Menjadi Istri Simpanan

Menjadi Istri Simpanan
Resepsi


__ADS_3

Hari semakin gelap ketika Laura sudah keluar dari rumah sakit, ia mengedarkan pandangan kesegala penjuru arah mencari sosok Diko yang pergi tanpa mengatakan sepatah katapun. Laura kebingungan sebab merasa sangat asing di tempat ini.


"Berhenti! Kejar dia!"


Samar-samar Laura mendengar teriakan dari dalam rumah sakit, ia melihat beberapa orang mengejar seorang pasien laki-laki yang memakai topi berlari kearahnya.


"Berhenti! Siapapun tangkap dia!" Seorang pemuda berbaju hitam menunjuk Laura. "Hei kau! Halangi jalannya!"


"Ak-aku?" Laura menelan ludah, ia tidak punya keberanian ikut campur dengan urusan orang lain, Laura berpura-pura tidak melihat dan memutuskan untuk pergi namun, tiba-tiba tangannya dicekal dan lehernya seperti hampir disayat pisau tajam.


"Berhenti! Atau aku habisi gadis ini!" Pemuda yang masih memakai baju pasien itu mengancam nyawa wanita asing yang menghalangi jalannya. "Berikan kunci mobilnya!" pintanya tanpa membuang waktu.


"Cukup, Tuan! Jangan buat masalah lagi. Kembalilah ke ruang rawat. Biarkan dokter merawat Tuan," ucap salah seorang yang tadi mengejarnya.


"Le-lepaskan aku," lirih Laura, tubuhnya gemetaran. Ketakutan menyelimutinya. Mungkinkah dirinya akan mati di tangan orang asing ini?


"Diam! Jangan mengaturku! Cepat berikan kunci mobilnya!"


"Tapi lepaskan wanita itu." Tidak punya pilihan akhirnya ia memberikan apa yang diminta anak majikannya ini.


Laura dipaksa masuk ke dalam mobil. Nick pasien yang baru dirawat siang tadi kabur dan menyandera Laura.


"Kau mau membawaku ke mana?" tanya Laura saat sudah berada di dalam mobil.


Nick membuka topi dan menghempaskaannya ke jok belakang. Dia memilih diam dan mulai menjalankan mobilnya.


"Ini konyol! Aku baru sampai di sini dan sekarang penculik gila ini menyanderaku! Hei cepat hentikan mobilnya!" teriak Laura.


Nick tersenyum melihat Laura sekilas. "Aku tidak bermaksud menculikmu. Aku cuma memanfaatkanmu supaya aku bisa keluar dari rumah sakit itu!"


"Aku tidak perduli dengan urusanmu. Sekarang cepat turunkan aku!"


Setelah dirasa cukup aman, Nick menepikan mobilnya. "Terima kasih karena kau sudah membantuku. Namaku Nick ... boleh aku tau siapa namamu?" tanya Nick.


"Tidak perlu, aku pun tidak mau bertemu denganmu lagi," ketus Laura sembari membuka sabuk pengamannya.

__ADS_1


"Kau tidak bisa menentang takdir. Jika nanti kita berjumpa lagi maka, aku harap kau tidak keberatan menyebutkan siapa namamu!"


Laura benar-benar tidak perduli, ia berdiri di tepi jalan raya sampai mobil Nick pergi jauh meninggalkannya. Sorot lampu mobil dari arah yang berlawanan menyilaukan mata Laura hingga mobil itu memutar arah dan berhenti tepat di sampingnya.


"Kau dari mana, huh!" Diko membanting pintu mobil dan menghampiri Laura. "Aku lelah mencarimu!" Karena kesal ia menolak bahu Laura.


"Kau pikir aku tidak lelah? Aku baru saja menempuh perjalanan yang cukup jauh. Aku bahkan tidak tau harus istrahat di mana. Lagi pula bukannya kau yang pergi tanpa menoleh sedikitpun kearahku?" Laura pun menolak bahu Diko. "Pergilah! Biarkan aku sendiri!"


Diko menarik pergelangan tangan Laura dan membukakan pintu mobil untuknya. "Masuklah!"


***


Apartmen yang selama ini ditempati Diko selama di Indonesia menjadi tempat Laura istrahat. Meskipun jarang ditempati namun, seluruh ruangan terlihat bersih dan rapi.


"Kenapa tadi kau bisa sampai di jalanan itu?" tanya Diko sembari menatap layar televisi.


Laura melipat buku yang dibacanya dan melihat Diko. "Ada pemuda yang membawaku ke sana."


Diko menoleh melihat Laura yang duduk tidak jauh darinya. "Siapa?" Raut wajahnya terlihat serius.


Laura mengangkat kedua bahunya. "Tidak tau."


"Kamu adalah satu-satunya orang yang bisa menyakiti aku bahkan, aku selalu siap untuk itu!" Sebelum emosinya ikut memancing keributan, Laura memilih masuk ke dalam kamar.


***


Satu minggu sudah berlalu, Tiara sudah kembali ke rumah. Mama Delia selalu memanjakan dan menemaninya, Daniel pun sudah mendaftarkan pernikahan mereka kini, Tiara resmi memegang buku nikah.


Delia tidak mengijinkan Mike tinggal di rumah Daniel. Delia khawatir kalau Mike akan mengulangi kesalahan dan membahayakan kehamilan Tiara.


Remon lansung datang setelah mendengar kabar pernikahan Daniel, awalnya ia marah karena merasa tidak dihargai. Namun, setelah mendengar kalau ia akan menimang cucu seketika kemarahannya berubah menjadi bahagia yang tidak bisa ia jelaskan.


Hotel bintang lima di tengah-tengah ibu kota menjadi tempat diselenggarakan resepsi pernikahan Daniel dan Tiara. Kedua mempelai terlihat serasi duduk berdampingan di pelaminan. Para tamu undangan dibuat takjub dan selalu memuji dekorasi mewah dan jamuan yang dihidangkan.


"Akhirnya kamu mengumumkan pada dunia kalau adikku ini sudah sah menjadi istrimu. Aku harap kalian berdua selalu dilimpahi kebahagiaan," ucap Moza, ia bahagia melihat adiknya bersanding dengan mantan tunangannya. Bahkan, sedari tadi kehadirannya ikut disorot para pemburu berita.

__ADS_1


"Kami sudah menemukan kebahagiaan kami. Terus kakak kapan nyusul ke pelaminan?" tanya Tiara.


Moza tersipu malu, belum sempat dia menjawab. Seseorang sudah memeluknya dari belakang.


"Sebentar lagi ... kami masih mengurus undangan pernikahan," jawab Andre. Ya! Diam-diam mereka sudah menjalin hubungan serius.


Wajah Tiara berbinar. "Kak Andre? Sejak kapan?" Kalau seperti ini Tiara tidak akan merasa bersalah karena telah tanpa sengaja merebut Daniel dari Moza.


"Semua terjadi begitu saja, satu yang pasti kami saling mencintai." Andre mencium pipi Moza dan berhasil membuat para wartawan bersorak.


"Kenapa kalian yang menjadi pusat perhatian?" Daniel tidak terima. "Cari tempat lain. Kalian buat mataku sakit saja," ketus Daniel. Moza dan Andre hanya tertawa.


"Mas bule jangan gitu, dong!" Tiara mencubit pinggang Daniel. "Jaga sikap kamu, mereka bukan orang lain."


Daniel mengaduh. "Tapi mereka cuma numpang tenar aja." Daniel semakin kesal mendengar tawa Moza dan Andre yang semakin menggelegar.


"Mas bule? Panggilan apa tuh?" Andre tidak berhenti menggoda Daniel, ia masih tidak menyangka kalau sahabatnya yang keras kepala ini bisa luluh dan patuh pada Tiara.


"Jangan sampai pelaminanku ini menjadi ring tinju kita, ya," jawaban Daniel semakin membuat semua orang tertawa.


***


Diko lega mendengar kabar kalau Tiara sudah ke luar dari rumah sakit. Namun, ia tidak pernah datang menemui Tiara di rumahnya. Diko hanya ingin belajar menata hati dan menerima kenyataan bahwa Tiara tidak ditakdirkan untuknya. Diko mengalihkan pikirannya dan mulai fokus mengurus perusahaan bersama Laura yang sudah resmi menjadi sekretarisnya.


"Pakai gaun ini!" Diko memberikan gaun malam untuk Laura. "Ikut aku ke resepsi pernikahan Daniel dan Tiara. Kau harus berakting menjadi istriku yang sesungguhnya!"


Tiara mengembuskan napas lelah, lelah dengan sikap Diko yang selalu seenaknya. Bahkan Diko melarangnya bertemu mama Delia di rumah Tiara. Sebenarnya Laura ingin menolak tetapi rasa penasaran akan sosok Tiara membuat Laura semangat datang dan menghadiri pesta Daniel.


"Aku sudah siap." Laura melingkarkan tanganya di lengan Diko. "Aku harus berekting, kan?" imbuhnya saat Diko melihatnya.


Diko menatap intens Laura yang terlihat lebih cantik dari biasanya, dan sampailah mereka di tempat tujuan.


"Ayo, jalan." Laura menarik tangan Diko dan mulai memasuki gedung pernikahan Daniel dan Tiara.


****

__ADS_1


TAMAT


Daniel dan Tiara sudah Happy Ending, tunggu Tiara melahirkan. Sekarang fokus ke Diko dan Laura. Terima kasih, readers yang masih setia.


__ADS_2