Menjadi Istri Simpanan

Menjadi Istri Simpanan
Kejujuran Berbuah Manis


__ADS_3

Genta sampai di rumah. Genta membuka pintu dan masuk kedalam rumah. Saat itu Maurine masih ada di dapur, dia baru saja selesai mencuci piring dan membersihkan dapur.


Maurine melihat Genta dan menyapa, "Sayang," sapa Maurine.


"Kau belum tidur?" sapa balik Genta.


Maurine menggelengkan kepala pelan, "Belum. Aku tidak bisa tidur," kata Maurine.


"Malam-malam seperti ini mengapa masih harus sibuk. Jika tidak bisa tidur, kau bisa mendengarkan lagu atau membaca buku."


"Aku bosan di kamar," jawab Maurine. Maurine melihat wajah Genta yang merah, "Wajahmu kenapa?" tanya Maurine.


"Ayo ke kamar, ada yang ingin aku sampaikan padamu."


"Oke," jawab Maurine.


Maurine mengikuti Genta yang sudah berjalan menuju kamar tidur. Genta membuka pintu kamar dan masuk, Maurine juga masuk dan menutup pintu kamar pelan-pelan.


Genta melepas jas dan dasinya, juga membuka kancing lengan kemejanya. Maurine menghampiri Genta, berdiri di hadapan Genta.


"Ada apa?" tanya Maurine.


Genta menghela napas panjang, "Aku tidak tahu harus mulai cerita dari mana. Yang pasti, saat ini aku ingin jelaskan semuanya padamu."


"Pelan-pelan saja bicara, ada apa?" tanya Maurine dengan nada suara lembut.


"Aku menyembunyikan sesuatu darimu," kata Genta.


"Apa?" tanya Maurine yang panasaran.


"Sebenarnya, sebelum aku bertemu denganmu, aku sudah memiliki seorang istri palsu. Hari ini adalah hari ulang tahunnya, hari ini juga aku mengakhiri semuanya."


Maurine diam menatap Genta. Genta menunduk, tidak tahu harus bicara apa lagi tetapi dia ingin Maurine tahu semunanya.


Maurine sedikit terkejut, namun Maurine berusaha untuk tetap tenang. Maurine meraba wajah Genta dan membuat Genta menatapnya. Maurine dan Genta saling bertatapan, begitu dalam mereka saling memandang.


"Bicara saja, jangan ragu-ragu. Ceritakan semuanya kepadaku," ucap Maurine dengan suara lembut, yang langsung di tanggapi anggukan oleh Genta.


Maurine dan Genta duduk di sofa. Genta pun mulai bercerita, Genta menceritakan awal sampai akhir cerita. Alasan mengapa Genta menikah palsu adalah demi mendapatkan semua bukti kejahatan. Hanya dengan mendekati putri satu-sayunya Genta bisa leluasa bergerak tanpa di curigai. Genta jujur mengatakan jika niatanya minikah palsu demi membalas dendam, karena kesempatan tidak datang untuk yang kedua kali.


Tidak ingin menyakiti, namun harus tetap menjalankan sandiwara. Menikah palsu dan menjadi suami palsu juga membuat Genta tertekan. Semua rasa harus ditahan demi suatu tujuan.


"Kau menyukainya?" tanya Maurine.


"Tidak Maurine, aku tidak pernah sekalipun suka padanya. Aku hanya menyukaimu, menyayangimu dan mencintaimu seorang. Saat pertama aku bertemu denganmu, saat itulah aku tertarik padamu. Ingat saat aku menceritakan jika aku punya banyak masalah di club? itu sebenarnya hanya sebagian kecil saja. Aku senang saat kau memberiku semangat dan dukungan. Saat kau mengatakan jika aku bisa," jelas Genta.


"Ahh, aku menyadarinya. Pantas saja kau terlihat sangat sedih, aku tidak tahu jika lukamu begitu dalam. Maafkan aku, aku memnag bukan tipe orang yang mau mengorek kehidupan orang lain Genta. Aku pasti akan dengar dan memberikan saran jika memang dibutuhkan, tetapi aku tidak suka jika mencampuri urusan orang lain. Karena akupun tidak suka saat urusan pribadiku di pertanyakan orang," ungkap Maurine.


"Aku tahu kau orang baik, bertemu denganmu adalah sebuah keberuntungan. Aku seperti menemukan sebuah mutiara di dalam lautan," kata Genta tersenyum.


"Wanita itu dimana sekarang? jika dia bicara seperti itu, pasti dia akan kembali untuk membalas dendam. Dia seperti nenek sihir," keluh Maurine.

__ADS_1


"Dia memang nenek sihir. Terlihat cantik dan lembut di luar, namun sifatnya sungguh sangat buruk. Hanya saja di depanku dia tidak pernah menampakkan wujud aslinya. Begitu juga denganku yang selalu menjaga ucapan dan bermanis-manis di hadapannya. Sungguh aku muak jika terus bersandiwara," keluh Genta.


"Aku senang kau mau jujur Genta. Itu artinya kau memang menganggapku ada," kata Maurine.


"Kau lah satu-satunya yang aku pandang Maurine. Maaf..., aku harus menyembunyikanmu. Aku tidak ingin kau terluka terlebih rencanaku belum sempurana. Tetapi sekarang, aku akan mengenalkanmu pada dunia. Kau adalah istriku, Nyonya Aiden. Yang akan menjadi Ibu dari anak-anakku, dan menjadi pendamping hidupku untuk selamanya."


Genta menggapai tangan Maurine, Genta mencium lembut kedua punggung tangan Maurine. Maurine terharu, hatinya berdebar hanya dengan pelakuan Genta yang mencium punggung tangannya.


Maurine memeluk Genta, Maurine merasa bahagia. Genta juga merasa lega, akhirnya dia mampu mengakui semuanya. Genta bahagia maurine mau mendengar dan mau menerima penjelasannya. Tetap bersikap tenang dan tersenyum, meski sebenarnya sakit hati. Bagimanapun Genta sudah berbohong, dan menyembunyikan hal besar dari Maurine.


Maurine memang kecewa dan sedih, namun itu tidak membuatnya lantas marah sampai harus membenci Genta. Maurine memahami semuanya, Genta punya alasan untuk itu. Demi mencapai sebuah hasil memang di butuhkan pengorbanan. Rasa sakit dan kecewanya tertutup oleh kasih sayang dan ketulusan cinta.


Maurine melepaskan pelukan, "Aku akan ambil es dan mengkompres wajahmu. Kau tunggu," kata Maurine yang langsung berdiri.


Genta menarik tangan Maurine membuat Maurine jatuh kedalam pelukannya. Genta langsung mencium bibir Maurine, Genta merangkul pinggang ramping Maurine tangannya menahan tengkuk leher Maurine.


Maurine terkejut, namun pada akhirnya membalas ciuman Genta. Maurine bisa merasakan rasa yang berbeda, Genta menjadi semakin hangat dan manis.


Genta sudah melepaskan semua bebannya. Tidak ada apa-apa lagi dalam pikirannya. Genta hanya memikirkan wanita yang sekarang ada dalam pelukannya, memikirkan bagaimaana caranya membuat wanitanya bahagia dan terus menorehkan senyuman cantik. Puas berciuman Genta pun melepas ciumanya dan mencium kening Maurine.


"Terima kasih Maurine," ucap Genta.


"Akulah yang seharusnya berterima kasih padamu. Aku sangat bahagia, sungguh aku bahagia. Meski kecewa karena aku berpikir jika kau tidak benar-benar menganggapku. Tetapi, sekarang berbeda. Aku sangat yakin jika aku ada dalam hatimu," ungkap Maurine.


Genta mencium hidung Maurine, "Istriku memanglah yang terbaik. Aku berjanji akan selalu membuatmu bahagia Maurine, kita akan melewati kehidupan ini bersama-sama."


"Aku akan selalu ada di sisimu Genta. Jangan ragu untuk melangkah, aku akan berikan semangat dan dukunganku selalu untukmu. Lebih dari itu, cintaku, kasih sayangku, semuanya juga akan aku berikan untukmu."


"Aku juga bisa bermanis-manis Tuan Aide. Ingin yang lebih manis dari ini?" tawar Maurine.


"Pandai menggoda, aku akan melahapmu nanti. Tidak ada ampun," jawab Genta.


"Hei, apa yang kau pikirkan? Maksduku puding susu, bukan hal itu. Kau jangan berpikiran liar sayang," jawab Maurine tertawa.


"Ah sial, aku terjebak. Kau ini," kata Genta merasa malu, wajah Genta memerah seketika.


"Hahaha," Maurine tertawa, "Pikiran liarmu ingin berpetualang?" tanya Maurine.


Genta terdiam, tidak bisa berkata-kata lagi. Maurine menggoda Genta, dia mencium lembut berulang-ulang pipi Genta yang merah. Bekas tamparan Felicia masih berbekas di wajah Genta.


Kecupan -kecupan lembut di berikan Maurine. Membuat Genta merasa nyaman, terlihat Genta sangat menikmati kecupan lembut yang di berikan Maurine.


***


Genta selesai mandi dan juga sudah berganti pakaian. Genta melangkah mendekati tempat tidur dan naik keatas tempat tidur. Dia duduk di samping Maurine yang duduk membaca sebuah majalah.


Maurine menatap Genta yang baru saja duduk di sisinya. Maurine menutup majalah yang dia baca dan meletakan di atas nakas.


"Apa wajahmu masih terasa sakit?" tanya Maurine.


"Tidak apa, tamparan itu memang layak aku terima. Bagaimanpun Felicia juga sudah aku manfaatkan. Jika bertukar posisi aku juga pasti akan kesal," kata Genta.

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan Papanya?" tanya Maurine.


"Tentu saja di hukum sesuai kejahatannya. Meski kasus yang menimpa keluargaku sudah sangat lama, dia juga banyak melakukan kejahatan. Aku tidak ingin melihat kejahatannya semakine manjadi," jawab Maurine.


"Kau sudah makan? tidak lapar?"


"lapar, aku lapar. Aku ingin memakanmu saat ini. Kau terlihat begitu lezat," kata Genta yang langsung mendekat dan menyerang Maurine.


Maurine yang belum siap pun kaget, saat tiba-tiba Genta menyerangnya. Genta begitu gemas di buat Maurine, malam itu Genta dan Maurine menghabiskan waktu untuk bersenang-senang.


***


ig: dea_anggie


Line id: dea_anggie


Fb: dea anggie


Grup FB: Lelaki Bayaran Amelia


❤❤❤❤❤


***


Kunjungi juga di novel (TAMAT) saya yang lain.


•Lelaki Bayaran Amelia


•Pelukan Hangat Paman Tampan


•Pangeran Es Jatuh Cinta


(Season ke 2 dari Pelukan Hangat Paman Tampan)


•Pangeran Vampir


•Pangeran Vampir 2


•Vampir "Sang Abadi"


•Cinta Lama Yang Datang Kembali


•Mommy And Daddy


•Darren & Karren (Perjalanan Cinta)


•Suami Pengganti


•Oh My Husband


Jangan lupa like, rate dan isi kolom komentar. Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2