelum berangkat ke kantor.


Maurine tersenyum menyambut keduanya, "Kalian datang," sapa Maurine.

__ADS_1


"Selamat pagi Nyonya," sapa Nina.


"Pagi Nina, bagaimana keadaanmu?" tanya Maurine.


"Saya baik Nyonya, bagaimana dengan Anda?" tanya Nina ramah.


"Beginilah, masih sakit untuk duduk. Masih bisa berbaring," ungkap Maurine.


"Anda harus lebih banyak beristirahat Nyonya," sambung Alvian.


"Hai Al, kau juga bagaimana? apakah Sehat?" tanya Maurine.


"Tentu sehat, Bibi Anna memasak makanan bergizi untukku Nyonya. Untuk Tuan juga," jelas Alvian.


"Ya, aku meminta Bibi Anna memasak. Karena aku tidak bisa memasak. Nina, kau juga makanlah di rumah bersama Alvian jika ingin. Bahan di rumah juga harus dihabiskan, jika tidak akan busuk. Sebelum busuk lebih baik jika diolah bukan?" jelas Maurine.


"Terima kasih Nyonya. Sejujurnya, Alvian sering kali membawakan makan siang untuk saya dari rumah. Saya senang bisa merasakan masakan Bibi Anna," jawab Nina.


Maurine terdiam, dahinya berkerut menatap Nina, lalau menatap Alvian. Nina dan Alvian merasa aneh, keduanya juga saling bertatapan.


"Kalian cocok. Kebapa tidak mencoba untuk berkencan? atau..., langsung menikah saja?" Kata Maurine.


Mendengar ucapan Maurine, Alvian dan Nina kaget. Jarak mereka yang semula dekat, menjadi sedikir renggang. Nina dan Alvian saling berjauhan.


"Hei-hei. Kenapa berjauhan? ayolah, kalian kenal sudah cukup lama. Aku rasa kalian bisa mencoba bersama," usul Maurine.


Genta keluar dari kamar mandi, "Ada apa ini?" tanya Genta berjalan mendekati Maurine.


"Sayang, bagaimana jika kau nikahkan saja Alvian dengan Nina? bukankah mereka cocok?" ucap Maurine menatap Genta.


Genta menatap Alvian lalu menatap Nina, "Apakah kalian berkencan?" tanya Genta.


"Tidak," kata Nina


"Tidak," kata Alvian.


"Baguslah, kalian kompak. Aku akan cari waktu mengurus kalian berdua. jangan bersembunyi dariku, sepertinya aku memang melupakan jika kalian itu membutuhkan satu sama lain. Tentukan saja hari yang kalian inginkan, kalian bisa menikah dua atau tiga bulan kedepan. Gunakan waktu tersisa untuk berkencan," jelas Genta.


Alvian dan Nina kaget, "Tuan...," ucap keduanya bersama-sama.


"Apa lagi?" tanya Genta.


"Apa maksud Anda? saya dan Nina...," kata-kata Alvian terputus.


"Atau begini saja. Jika kalian memang tidak saling suka, aku akan kenalkan kalian pasangan."


Genta tersenyum menatap Maurine, Maurine manatap Genta membalas senyuman Genta.


Nina dan Alvian langsung diam, tidak bersuara lagi. Mereka masing-masing bingung tidak tahu harus menjawab apa.


Genta kembali menatap Alvian, "Al, apa kau sudah lakukan apa yang ku minta?" tanya Genta dengan serius.


Alvian menatap Genta, "Su-sudah Tuan. Rumah lama sudah dijaga oleh penjaga saat ini."


"Bagus, jangan sampai siapapun masuk ke rumah itu. Sekalipun itu pelayan setia Felicia," kata Genta.


Alvian menganggukkan kepala, "Saya mengerti tuan," ucap Alvian.

__ADS_1


"Tidak ada lagi yang tersisa dari keluarga Lorenz, bahkan bisnis kecil mereka sudah ada ditanganku. Inilah akibat dari bermain-main dengan Aiden," ucap Genta dengan penuh rasa kesal.


Maurine menggapai tangan Genta, "Sudah, jangan lagi berpikir mengenai mereka. Kau akan sakit nanti," kata Maurine.


"Maaf sayang," lirih Genta menatap Maurine, "Alvian, Nina, kalian kembalilah bekerja. Aku akan melihat hasil kerja kalian dari sini," sambung Genta.


"Baik Tuan, kami permisi."


"Nyonya, Tuan. Kami permisi kembali ke kantor. Semoga lekas sembuh Nyonya," kata Nina berpamitan.


"Terima kasih Nina, hati-hati di jalan. Alvian, kau harus jaga Nina."


"Ba-baik Nyonya," gagap Alvian.


Maurine hanya tersenyum. Merasa malu sendiri melihat tinggah laku Nina dan Alvian.


Beberapa saat kemuadiaan Alvian dan Nina pergi. Sebelum pergi, Alvian memberikan sebuah amplop besar berwarna cokelat kepada Genta. Amplop itu berisi Dokumen kepemilikan semua aset keluarga Lorenz.


***


ig: dea_anggie


Line id: dea_anggie


Fb: dea anggie


Grup FB: Lelaki Bayaran Amelia


❤❤❤❤❤


***


Kunjungi juga novel (TAMAT) saya yang lain.


•Lelaki Bayaran Amelia


•Pelukan Hangat Paman Tampan


•Pangeran Es Jatuh Cinta


(Season ke 2 dari Pelukan Hangat Paman Tampan)


•Pangeran Vampir


•Pangeran Vampir 2


•Vampir "Sang Abadi"


•Cinta Lama Yang Datang Kembali


•Mommy And Daddy


•Darren & Karren (Perjalanan Cinta)


•Suami Pengganti


•Oh My Husband

__ADS_1


Jangan lupa like, rate dan isi kolom komentar. Terima kasih.


__ADS_2