Menjadi Istri Simpanan

Menjadi Istri Simpanan
Belajarlah Mencintai Aku


__ADS_3

Laura mengamati penampilan Tiara. Wanita cantik ini memakai daster berwarna baby pink yang sedikit menonjolkan perut buncitnya.


'Dia cantik sekali, meskipun hamil tapi wajahnya masih berseri. Kalau aku hamil nanti ...?' Laura menggelengkan kepala mengusir khayalan tingkat tinggi yang sulit jadi kenyataan. Bagaimana bisa hamil kalau Diko hanya sekali menyentuhnya dan lagi apa mungkin Diko menginginkan anak darinya?


"Apa kami tidak boleh masuk?" Daniel muncul dari balik punggung Tiara dan mamanya. Mereka masih berada di ambang pintu karena Laura belum mempersilahkan tamunya masuk.


"Ah iya masuklah." Laura masih canggung bila berhadapan dengan Daniel, ia sedikit menggeser tubuhnya ketika Daniel merangkul Tiara masuk dan duduk di sofa yang ujukurnnya tidak terlalu besar.


"Mas ngomongnya yang sopan, dong! Kayak kamu yang punya apartmen ini aja." Tiara memukul lengan Daniel. Awalnya ia hanya ingin pergi berdua dengan mama mertuanya tapi, Daniel memaksa untuk ikut sebab tidak mau kalau Tiara terlalu lama bertemu dengan Diko.


"Bahkan aku bisa membeli semua gedung yang ada di sini." Wajah sombongnya sudah mulai kelihatan. Daniel menyandarkan punggungnya dan merangkul Tiara posesif. "Kamu jangan manggil Laura kakak. Dia adik iparmu harusnya Laura dan suaminya yang manggil kamu kakak!" Daniel menyubit kecil hidung Tiara.


"Aneh Mas. Aku aja manggil kak Diko kakak aakhhh!" keluh Tiara ketika Daniel menarik pipinya. "Sakit!" Satu pukulan mendarat di paha Daniel.


"Sudah jangan sebut namanya!" Pria ini masih cemburu bila menyangkut Diko. Bahkan istrinya menyebut nama Diko dengan mesra.


"Kenapa masih cemburu?" Tiara tersenyum dan membaur kepelukan Daniel.


Mama hanya tersenyum melihat anak dan menantunya.


Sementara di dapur. Diko menyandarkan bok*ngnya di meja kompor, bersedekap dada memperhatikan Laura yang menyiapkan teh hangat untuk tamu mereka. Laura pun menjadi canggung mengingat kejadian beberapa menit yang lalu.


'Apa yang terjadi kalau tadi mereka tidak datang?' Pikiran Laura traveling kemana-mana akankah peristiwa itu terulang kembali?


"Siapkan makanan di meja. Ajak mereka makan malam." Diko bicara sambil berjalan menuju kamar untuk membersihkan diri.


***


"Mama mau kita pesan makanan dari restoran?" Hidangan sederhana sudah tersaji di atas meja. Diko tidak percaya diri menyajikan masakannya kepada mamanya.


"Tidak perlu! Mama tau masakan kamu selalu enak. Laura pasti suka kalau kamu manjakan seperti ini, iya kan sayang!"


Laura tersedak makanannya sendiri, ia buru-buru menyambar segelas air dan meminumnya, wajahnya pun sudah memerah. Laura hanya tersenyum merespon ucapan mertuanya.


"Masih enak masakanku!" celetuk Daniel ia menunjuk Diko dengan garpu di tangannya. "Semenjak istriku hamil, aku terbiasa masak makanan favoritnya. Kalau mau kau bisa belajar dariku!"


Tiara memutar bola matanya jengah. "Kamu tuh narsisinya nggak ilang-ilang sih?"

__ADS_1


"Memang kenyataannya!"


"Sayangnya aku tidak mau belajar pada orang yang salah." Diko menimpali. "Lagipula untuk apa aku belajar masak? Itu bukan tugasku. Aku sudah punya istri yang sempurna seperti Laura." Diko melirik Laura hingga keduanya beradu pandang. "Benarkan sayang?"


Kata sayang yang dilontarkan Diko membuat ia sulit menelan makanannya. Laura tidak tau kenapa Diko bersikap seolah-olah hubungan mereka berjalan normal seperti pasangan suami istri yang lain.


"Sudah jangan bercanda di depan rezeki. Oh iya, malam ini mama menginap di sini, ya!"


Diko dan Laura saling bersitatap, itu artinya malam ini mereka akan tidur di dalam kamar yang sama.


***


Diko sengaja mengajak Mama, Daniel dan Tiara berbincang di balkon apartmen yang memperlihatkan pemandangan lampu kota. Sementara Laura cepat-cepat memindahkan barang-barangnya ke dalam kamar Diko.


Udara dingin terasa menusuk tulang Tiara hingga ia memutuskan untuk masuk mencari Laura begitu juga dengan mama.


Diko dan Daniel sama-sama melihat punggung Tiara sampai menghilang dari pandangan mereka. Daniel kembali melihat ke depan dan bersuara. "Apa yang kau rasakan?" Daniel menyulut api pada sebatang rokok dan menghembuskan asapnya.


Diko pun melakukan yang sama, bibirnya terangkat membentuk senyuman. "Tidak ada. Perasaanku sudah hilang. Aku tidak lagi mencintai istrimu!"


"Hahahaha!" Daniel justru tertawa dan terbatuk dua kali. "Sudah pasti karena sekarang hatimu sudah mencintai wanita lain."


"Aku tau semuanya. Aku sudah merasakannya lebih dulu. Kalau dia sudah pergi, akan sulit mendapatkan kesempatan kedua." Daniel menggerus putung rokok tetapi matanya fokus melihat Diko. " Akui kalau kau sudah mulai merasa nyaman dan mencintai Laura. Jangan sampai kau terlambat menyadari perasaanmu!"


Diko tergelak. "Cinta? Omong kosong!" Diko tidak mengindahkan nasihat Daniel. Hingga Daniel dan Tiara pergi dari apartmennya pun ia tetap menyangkal ucapan Daniel.


Laura berdiri di depan kamar Diko. Tiara dan Daniel sudah pergi sedangkan mama sudah istrahat di kamarnya. Tangannya gemetaran ketika memutar knop pintu. Dilihatnya Diko bersila kaki di tepi tempat tidur memangku laptopnya.


"Kamu belum tidur?" Laura menutup pintu kamar dan berjalan menuju sofa.


"Jangan tidur di sofa!" seru Diko dengan mata yang masih fokus menatap layar laptop.


"Kau mengijinkan aku tidur di ranjangmu?"


Diko meletakkan menutup laptop dan meletakkan di atas nakas. Dia masih menyandar di kepala ranjang dan melihat Laura. "Mau tidur di sini?" Diko menepuk sisi kosong di sampingnya. "Atau di lantai?"


Laura menjadi kicep dan cepat-cepat berpindah tempat. Dia berbaring di samping Diko dan menutup tubuhnya dengan selimut.

__ADS_1


"Laura!" Tangan Diko merapikan rambut halus Laura.


"Apa?" Laura mendongak melihat Diko. Sungguh ia menikmati sentuhan jemari Diko.


"Harus kita mulai dari mana?" tanya Diko lirih, ia tidak mengerti dengan perasaannya sendiri. Rencananya sudah hancur begitu saja awalnya ia menikahi Laura hanya ingin menyiksa batin wanita ini tapi, semakin hari ia tidak tega melakukannya bahkan ntah akan ia apakan kertas kosong yang sudah mereka tandatangani.


"Memulai untuk apa?" Laura memiringkan badan agar lebih leluasa melihat Diko.


"Memulai hubungan kita. Apa yang kau harapkan dengan hubungan palsu ini?"


Laura mendekap tangan Diko. "Tidak ada yang palsu, perasaan, pernikahan, status kita semua nyata, tidak ada yang palsu. Aku mencintaimu dan aku mengharapkan hal yang sama darimu. Kita sudah memulainya dan aku tidak mau semua ini berakhir percuma."


"Harapanmu akan sia-sia. Kau yakin aku bisa mencintaimu?"


Laura menyingkap selimut dan duduk di samping Diko. "Kamu bisa kalau kamu mau mencobanya. Aku bisa buat kamu cinta sama aku asalkan kamu kasih aku kesempatan. Jangan lagi menghindariku."


"Kamu akan kecewa, Laura."


"Enggak!"


"Aku takut tidak bisa membalas cintamu!"


"Bisa!"


"Aku payah, Laura!"


"Nggak! Kita bisa mulai dari awal! Kenali aku Diko, maka kamu akan mencintai aku."


"Aku takut gagal dan aku benci pengkhianat!"


"Aku nggak akan pernah mengkhianati pernikahan ini." Laura menangkup wajah Diko dengan kedua telapak tangannya. Jarak wajah keduanya semakin dekat. "Belajarlah mencintai aku," ucap Laura lirih.


"Bantu aku." Diko hanya takut memulai hubungan baru dan berakhir kehilangan dan menyedihkan seperti pengalamannya yang sudah-sudah. Ia terdiam saat tiba-tiba Laura mengecup singkat bibirnya.


"Aku akan sabar menunggu kata cinta darimu, Diko." Laura tersenyum tapi, senyumannya hanya sebentar karena Diko menarik cengkuk lehernya dan menciu m bibirnya.


Detik berikutnya suara bising keduanya sudah mendominasi ruangan yang kedap suara. Diko melakukannya dengan lembut sampai Laura merasa dicintai.

__ADS_1


***


Hai Readers sayang, apa kabar? Vio harap dalam keadaan baik dan sehat. Maaf lama nggak update. Untuk Tiara dan Daniel nggak bisa banyak-banyak karena mereka cuma tamu hihihi. Tunggu Tiara melahirkan ya😅


__ADS_2