Menjadi Istri Simpanan

Menjadi Istri Simpanan
Genta Bertemu Felicia


__ADS_3

Keesokan harinya....


Usai acara pemakaman, Genta pergi menemui Felicia. Felicia terlihat sedih, matanya merah dan bengkak.


"Kau baik-baik saja?" tanya Genta.


"Hah, aku baik. Jangan cemaskan aku," jawab Felicia.


"Sungguh?" tanya Genta lagi.


"Kau datang ingin mengejekku? apa kau senang dengan keadaanku sekarang?" kata Felicia menunduk.


"Kau bisa cerita padaku jika kau ingin. Aku tahu, kau membenciku karena kejadian saat itu. Tapi, aku tak punya pilihan lain. Maafkan aku," ucap Genta.


Hiks....


Hiks....


Hiks....


Felicia menangis, ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Genta menatap Felicia, "Jangan menangis," kata Genta.


"Maafkan aku," kata Felicia.


"Untuk?" sambung Genta.


"Aku sudah membuat Maurine terluka. Aku sungguh kesal, saat itu aku ingin..., aku ingin...," kata-kata Felicia terputus oleh Genta.


"Kau ingin membunuhku?" sela Genta.


Felicia menatap Genta, "Ya, aku ingin membunuhmu. Aku kesal padamu, aku sangat marah melihatmu tertawa bahagia, mengumbar kemesraan dengan Maurine. Aku terbawa emosiku, aku begitu ingin menghancurkan kalian berdua. Maafkan aku Genta, maafkan aku...."


Genta terdiam, ia memegang tangan Felicia lalu menggenggam erat tangan Felicia.


"Aku percaya jika kau adalah wanita yang baik. Lupakan saja, kau juga sudah menerima hukumanmu. Aku tidak akan mengungkit lagi masalah ini," jelas Genta.


"Terima kasih. Bagaimana keadaannya?" tanya Felicia ragu-ragu.


"Siapa? Maurine?" tanya Genta.


Felicia mengangguk, "Ya, dia pasti membenciku. Aku bersalah, dan melukainya. Maurine pasti sangat membenciku," ucap Felicia.

__ADS_1


"Dia tidak membencimu," jawab Genta membuat Felicia terkejut.


Felicia melebarkan mata, "Apa? apa kau bergurau? aku membuatnya terluka, bagaimana bisa ia tidak mmebenciku?" kata Felicia bingung.


"Dibandingkan Maurine, akulah yang lebih kesal dan marah padamu. Oleh karena itu aku membuatmu menerima hukuman yang pantas. Aku sungguh terbawa emosi hingga lupa kendali," jawab Genta.


Felicia menatap Genta dan tersenyum, "Tidak apa-apa. Aku akan jalani hukumanku, Genta. Aku memang bersalah, aku sudah melukai istrimu. Aku sangat menyesal dan minta maaf padamu. Sampaikan juga penyesalanku juga permintaan maafku pada Maurine. Aku berharap kalian selalu bahagia, selalu bersama sampai akhir. Jangan temui aku lagi setelah ini, ja...," ucapan Felicia dipotong oleh Genta.


"Apa maksud ucapanmu?" kata Genta.


"Jangan pernah datang menemui saat aku kembali kepenjara nanti. Lupakan aku, aku ingin menjalani hukumanku tanpa rasa bersalah lagi. Aku hanya akan merasa menyesal dan terus merasa bersalah jika melihatmu. Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Papaku sudah tiada, hanya aku seorang diri sekarang."


"Ada aku dan Maurine, kau tak sendirian."


Felicia menyeka air matanya, "Ya, terima kasih. Aku tahu kau orang yang baik, begitu juga Maurine. Tapi aku tidak pantas menerima kebaikanmu."


"Baiklah, jika itu keinginanmu. Apa ada hal lain yang ingin kau sampaikan?" tanya Genta.


Felicia menganggukkan kepala, "Ya, ada dua hal yang ingin aku sampaikan. Aku harap kau membantuku," jawab Felicia.


"Apa itu?" tanya Genta penasaran.


"Rekamlah permintaan maafku utuk Maurine. Juga, aku ingin kau menemui seseorang bernama Zack. Katakan jika aku akan menerima hukuman sesuai perbuatanku. Jujur saja, selama ini aku bekerjasama dengannya. Aku selalu berkeluh kesah padanya, aku selalu ingin membalaskan dendam padamu, dan dia selalu mendukungku."


"Apakah kau tahu jika Zack menyukaimu?" tanya Genta.


"Aku punya banyak mata dan telinga. Tidak sulit bagiku untuk mendapatkan informasi. Aku terkejut, hari ini kau mau mengakui kesalahanmu juga meminta maaf. Jika aku boleh jujur, aku jadi khawatir padamu. Kau memintaku seakan pergi sejauh-jauhnya darimu."


Felicia diam, ia hanya tersenyum menatap Genta.


"Maafkan aku Genta. Aku sungguh tidak tahu harus apa lagi," batin Felicia.


"Tak perlu khawatir. Aku akan baik-baik saja," jawab Felicia, "Oh, ayo cepat, buat rekaman permintaan maafku untuk istrimu," ajak Felicia.


Genta mengiyakan permintaan Felicia. Dengan ponselnya, ia merekam permintaan maaf Felicia untuk Maurine dalam bentuk Video.


15 menit kemudian....


Felicia selesai membuat pernyataan maaf. Felicia merasa lega, tidak ada beban pikiran lagi.


"Aku lega, tolong sampaikan pada Maurine. Kau bisa kembali sekarang, Genta."


"Kau mengusirku?" tanya Genta.

__ADS_1


"Ya, aku mengusirmu. Aku ingin sendirian, aku lelah ingin tidur. Aku ingin kembali ke penjara sesegera mungkin," kata Felicia.


Genta diam menatap Felicia, "Ada apa dengan Felicia ini. Mengapa tingkah lakunya begitu aneh?" batin Genta.


"Baiklah, aku akan pulang sekarang, dan aku akan sampaikan pada Maurine permintaan maafmu. Istirahatlah dengan baik, jangan terlalu banyak berpikir, jaga kesehatanmu juga."


"Hm, pasti. Pergilah," jawab Felicia.


Genta akhirnya pergi meninggalkan Maurine diruang rawatnya. Felicia mengiringi kepergian Genta dengan senyuman, sampai pada akhinya Genta menghilang dibalik pintu.


Tiba-tiba tangis Felicia pecah. Felicia membenamkan wajahnya kebantal, ia mencengkram kuat bantal itu.


"Papa...," panggil Felicia lirih.


"Papa jangan tinggalkan Felicia..."


Hiks....


Hiks....


Hiks....


Felicia terus menangis. Dadanya terasa penuh sesak. Sedihnya tak bisa terungkap dengan kata-kata. Setelah ia mengalami kekacauan, kini ia harus kehilangan orang terdekatnya. Satu-satunya orang yang ia miliki sudah meninggalkannya untuk selamanya.


"Apa yang harus aku lakukan, Pa?"


"Bagaimana aku bisa hidup jika Papa pergi?"


"Papa...."


"Papa...."


Hiks....


Felicia meracau, ia begitu tidak rela kehilangan Papanya. Siang itu, ia meluapkan kesedihannya hanya dengan memeluk bantal, dengan air mata yang terus menetes.


***


ig: dea_anggie


Line id: dea_anggie


Fb: dea anggie

__ADS_1


Grup FB: Lelaki Bayaran Amelia


❤❤❤❤❤


__ADS_2