Menjadi Istri Simpanan

Menjadi Istri Simpanan
Hadiah Terindah


__ADS_3

Laura mengerjapkan mata, ia meraba sekitar tempat tidur yang terasa datar. Tidak ada Diko di sampingnya. Laura melihat pintu yang masih tertutup rapat, ia kecewa karena Diko diam-diam pergi setelah membuatnya melambung tinggi, setelah mereka berdua mencurahkan kerinduan yang membuncah. Laura pikir Diko sengaja pulang hanya untuk menyalurkan hasratnya.


Laura menarik selimut dan menenggelamkan wajahnya tapi, samar-samar ia mendengar suara orang terbatuk-batuk di sekitar kamar.


Laura mencari sumber suara, ia melihat pintu balkon yang terbuka sebagian. Asap putih mengepul pun menarik perhatiannya. Laura memakai piyama dan melangkah menuju balkon.


Diko tidak bisa tidur, setelah memastikan Laura sudah larut dalam mimpi, ia menuju balkon untuk sekedar mencari angin dan menikmati sebatang rokok, barabgkali bisa sedikit menghilangkan beban yang mengganjal di hati.


'Aku harus secepatnya menangkap Dona dan mencari tau apa motifnya melukai Laura, kalau memang sakit hati karena dipecat dari kantor, tidak seharusnya perempuan itu mengincar nyawa Laura.' Diko menghembuskan asap rokok bersamaan dengan batin yang masih belum tenang, ia khawatir kalau sewaktu-waktu Dona menyakiti istrinya lagi.


"Lagi mikirin apa?" Laura sudah berdiri di belakang Diko, ia melingkarkan dua tangannya di leher Diko. "Aku pikir kamu pergi." Laura membungkuk dan meletakkan dagunya di kepala Diko.


Diko tersenyum sampai menampakkan deretan giginya yang putih, ia merasa semakin hari Laura semakin manja dan tidak lagi takut-takut padanya. Diko menggerus puntung rokok ke dalam asbak yang ada di atas meja lalu memegang tangan Laura.


"Pergi ke mana?" Ia menciumi tangan Laura dan memainkan cincin pernikahan di jari manis Laura. "Tidurlah, masih larut malam."


"Nggak mau tidur sendiri lagi." Laura memainkan rambut Diko. "Selama di luar kota tidur di mana? Sama siapa?" Ia teringat foto nyasar itu.


"Di Villa, sama Rey!" Diko menengadah, menarik cengkuk leher Laura lalu mencium sekilas bibirnya. "Curiga?" selidik Diko. "Mulai ragu sama aku?" Ia menarik tangan Laura dan membawa Laura duduk di pangkuannya.


"Masih berapa hari ditinggal, udah curiga aja." Diko menyubit pelan dagu Laura.


Laura melongos. "Bukan begitu, kamu keluar kota sama wanita lain, aku takut kalau di---


Diko meletakkan jari telunjuknya di bibir Laura. "Buang jauh pikiran negatifmu itu, mana Lauraku yang selalu optimis dan percaya diri? Bukankah kau tau kalau aku tidak akan pindah ke lain hati?"


Laura diam menatapnya.'Mungkin benar, kalau yang namanya Rima itu punya niat yang tidak baik, mau mengadu domba, mungkin?' batin Laura mulai menerka.


"Wajar kalau istri khawatir, mulai besok aku ikut ke kantor ya." Laura mulai merengek.


"Tidak boleh!" Tangan Diko melingkari pinggang Laura.


"Aku punya firasat kalau sekretaris kamu tuh punya rencana jahat!"


"Kamu saja belum pernah bertemu dengannya, sudah menuduhnya! Lebih baik kita tidur lagi, angin malam tidak bagus untukmu!" seru Diko.

__ADS_1


Laura menggeleng tanda tidak mau, ia menangkup wajah Diko menggunakan dua telapak tangannya. Laura menatap lekat mata Diko.


Kening Diko mengernyit heran melihat tingkah Laura. "Kenapa?"


"Kamu semakin tua!" cetus Laura. "Keningmu mengkerut, wajahmu semakin mengeriput, kamu harus lebih percaya sama istri biar tetap awet muda." Laura memasang tampang serius.


Diko terbahak bahkan, sebagian suara tawanya terbawa angin malam. "Iya ... iya, aku percaya Ibu Laura yang terhormat!"


"Bagus, karena kamu sudah percaya ... aku punya hadiah untukmu!" Dengan satu telapak tangan ia menutup kedua mata Diko. "Jangan ngintip!"


Diko penasaran. "Hadiah apa?"


Laura mengeluarkan kotak persegi kecil dari kantung piyamanya. "Hadiah terindah." Laura menarik tangannya.


"Sudah boleh buka mata?" Kelopak mata Diko mulai terbuka, ia memicing melihat kotak di tangan Laura. "Apa, nih?"


"Buka, dong! Aku siapkan dari beberapa hari yang lalu." Laura tidak sabar ingin melihat reaksi Diko nanti.


Pelan-pelan Diko membuka dan terdiam melihat benda pipih di dalamnya. Matanya melihat Laura seakan meminta penjelasan.


Mata Diko mulai berkaca-kaca, ia sekuat tenaga menahan air mata agar tidak tumpah di malam yang dingin ini. Tangan Diko gemetaran ketika memegang alat tes kehamilanm yang masih terdapat garis dua di sana.


"Aku akan menjadi seorang ayah? Iya...?" Diko masih tidak percaya, ia kembali menatap Laura yang masih duduk di pangkuannya.


"Ayah yang hebat, mau punya berapa anak?" Laura menimpali dengan bercanda.


"Ayolah, jangan bercanda?" Diko berharap semua ini benar adanya.


Laura meletakkan telapak tangan Diko di perutnya. "Apa yang kamu rasakan?"


Apa yang dirasakan? Diko masih diam meraba perut Laura. Tiba-tiba cairan bening keluar dari sudut matanya. Mungkinkah ini firasat seorang ayah?


"Anakku ... dia anakku, anak kita." Diko mengucap syukur atas anugerah yang Tuhan titipkan pada mereka.


"Kenapa baru bilang sekarang? Apa anak ini baik-baik saja?" Diko cemas karena tadi sudah buas di atas ranjang, ia takut terjadi sesuatu dengan calon anaknya.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja, Papa." Laura menirukan suara anak kecil.


Diko tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya, ia menciumi wajah Laura dan berterima kasih pada istrinya.


"Terima kasih untuk hadiah terindah ini." Diko menggendong Laura dan memutar kedua tubuh mereka di udara. "Aku menjadi seorang Ayah!!!" Diko berteriak seakan mengumumkan kabar bahagia ini ke semua penjuru arah. Suara tawa keduanya mengisi sunyinya malam itu.


***


Diko tidak mau pergi ke kantor, ia menyiapkan sendiri kebutuhan istrinya, menyiapkan susu hamil, roti dan semua kebutuhan Laura.


"Sudah siap? Aku sudah buat janji dengan dokter kandungan." Diko menggandeng tangan Laura keluar dari kamar.


"Jangan dipegang terus, aku nggak akan jatuh!" Laura mulai protes sebab, Diko terlalu over protektif.


"Lebih baik mencegah, bukan?" Diko menggendong Laura menuruni anak tangga sampai ke lantai dasar. "Nanti kita pasang lift saja, aku tidak mau kamu kelelahan naik turun tangga!"


"Kalau butuh apapun jangan sungkan-sungkan minta sama aku!"


"Jangan kerjakan apapun!"


"Jangan keluar rumah tanpa ijinku!"


"Jangan temui siapapun tanpa aku!"


"Jangan sembunyikan apapun dariku, kamu paham?"


"Paham, sayang!" Laura tidak menyangka kalau sikap Diko bisa semanis ini, ia bersyukur karena kehadiran calon anak mereka semakin memperkuat hubungan yang semakin membaik.


Sepanjang jalan menuju rumah sakit, senyuman Diko tidak pernah lepas dari wajahnya bahkan, satu tangannya menggenggam erat tangan Laura dan sesekali menciumnya.


Tiba di rumah sakit, keduanya memasuki ruangan dokter kandungan. Dokter wanita yang sudah berpengalaman ini sudah mulai menjalankan tugasnya dengan baik.


"Kantung janin sudah mulai terbentuk, diusia yang sekarang masih sebesar butiran beras dan akan terus bertambah besar sampai waktu dilahirkan nanti." Dokter mulai menjelaskan, Diko dan Laura tampak antusis mendengarkan.


***

__ADS_1


Besok lagi, terima kasih readers


__ADS_2