
Masih pagi sekali Diko membuka mata ia merasakan tubuhnya lebih baik dari malam tadi kepalanya pun sudah tidak pusing lagi panas yang sempat menjalar pun sudah tidak lagi menggila. Diko menoleh ke arah samping tepat di sebelah tidurnya dilihatnya Laura masih tertidur pulas dengan selimut yang menutupi tubuhnya hingga bagian dada sementara lengan Laura menutupi wajahnya. Diko tersenyum mengingat apa yang baru mereka lakukan beberapa jam yang lalu. Bagaimana bisa mereka melakukannya, bahkan ini adalah pengalaman yang pertama untuk mereka.
Diko memegang tangan Laura dengan hati-hati agar wanita ini tidak terbangun dari tidurnya kemudian, ia meletakkan tangan halus itu di bawah selimut. kini, Diko bisa leluasa melihat wajah polos Laura yang terlelap dan kelelahan karena mengimbanginya.
" Terima kasih kamu sudah membantuku tidak ku sangka aku adalah orang pertama yang menyentuh dan mendapatkan kesucian mu." Entah dapat dorongan dari mana Diko berani mencium kening Laura kemudian, Iya meraih handuk dan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
**
Dering alarm yang sengaja dipasang pada ponsel membangunkan Laura dari tidurnya. Seperti rutinitas biasa di pagi hari, Laura akan menyiapkan pakaian kantor sebelum Digo bangun dari tidurnya setelah itu Laura akan menemani Diko sarapan di meja makan sebelum mereka pergi ke kantor bersama. Namun, belum sempat ia beranjak dari tidurnya Laura terkejut melihat tubuh polosnya terdapat beberapa bercak merah yang mungkin ditinggalkan Diko. Ia masih ingat malam panjang yang dihabiskan dengan Diko.
" Laura... kenapa kau mau melakukannya. Diko pasti akan menganggapmu sebagai wanita murahan, Bagaimana kalau setelah ini dia semakin membencimu? Laura kau pasti sudah gila mau ditaruh di mana wajahmu saat berhadapan dengannya nanti. Laura kau sudah tidak punya harga diri lagi. Bagaimana kalau nanti kau hamil, Laura...?" Laura menjambak rambutnya frustasi kesucian yang ia banggakan sudah direnggut suaminya sendiri apa nanti kalau dirinya hamil suaminya itu akan menerima anaknya? Jangankan anaknya yang belum ada, kehadirannya pun dipandang sebelah mata.
"Tapi tidak apa-apa, setidaknya dalam keadaan seperti itu kau mengingatku. Aku tahu malam tadi ada yang tidak beres denganmu mungkin saja ada yang ingin berniat jahat padamu tapi syukurlah kau tidak menyentuh wanita lain selain aku. Meskipun, kau melakukannya karena terpaksa tapi setidaknya kamu yang mendatangiku. Itu sudah lebih dari cukup, Diko aku harap setelah ini kau tahu kalau aku memang tulus mencintaimu. Cintaku tidak menuntut balasan karena aku tidak mau memaksa kau untuk menerimaku."
Laura menyingkap selimut. Dia melihat ada lipatan handuk putih tepat di sampingnya mungkin Diko yang menyiapkan untuknya Laura mengambil dan bersiap untuk memakainya tetapi, gerakannya terhenti ketika merasakan sakit di bagian bawahnya.
"Sakit ... Kenapa sesakit ini? Kenapa masih terasa sakit? Apa memang seperti ini? Ternyata benar yang mereka katakan sakit tapi...." pipi Laura menjadi merona mengingat kejadian semalam.
Pintu kamar yang ditutup dari luar mengejutkan Laura. Itu pasti Mbak Asri, asisten rumah tangga yang biasanya membersihkan apartemen dan memasak untuk mereka. Diko paling suka makan-makanan Indonesia sementara Laura tidak bisa memasaknya jadi, Diko mencari pekerja paruh waktu yang hanya bekerja sampai jam jam 11 siang.
" Nona Laura sudah bangun?" Asri teriak dari luar pintu.
" Sudah, mbak Asri Langsung Masak saja." Jawab Laura sambil melilitkan handuk di tubuhnya.
" Tapi, Tuan Diko pesan agar saya menyiapkan air hangat untuk mandi Nona."
__ADS_1
"Untukku?" Laura ingin memastikan untuk apa Diko menyuruhnya?
"Iya, katanya Nona sakit. Jadi saya ditugaskan untuk menyiapkan kebutuhan Nona seperti, air hangat, sarapan pagi dan menemani Nona sampai Tuan Diko kembali dari kantor."
"Tapi aku tidak sakit, biar aku sendiri yang melakukannya. Aku harus ke kantor sebelum jam 8. Jadi tolong siapkan saja sarapanku seperti biasa."
"Hari ini Nona tidak perlu ke kantor. Itu pesan dari Tuan. Biar saya siapkan sarapan untuk Nona, saja." Asri pun kembali ke dapur.
Laura semakin bingung, tidak biasanya Diko bersikap seperti ini. Biasanya laki-laki itu akan marah kalau dirinya terlambat ke kantor. Laura ingin memastikan sendiri, ia meraih ponsel dan menghubungi Diko.
***
Diko benar-benar disibukkan dengan pekerjaan di kantor. Sebuah perusahaan furniture terbesar dan dengan kualitas yang bagus dan laris di pasaran menawarkan kerja sama dengannya. Pagi ini Diko akan mengadakan rapat dengan rekan barunya tersebut.
"Ya, kita hanya tinggal menunggu Nick saja," jawab Wira. Nick merupakan salah satu teman Wira sewaktu masih duduk di bangku SMA.
"Baguslah." Getaran ponsel di samping laptop menarik perhatian Diko. Namun, ia tidak sempat melihatnya sebab, Nick sudah datang.
"Maaf, sepertinya saya terlambat." Nick mengulurkan. "Saya Nicky," ucap Nick setelah berjabat tangan dengan Diko.
"Saya Diko. Jangan khawatir kita masih punya banyak waktu." Diko memersilahkan Nick duduk di tempat yang sudah disediakan.
Nick duduk dengan gelisah. Matanya memerhatikan satu perstu orang yang ada di ruangan itu seperti sedang mencari seseorang.
'Di mana dia? Aura bilang, dia sekretaris di kantor ini 'kan? Harusnya ikut meeting' batin Nick kecewa sebab, tidak melihat Laura di manapun.
__ADS_1
"Bisa kita mulai?" tanya Wira.
"Silahkan," jawab Nick mencoba bersikap profesional.
Meeting pun dimulai, Nick memperkenalkan furniture mewah buatan perusahaannya dihadapan Diko yang sedari tadi fokus menatap layar infocus di depan mata.
Sementara Diko, mata dan telinganya berfungsi di tempat ini. Tetapi, pikirannya ada di tempat lain. Laura, sedang apa dia?
Tangan Diko membuka ponselnya. Tertera panggilan tidak terjawab dari Laura. Tanpa pikir dua kali Diko menghubungi laura melalui vidio call.
Laura baru keluar dari kamar mandi, rambutnya masih basah dan tubuhnya hanya dililit handuk putih. Demi melihat siapa yang menghubunginya Laura pun menunda untuk berpakaian.
"Vidio call? Tumben sekali. Apa terjadi sesuatu di sana? Mana mungkin aku menjawabnya dalam keadaan seperti ini. Tapi, bagaimana kalau ini penting?" Laura cepat-cepat duduk di kursi tepat di depan cermin yang biasa ia gunakan untuk merias.
"Ada masalah apa?" tanya Laura ketika sudah bersitatap dengan Diko di balik layar datar itu.
Diko tidak langsung menjawabnya, ia menonaktifkan suara ponselnya dan fokus melihat wajah Laura.
Diko tidak mendengar ucapan Laura. Wanita itu sesekali melambaikan telapak tangan ke kamera karena Diko tidak menjawabnya.
Sorot mata Diko berubah melihat rambut basah Laura. Bahkan, tetesan airnya jatuh membasahi sebagian leher Laura.
'Bahaya,' batin Diko setelah tidak sengaja melihat beberapa bercak merah di leher Laura. 'Aku masih tidak percaya kita sudah melakukannya.'
Semakin berbahaya karena rasanya Diko ingin mengulanginya lagi.
__ADS_1