Menjadi Istri Simpanan

Menjadi Istri Simpanan
MIS


__ADS_3

Dering ponsel Laura menggema di ruang kamar, ia berjalan cepat membawa alat tes kehamilan di tangannya. Meskipun kesal dengan orang yang menelepone tapi, hatinya tetap berbunga karena ia tidak sabar mengabarkan kabar bahagia ini.


"Masih ingat aku?" Wajah Laura cemberut di layar datar ketika panggilan vidio itu sedang berlangsung.


Diko tersenyum, ia sengaja menghubungi Laura pakai ponsel kantor karena ponsel pribadinya masih berada ditangan Rima.


"Cantikku lagi marah? Maaf ya baru bisa telepone kamu sekarang." Diko meraba wajah istrinya, ingin sekali ia mencurahkan kerinduannya tapi Diko terpaksa menunda kepulangannya karena pelaku yang sudah menabrak Laura masih belum bisa diajak berkomunikasi dengan baik.


"Jangan merayu itu tidak lucu! Kapan pulang?" Mulutnya bicara ketus, ia memasang wajah marah tapi dalam hati tetap rapuh karena merindukan Diko.


"Dua atau tiga hari lagi. Aku masih punya urusan di sini." Diko tidak mau mengatakan alasan yang sebenarnya karena tidak mau membuat Laura cemas seperti dirinya.


"Urusan apa yang lebih penting dariku? Aku sedang sakit tapi, kau malah pergi, aku tidak butuh perawat atau penjaga aku cuma butuh kamu ada di sini, Diko!!!"


"Tidak ada yang lebih penting darimu, aku janji begitu urusanku di sini selesai, aku pasti cepat pulang. Untuk sekarang jaga dirimu baik-baik, jangan keluar rumah tanpa penjaga, kalau ada apa-apa cepat hubungi aku."


"Percuma menghubungimu kalau kau tidak mau pulang." Laura meletakkan ponsel itu di atas meja rias, camera hanya menangkap langit-langit kamar, sebenarnya ia ingin mengatakan kalau dirinya sedang hamil tapi, ia tidak mau melalui telepone seperti ini.


"Laura, sayang ... aku janji tidak akan lama di sini, ayolah jangan marah seperti anak kecil. Di mana wajah cantikmu itu?" Diko berusaha membujuk, bicara lembut tapi, Laura masih diam seribu bahasa.


"Laura ... aku merindukanmu. Apa kamu tidak? Aku tidak tau kapan aku bisa menghubungimu lagi."


Laura berdecak kesal dan menampakkan wajahnya di camera lagi. "Kalau rindu cepat pulang Diko! Jangan menguji aku seperti ini. Apa perlu aku yang menjemputmu ke sana?"


"Di rumah saja, tunggu aku pulang." Diko mendekatkan bibirnya dan mencium wajah Laura di camera. "Tunggu aku pulang, sayang."


Laura tersipu, ia sudah tidak bisa lagi menahan senyumannya. Laura pun melakukan hal yang sama.


"Aku menunggumu," ucapnya lirih seraya meraba perutnya yang masih datar.


***


Diko terpaksa mengakhiri percakapannya dengan Laura, ia kembali menginterogsi Pion yang kondisinya sudah mulai membaik.

__ADS_1


"Aku tau di mana istri dan anakmu, kau mau aku melukai mereka berdua?" Diko terpaksa mengancam supya Pion tidak berani berbohong padanya.


"Ja-jangan, Pak ... jangan sakiti mereka. Sebenarnya apa yang Bapak mau? Kenapa menahanku di sini?" Pion merasa tidak pernah melihat Diko sebelumnya, ia mengira kalau Diko penjahat kelas kakap yang mungkin akan menjual sebagian organ tubuhnya.


"Kau tidak mau aku menyakiti istrimu tapi, kenapa kau menyakiti istriku?" teriakan Diko menggema di setiap sudut ruangan, ia melemparkan apapun yang ada di sekitarnya. "Kenapa kau mengincarnya?" hardik Diko lagi.


Pion tampak berpikir dan mencerna ucapan Diko. "Si-siap yang Bapak maksud?" tanyanya terbata.


"Wanita yang kau tabrak beberapa hari yang lalu." Tangan Diko mengepal, wajahnya memerah bahkan, guratan halus di kening mulai terlihat.


Pion hampir kencing di celana, meskipun ia yakin kalau wanita itu baik-baik saja tapi, Pion tidak yakin kalau Diko akan melepaskannya.


"Kau mau aku melakukan hal yang sama kepada istrimu?"


"Ja-jangan sakiti mereka, Pak ....!" Pion memaksa turun dari tempat tidur dan bersimpuh di kaki Diko. "Maafkan saya, saya nggak bermakaud melakukan itu, tolong maafkan saya."


Diko menekuk lututnya, ia dan menatap wajah Pion dengan penuh rasa benci. "Apa motifasimu melakukan itu? Mengintai, menabrak dan melarikan diri?"


Pion menggeleng. "Nggak ada, nggak ada ... saya cuma disuruh, Pak."


"Siapa?" Diko menekan pundak Pion membuat Pion meringis kesakitan. "Siapa yang menyuruhmu?" Diko membentak tepat di wajah Pion.


Pion semakin gemetaran, jika berbohong maka nyawa istri dan anaknya terancam, jika jujur sudah pasti Dona akan mengambil uangnya lagi.


"Jawab!!!" Diko hampir memukul wajah Pion tapi,seorang perawat menahannya.


"Pasien masih lemah dan butuh istrahat, Pak."


Diko melepaskan Pion dan kembali berdiri tegak. "Siapa yang menyuruhmu?"


"Do-Dona, perempuan itu bernama Dona." Pion tidak mau salah mengambil keputusan, ia lebih memilih menyelamatkan nyawa istri dan anaknya daripa nyawanya sendiri.


"Dona?" Rahang Diko mengeras, gertak giginya saling bersahutan menahan amarah di dalam dada. "Ada di mana dia?" tanya Diko suaranya pelan tapi, terdengar menakutkan.

__ADS_1


"Saya nggak tau, Pak. Dia membayar saya dan menyuruh saya untuk melarikan diri."


"Sial! Akan aku habisi dia!" Diko membanting pintu dan keluar untuk mencari Dona. Diko harus bergerak cepat sebelum perempuan itu berulah lagi.


Diko mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju hotel tempat Rima menginap untuk mengambil benda pribadi miliknya yang tertinggal di dalam tas kerja. Diko harus bergerak sendirian karena tadi pagi-pagi sekali Rey sudah kembali menghandle perusahaan selama ia masih berada di luar kota.


Diko tidak membuat janji apapun dengan Rima, begitu sampai di hotel barulah ia menghubungi Rima dan menunggu di loby hotel.


Rima panik karena tiba-tiba Diko sudah menunggunya. "Kamu harus pergi sebelum pak Diko liat kamu di sini." Rima terpaksa mengusir tamunya, ia baru saja membuka fakta kalau Laura dan Diko berstatus sebagai suami istri.


"Udah tenang aja, dia nggak bakalan datang ke sini, kan?" Ia menyimpan kertas putih yang baru diberikan Rima padanya.


"Tapi pak Diko sudah menunggu di bawah, kamu nggak perlu lagi temui aku karena semua urusan kita sudah selesai, terserah kamu mau apakan kertas kosong ini yang pasti aku nggak mau kamu suruh-suruh lagi." Rima menarik paksa tamunya tapi, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk dari luar.


Ponsel Rima pun berdering, ia terpaksa melepaskan tangan temannya dan menjawab panggilan itu.


"Iya, Pak!" Rima gemetaran karena Diko menghubunginya lagi.


"Buka pintunya, saya tunggu di luar dan jangan lupa bawa tas saya!" Diko menutup ponsepnya secara sepihak, ia sudah berada di depan kamar Rima.


"Sembunyi, kamu harus sembunyi!" Rima menyembunyikan temannya di balik pintu dan membuka setengah pintu untuk Diko.


"Kamu sudah membuang waktu saya!" hardik Diko marah.


"Maaf, Pak ... ini tasnya." Menyerahkan tas hitam milik Diko.


"Kamu bisa pulang sendiri 'kan? Saya masih ada urusan di sini!" Diko tidak menaruh curiga apapun pada Rima.


"Iy-iya, Pak. Sampai jumpa lagi, Pak." Rima memegang erat daun pintu berjaga agar Dona bisa sembunyi dengan aman. Jika tidak, habislah mereka berdua.


Diko hanya mengangguk dan berbalik arah untuk pergi, ia tidak tau disaat itulah Dona keluar dan mengambil fotonya dari arah belakang.


***

__ADS_1


Nggak maksimal, maaf ya. Sudah siap menuju Ending? Kalau Tiara melahirkan berarti sudah mendekati ending. Sabar ya readers


__ADS_2