Menjadi Istri Simpanan

Menjadi Istri Simpanan
Pembalasan Genta [Bagian 1]


__ADS_3

Di Rumah Sakit....


Genta menunggu Maurine yang sedang menjalani perawatan. Rasa khawatir, panik, cemas dan gelisah menghantuinya. Genta tidak bisa berbuat apa-apa untuk Murine, yang bisa dia lakukan hanya berdoa dan berharap Maurine baik-baik saja.


Genta berjalan mondar-mandi. Setelah itu dia duduk bersandar, dia memikirkan nasib Maurine. Bagaimana keadaan Maurine tidak ada yang tahu.


Genta kembali memikirkan ulah Felicia, Genta pun geram dan murka. Genta langsung mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan menghubungi Alvian.


(Percakapan di telepon)


"Hallo, bagaimana Al?" tanya Genta langsung.


"Ya Tuan, kami sudah dikantor polisi. Apa ada hal penting Tuan?" tanya Alvian.


"Serahkan seluruh bukti kejahatan Ferdian, kali ini aku tidak akan biarkan Ferdian menginjakkan kaki keluar dari penjara. Soal Felicia, aku akan menuntut hukuman berat. Serahkan juga bukti-bukti kejahatannya, dia menjual barang terlarang di pasar gelap. Aku tidak akan tinggal diam lagi Al, istriku sudah di buat celaka olehnya. Papa dan Anak sama-sama gila," jelas Genta.


"Saya mengerti Tuan, saya akan melakukan sesuai perintah Anda. Anda tidak perlu khawatir," jawab Alvian.


"Terima kasih Al, jika ada sesuatu kau mintlah bantuan Nina untuk membantumu," ucap Genta.


"Baik Tuan, semoga Nyonya baik-baik saja."


"Ya," jawab Genta.


Genta pun mengakhiri panggilan. Genta melihat layar ponselnya, ada foto Maurine bersamanya di layar ponsel. Genta merasa sedih, mengusap layar ponselnya dan hanya bisa berharap Maurine baik-baik saja.


"Bertahanlah Maurine. Jangan sampai sesuatu yang buruk terjadi padamu, aku tidak akan sanggup bertahan tanpamu. Aku mohon, bertahanlah...," batin Genta berlinang air mata.


Dengan pakaian yang lusuh, Genta duduk bersabar menunggu kabar. Genta melihat dirinya sendiri sekilas, ada bercak darah di beberapa tempat. Hal itu tidak dipedulikan Genta, pikirannya hanya tertuju pada keselamatan Maurine.


***


Felicia mengamuk di kantor polisi, Alvian menghubungi Nina, dan bicara mengenai apa yang dibicarakan Genta. Nina yang ada di kantor pub mengiyakan permintaan Alvian dan akan segera datang menyerahkan apa yang di butuhkan.


"Lepaskan aku, aku tidak bersalah!" seru Felicia membela diri sendiri agar dilepaskan.


"Nona diamlah!" sentak petugas polisi di hadapan Felicia.


"Kau akan menyesal membuatku seperti ini," kata Felicia seakan mengancam.


"Anda mengancam petugas Nona? masih memiliki nyali? Anda sungguh tidak punya rasa malu, sudah ingin mencelakai orang sekarang berani-beraninya menggertak petugas polisi."


"Persetan dengan itu semua, si j*la** itu memang pantas mati. Awalny hanya ingin Genta yang mati, melihat wanit busuk itu mengorbankan diri aku puas, aku juga tidak menyesal. Aku tidak akan minta maaf pasa si busuk itu atupun Genta."

__ADS_1


Alvian kesal, "Nona, Anda sungguh keterlaluan. Anda ternyata memiliki hati iblis, bersikap begitu kejam pada Tuan dan Nyonya. Lalu apa selama ini? apajah kerahaman Anda hanyalah topeng?" ucap Alvian menatap Felicia.


"Tutup mulutmu pengkhianat!" teriak Felicia.


Felicia berteriak-teriak histeris, ingin sekali dilepaskan. Namun petugas dan Alvian tidak menggubris.


Petugas yang lain membawa Felicia pergi. Petugas yang sempat berdebat dengan Felicia tetap duduk di tempatnya dan berbincang dengan Alvian.


"Sepertinya kita perlu membawanya ke Rumah Sakit. Aku khawatir dia mengalami ganguan mental," kata petugas.


"Sebenarnya, memang ada sedikit masalah. Tunggu Sekertaris Tuan datang, Anda akan segera tahu."


"Ferdian juga mengalami gangguan mental, aku sudah membaca dokumen riwayat kesehatannya. Sangat di sayangkan," kata petugas itu lagi.


"Anda benar, sangat di sayangkan."


Alvian dan petugas tersebut masih berbincang. Alvian menceritakan sedikit mengenai keluarga Ferdian, tentang apa yang ia ketahui kepada petugas.


30 menit kemudian....


Nina datang membawa apa yang di butuhkan Alvian, atas perintah Genta. Alvian langsung dengan segera memberikan kepada petugas yang berbincang dengannya.


"Tolong urus semuanya sesuai prosedur," kata Alvian.


"Baik Tuan, kami akan segera mengurus semuanya. Sampaikan pada Tuan Aiden, " jawab petugas.


"Terima kasih kembali Tuan Alvian," jawab petugas itu.


Alvian dan Nina pergi meninggalkan gedung kantor polisi untuk kembali ke kantor.


Nina dan Alvian pergi bersama menggunakan mobil Alvian, di tengah perjalanan mereka berbincang.


"Aku tidak sangka ini akan terjadi," ucap Nina.


"Ya, aku juga. Ini mengejutkan," jawab Alvian.


"Tuan pasti marah besar Al, bagaimana Nyonya Aiden? kau sudah dapat kabar?" tanya Nina penasaran.


Alvian menggeleng, "Belum ada kabar dari Nyonya, Tuan menghubungiku hanya untuk menyerahkan apa yang kau berikan tadi. Tidak bicara apa-apa soal Nyonya," jelas Alvian.


"Semoga Nyonya baik-baik saja. Aku rasa kita harus cerita pada Bibi Anna, agar Bibi Anna mengantar makanan dan pakaian ganti untuk Tuan."


"Kau benar, Tuan pasti kacau sampai tidak mengurus diri. Aku akan mengantarmu kembali ke kantor dan kembali ke rumah Tuan. Kau jaga kantor baik-baik Nina," kata Alvian.

__ADS_1


"Tentu, kau juga jaga dirimu baik-baik."


"Wah, perhatian sekali. Terima kasih Nina," jawab Alvian.


Nina hanya tersenyum, Alvian merasa senang mendapatkan perhatian dari sahabat baiknya Nina. Selain Bibi Anna ada Nina yang selalu memberi dukungan dan semagat.


***


Genta sedang bersama Maurine. Maurine masih terbaring lemah di tempat tidur pasien. Sedangkan Genta duduk di samping tempat tidur dan memegang tangan Maurine.


"Bangunlah sayang, jangan membuatku takut. Aku berjanji akan melakukan apapun yang kau inginkan," ucap Genta mencium punggung tangan Maurine.


Tok....


Tok....


Tok....


Pintu ruangan terbuka, seorang Dokter dan perawat masuk kedalam ruangan.


"Tuan," sapa Dokter yang berjalan menghampiri Genta.


"Dok, bagaimana hasil pemeriksaan lengkapnya? apakah ada yang serius?" tanya Genta yang langsung bangkit dari duduknya.


"Mohon tenang Tuan, jangan panik. Meski luka tusuk Nyonya dalam, namun kami sudah bisa menghentikan pendarahannya. Hanya perlu menunggu waktu untuk masa pemulihan. Tidak ada yang serius Tuan," jelas Dokter.


"Kenapa belum bangun?" tanya Genta tidak sabar.


"Mohon bersabar Tuan," kata Dokter.


Genta menutup matanya sekilas, dan mengehela napas. Genta merasa cemas, meski sudah mendengar kabar dari Dokter jika Maurine baik-baik saja. Namun hatinya masih tidak tenang sebelum Maurine terbangun dan membuka mata.


"Maaf Dok," ucap Genta mengusap tengkuknya sendiri.


"Tidak apa Tuan, saya mengerti perasaan Anda. Jika tidak ada kepentingan lainnya, saya akan pergi untuk memeriksa beberapa pasien saya yang lain. Jika ada apa-apa Anda bisa panggil perawat jaga."


Genta mengangguk, "Saya mengerti Dok. Terima kasih," kata Genta.


"Sama-sama," kata Dokter.


Dokter melihat perawat baru saja memeriksa infus Maurine. Setelah selesai memeriksa, Dokter dan Perawat pergi meninggalkan ruangan.


Genta menatap Maurine, mengusap kepala Maurine lalu mencium kening Maurine.

__ADS_1


"Aku akan menghukum orang yang membuatmu seperti ini sayangku. Hatiku sakit melihatmu terbaring tidak berdaya seperti ini," batin Genta.


Bersambung....


__ADS_2