
Genta yang tadinya berselera dan bersemangat untuk sarapan. Terpaksa menghentikan kegiatannya karena ada tamu yang tidak diundang datang ke rumahnya.
Maurine tidak mengenal tamu asing yang bertamu ke rumahnya. Maurine hanya diam menatapi sesorang yang berdiri di samping Bibi Anna.
"Ada apa kau sampai repot datang kerumahku, Felicia?" tanya Genta dengan nada suara dingin.
Maurine mengernyitkan dahi, "Felicia? jangan-jangan...," batin Maurine.
"Kau tidak memintaku duduk?" tanya Felicia menatap Genta dan menatap Maurine, "Siapa wanita di sebelahmu?" tanya Felicia lagi.
"Istriku!" seru Genta.
Felicia melebarkan mata menatap Maurine, wajahnya yang berseri menjadi merah karena kesal. Felicia mengertakan gigi, melangkah maju mendekati Maurine dan Genta.
Felicia berdiri di samping Maurine, mentap Maurine lekat. Felicia melihat merah-merah di dada dan bahu Maurine, Felicia semakin kesal. Bersama begitu lama Genta tidak pernah menyentuhnya sekalipun. Sekarang dia harus melihat seorang wanita yang selalu di sentuh Genta.
Felicia mengambil gelas susu dan berniat menyiramkan kepada Maurine. Niatanya terhenti karena Genta memegang tangan Felicia. Maurine langsung berdiri dan mendekati Genta.
"Lepas!" sentak Felicia.
Genta merasa kesal, "Jangan berani-berani kau meyentuh wanitaku. Terlebih kau ingin berniat jahat, aku tidak akan segan walaupun kau seorang wanita Felicia!" gertak Genta memperingatkan.
"Kau pria br*ngs*k! aku membencimu Genta, aku akan balas semua perbuatanmu."
Genta diam tidak menjawab, Felicia melihat ke arah Maurine dan menatap tajam.
"Kau j*l*ng! berani-beraninya kau merayu suamiku. Aku akan beri kau pelajaran," teriak Felicia.
Maurine hanya diam, situasi saat itu tidak pernah terbayangkan olehnya. Dia bingung harus apa dan bagaimana menghadapi Felicia yang mengerikan.
Telinga Genta panas, Genta merebut gelas susu dan menyiramkan kewajah Felicia. Genta lalu meletakan gelas susu di atas meja. Felicia kaget, mulutnya setengah terbuka mendapati dirinya di siram segelas susu oleh Genta.
Felicia menatap Genta, "Kau...," kata-kata Felicia di potong oleh Genta.
"Jaga ucapanmu! istriku bukan j*l*ng," sela Genta kesal.
"Kau sungguh berani melakukan ini demi jalangmu, Genta? aku akan ingat apa yang kau lakukan hari ini. Kau tidak akan pernah bisa bahagia karena kau sudah membuat hatiku hancur. Aku juga akan membuatmu hancur," ucap Felicia yang langsung pergi.
Dengan penuh rasa kesal dan amarah, Felicia pergi. Genta mengehela napas, menatap Maurine yang ada di sampingnya.
"Kau tidak apa-apa kan?" tanya Genta.
Maurine menggeleng, "Aku tidak apa-apa. Diakah...," ucap Maurine yang langsung diam, takut jika Genta akan marah.
"Ya, dia Felicia. Wanita yang aku ceritakan padamu. Kau lihat sendiri kan, dia begitu kasar dan menjengkelkan. Kau tidak boleh lemah di hadapannya, kau harus melawannya. Kau juga jangan dengar omong kosongnya, kau bukan ****** Maurine. Kau adalah istriku," jelas Genta yang langsung memeluk Maurine.
Maurine bisa merasakan kemarahan dan kekesalan Genta. Maurine membalas pelukan Genta, tidak ingin Genta berlarut dalam kekesalan. Beberapa saat Maurine melepaskan pelukan dan menatap Genta.
"Aku tahu, aku hanya bingung tadi. Pergilah bekerja sekarang," kata Maurine.
"Oke, aku berangkat dulu. Aku akan mengirimu hadiah nanti," kata Genta.
Genta mengambil berkas dokumen di meja makan dan pergi, langkah kaki Genta terhenti saat Maurine memanggilnya.
"Sayang...," panggil Maurine.
Genta memalingkan wajah, "Ya? apa ada sesuatu?" tanya Genta.
"Hm, itu..., apa boleh aku mengantar makan siang untukmu?" tanya Maurine ragu-ragu.
Genta tersenyum dan kembali mendekati Felicia, "Lakukan semua yang ingin kau lakukan. Sekarang kau bukan burung kecil yang ada dalam sangkar, bairkan orang tahu jika kau adalah Nyonya Aiden."
Maurine tersenyum, "Terima kasih," ucap Maurine.
__ADS_1
"Aku akan tunggu, datanglah sesukamu selama kau ingin datang. Aku pergi, sampai jumpa nanti sayangku. Aku menyayangimu," kata Genta senang, sebelum pergi Genta mencium kening Maurine.
Genta melangkah pergi, Genta berbicara dengan Bibi Anna. Meminta Bibi Anna menjaga Maurine selama dia tidak ada di rumah. Juga berpesan untuk tidak mengizinkan tamu dan orang asing masuk ke dalam rumah.
"Ingat Bi," kata Genta.
"Baik," kata Bibi Anna.
Genta pergi meningglakan Bibi Anna. Bibi Anna menghampiri Maurine dan bertanya apakah butuh sesuatu, Maurine menggelengkan kepala dan mengatakan jika dirinya ingin pergi mandi.
"Nyonya, apakah Anda butuh sesuatu?" tanya Bibi Anna.
Maurine menggelengkan kepala, "Tidak Bi. Tolong bersihkan saja bekas susu itu, aku ingin kembali ke kamar dan mandi."
"Baik Nyonya," jawab Bibi Anna yang langsung meringkas semua piring dan gelas diatas meja.
Melihat Bibi Anna sudah bergerak untuk bekerja, Maurine berjalan pergi menuju kamarnya. Maurine masih penasaran pada Falicia, kepalanya tidak bisa berhenti untuk tidak memikirkan Felicia. Maurine sampai di depan pintu kamar, dia membuka pintu kamar dan masuk. Maurine langsung melangkahkan kaki menuju kamar mandi untuk mandi.
***
Sebelumnya....
Felicia mendatangi perusahaan berniat mendatangi Genta. Meminta kesempatan pada Genta untuk kembali bersama.
Saat hendak keluar dari mobil, Felicia melihat Alvian yang tidak lain adalah asisten Genta keluar dari gedung kantor, dengan langkah terburu-buru yang langsung masuk ke dalam mobil.
Tanpa berpikir panjang, Felicia langsung mengikuti mobil Alvian. Sepanjang jalan Felicia berpikir, jalan yang di lalui Alvian dan dirinya sendiri adalah jalan yang asing.
"Ingin kemana sebenarnya Alvian ini," gumam Felicia.
Felicia terus mengikuti Alvian tanpa di ketahui oleh Alvian. Setelah lama mengikuti, mobil Alvian masuk kedalam sebuah rumah besar. Felicia hanya bisa sampai jauh mengikuti, dia melihat dari dalam mobil Alvian keluar. Alvian membawa sesuatu, seperti sebuah berkas dokumen di tanganny, yang lalu berjalan mendekati pintu utama rumah yanh dihampirinya itu.
"Rumah siapa? mangapa Alvian membawa berkas dokumen? apa mungkin Genta yang menyuruhnya?" batin Felicia terus mengamati.
"Bibi Anna," gumam Felicia.
Felicia terus mengamati, Alvian dan Bibi Anna saling bicara dan tertawa. Felicia melihat sekeliling, matanya tertuju apda sebuah mobil yang tidak asing. Itu adalah mobil pribadi milik Genta. Melihat semuanya yang serba kebetulan, Felicia pun merangkainya menjadi sebuaha hal yang dia mengerti.
"Aku mengerti sekarang, jadi selama ini Genta pulang ke rumah ini? bukan di apartemennya atau di lembur di kantor. Pria ini sungguh merencanakan semuanya dengan sangat sempurna. Bahkan dia meminta pelayan yang telah ku usir kembali bekerja padanya. Aku akan berikan kejutan padanya," batin Felicia tersenyum.
Ponsel felicia berdering, Felicia melihat layar ponsel dan menerima panggilan dari Zack.
(Percakapan di telepon)
"Hallo," jawab Felicia.
"Feli, aku akan terlambat datang. Tiba-tiba saja ada hal yang mendesak," jelas Zack.
"Baiklah, tidak masalah Zack. Kau bisa selesaikan urusanmu lebih dulu," jawab Felicia.
"Kau oke?" tanya Zack.
"Ya," jawab Felicia.
"Aku senang kau baik-baik saja. Aku pasti datang Fel, tunggu aku. Aku akan selesaikan urusanku dulu," jelas Zack lagi.
"Iya Zack, jangan khawatir. Kabari aku jika kau sudah datang, sampai nanti."
"Ya, sampai nanti," jawab Zack.
Zack mengakhiri panggilan, Felicia memasukan kembali ponsel kedalam tasnya dan kembali melihat kearah Alvian dan Bibi Anna yang masih berbincang.
Felicia terus mengamati, duduk diam di dalam mobil. Tidak lama kemudian, Alvian pergi mendekati mobilnya dan masuk kedalam mobil. Alvian langsung pergi bersama mobilnya melesat jauh.
__ADS_1
10 menit kemudian....
Setelah memantapkan hati, Felicia pun akhirnya memabawa mobilnya masuk sampai ke halaman rumah. Felicia turun dari dalam mobil, dia berjalan mendekati mobil Genta. Felicia menatap tajam kearah rumah yang ada di hadapannya dia pun berjalan menuju pintu utama.
Tangan Felicia menekan bel rumah, Felicia sangat yakin jika Genta masih ada di dalam rumah. Felicia tidak sabar ingin betemu dengan Genta, dan juga ingin bicara dengan Genta.
"Aku harus bisa membujukmu untuk tetap bersamaku Genta. Aku tidak akan biarkan kau lari dariku," batin Felicia.
Klakkk....
Pintu rumah terbuka, Bibi Anna keluar dan menatap Felicia. Seketika melebarkan mata dan terdiam, Felicia menatap tajam dengan senyuman tipis.
"Lama tidak berjumpa Bibi Anna," sapa Felicia.
"Nona," sapa Bibi Anna.
"Aku tahu Genta di dalam, aku ingin bertemu dengannya. Cepat bawa aku masuk!" Sentak Felicia pelan agar tidak terdengar siapapun.
"Ba-baik Nona," kata Bibi Anna ketakutan.
Bibi Anna langsung berjalan masuk kedalam rumah. Bibi Anna pun berdiri jauh dari Genta dan Maurine.
Felicia yang menunggu, mendengar suara Genta yang di susul suara seorang wanita. Mendengar itu, Felicia penasaran dan langsung melangkah masuk.
***
ig: dea_anggie
Line id: dea_anggie
Fb: dea anggie
Grup FB: Lelaki Bayaran Amelia
❤❤❤❤❤
***
Kunjungi juga novel (TAMAT) saya yang lain.
•Lelaki Bayaran Amelia
•Pelukan Hangat Paman Tampan
•Pangeran Es Jatuh Cinta
(Season ke 2 dari Pelukan Hangat Paman Tampan)
•Pangeran Vampir
•Pangeran Vampir 2
•Vampir "Sang Abadi"
•Cinta Lama Yang Datang Kembali
•Mommy And Daddy
•Darren & Karren (Perjalanan Cinta)
•Suami Pengganti
•Oh My Husband
__ADS_1
Jangan lupa like, rate dan isi kolom komentar. Terima kasih.