
Suasana di Balroom hotel kian ramai. Daniel dan Tiara tidak berhenti menerima ucapan selamat dari para tamu dan kolega bisnis yang sengaja mereka undang. Senyum manis Tiara mampu menghipnotis hingga membuat setiap mata betah memandangnya. Namun, perlahan senyuman itu menghilang saat menyadari kehadiran Diko seorang laki-laki yang namanya pernah terlukis di hati. Laki-laki yang sudah dua kali pergi dan berjanji akan kembali untuknya namun ternyata dirinya sendiri yang tidak pernah sungguh-sungguh menunggu dan setia menerimanya lagi.
"Kak Diko ... kak Diko ada di sini." Tiara sedikit terkejut melihat Diko dan Wanita cantik yang bergelayut manja di lengan Diko. Tiara teringat ucapan Daniel dan Mike tentang Diko yang sudah menikah dengan wanita pilihan orang tuanya, wanita yang dijodohkan dengan Diko. "Perempuan itu istrinya. Semoga kakak bahagia dengannya." Tiara tersenyum dan merasa bahagia melihat Diko memegang tangan istrinya.
Laura terus saja menarik dan membawa Diko sampai berhasil membelah keramaian yang ada. Kini, mereka sudah semakin mendekati pelaminan yang bernuansa putih tersebut dan Diko terpaku melihat Tiara tersenyum kearahnya.
Tiara masih terlihat sangat cantik, perempuan itu menyambutnya dengan senyuman hangat. Namun, rasa tidak percaya diri seolah kembali datang mengulitunya ketika melihat laki-laki gagah yang mendampingi Tiara.
'Jangan tersenyum padaku, Tiara ... tolong katakan bagaimana caranya agar aku bisa benar-benar melupakanmu.' Diko hanya bisa membatin dan menahan sesak di dada. Inilah kenyataan yang harus ia hadapi.
Laura benar-benar mencoba beradaptasi di tempat yang baru, gaya bahasa, adat dan budaya akan menjadi PR pertama yang harus cepat ia selesaikan. Laura terlalu percaya diri berjalan berdampingan dengan Diko yang sedari tadi tidak menolak kehadirannya namun, kepercayaan itu mendadak ketika mengikuti kemana arah mata Diko memandang. Ternyata wanita cantik itu yang menjadi penyebabnya.
'Tiara ... iya wanita itu pasti Tiara. Diko benar, dia cantik sekali bahkan, kehamilannya tidak mampu menutupi kecantikannya.' batin Laura sudah mulai bicara dan membuatnya semakin tidak percaya melihat Tiara melemparkan senyuman kepadanya. "Bahkan, senyumannya saja sangat menawan. Tidak salah kalau Daniel dan Diko sama-sama berusaha memertahankan wanita itu." Tangan Laura mulai mengendur dari lengan Diko namun, tiba-tiba saja Diko memegang tangannya.
"Kau harus berhasil meyakinkan mereka kalau kita bahagia dan memang saling mencintai." Diko berbisik dan melingkarkan tangannya di pinggang ramping Laura.
"Aku memang bahagia dan sangat mencintaimu." Rasanya ingin sekali Laura mengatakannya namun, ntah mengapa bibirnya terasa keluh untuk berucap.
Sementara Daniel pun sudah menyadari kehadiran Laura dan Diko, ia emosi mengingat tingkah Laura dan mengingat cinta yang disimpan Diko untuk istrinya, Tiara.
"Beraninya mereka menampakkan diri." Daniel tidak mau Laura mengganggu Tiara. Daniel berniat mencegah Laura dan Diko agar tidak mendekati pelaminannya namun, Tiara menarik tangannya.
__ADS_1
"Mas mau ke mana?"
"Kamu lihat." Daniel menunjuk Diko. "Mereka tidak pantas ada di sini." Wajah Daniel merah menahan amarah. Keberadaan dua orang yang kehadirannya tidak diinginkan itu benar-benar sudah mengacaukan suasana hatinya.
"Mas udah janji nggak akan marah-marah lagi. Biar bagaimanapun mereka itu adik dan ipar, kamu."
"Tapi, Laura yang sudah membalas pesan yang membuatmu membenciku. Laura sudah hampir membahayakan anak kita. Dia yang mengarang pesan sampah it---
Tiara meletakkan jari telunjuknya di bibir Daniel agar Daniel tidak lagi bicara. "Jangan sampai amarah yang ada di dalam diri kamu merusak pesta kita. Soal wanita itu pun aku tidak memersalahkannya. Kerena, masa lalu tidak akan mampu merusak kebahagiaan kita. Aku percayaa kalau aku adalah wanita yang sudah Mas pilih dan aku harap Mas juga percaya hal yang sebaliknya. Jangan lagi menyimpan curiga atau cemburu sama kak Diko karena itu artinya Mas pun meragukan cintaku."
Ucapan Tiara seperti salju yang turun dari langit jatuh dan berhasil memadamkan api yang sempat membara. Daniel meraih dan mencium tangan Tiara. "Ini yang membuat aku semakin mencintai kamu, pengertian dan kedewasaanmu selalu mampu meredam amarahku."
"Kau jadikan aku ini, wanita yang kau pilih untuk jadi kekasihmu. Dan kau pun tlah aku minta setia sepertiku hingga waktunya tiba." (Lagu Rossa)
"Ti-Tiara." Laura menelan ludah. Ah, kenapa dia harus sok akrab seperti ini? "Ha-hai." Tangan kirinya melambai. "Ak-aku ... aku minta maaf karena waktu itu aku sudah lancang membalas pesan dan memintamu untuk menggugurkan kandunganmu. Aku benar-benar menyesal." Laura membungkukkan setengah badannya. "Tolong maafkan, aku."
Tiara meraih bahu Laura agar kembali berdiri tegak seperti semula. "Kakak tidak perlu minta maaf karena aku pun tidak terpengaruh untuk melakukan hal bodoh itu." Tiara meraba perutnya. "Kami baik-baik saja. Jadi, jangan risaukan apapun lagi."
Laura semakin malu sendiri. Bukan cuma paras Tiara saja yang cantik. Namun, hatinya pun tulus bak bidadari. Laura memeluk Tiara.
"Terima kasih karena sudah memaafkan aku. Aku janji untuk selalu memerbaiki diriku, Tiara."
__ADS_1
Tiara mengangguk seraya mengelus punggung Laura namun, ia menyadari kalau Diko terus saja memerhatikannya hingga mereka saling beradu pandang dan sejurus kemudian Diko membuang muka.
Daniel tidak bisa leluasa memerhatikan Tiara sebab tiba-tiba Andre dan Wira menarik dan mengajaknya bergabung dengan para rekan bisnisnya yang baru tiba dari luar negri.
Kesempatan ini diambil Diko untuk bicara berdua dengan Tiara. Diko menarik bahu Laura sampai pelukan kedua wanita cantik itu terlepas. Tanpa mengatakan sepatah katapun Diko meraih tangan Tiara bahkan, mengabaikan Laura yang masih mematung di tempatnya.
"Percuma meyakinkan mereka kalau sikapmu sendiri seperti ini." Laura menghapus air mata yang sempat mengalir di pipinya. Benar, melihat apa yang dilakukan Diko membuat Laura dibakar api cemburu.
***
"Kak Diko lepasin!" Tiara meringis merasakan sakit di pergelangan tangannya. Semakin ia berontak maka, Diko semakin mengeratkan genggamannya. Tiara tidak bisa menolak ketika Diko mebawanya ke Rooftop atap paling tinggi di gedung ini.
"Kau bahagia?" Diko menarik Tiara hingga mengikis jarak diantara mereka. "Bukankah kau sudah berjanji untuk menunggu aku?" Sekuat apapun diri ini menghindari Tiara tetap saja tidak semudah mengucapkannya.
"Kak...."
"Kenapa? Kenapa kau tidak menunggu aku?" Diko mengangkat dagu Tiara agar ia bisa leluasa melihat wajahnya. "Jawab ... kenapa kau terima dia, lagi?" tanya Diko, suaranya pelan namun, terkesan menuntut jawaban.
***
Happy reading, readers!
__ADS_1