
Genta merasa tidak tenang. Setelah pergi keacara pemakaman Ferdian dan menemui Felicia, ia justru merasa akan ada hal buruk yang terjadi.
"Ada apa ini? mengapa hatiku tidak tenang?" batin Genta.
Tanpa sadar, mobil yang dikemudikannya sudah sampai dirumah. Mobil berhenti dan parkir dihalaman, Genta dengan segera turun dari mobil dan masuk kedalam rumahnya melewati pintu utama.
Maurine sudah menyambut, dari arah dapur Maurine berjalan menghampiri Genta.
"Sayang," sapa Maurine tersenyum.
"Tidak istirahat, sedang apa?" tanya Genta.
"Ah, itu. Aku baru selesai memasak makan siang untukmu," jawab Maurine.
Genta mengernyitkan dahi, " Apa? kau memasak? sayang, sudah aku katakan, jangan melakukan aktivitas berat!" seru Genta cemas.
Maurine diam, ia tahu jika akan ada adegan dimana ia dimarahi, dan di omeli oleh Genta. Maurine tidak membantah, karena memang apa yang dikatakan Genta benar. Namun, Maurine hanya ingin menyiapkan makan siang khusus untuk suami tercintanya.
Maurine menatap Genta yang terlihat kesal, "Apa kau marah?" tanya Maurine.
"Hm," gumam Genta.
"Maaf, sayang...," kata Maurine.
"Hm," gumam Genta lagi.
"Sayang, aku mengaku salah. Jangan marah lagi," ucap Maurine memelas.
Genta mengambil napas panjang, lalu mengembuskan napas perlahan. Genta merasa tidak sanggup jika berlama-lama kesal pada Maurine. Namun, ia masih mencoba berpura-pura untuk marah dan kesal.
Genta tidak menjawab, ia langsung masuk dan pergi kedapur untuk cuci tangan. Maurine mengikuti Genta, Maurine terlihat sedih karena Genta mengabaikannya.
"Apa dia sungguh marah? bagaimana ini, aku tidak menyangka dia benar-benar akan kesal padaku," batin Maurine panik.
"Sayang," panggil Maurine.
Genta selsai mencuci tangan dan mengeringkan tangannya. Tanpa melihat Maurine, ia langsung pergi menuju meja makan.
"Maaf," kata Maurine manangis, ia segera berlari memeluk Genta dari belakang.
Genta menghentikan langkahnya, ia melihat tangan Maurine melingkar diperutnya.
"Maafkan aku, aku janji akan menurut. Jangan marah," kata Maurine.
Hiks....
"Ahh," rintih Maurine tiba-tiba.
Tangan Maurine yang melingkar diperut Genta pun longgar. Maurine memegang perutnya yang terasa sakit, hal itu membuat Genta khawatir dan cemas. Genta pun langsung berbalik dan memastikan keadaan Maurine.
__ADS_1
"Kau baik-baik saja?" tanya Genta melihat Maurine memegang perutnya.
Maurine mengangguk perlahan, "Ya..., hanya sedikit sakit."
"Duduklah," kata Genta memapah Maurine duduk di kursi.
Genta meraba perut Maurine, "Perlu ke rumah sakit? atau kita panggil Dokter saja?" Kata Geta.
Maurine menggelengkan kepalanya, "Tidak perlu. Aku baik-baik saja, hanya sedikit sakit saja. Tidak apa-apa," kata Maurine.
Genta mengusap perut Maurine, ia terlihat sedih. Melihat suaminya murung dan sedih, Maurine meraba wajah suaminya itu dan kembali meminta maaf.
"Maafkan aku. Aku selalu mebuatmu khawatir," kata Maurine.
Genta berjongkok dihadapan Maurine, ia memegang tangan Maurine, ia mencium bergantian kedua punggung tangan Maurine. Genta pun membenamkan wajahnya kedalam pangkuan Maurine.
Maurine mengusap pelan-pelan kepala Genta. Maurine menunduk dan mencium kepala Genta.
"Maafkan aku, sayang...," bisik Maurine.
Genta menadahkan kepala, "Lupakan saja. Aku tidak marah sayang," kata Genta.
"Tapi kau diam saja. Tidak bicara padaku," jawab Maurine.
"Ya, aku hanya sedikit kesal."
"Maaf," kata Maurine lagi.
Maurine memajukan bibirnya, itu membuatnya menjadi imut dan sangat manis. Membuat Genta gemas.
"Bagaimana bisa aku kesal dan marah padamu. Kau begitu mempesona, sayangku."
Genta tersenyum, begitu juga Maurine. Gent berdiri dan mengusap lembut kepala Maurine.
"Ayo makan, ada seauatu yang ingin aku tunjukan padamu."
"Apa?" tanya Maurine.
"Soal Felicia," jawab Genta.
"Fe-Felicia?" tanya Maurine bingung.
"Ya," jawab Genta.
Maurine mengernyitkan dahi berpikir. Genta yang melihat istrinya melamun pun segera membuyarkan lamunan istrinya.
"Sayang, ayo makan. Setelah ini kita bicara," ajak Genta.
Maurine mengangguk, ia menuruti ucapan suaminya. Maurine dan Genta pun makan siang bersama.
__ADS_1
***
Genta dan Maurine ada didalam kamar tidur meraka. Genta menceritakan pertemuannya dengan Felicia pada Maurine. Semua percakapan mereka, ia sampaikan kata demi kata pada Maurine.
"Apa yang terjadi pada Felicia?" tanya Maurine.
"Entahlah, ia terlihat sedih dan banyak beban pikiran. Dia memohon maaf padaku, juga ingin menyampaikan permohonan maaf untukmu. Memintaku untuk tidak menemuinya lagi," jelas Genta.
"Apakah dia ada masalah? sepertinya Felicia tertekan," jawab Maurine.
"Aku sudah bertanya, dan dia hanya tersenyum dan menjawab jika dia baik-baik saja. Aku sendiri juga merasa aneh," kata Genta.
"Haruskah kita menemuinya besok?" Kata Maurine.
"Ya, ayo kita temui lagi dia besok. Sekarang, dengar dan lihatlah video darinya."
"Vi-video? dia merekam video?"
"Aku bisa melihat jika dia tulus, kau bisa lihat sendiri sayang. Lihatlah," kata Genta menyodorkan ponselnya pada Maurine.
Maurine menerima ponsel dari Genta. Dengan rasa penasaran yang menumpuk, akhirnya Maurine melihat Video permintaan maaf dari Felicia.
Dalam video yang dilihat Maurine, terlihat jika Felicia tidak dalam keadaan baik-baik saja. Felicia mengutarakan isi hatinya, ia juga mengungkapkan penyesalan mendalamnya pada Maurine.
"Maafkan aku, Maurine. Aku tahu, kau mungkin saja membenciku. Ya, kau boleh membenciku. Kau boleh tidak menyukaiku atau mengutukku. Aku bersalah, aku minta maaf padamu untuk semua kesalahanku. Aku menyesal, aku sungguh minta maaf. Aku tidak bermaksud melukaimu pada awalnya, aku ingin melukai Genta. Aku berpikir jika aku melukainya, aku bisa merasa lega, karena Gebtalah sumber masalahnya. Aku tidak mengira jika kau rela mengorbankan nyawamu sendiri untuk menolong Genta. Gerakanku tidak terkendali, saat kalian sudah bertukar posisi. Aku terkejut, kau sungguh mau terluka demi Genta. Apapun yang kau pikirkan saat ini, percaya atau tidak, aku sungguh berharap kau tidak menyimpan dendam padaku. Maafkan aku Maurine, sungguh..., aku menyesal. Aku akan menjalani hukumanku sesuai perbuatanku. Jangan merasa kasihan melihatku seperti ini, haha, aku baik-baik saja. Hiduplah dengan baik, hiduplah bahagia dengan Genta. Satu hal yang harus kau tahu, Maurine. Dari sini aku bisa melihat, betapa besar cinta dan kasih sayang Genta padamu. Dia sangat mencintaimu, menyayangimu juga mengasihimu. Aku harap kalian selalu hidup bahagia bersama sampai maut memisahkan. Terima kasih untuk semuanya...."
Itulah kutipan isi rekamana dari Felicia. Tanpa sadar air mata Maurine jatuh, ia merasa jika Felicia terlihat sangat tertekan dan terpuruk.
Genta menyeka air mata Maurine, "Jangan bersedih. Semua akan baik-baik saja," kata Genta.
"Ya, aku harap seperti itu," jawab Maurine, Maurine memeluk Genta.
"Kau ingin sesuatu?" tanya Genta.
Maurine menggelengakan kepala, "Tidak ada. Aku hanya ingin kau menemaniku disini," jawab Maurine.
"Oke, aku akan temani. Jangan bersedih lagi," kata Genta.
Maurine mengangguk, ia mengeratkan pelukannya pada Genta. Karena merasa lelah, Genta pun berbaring dan mendekap Maurine dalam pelukannya. Sepanjang siang sampai hampir malam, Genta memeluk Maurine.
***
ig: dea_anggie
Line id: dea_anggie
Fb: dea anggie
Grup FB: Lelaki Bayaran Amelia
__ADS_1
❤❤❤❤❤