Menjadi Istri Simpanan

Menjadi Istri Simpanan
Tagihan


__ADS_3

Hari masih terlalu gelap ketika Laura membuka mata, ia memang sengaja bangun pagi-pagi sekali karena semangat ingin mengepak pakaiannya seperti yang dilakukan Diko. Tapi, ia belum bisa beranjak karena Diko masih memeluknya dari belakang. Laura sudah berusaha menjauhkan tangan Diko namun, tangan kekar itu semakin menggurita di permukaan kulitnya yang hanya ditutup selimut tebal.


Ya, mereka tidur tanpa menggunakan sehelai benangpun, malam tadi setelah Diko mengatakan cinta ia merasa seperti berada di tempat terindah, hanya ada mereka berdua ditemani suara-suara merdu yang keluar dari bibir mereka ketika menapaki pedalaman yang memberikan sensasi luar biasa.


Kini, Laura sudah bebas bergerak, pelan-pelan ia meraih piyama tidur dan memakainya. Badannya terasa pegal, matanya pun masih ngantuk karena malam tadi ia dan Diko tidur terlalu larut malam. Tapi, Laura masih semangat mengambil koper dari lemari dan mulai memilih pakaian yang akan ia bawa.


"Kamu ngapain?" Tiba-tiba Diko jongkok di samping Laura dan mengambil alih koper dari tangan istrinya.


Manik mata Laura membola melihat Diko masih bertelanjang dada, bagian bawahnya hanya ditutup dengan handuk putih.


"Kenapa? Mau lagi?" Diko mengerlingkan mata.


"Apa sih?" Wajah Laura merona ia tahu apa yang dimaksud Diko tapi, Laura sengaja mengalihkan pembicaraan dan kembali fokus mengepak pakaiannya.


"Kamu curang, pakaianmu tinggal dibawa sementara aku harus mem-packing ini."


"Biar aku yang melakukannya. Kamu mandi dan bersiap-siap saja. Sebelum jam 6 kita harus sampai di Bandara karena aku sudah memesan tiket online dengan penerbangan yang paling awal."


"Secepat itu?"


"Aku mau lebih lama menghabiskan waktu berdua denganmu. Kalau di sini akan banyak yang mengganggu kita, pekrjaan dan segala sesuatu yang bikin penat. Kita bisa nggak fokus bikin anak, nanti." Diko mengacak rambut Laura. "Kamu mau menimang baby'kan?"


Laura tersenyum. "Kamu mau berapa anak dariku?"


"Berapapun yang kamu berikan." Diko mencium pipi Laura. "Aku butuh vitamin, lagi."


"No ... nanti kita bisa terlambat." Laura berdiri tapi Diko memegang tangannya.


"Aku tagih di Lombok."

__ADS_1


Laura menjulurkan lidah mengejek Diko dan lari ke kamar mandi.


"Lihat saja nanti." Diko tersenyum mesum, ia mengambil totabag dari dalam lemari dan menyimpan ke dalam koper Laura.


***


Perjalanan dari Ibu Kota ke lombok hanya memakan waktu perjalanan kurang lebih sekitar 2 jam menggunakan pesawat, mereka harus menempuh perjalanan menggunakan kendaraan roda empat dan juga kapal kecil menuju penginapan yang sudah disiapkan Diko.


Laura benar-benar mengagumi tempat indah dengan pemandangan alam yang memanjakan mata, pegunungan, pantai bersih dan pasir putih, air laut yang jernih ditambah lagi udara segar yang tidak tercampur polusi udara. Laura tidak menyangka kalau Indonesia punya tempat sebagus ini.


Tepat pukul 10 waktu setempat Diko dan Laura sampai di penginapan unik yang bangunannya berbentuk kuba. Jarak penginapan yang satu dengan yang lain cukup jauh karena pihak pengelola sengaja menjaga privasi pengunjungnya di pulau ini, Laura pun tau harga penginapan ini sangat fantastis.


"Wahhhh...!" Begitu membuka kamar, Laura takjup melihat pemandangan di luar jendela. Kamarnya terletak di lantai dua. Tepat di depan kamar terdapat kolam renang dan laut yang terbentang Luas. Laura membuka pintu yang seluruhnya terbuat dari kaca, ia berdiri di balkon membiarkan rambutnya tertiup angin.


"Aku betah di sini. Tempat ini tidak kalah cantik dengan yang ada di luar negri." Ia memejamkan mata dan merentangkan tangan seolah ingin memeluk memeluk angin.


Diko meletakkan dua koper yang sedari tadi ia bawa. Berjalan mendekati Laura dan memeluknya dari belakang.


Laura membuka mata dan memegang tangan Diko yang menggurita di perutnya. "Aku lebih suka kamu, terima kasih sudah membawaku ke tempat ini."


"Hmm ... mulai dari sini kita akan memulai semuanya, perasaan cinta, janji setia, harapan dan buah hati, aku mau kita mulai dari sini." Tangan Diko sudah mulai menggerilya menyentuh sebagian tubuh Laura.


Laura berbalik arah. "Sebentar." Mengecup bibir Diko sekilas. "Badanku terasa lengket, aku mau mandi." Sebelum Diko menyerangnya, ia melarikan diri membuka koper dan mencari pakaiannya, aneh. Ada di mana pakaian yang kemarin sudah ia siapkan?


Diko tersenyum dan menutup pintu yang menjadi penghalang antara dirinya dengan Laura, ia pura-pura tidak melihat Laura.


Mata Laura terbelalak lebar, ia memeriksa semua pakaian yang disiapkan Diko untuknya.


"Diko! Kenapa isinya cuma lingerie?" Bukan cuma satu, dua, tiga bahkan, satu koper berisi lingerie beraneka warna. Lengkap dengan pakaian dalam yang seksi. Gila! Apa ia harus memakainya siang dan malam?

__ADS_1


Laura berlari ia ingin menghajar suaminya tapi, pintu berbahan kaca itu tidak bisa dibuka. "Kamu bercanda? Ada di mana pakaianku?"teriaknya.


"Pakai itu saja selama di sini, toh cuma aku yang lihat!" Diko tidak merasa bersalah.


***


Drama lingerie belum berakhir, Laura tidak mau terkurung di dalam kamar mau tidak mau ia menyusuri pantai menggunakan lingerie berbahan tipis itu. Ditemani Diko yang hanya memakai celana pendek tanpa mengunakan baju.


"Kamu sengaja memilih tempat ini 'kan?" Meskipun ia menjerit tidak akan ada yang mendengar dan melihatnya. Laura bertelanjang kaki menyusuri tepi pantai dan sesekali bermain ombak.


"Bulan madu ini milik kita, tempat ini milik kita, siang dan malam milik kita, kita datang berdua dan kembali bertiga." Ia merapikan rambut Laura yang tertiup angin. "Bertiga dengan calon anak kita."


Laura menunduk dan memercikkan air di wajah Diko. "Kejar aku maka, aku akan berikan anak untukmu!" Ia berlari dan bermain air.


"Lihat saja, setelah ini aku tidak akan melepaskanmu!" Diko mengejar Laura dan berhasil menggendongnya.


Tawa Laura semakin pecah, ia memukul punggung Diko. "Lepaskan, aku!"


"Aku lepaskan di atas ranjang, sayang! Aku ingin menagihnua!" Semangat Diko semakin menggebu hingga mereka kembali ke penginapan.


***


Di tempat lain, seorang pria paruh baya duduk di kursi roda, ia teringat ucapan Nicky ketika datang ke rumah dan mengambil foto bayi yang masih merah. Putrinya yang ia berikan kepada orang beberapa tahun yang lalu.


"Putriku ... dia ada di mana?" Egois memang, di saat usianya sudah tua ia berharap bisa bertemu dan berkumpul dengan anak-anaknya. Akankah keinginannya bisa terwujud? Atau apakah penyesalannya akan ia bawa sampai ke liang lahat? Hanya waktu yang bisa menjawab.


"Pa ...." Nicki membuyarkan lamunan papanya. Ia sengaja datang menjenguk papanya yang sedang sakit.


"Kapan ... kapan kau bawa adikmu, Nick?" suaranya terdengar lemah, matanya masih menatap lurus pantai yang terbentang luas. "Papa ingin minta maaf." Ia menyeka sudut matanya yang basah.

__ADS_1


***


Typo nanti direvisi, terimakasih🌹


__ADS_2