
"Di mana foto itu?" Nick membongkar lemari lama milik ayahnya. Lemari yang menyimpan semua benda-benda peninggalan ibunya termasuk foto yang menjadi kenangan-kenangan namun sudah cukup lama tidak dibukanya. Kamar yang sudah lama tidak berpenghuni ini pun sudah berantakan, berkas-berkas, kotak-kotak bahkan pakaian yang semula di susun rapi kini sudah tercecer di lantai dan tempat tidur.
"Cuma itu satu-satunya foto Aira." Nick mengacak rambutnya frustasi, ia kesal sebab, belum juga menemukan foto tersebut.
Pintu kamar diketuk dari luar. Asisten rumah tangga yang setia mengurus rumah lama ini heran melihat Nick pulang ke rumah hanya untuk mengacak-ngacak kamar majikannya.
"Cari apa, Den?" Wanita paruh baya ini memungut satu perstu pakaian milik ayah dan ibu tiri Nick. Dia menghela napas panjang sebab berpikir kalau hubungan antara anak dan orang tua ini masih belum membaik.
"Bibi lihat kotak warna coklat gak? Di dalamnya ada foto bayi perempuan, terus dilengannya ada tanda merah seperti ini." Nick membuka kemeja dan menunjukkan tanda lahir yang ada di lengan kanannya. Ya, tanda lahir yang sama dengan adik kecilnya.
Bibi berusaha mengingat. "Oh, disimpan di gudang, Den."
Kening Nick mengkerut. "Kenapa disimpan di gudang?"
"Lah, kan Bapak yang nyuruh."
Nick berdecih, ia kesal mengingat ayah yang tega menjual anaknya dengan orang kaya itu. Nick masih ingat betul bagaimana ayahnya tertawa melihat tumpukan uang di dalam koper dan dengan uang itu ayahnya membuka usaha furniture hingga mendulang kesuksesan seperti sekarang. Inilah alasan Nick dari awal menolak untuk menjalankan usaha ayahnya. Nick tidak sudi memakai uang hasil menjual adiknya.
Nick pun bergegas ke gudang demi mencari benda tua yang bisa ia tunjukkan pada Aura. Jika firasatnya memang benar maka Aura pasti memiliki tanda lahir yang sama seperti di foto dan seperti miliknya.
***
"Sudah terlalu banyak, Laura. Kau mau masak apa?" Diko menggeleng heran melihat Laura belanja kebutuhan dapur begitu banyak bahkan, trolli yang ia bawa pun sudah terlalu penuh.
"Aku sudah belajar masak makanan Indonesia. Dari kita menikah kau tidak pernah makan masakanku. Aku pun tidak pernah masak untukmu. Jadi malam ini kita makan masakanku, ok." Laura mengangkat ibu jarinya.
Diko tersenyum sinis membayangkan rasa masakan Laura yang sudah pasti tidak enak di lidah.
"Kita makan di luar atau gofood saja." Diko mendorong trolli menuju kasir. Jangan sampai Laura menambahnya lagi.
Laura berlari kecil dan menarik lengan Diko, ia menatap Diko dengan penuh rasa kecewa.
"Tidak apa kalau kau tidak percaya kalau aku mencintaimu. Tidak apa kalau kau tidak membalas cintaku. Tidak apa kalau kau tidak menganggap aku ada. Tidak apa kau mau memperlakukan aku seperti apa. Tapi, selama kita tinggal satu atap dan selama aku masih berstatus sebagai istrimu biarkan aku melakukan tugasku sebagai seorang istri. Jika kau tidak suka masakanku, kau bisa kritik dan saran agar aku bisa perbaiki kesalahanku. Tapi, jangan halangi aku untuk belajar menjadi lebih baik lagi." Laura merunduk, ia sadar sudah terlalu banyak bicara.
__ADS_1
Diko menghela napas panjang. Kalau tidak di tempat umum mungkin saja ia akan mendebat Laura. Diko mengangkat satu tangan dan mengelus puncak kepala Laura. "Kita pulang." Laura mendongakkan kepala melihatnya. "Masaklah untukku." Diko kembali berjalan menuju kasir.
Laura tersenyum ia merasa Diko sudah banyak berubah. Laura tidak mau menyiakan kesempatan untuk merebut hati suaminya.
Menjelang malam di dapur minimalis apartmen milik Diko. Suami istri ini masih berkutat dengan bahan mentah yang tadi mereka beli. Awalnya Diko hanya ingin duduk manis di ruang makan tetapi, melihat cara kerja Laura membuatnya semakin yakin kalau Laura tidak bisa memasak.
"Kalau gini caranya kau bisa terkena minyak panas." Diko merebut spantula dari tangan Laura. "Biar aku yang menggoreng ayamnya. Kau buat saja sambalnya."
"Hati-hati." Laura menggeser ke tempat lain, ia memilih cabai dan bawang yang akan menjadi pelengkap ayam geprek seperti yang mereka lihat di internet.
"Harusnya kau yang hati-hati," gumam Diko."Katanya mau masak untukku tapi, aku yang masak untukmu," cicitnya.
Laura hanya tersenyum geli mendengarnya, ia takjub melihat Diko cekatan memasak. Laura melepas apron yang ia pakai, ia berjinjit di belakang Diko dan memakaikan apron warna hitam itu tanpa persetujuan Diko.
"Harus pakai ini." Tangan Laura sibuk di balik punggung Diko.
Diko memejamkan mata, kenapa istrinya tidak peka? Sedari tadi Diko sudah mati-matian menahan diri agar tidak menyantap Laura tetapi, malah Laura yang menyerahkan diri.
Cipratan minyak panas membuat Diko membuka mata dan refleks mundur namun, punggungnya menempel pada Laura.
Hening sesaat. Laura mendadak menjadi kaku melihat posisi mereka.
"Ak-aku siapkan bahan yang lain. Kau mau kue sayur? Apa tadi namanya? Bakwan?" Laura memukul kecil kepalanya sembari berlalu mengambil tepung dan mangkuk kecil.
Diko tidak berkata apapun, ia kembali fokus dengan ayam dupenggorengan yang sudah hampir gosong.
Wortel, kubis dan bahan yang lain sudah menyatu dengan tepung. Diko sudah mengganti minyak baru untuk menggoreng adonan yang dibuat Laura.
"Sudah bisa dimasukkan?" Laura mengecek suhu panas dengan meletakkan tangan di atas penggorengan.
"Pelan-pelan." Diko menarik tangan Laura hingga berdiri di sampingnya. "Lakukan seperti ini. Jangan sampai tanganmu yang kau masak." Diko mulai menggoreng adonan itu. Laura fokus melihatnya sampai penggorengan itu berisi beberapa sendok bakwan.
Diko menoleh melihat Laura yang masih fokus menghadap kompor. Kelopak mata Laura berkedip seolah memainkan bulu matanya yang lentik. Hidung mancung Laura terlihat lucu dan cantik, bibir tipis itu masih merah seperti buah chery tapi, ada setitik adonan tepung yang menempel di samingnya.
__ADS_1
"Sudah masak, sudah bisa ditiriskan," ucap Laura, ia tidak sadar kalau sekarang Diko sedang memperhatikannya. Laura menoleh. "Kenapa diam? Ini sud-dah...." Laura menelan ludah. "Kenapa?"
Diko menggeleng dan menunjuk sudut bibirnya sendiri. "Ada noda," ucapnya singkat.
"Tidak ada, wajahmu bersih dan tampan." Laura terkekeh.
Diko mengerang kesal, ia meraih pinggang Laura hingga kini Laura menempel di dadanya.
"Bukan di wajahku," Diko menjeda ucapannya dan menunjuk sudut bibir Laura. "Di sini," ucapnya lirih. "Ada noda di sini."
"Oh." Tangan Laura hampir menyekanya tetapi, Diko menahannya. "Ke-kenapa?" tanyanya seperti orang bo doh.
"Biar kubersihkan." Ibu jari Diko meraba bibir Laura hingga tidak ada lagi noda tepung yang menempel di sana.
"Su-sudah," tanya Laura.
"Belum." Diko menyatukan bibir mereka. Ia mencium Laura dan mengexplore bibirnya. Laura tidak bisa menolak ia pun ikut larut dalam permainan Diko.
Sepertinya Laura harus berterima kasih pada adonan yang ia buat. Gara-gara adonan tepung Diko menciumnya.
Detik berikutnya Laura menolak bahu Diko. "Gosong." Laura menunjuk kompor.
"Biar saja." Diko mematikan kompor dan mengulanginya lagi, ia sedikit menarik Laura agar menjauh dari minyak panas.
Ciu-man panas itu masih berlanju sampai bunyi bel mengejutkan keduanya.
Diko berdecak kesal, ntah siapa yang datang dan mengganggunya. Diko hanya pasrah melihat Laura berlari untuk membuka pintu.
"Sayang...." Itu suara mama.
"Mama...." Laura terdengar bahagia. "Tiara?" pekik Laura.
"Hai, Kak Laura?" Itu suara Tiara.
__ADS_1
Diko membuka apron dan keluar dari dapur, untuk apa mereka datang ke apartmennya? Apa Daniel yang menyebalkan juga hadir?