
Diko tercengang melihat CCTV di dalam kamar. Terlebih lagi percakapan antara Laura dan Rima terekam jelas hingga sampai di telinganya. Mungkin, Rima tidak tahu kalau terdapat beberapa alat canggih di apartmen Diko.
"Berani sekali dia bicara omong kosong." Diko tidak mau sesuatu yang fatal terjadi pada Laura, awalnya memang ia ingin memanasi Laura dengan cara memanfaatkan Rima tapi sungguh Diko tidak tau kalau akan seperti ini kejadiannya.
Kakinya melangkah panjang keluar kamar, suara keributan di dapur semakin membuat hatinya was-was. Dilihatnya Laura dan Rima masih bertengkar hebat.
"Keluar dari sini, cepat pergi!" teriak Laura, ia sangat marah dan merasa tidak dihargai.
Diko datang melerai keduanya, ia meraih tangan Laura agar tidak lagi menyakiti Rima.
"Laura, jangan bertindak konyol. Kau bisa membahayakan kandunganmu!" Diko meraih kedua bahu Laura dan membawa Laura menjauhi Rima.
Rima kembali menetralkan napas dan merapikan rambut yang sudah berantakan.
Laura meronta. "Lepaskan aku, pengkhianat! Jangan pura-pura perduli dengan kandunganku!" Matanya memancarkan kecewa yang teramat dalam. "Pantas saja tidak ada satu pun panggilanku yang kau jawab ternyata, kau sedang asik berduaan sama dia!" Laura memukul dada Diko. "Sampai kapanpun aku tidak terima pengkhianatan ini!" teriaknya. Air matanya sudah mengalir bersama hati yang amat terluka.
Diko memegang pergelangan tangan Laura. "Siapa yang berkhianat di sini?" sentak Diko tidak terima disalahkan.
Mata Laura memicit, ia berdecih dan kembali berucap.
"Siapa? Kau tanya siapa?" Rasanya ia ingin menampar Diko tapi sudah tidak punya tenaga untuk melakukannya.
"Membawa wanita lain ke dalam apartmen apa itu namanya bukan pengkhianat? Di belakangku, diam-diam kau berhubungan dengan sekretarismu, ini?" Kakinya gemetaran tapi ia masih mencoba bertahan, Laura tidak mau terlihat lemah di mata Rima dan Diko. Manik mata yang biasa teduh sudah terlihat memerah melihat Rima dan Diko. "Kalian berdua pengkhianatnya!"
Sekilas, Diko memejamkan mata, sebenarnya ia tidak mau berdebat dengan Laura tapi, malam ini juga ia harus menuntaskan masalah mereka agar tidak berlarut dan terus terulang.
"Bukannya kau yang diam-diam bertemu dengan Nicki tanpa sepengetahuanku? Padahal aku sudah melarangmu. Tapi kau berani masuk ke dalam kamar hotelnya!" cetus Diko, ia bicara tepat di wajah Laura.
Rima gemetaran, ia tidak menyangka kalau nama Nick akan di bawa-bawa dalam masalah ini. Apa hubungan Laura dan Nucki?
'Apa yang sudah aku lakukan?' batin Rima semakin ketakutan.
Laura tertawa sinis, air mata sudah yang sedari tadi ia tahan sudah mengalir seperti anak sungai.
"Sekarang aku paham!" Ia menghapus air matanya. "Ini yang kau bilang percaya?" Jari telunjuknya menancap di dada Diko. "Dari awal kau tidak percaya padaku, karena itu lah diam-diam kau kirim orang untuk mengawasiku dan ya ... kau membalasku!" Tangan Laura mengepal. "Apa sekarang kau juga meragukan anak ini?" Suaranya terdengar pasrah.
__ADS_1
Diko menggelengkan kepala, sungguh tidak pernah terbesit meragukan anak itu. "Jangan alihkan pembicaraan kita."
Mata Diko memerah, urat-urat kecil di leher sudah menonjol, ia menarik tangan Laura hingga mengikis jarak diantara mereka. Tidak ada cela untuk Laura menghindarinya.
"Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu!" ketus Laura.
Diko semakin marah ditatapnya Laura dalam-dalam. "Apa yang kalian lakukan di sana?" tanya Diko. Sebenarnya ia takut mendengar jawaban yang akan diberikan Laura, takut dikhianati dan takut kehilangan lagi.
"Percuma bicara karena, kau tidak akan percaya dan semua tidak akan bisa kembali seperti semula!" Sekuat tenaga ia menarik diri hingga terlepas dari Diko. Tanpa bicara sepatah katapun lagi, ia pergi dari hadapan suaminya.
Jawaban dari Laura tidak melegakan hati Diko. Laki-laki yang masih memakai stelan kantor ini mengambil dua ponsel yang dijatuhkan Laura lalu melihat Rima yang masih terpaku di tempatnya semula.
"Tetap di sini Rima, siapkan berkas-berkas untuk meeting besok!" titahnya, ia akan menahan Rima sampai urusannya dengan Laura selesai.
"Tapi, Pak sa--," ucapannya terputus sebab Diko pergi begitu saja.
***
Diko mengumpat karena tidak berhasil menghentikan Laura, istrinya itu sudah menghilang di balik lift. Menunggu pun akan semakin membuang waktu, akhirnya ia mrmilih menggunakan tangga darurat.
"Laura!!!" Diko teriak memanggil Laura yang tengah berlari menuju taksi. Tidak boleh, istrinya tidak boleh pergi dalam keadaan kacau dan emosi. "Kau bisa membahayakan anak kita," gumam Diko sembari mengejar Laura.
Laura tidak menghiraukan Diko,
dengan air mata yang terus berderai membasahi pipinya ia masuk ke taksi.
Klek!!!
Laura mengunci pintu. "Jalan, Pak!" serunya pada supir taksi yang masih menunggunya.
Supir taksi terkejut melihat penumpangnya menangis. "Kenapa nangis, Non?" Ia mengulurkan tangan memberi tisu pada Laura.
"Sudah jalan saja, Pak ... kita pergi dari sini."
Belum sempat supir menghidupkan mesinnya, seseorang sudah menghadang taksinya.
__ADS_1
"Keluar! Laura kita harus bicara!" Diko memukul-mukul kap bagian depan. "Kau mau pergi ke mana?" Pikiran Diko kacau, ia takut Laura tidak akan kembali ke hotel atau rumah mereka.
"Jangan hiraukan dia, Pak! Cepat jalankan taksinya!" Laura menepuk pundak supir taksi yang masih bengong.
"Nggak bisa jalan kalau dia masih di depan, Non!"
Tok! Tok! Tok!
Jendela samping bagian supir menjadi sasaran Diko. "Keluar, Pak! Saya suaminya!" Ia menempelkan kartu nama di jendela. "Saya bisa laporin Bapak ke polisi karena sudah membawa lari istri saya!" ancam Diko tidak main-main.
Supir taksi semakin gemetaran, ia tidak mau mengambil resiko hingga akhirnya membuka pintu dan keluar tanpa menghiraukan panggilan Laura.
Belum sempat Laura melarikan diri, Diko sudah duduk di bangku kemudi dan mengunci semua pintu secara otomatis.
"Saya pinjam taksinya, besok temui saya di alamat itu!" ucap Diko pada supir taksi.
"Jangan gila, Diko! Keluar dari sini atau turunkan aku!" Laura panik di bangku penumpang apalagi Diko tidak menghiraukannya malah melajukan taksi dengan kencang.
"Kau tidak waras! Kau gila! Pengkhianat! Penjahat! Tidak punya hati! Tidak punya perasaan! Pembohong! Semua keburukan ada padamu!" teriakan Laura semakin kencang, memaki Diko sesuka hati.
Diko masih diam dan semakin menambah kecepatan menembus angin malam.
"Berhenti! Kau bisa membahayakan anakku, Diko!" Laura meraba perutnya, takut sesuatu yang tidak diinginkan terjadi pada calon anaknya.
Diko melihat Laura dari kaca spion, istrinya itu terlihat sangat ketakutan, manik mata keduanya saling mengunci tapi, Laura mengakhirinya terlebih dulu, Diko pun spontan mengurangi kecepatan mobilnya.
Hening! Di malam yang sunyi dan dingin taksi yang diduduki sepasang suami istri yang sedang bertengkar ini melaju pelan menuju suatu tempat.
Laura dan Diko sama-sama mengunci bibirnya. Larut dalam pikiran masing-masing.
***
Harus jujur dan saling percaya ya, Diko, Laura! Hihihi.
Pengen nimpuk Diko pakek gagang sapu😅.
__ADS_1