Menjadi Istri Simpanan

Menjadi Istri Simpanan
Karena Aku Cinta Kamu


__ADS_3

Diko berdehem."Ekhm... apa kalian sengaja ngundang kami hanya untuk menonton kemesraan ini?" Bisa-bisanya ia melihat kemesraan secara langsung disaat seperti ini, disaat Laura ngambek padanya.


Daniel menoleh. "Kalian sudah datang?" ia pun terpaksa melepaskan Tiara dan menyambut Diko dan Laura. "Salahmu sendiri kenapa datang seperti hantu. Harusnya tekan bel supaya aku tau ada tamu yang datang." Daniel tidak mau disalahkan.


"Sudah jangan tengkar." Perempuan penyuka warna putih ini memeluk Laura. "Kak Laura apa kabar?" Tiara menyambut dengan ramah.


Pelukan Tiara membuat perasaan Laura menjadi lebih baik karena ia merasa seperti punya teman di tempat asing ini.


"Panggil Laura saja ... kalau boleh, aku mau jadi temanmu."


Tiara melepas pelukannya. "Tentu boleh, datanglah kapanpun kamu mau."


Laura semakin antusias, ia takjub melihat perut Tiara. "Perutmu sudah semakin besar. Boleh aku pegang?" Ia meletakkan telapak tangan di perut Tiara. "Aku tidak sabar ingin menimangnya. "Laura bercanda kini, ia bahkan sudah bisa tertawa lepas.


Diko melirik Laura, selama ini mereka tidak pernah membahas soal anak bahkan, hubungan mereka mengalir begitu saja. Apa diam-diam Laura menginginkan hadirnya seorang anak diantara mereka?


"Jangankan menimang, sebentar lagi kamu juga akan mengandung dan punya baby sendiri. Aku berdoa semoga kalian secepatnya dianugerahi keturunan yang baik, cantik dan tampan," ucap Tiara.


"Me-mengandung? Aku akan mengandung?" Tanpa sadar ia meraba perutnya yang datar.


"Iya, kan sudah punya suami," cetus Tiara. "Apa kalian menunda punya momongan?"


Diko dan Laura saling menatap satu sama lain, mereka tidak mengatakan apapun tapi, dari pancran mata keduanya sama-sama menyiratkan pertanyaan yang sama seolah saling memahami perasaan satu sama lain.


'Mai dibawa kemana hubungan kita?'


"Tidak ... kami tidak menundanya." Diko melingkarkan tangan di pinggang ramping Laura. "Benarkan?"


"Kau mau seorang anak dariku?" Laura spontan bertanya.


"Tentu karena, kau istriku. Jadi, sudah pasti aku menginginkan anak darimu."


"Oh ... karena itu." Laura pikir, Diko akan mengatakan karena cinta tapi, karena statusnya sebagai seorang istri dan kini, kecewa kembali menyelimuti hatinya.


***


Makanan mewah ala Restoran mewah juga makanan tradisional khas Indonesia sudah tersaji di atas meja. Tiara sengaja menghidangkan berbagai menu makanan agar Laura merasa nyaman seperti berda di Paris.


"Ini apa?" Laura menunjuk sayuran hijau dengan bumbu kacang di atasnya.


"Gado-gado, itu enakloh semenjak aku hamil itu jadi makanan kesukaan aku." Tiara menaruh beberapa sendok gado-gado di piring. "Makanlah, kakak pasti suka."


"Apa seenak itu?" Ia mulai mencobanya. "Ini enak, sebelumnnya aku tidak pernah makan ini." Laura memakannya dengan lahap, bukan itu saja ia juga mencicipi makanan yang lainnya.


Makan malam itu diselingi percakapan kecil, tidak ada yang membahas bisnis hingga suasana kekeluargaan terasa kental di tempat ini.


Usai makan malam Tiara mengajak Laura berbincang di ruang keluarga, sementara Diko dan Daniel masuk ke ruang kerja milik Daniel.

__ADS_1


"Tiara, gimana caranya buat Diko jatuh cinta sama kamu?" tanya Laura ragu.


"Buat kak Diko jatuh cinta sama aku?" Tiara mengernyitkan dahi. "Maksudnya gimana, sih? Aku nggak ngerti."


Laura mendesahkan napas. "Aku yakin kalau sampai sekarang Diko masih cinta sama kamu, dia bahkan tidak mau buka hatinya sedikitpun untukku." Wajahnya terlihat sendu. "Aku sudah mencoba menjadi lebih baik, belajar masak, berpenampilan cantik dan semenarik mungkin tapi, percuma. Diko tetap tidak melirikku."


Lauta tertawa. "Serius kakak berpikiran seperti itu?" Ia melemparkan bantal kecil tepat di pangkuan Laura. "Cinta antara kami sudah tidak ada. Masa lalu itu nggak perlu diungkit kalau hanya membuatmu menjadi tidak percaya diri. Jangan pesimis memangnya kamu nggak bisa liat cinta di mata Diko?" tanya Tiara.


Laura menggeleng lemah, mana ia tahu karena Diko tidak pernah mengatakannya.


"Aku yakin kak Diko sudah jatuh cinta dan sejatuh-jatuhnya sama kamu, jadi jangan pernah ragukan itu."


"Tapi dia tidak pernah mengatakannya."


"Mungkin, kak Diko masih menata hatinya. Aku paham karena secara tidak langsung aku sudah membuatnya trauma mungkin dia takut kehilangan lagi tapi, aku yakin kalau kalian bisa hidup bahagia seperti aku dan Daniel."


"Kamu yakin?"


"Asalkan kamu tidak pernah pergi dari hidupnya."


"Tidak, Tiara ... aku tidak akan pergi kecuali." Laura mendekap bantal. "Kecuali Diko sendiri yang menginginkan aku pergi," lirihnya.


"Apapun yang terjadi dan kapanpun kamu mau datanglah ke rumah ini. Jangan pernah pergi ke tempat asing untukmu."


"Akan aku pertimbangkan nanti," jawab Laura, ia merasa sedikit lega setelah mendengar nasihat Tiara.


***


"Apa?" tanya Diko tidak mengerti, jemarinya masih mengetik sesuatu dan matanya fokus menatap layar laptop.


"Jangan tunggu kehilangan baru kau menyadari perasanmu. Biasanya penyesalan selalu datang terlambat."


Diko tertawa masam. "Kau mulai lagi."


"Harus ada yang mulai menyadarkanmu. Aku juga seorang pria, jadi aku tau kalau mulutmu berat mengatakannya. Tapi, matamu menyimpan cinta untuknya."


Diko melihat Daniel sekilas. "Kau menang kali ini, seperti yang sudah kita sepakati tadi jangan ganggu aku sebelum aku kembali."


Daniel berdecak kesal."Pergilah!" Mulai besok ia yang akan menghandle perusahaan adik lain ayah dan ibu ini.


***


Begitu sampai di rumah Diko langsung menuju ke kamar, mengambil koper dan mengepak pakaiannya. Sedari tadi, tidak ada percakapan apapun dengan Laura. Laura bahkan sudah berbaring di atas kasur.


"Mau kemana?" tanya Laura ketika melihat Diko menyandarkan koper miliknya di dinding.


"Lombok."

__ADS_1


Laura terkejut ia menyingkap selimut dan mendekati Diko. "Ke Lombok? Bawa pakaian sebanyak ini? Kamu pergi selama itu?" Laura menarik tangan Diko hingga menghadapnya, ia mendadak tidak rela berjauhan dengan Diko.


"Bukannya kamu yang mau aku pergi?" Ia mengamati wajah Laura.


Laura menggigit bibir bagian bawahnya, mengingat ucapan yang sudah ia lontarkan ketika marah.


"Kau tidak membantah?" tanya Diko lagi. "Mau aku ingatkan?"


"Tidak." Laura meraih tangan Diko. "Jangan pergi."


"Tapi aku harus pergi, tujuanku ke Lombok tidak bisa ditunda lagi."


"Sampai kapan?"


"Sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan."


Laura membuang muka, ia tidak mau Diko melihat matanya yang sudah panas dan berkaca-kaca, akhirnya ia menghentakkan kaki dan kembali naik ke atas kasur.


"Pergilah! Sana pergi!" Laura melempar bantal dan menghilang di bawah selimut.


Diko memungut bantal yang dilempar Laura dan ikut berbaring di saming Laura.


"Kau mau aku pergi?"


'Dasar tidak peka,' batin Laura.


"Pergilah!"


"Kau yang mau'kan?" Tangannya menarik selimut Laura hingga kini, ia dan Laura sudah saling melihat.


"Menurutmu?"


Diko tersenyum dan merapikan rambut Laura. "Iya ... aku akan tetap pergi." Ia mendekap Laura. "Denganmu." Diko mengecup puncak kepala Laura.


Laura terdiam, tubuhnya mendadak menjadi kaku, ia mengangkat dagu dan melihat Diko.


"Denganku? Aku ikut ke lombok?" Suaranya terdengar lirih.


"Iya ... kita akan bulan madu di Lombok." Jemari tangannya bermain di wajah Laura.


Laura semakin tercekat. "Bulan madu? Kita bulan madu?" Ia terlihat seperti orang bodoh.


Diko menyubit kecil hidung Laura. "Kau tidak mau?"


"Bukan begitu ... kenapa kita harus bulan madu? Kau mau enaknya saja." Laura mendorong Diko tapi, Diko semakin memeluknya.


"Karena aku mencintaimu, Laura ... aku sudah jatuh hati padamu. Aku sudah memikirkan semuanya, aku tidak mau masa lalu menghalangi masa depan kita, sikapku selama ini karena aku takut kehilangan lagi jadi aku mohon jangan pernah tinggalkan aku. Maafkan aku Laura ... aku mencintaimu." Ia berbisik di telinga Laura.

__ADS_1


***


Sampai jumpa di Lombok🌹


__ADS_2