
Readers sayang. Rima bukan pelakor, ya. Rumah tangga Diko dan Laura jauh dari pelakor. Hayuklaj kita baca lagi. Happy Reading.
🌹🌹🌹
Asisten rumah tangga membawa makan malam untuk Laura. Tadi setelah menerima pitza ia pamit ke supermarket, lalu sibuk di dapur menjalankan tugas. Hingga menjelang petang barulah ia naik ke lantai dua.
"Non, makan malam sudah siap ...." Mendorong pintu kamar menggunakan lengannya. "Belum makan kok sudah tidur?"Diletakkannya nampan kemudian membangunkan Laura. "Non, jangan tidur kalau perutnya masih kosong."
"Sekarang jam berapa, Bi?" tanya Laura dengan mata yang masih terpejam.
"Sudah hampir jam tujuh malam, Non."
"Ada telefone dari suami saya, gak?"
"Nggak ada, Non. Tuan Diko nggak ada kasih kabar."
Laura mendesahkan napas kecewa. "Bawa saja makanan itu, Bi ... saya nggak na fsu makan."
"Jangan gitu, Non. Makan dulu biar Bibik suapi." Ia membujuk Laura dengan sabar. "Kalau Non Laura nggak mau makan, saya nggak mau makan juga."
Akhirnya Laura yang mengalah, ia duduk bersandar di kepala tempat tidur dan mulai menyantap makanannya, hanya dua sendok yang bisa ia telan. "Cukup ...." Ia menolak makan lagi. "Saya mau istrahat," ucapnya lirih.
Bibik membatin heran biasanya majikannya ini makan banyak tapi, kenapa sekarang na fsu makannya berkurang?
"Non Laura sakit?"
Laura tidak mampu menjawab keburu perutnya mual dan masuk ke kamar mandi. Berdiri di depan wastafel dan memuntahkan isi perutnya lagi.
"Apa mungkin saya keracunan makanan, Bik?" Laura kembali tertatih ke atas tempat tidur.
"Makanan apa, Non?"
"Itu!" Ia menunjuk pitza yang tersisa.
"Saya panggilkan dokter, ya!"
"Nggak usah! Besok saja. Saya cuma mau istrahat." Laura tidak mampu bicara lagi, pusing semakin merajalela ditambah lagi memikirkan Diko yang tidak bisa dihubungi.
***
Pusat kota tidak pernah sunyi bahkan, di malam seperti ini pun kendaraan masih berlalu lalang, wahana permainan masih rame didatangi pengunjung termasuk Rima dan Nicki. Ya, Rima masih resah menunggu kabar dari bosnya, ia tidak tahu harus pergi ke mana, menunggu atau kembali ke kota. Akhirnya Nicki berinisiatif memesankan kamar hotel untuknya sampai Diko memberikan perintah untuk kembali ke perusahaan.
Rima dan Nicki seperti anak muda, mereka melupakan umur dan semua pekerjaan, hampir semua wahana mereka coba Rima bahkan mendapatkan boneka beruang berukuran besar hadiah dari ketangkasan Nicky memainkan anak panah.
"Melamun?" Nicky meletakkan cup ice cream di pipi Rima, ia memang sengaja menemani Rima, ntah dimulai dari mana yang pasti mereka lebih dekat dari sebelumnya.
__ADS_1
"Apasih, dingin tau!" Rima memukul lengan Nick. "Jail banget!"
Nicki tertawa. "Kamu semakin cantik kalau marah."
Rima tersenyum. "Awas loh, nanti kamu bisa jatuh cinta sama aku!" celetuk Rima tanpa melihat wajah Nick, ia fokus menunggu jagung bakar yang belum matang.
"Sudah ...," bisik Nick. Laura menoleh melihatnya. "Aku sudah jatuh cinta pada pandangan pertama," imbuhnya.
Deg!!!
Jantung Rima menjadi tidak karuan, ia tidak menyangka kalau rekan kerjanya akan mengatakan ini. Jujur, Rima juga tertarik dengan Nick tapi, tidak boleh! Rima harus menjaga jarak dari laki-laki baik ini.
"Jagungnya, Non!"
Pandangan Nick dan Rima terputus. "Sudah, ya Pak!" Rima menjadi grogi gemetaran mengambil jagung bakar yang sudah ia pesan. "Ki-kita kembali ke hotel." Rima melangkah mendahului Nicky.
"Tunggu!" Nicki menarik tangan Rima. "Aku mau itu." Ia mencoba mencairkan suasana yang sempat canggung, Nick mengajak Rima kembali duduk dibangku taman.
"Cuma satu, tadi katanya nggak mau!" seru Rima.
"Satu untuk berdua kan bisa?" Nicki mengambil alih dan meniupnya kemudian menyodorkan untuk Rima. "Keburu dingin."
"Untuk kamu aja."Rima menolaknya.
"Dimakan!"
"Banget!" Nick tersenyum jail.
Rima tidak menolak, ia menggigit jagung bakar langsung dari tangan Nick dan Nick pun melakukan hal yang sama.
'Untuk malam ini saja, biarkan aku menikmati waktu ini, biarkan aku menjadi diriku sendiri, biarkan aku bersamanya merasakan cinta, hanya malam ini dan hanya sedikit saja, besok tidak lagi karena aku harus fokus dengan tujuanku.' Rima membatin, ia menyandarkan kepala di lengan Nick, memejamkan mata berharap waktu berhenti berputar.
Nicki tidak kuasa menahan senyumnya, ia yakin kalau Rima memiliki perasaan yang sama dengannya. Jatuh cinta pada pandangan pertama, jelas perasaan yang ia rasakan berbeda dengan perasaan yang ia miliki untuk Laura. Nick yakin sudah jatuh cinta pada Rima gadis yang masih muda.
***
Di Villa yang sudah lama tidak dihuni namun, masih terawat dengan baik. Seorang laki-laki bertubuh jangkung terbaring lemah di atas tempat tidur, jarum infus melekat di tangan, perban di sebagian tubuh dan kepala ia dapatkan dari dokter yang tadi merawatnya.
"Ha-haus...." Ia merintih merasakan tenggorokan yang terasa kering.
"Sudah sadar?" Diko menarik kursi dan duduk di samping tempat tidur, bersedekap dada mengamati tawanannya.
"Ha-haus, Pak ...."
Diko memberi isyarat kepada anak buahnya untuk memberikan minum.
__ADS_1
"Kau mau keluar dengan masih bernyawa atau cuma tinggal mayat saja?" Rasanya ia ingin menonjok laki-laki yang sedang terkapar ini tapi, ia bukanlah seorang pengecut yang hanya berani berhadapan dengan orang lemah.
"Sa-saya nggak ngerti. Kepala saya sakit ...."
"Jangan mati sebelum kau jawab pertanyaanku!" Diko beranjak. "Malam ini kau lolos tapi besok, jangan harap bisa bernapas lega!" Diko keluar dari kamar yang penuh dengan alat medis, ia kembali ke lantai dasar di mana Rey masih setia menunggunya.
"Kau belum pulang?" Diko menepuk pundak Rey dan duduk di sampingnya.
"Aku masih waras dengan tidak meninggalkanmu di sini! Sekretarismu menginap di hotel!" Seperti biasa Rey melakukan tugasnya dengan baik, menyempurnakan apa yang dilupakan Diko.
"Besok ambil ponselku dan suruh dia pulang, aku masih mau di sini sampai ke parat itu bisa diintrogasi!"
"Kau sudah menghubungi Laura?"
Diko mengangkat bahu. "Belum ... aku sengaja tidak menghubunginya. Suara Laura bisa melemahkanku, aku bisa langsung pulang nanti!" Diko tersenyum masam, ah! Ia sangat merindukan istri yang belakangan manja padanya.
"Terserah saja, jangan sampai dia punya pikiran lain terhadapmu, nanti!"
"Tidak mungkin, Laura selalu berpikir positif." Diko mencoba menghibur dirinya sendiri.
***
Matahari sudah naik ke singgahsana menggantikan rembulan menerangi bumi hingga sampai ke tempat yang tidak terjangkau mata. Seorang perawat heran melihat Laura masih berbaring di atas tempat tidur padahal cahaya matahari sudah menyelusup masuk melalui jendela kamar yang sudah ia buka.
"Non ... Bibik bilang Non Laura sakit, ya?" Ia meletakkan telapak tangan di kening Laura. Suhu tubuh Laura normal seperti biasa.
"Kamu sudah datang?" Laura membuka mata. "Sekarang jam berapa?"
"Hampir jam 8 pagi, saya sudah siapkan sarapan untuk Non Laura."
"Nggak mau makan, perutku mual ...."
"Biar saya periksa." Perawat mengecek tensi darah Laura, tidak ada yang salah. Bagian perut bukan keahliannya tapi ia berinisiatif memberikan alat pengecek kehamilan yang selalu ada di dalam tasnya. "Non Laura bisa tes urine pakai ini, siapa tau ada janin yang mulai terbentuk di rahim Nona!"
Kelopak mata Laura terbuka lebar. "Kamu bercanda?"
"Saya cuma menduga, kita cek saja biar nggak salah kasih obat."
Laura menggenggam alat tes kehamilan dan membawanya ke kamar mandi, Laura melakukannya seperti petunjuk yang ada di luar kemasan.
Tangan Laura gemetar, cairan bening sudah keluar dari kelopak matanya, ia terharu melihat dua garis merah yang terpampang nyata.
Dirinya akan menjadi seorang ibu, anak ini adalah bukti cintanya dengan Diko.
"Hamil ...? Ak-aku hamil?" Tangisan itu semakin menjadi, bahagia, haru, kesal karena Diko belum menghubunginya semua bercampur menjadi satu. Laura meraba perutnya. "Kamu hadir, sayang ... terima kasih, terima kasih sudah hadir di dalam rahim mama."
__ADS_1
Satu kebahagiaan lagi yang ia dapatkan, Laura berharap semoga hidupnya selalu dilimpahi kasih sayang dan kebahagiaan.