
Sebenarnya Laura ingin meminta pendapat Diko tentang adanya kemungkinan kalau Nick adalah kakak kandungnya tapi sayang, Diko tidak mau mendengar apapun tentang laki-laki itu akhirnya mau tidak mau Laura mengurungkan niatnya.
Luka disebagian tubuhnya memang tidak terlalu parah. Mobil yang ia tidak tau milik siapa hanya menyenggol tangan dan membuatnya terjatuh terbentur aspal, luka jaitan yang ia dapat dipunggungnya pun akibat serpihan kaca tajam yang ada di sana. Dokter sudah menyuntikkan anti biotik juga memerban kepalanya yang sempat terbentur aspal.
"Nggak mau makan itu." Laura menolak makanan dari rumah sakit. "Pitza aja." Wajahnya memelas.
"Lima sendok sudah cukup, setelah itu minum obat." Diko meyendok nasi dan sayur bening untuk istrinya. "Kamu keluar rumah cuma untuk cari pitza?" Helaan napas dibarengi gelengan kepala menahan geram karena Laura pergi tanpa ijinnya. "Lain kali, tunggu aku. Jangan pergi tanpa ijinku."
"Makanya harusnya tadi aku ikut. Nunggu kamu pulang lama." Laura terpaksa mengunyah makanan yang sudah disuapkan Diko ke dalam mulutnya. "Sudah cukup." Laura menolak makan lagi.
Tanpa bicara lagi Diko menyingkirkan perlengkapan makan Laura, ia mengupas kulit jeruk untuk Laura sebagai perantara agar Laura bisa menelan obat. Obat yang dikonsumsi Laura membuat ia menguap berapa kali, ngantuk yang ia rasakan.
"Sudah semakin malam, kamu tidur ya." Diko menyelimuti Laura.
"Kamu nggak akan pergi 'kan?" Laura menahan tangan Diko, rasanya ia tidak mau jauh dari Diko.
"Aku mau mandi, kamu liat sendiri aku masih pakai kemeja kantor."
"Nggak mau ... tetap di sini aja."
Diko mengendus tubuhnya sendiri. "Aku bauk!"
"Tapi aku suka kamu yang seperti ini. Aku nggak mau tidur tanpa kamu." Laura teguh pendirian, ntahlah semenjak mereka menghabiskan waktu berdua di lombok, ia tidak mau pisah dari suaminya.
"Yasudah ...." Diko naik di tempat tidur pasien yang ukurannya tidak terlalu besar itu, ia merebahkan diri menghadap Laura. "Sekarang tidur ya, cepat sembuh dan pulang ke rumah." Diko memeluk Laura.
"Terima kasih untuk perhatian ini. Aku rela sakit asalkan kamu selalu ada untukku."
"Jangan sakit ... sakitmu sakitku juga. Kapanpun dan di manapun kamu mau, aku selalu ada dan tetap untukmu." Diko mencium kening Laura. "Happy nice dream, my wife."
Laura membawa senyumannya ke alam mimpi.
***
__ADS_1
Menurut informasi yang didapat Laura menjadi korban tabrak lari. Diko pun segera meminta Rey menyelidiki kasus ini. Setelah memastikan Laura sudah tidur pulas, ia beranjak dan keluar dari ruang rawat.
"Sudah temukan titik terang?" Diko duduk di samping Rey. Bangku panjang yang ada di depan ruangan Laura menjadi tempat mereka berjaga.
"Oca sempat melihat mobil itu tapi, dia tidak ingat plat mobilnya. Diyakini mobil itu sudah mengincar Laura."
Tangan Diko mengepal kuat. "Ada yang sengaja ingin melukainya?"
"Ya, aku sudah melihat rekaman CCTV yang berada di sekitar lokasi kejadian. Semua terjadi begitu cepat tapi tenang saja karena aku sudah menyebar beberapa orang untuk mencarinya!"
"Lakukan yang terbaik, Rey! Siapapun dia ... serahkan padaku!" Rahang Diko mengeras, urat-urat halus di sekitar kening dan leher mulai menonjol membayangkan orang yang sudah berani melukai istrinya.
***
"Bodoh! Kenapa nggak mati aja, sih?" Dona seperti kerasukan setan, ia marah karena orang suruhannya tidak berhasil menjalankan tugas. "Pergi dari sini dan jangan pernah kembali lagi, bawa mobil atau apapun yang bisa jadi bukti, ngerti 'kan?" Ia memberikan tumpukan uang kepada seorang preman jalanan yang ia sewa.
"Kalau begini semua beres!"
"Kali ini harus berhasil, aku butuh bantuanmu." Di dalam mobil, ia menghubungi seseorang.
"Ada pekerjaan untukmu, kalau mau kamu bisa mendapatkan bonus besar!" ucap Dona pada seseorang yang ada di balik telepone, mereka pun menyusun rencana.
Dua hari sudah berlalu, luka Laura sudah mengering. Laura sudah kembali ke rumah tapi, Diko tidak mengijinkannya keluar dari kamar. Segala kebutuhan Laura sudah tersedia bahkan Diko menyewa perawat untuk memantau Laura selama di rumah.
"Aku bosan ... sekretaris nggak ada yang kerja di rumah." Laura tidak terima diperlakukan seperti anak kecil, dikurung dan diawasi. "Dua hari ini ada kamu di rumah, terus sekarang kamu mau kerja, aku udah sembuh! Aku juga mau kerja!"
"Laura ... kamu duduk manis di rumah aja. Biar aku yang kerja. Mulai hari ini kamu bukan sekretarisku lagi." Diko memang sudah meminta Rey mencari sekretaris untuknya.
"Aku dipecat?" Laura cemberut dan duduk di bibir tempat tidur.
"Semua demi kebaikan kamu." Diko jongkok di depan Laura, ia genggam erat tangan istrinya. "Jangan ngambek. Kamu mau apa?"
"Aku cuma mau dekat denganmu saja," jawab Laura.
__ADS_1
"Dengar ... aku selalu ada di sini." Diko menunjuk dada Laura. "Dan kamu selalu ada di sini." Ia membawa tangan Laura di dadanya. "Meskipun ada jarak, meskipun jauh tapi selalu dekat di hati. Kamu harus ingat itu." Diko mengusap pipi Laura. "Senyum, dong."
"Janji nggak akan pernah berubah? Janji selalu seperti ini?"
"Aku akan selalu berusaha menuhi semua janjiku, aku pun tidak mau hubungan kita seperti dulu, jangan khawatirkan apapun, kamu ... adalah masa depanku."
Diko menarik cengkuk leher Laura, mencium bibir dan menuntut sampai keduanya hampir larut dalam suasana.
"Cepat sembuh, ya." Diko menyatukan kening mereka. "Aku mencintaimu, Laura ...." ucapnya lirih.
Kata cinta yang diucapkan Diko menyejukkan hati Laura, hingga ia merelakan Diko pergi ke kantor seorang diri.
***
"Dia yang akan menjadi sekretarisku?" Diko membaca cv yang disodorkan Rey.
"Sudah tidak ada banyak waktu untuk memilah mereka.Dia sudah punya pengalaman kerja jadi tidak perlu.mengajarinya lagi." Percakapan formal tidak ada diantara mereka karena sejatinya Diko dan Rey memang sudah berteman sejak lama.
Diko menghembuskan napas berat, memijit pelipis dan memejamkan mata, sebenarnya ia lelah dan kurang tidur tapi tanggung jawab sudah menunggu, belum lagi identitas pelaku tabrak lari itu belum ketemu.
"Ya sudah ... panggil dia."
Rey keluar dari ruangan Diko dan memanggil Rima. Beberapa saat kemudian Rey kembali dengan membawa wanita yang akan menggantikan pekerjaan Laura.
"Selamat pagi, Pak." Rima sedikit membungkukkan badan. "Terima kasih sudah menerima saya untuk menjadi sekretaris Bapak," ucapnya sopan.
"Kerjakan tugasmu dengan baik pelajari agenda apa yang harus saya jalani dan jangan sampai ada pengkhianatan di sini!" jawab Diko dengan tegas.
"Baik, Pak ...saya mengerti. Saya janji bekerja dengan baik dan tidak akan mengecewakan perusahaan." Rima pamit ke meja kerjanya.
***
Inpoh. Rima bukan pelakor, ya.
__ADS_1