Menjadi Istri Simpanan

Menjadi Istri Simpanan
Khawatir Yang Berlebihan


__ADS_3

Luka di jari Tiara memang tidak terlalu dalam namun, tetap mengeluarkan cairan berwarna merah yang berhasil menarik perhatian suaminya.


"Kenapa bisa seperti ini? Karena kecerobohan kalian istriku terluka!" hardik Daniel pada para pekerja rumah, meskipun terlihat lucu dengan polesan makeup di wajahnya tetap saja ia terlihat menyeramkan.


Tiara sudah hampir membuka mulut untuk melarang suaminya agar tidak marah pada semua orang namun, bibirnya kembali terkatup rapat saat tiba-tiba Daniel menghisap jarinya yang terluka. Daniel benar-benar terlihat panik sehingga Tiara merasa sangat diperhatikan.


"Kenapa kalian diam saja? Cepat ambilkan kotak obat!" Teriakan Daniel semakin mendominasi dapur, para pekerja rumah terlihat panik mencari kotak obat yang ntah di mana terakhir kali di simpan.


"Daniel ini cuma luka ringan, aku nggak apa-apa!"


"Tanganmu berdarah. Apa susahnya menurut, huh? Aku sudah melarangmu masuk ke dapur, tapi kenapa kau masih menginjakkan kakimu di sini?" Daniel benar-benar marah, bahkan tanpa sadar membentak Tiara, ia menarik kursi dan mendudukkannya di sana.


"I-ini, Tuan." Asisten rumah tangga yang masih terlihat muda memberikan kotak obat yang diminta Daniel.


"Kalian tidak akan aku maafkan!" Daniel bicara ketus dan melirik sekilas lalu kembali fokus pada Tiara, setelah mengambil plaster Daniel jongkok dan mulai membalut luka di jari Tiara. "Kau tidak boleh terluka, apa lagi di rumah ini!"


Tiara tersenyum, baginya Daniel masih terlihat cantik, ia mengelus pipi Daniel. "Kenapa tidak boleh?"


Daniel menggenggam dan mencium tangan Tiara. "Karena sudah terlalu banyak luka yang kau alami dan aku lah penyebab dari luka yang kamu rasakan." Daniel maraba perut Tiara seolah menyentuh anaknya. "Jujur aku tidak menyesal melakukannya di malam itu, merenggut kesucianmu hingga akhirnya menjadikanmu milikku."


Daniel mencium perut Tiara, lalu kembali melihat wajah istrinya.


"Tapi kamu tidak pernah membalas kejahatanku, malah sebaliknya kamu menerima dan mulai mencintai aku. Terima kasih sudah hadir dikehidupanku terima kasih untuk cinta dan anak ini." Daniel tidak membual atau pun pura-pura ini kalimat paling tulus yang ia ucapkan dari dalam hati.


Bukan hanya Tiara yang merasa tersanjung, tapi para asisten rumah tangga pun ikut haru dan bahagia melihat Daniel bersikap manis seperti ini. Benar, kehadiran Tiara sudah mengubah dan mengisi keceriaan di rumah ini.


"Dan ... anak kita ini akan tertawa melihat ayahnya seperti ini!" Tiara membuka kuncir rambut Daniel. "Bukan cuma anak kita, tapi mereka juga."


Para asisten rumah tangga menggelengkan kepala. "Tidak! Kami tidak punya keberanian untuk itu."

__ADS_1


"Kenapa? Apa yang lucu?" Daniel berdiri dan berkacak pinggang. "Kalian pikir ini lelucon? Kalian mau dipotong gajih atau dipecat sekalian?"


"Daniel jangan marah lagi. Kamu lihat penampilanmu ini!" Tiara tidak kuasa menahan tawa.


Daniel memperhatikan dirinya sendiri, ternyata ia keluar kamar hanya memakai boxer dan kaos putih. Daniel melihat ikat rambut yang diletakkan Tiara di atas meja lalu mengusap wajahnya hingga warna warni bergliter itu menempel di telapak tangannya. Tiara, kau ... oh kau harus diberi pelajaran!" Daniel geram lalu menggendong Tiara.


"Daniel turunkan, aku!" Tiara memberontak.


"Tidak di sini sayang, aku turunkan di atas ranjang!" tegas Daniel ia setengah malu melihat semua orang.


Para asisten rumah tangga tertawa sampai Daniel dan Tiara menghilang dari pandangan mata.


***


Usai memberi perhitungan kepada Tiara yang mengakibatkan keduanya tertahan di kamar, Daniel mengajak Tiara ke rumah sakit untuk mengecek kandungannya. Daniel khawatir akan terjadi sesuatu pada kandungan istrinya mengingat perbuatannya yang sudah membuat Tiara kelelahan.


Di ruangan Dokter kandungan pun, Danie tidak pernah diam ketika Dokter wanita yang sudah berpengalaman ini meletakkan gel dan meletakkan alat di perut istrinya, Daniel tidak puas dengan jawaban yang diberikan dokter sampai gambar janin dari perut Tiara terlihat di layar yang ada di depannya.


Mata Daniel dan Tiara berkaca-kaca melihat calon buah hati mereka. Daniel tidak berhenti mengucap syukur atas kesempatan dan anugerah yang sudah diberikan Tuhan untuknya.


Usai keluar dari rumah sakit, Tiara meminta Daniel mengantarnya ke Restoran untuk menemui Tiwi.


"Kamu pulang saja ya, aku tidak bisa meninggalkanmu di sini." Daniel tidak membukakan pintu mobil untuk Tiara. "Atau meeting-nya aku tunda saja biar aku ikut temani kamu di sini."


"Daniel aku mohon jangan berlebihan seperti ini. Jangan karena aku kamu jadi nggak profesional kerja, kamu pun punya tanggung jawab yang harus kamu penuhi."


"Perasaanku nggak bisa ditipu. Aku khawatir terjadi sesuatu sama kamu."


"Khawatirmu terlalu berlebihan. Aku janji akan jaga diri. Ayolah ini kemauan anak kita, dia kangen sama Tiwi." Tiara memasang wajah melas.

__ADS_1


Mendengar kata anak membuat hati Daniel luluh. "Tetap di dalam restoran sampai pengawal datang untuk menjagamu." Daniel membuka pintu mobil setelah mengirimkan pesan untuk anak buahnya.


"Daniel aku nggak mau dikawal seperti anak kecil. Lagi pula nggak akan ada orang yang jahatin aku. Aku janji nggak akan pergi kemanapun sebelum kamu jemput."


"Janji?" Daniel memeluk dan mencium kepala Tiara.


"Janji," jawab Tiara sembari menghirup aroma wangi dari tubuh Daniel.


Daniel mengantar Tiara sampai di depan pintu restoran dan dengan terpaksa ia pergi meninggalkan Tiara.


Tiara masih berdiri sampai mobil Daniel benar-benar menghilang dari pandangan mata. Belum sempat Tiara melangkahkan kakinya utuk menemui Tiwi, seseorang sudah datang dan menyebut namanya.


"Tiara!"


Tiara memperhatikan laki-laki yang menyapanya.


"Kamu Tiara kan? Bisa kita bicara sebentar?" Mike membuka kaca mata hitamnya. "Ada yang mau aku sampaikan."


"Maaf, aku tidak mengenalmu. Ak-aku tidak biasa bicara dengan orang asing." Tiara sudah memutar badan namun, tangannya dicekal.


"Kau tidak penasaran dari mana aku tau namamu?" Mike menarik tangannya. "Hanya sebentar saja, ini tentang Daniel."


"Daniel?" Tiara tampak berpikir ada hubungan apa dan apa yang ingin dibicarakan laki-laki asing ini padanya.


"Namaku Mike ... aku adik Daniel. Jadi kamu tidak perlu takut kalau aku akan menyakitimu."


Mike berusaha meyakinkankan Tiara untuk ikut dengannya sebenarnya ia sudah lama berada di Indonesia bahkan, sebelum pernikahan Diko dan Laura. Mike yang tidak terima dengan hasil pembagian saham yang menguntungkan Daniel memutuskan untuk bertemu Daniel namun, keberadaan wanita di samping Daniel menarik perhatian Mike hingga diam-diam mengikuti Daniel dari rumah sampai ke luar dari rumah sakit, Mike cukup terkejut melihat Daniel keluar dari ruangan dokter kandungan.


***

__ADS_1


Kalau ada plot yang membingungkan atau percakapan yang diulang-ulang boleh kritik dan saran. Makasih readers sayang.


__ADS_2