Menjadi Istri Simpanan

Menjadi Istri Simpanan
Kau Sudah Menyakiti Adik Kandungku


__ADS_3

Laura menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang sudah terjadi, andai ia tidak datang ke Indonesia, andai ia tidak menjadi sekretaris Diko dan andai ia tidak bermasalah dengan Dona, semua ini tidak akan terjadi. Dona tidak akan mengalami kesulitan dan tidak akan berakhir tragis seperti ini. Bahkan, Rima tidak akan dijadikan tersangka.


"Aku yang salah, aku yang salah." Keringat dingin sudah membasahi dahinya. Dulu, ia sering disalahkan atas terjadinya kejadian yang tidak diinginkan di keluarga angkatnya, dulu ia pun merasa bersalah karena pernah berbuat tidak adil terhadap Tiara dan Daniel. Kini, rasa bersalah itu kembali datang.


"Aku mengulangi kesalahan lagi, aku jahat, semua ini salahku!" Sekujur tubuh Laura menggigil seperti orang kedinginan.


Wajah Diko pun menegang, ia mendekap Laura ke dalam pelukannya. "Tidak, kamu nggak salah. Semua yang terjadi sudah kehendak Tuhan, setiap perbuatan yang kita lakukan pasti akan mendapatkan ganjarannya, sayang... Jangan salahkan dirimu sendiri."


Laura melepaskan pelukan Diko dan memelas padanya. "Dona sudah meninggal dan Ri-Rima di penjara. Tidak, lepaskan saja dia," pinta Laura, ia menangis ketakutan.


Diko tidak bicara sepatah katapun, meskipun terkejut tapi ia mencoba untuk tetap tenang. "Minumlah!" Ia berharap Laura bisa mengontrol diri dan bisa kembali berpikir jernih tapi, segelas air itu hanya membasahu bibir Laura.


Nick dan Rey menyembunyikan file yang berisikan pasal-pasal yang akan menjerat Rima agar Laura tidak semakin menyalahkan dirinya.


"Lalu apa lagi? Gadis itu berhak mendapatkan kesempatan kedua, seperti kesempatan yang sudah aku dapatkan darimu. Cabut laporan kalian!" Laura menakupkan kedua telapak tangannya. "Bebaskan dia...."


"Tidak Laura, wanita itu sudah membantu Dona menjalankan rencana jahatnya!" Kali ini Rey ikut bicara, ia tidak setuju kalau Rima dibebaskan.


"Tapi dia melakukannya karena terpaksa, bukan? Lagipula bukankah dari awal Dona yang berniat menyelakai, aku?" Laura tetap teguh pada pendiriannya.


"Kamu ingin membebaskan dia hanya karena merasa dia berhak mendapatkan kesempatan kedua, begitu?" Nicky yang sedari tadi diam pun menyatakan ketidak setujuannya.


Laura mengangguk dalam.


Nicky memukul sofa kesal dan kembali berucap, "Lalu bagaimana kalau dia mendapatkan kesempatan kedua menyelakaimu, lagi?"


Meskipun separuh hati Nicky sudah berlabuh pada Rima. Tapi, ia tidak mau bertindak bodoh dan kegabah dalam mengambil keputusan. Cintanya pada adiknua Laura lebih besar dari itu.


"Aku akan menetap di Paris, Kak! Tidak masalah, bukan?" pekik Laura dengan nada memaksa.


Diko meraih kedua bahu Laura agar kembali menghadapnya. "Laura dengarkan, aku---

__ADS_1


Laura memungkas ucapannya. "Dengarkan aku, Diko! Kesalahannya masih bisa dimaafkan. Bagaimana bisa kita menghancurkan masa depan gadis itu di saat aku tengah mengandung seperti ini? Kau mau setiap hari aku stres mimkirin dia yang kedinginan di dalam penjara?"


"Kenapa harus menghubungkannya denganmu?" Diko pun masih tidak mau menuruti Laura.


"Karena ini menyangkut diriku! Kalian tidak pernah jadi, aku. Bagaimana sakitnya dikucilkan, dijauhi, dibuang, disalahkan, harus melakukan apapun diluar kehendak bahkan, rela melakukan kejahatan demi bertahan hidup. Apa bedanya Rima denganku? Bukankah aku sudah mendapatkan kesempatan kedua dan bisa hidup lebih baik lagi? Lalu di mana salahnya?"


Diko, Nick dan Rey terdiam, ruangan itu menjadi sepi hanya menyisahkan isakkan tangis Laura.


Laura mendekap tangan Diko di dada. "Demi aku, lepaskan dia!" Laura masih menangis dan memohon agar Diko mau mengabulkan keinginannya.


***


Kantor polisi


Rima tidak berhenti berdoa, memohon agar Tuhan memaafkan dirinya dan Dona. Sudah beberapa hari ini ia mendekam di penjara, tidak ada seorang pun yang datang menjenguknya. Ya, ia seperti hidup sebatang kara di dunia.


Seorang petugas memanggil namanya, memberi tahu jika ada seseorang yang datang mengunjunginya, ia keluar dari sel membawa berbagai pertanyaan di dalam hatinya.


Langkah kakinya terasa berat ketika melihat sosok pria berkemeja hitam sedang duduk di ruang tunggu yang sudah dipersiapkan. Air matanya lolos begitu saja namun, Rima cepat-cepat menghapusnya.


"Saya tidak mau bertemu dengan siapapun, Bu," ucap Rima, ia memutar badan tapi, terlambat sebab pria itu sudah melihat dan memanggil namanya.


"Rima!" Bibir Nicky bergetar, kedua tangannya mengepal menahan perasaan yang berkecamuk di dada, marah, kesal, benci, rindu, kasihan dan mungkin masih ada sedikit cinta di hatinya.


Rima merunduk dan memutar badan, ia pasrah dibawa petugas mendekati Nicky.


Mata Nicky semakin memerah, urat-urat halus sudah terlukis di keningnya, ia memerhatikan Rima dari ujung kaki sampai ujung kepala, seragam tahanan yang melekat di tubuh Rima terlihat sangat mencolok.


"Waktu kalian cuma sebentar." Seorang petugas sedikit menjauhi Rima dan Nicky.


"Maaf ...." lirih Rima, tidak berani mengangkat kepala, malu, menyesal, merasa bersalah dan merasa sangat jahat.

__ADS_1


"Huffftttt!" Nicky membuang napas kasar dan mengusap wajahnya, mencoba mengontrol emosi dan hatinya. "Duduklah!"


Keduanya saling duduk berhadapan, Rima masih diam dan menundukkan kepala sementara Nick hanya memainkan jemarinya di atas meja.


Untuk sesaat tidak ada yang bersuara hanya terdengar ketukan kecil yang berasal dari jemari Nicky.


"Ada yang mau kau katakan?" tanya Nick suaranya pelan tapi, terkesan dingin.


"Maaf untuk semuanya...." Rima memainkan ujung kaosnya, berusaha menutupi ketakutan yang menyelimuti dirinya.


"Untuk apa? Kenapa minta maaf padaku?" Nicky bersedekap dada. "Memangnya apa yang sudah kau lakukan?"


Rima memberanikan diri melihat Nicky. Untuk pertama kali setelah sekian lama kedua mata mereka saling menatap dalam. Mata Rima sudah mulai berkaca-kaca, ia tahu kalau Nicky sangat marah dan kecewa padanya.


"Kamu kecewa sama aku, kan? Dari awal sudah aku bilang kalau aku bukan orang baik, tapi---


"Aku datang ke sini bukan untuk membahas hubungan kita yang abu-abu. Persetan sama semua itu!" ketus Nicky, ia membuang pandangan ke sembarangan arah, menghindari Rima yang hampir menangis.


Rima tidak bisa lagi menahan air matanya, ia tahu jika saat ini hati Nicky sedang terluka karena ulahnya. Padahal, ia pun tidak menginginkan semua ini terjadi. Rima menangis dan menutupi wajah dengan kedua telapak tangannya.


"Sampai kapanpun, perbuatanmu tidak bisa dimaafkan. Terlebih lagi kau sudah berani menyakiti adik kandungku!"


DEG!!!


Rima terkejut setengah mati, dilihatnya Nicky yang sudah memasang tampang ingin membunuhnya.


"A-adik kandungmu?" Kenyataan ini semakin melemahkan hatinya, hancur lebur tidak terbentuk hingga mengakhiri harapan kecil untuk bisa kembali memerbaiki hubungannya dengan Nicky.


"Ya ... Laura adik kandungku! Bukan cuma melukainya tapi, kau juga sudah melukai hatiku!" Nicky menunjuk dadanya sendiri. "Kau minta maaf karena sudah menyakiti dua orang yang memiliki hubungan darah?"


"Bu-bukan, ak-aku--

__ADS_1


"Lupakan apa yang pernah aku katakan, perasaanku, ketertarikanku, cintaku semua sudah berakhir di sini!" Nicky beranjak dari duduknya. "Adikku sudah mencabut laporannya dan setelah ini aku harap tidak akan pernah melihat wajahmu lagi!" Rey bicara tegas dan pergi meninggalkan Rima yang semakin menangis histeris.


__ADS_2