
Ceklek.
Oca membuaka pintu kamar yang ditempati Laura. Perempuan yang sekarang jadi pengangguran ini bersyukur karena Laura memutuskan untuk datang ke rumahnya. Memang, setelah resmi mengundurkan diri dari kantor ia belum sempat menjenguk Laura sebab masih sibuk mengurus neneknya yang sakit.
Helaan napas dirasa begitu berat seolah merasakan apa yang tengah dirasakan Laura. Tapi, ia tidak mau menunjukkan kesedihannya di depan Laura, tidak mau temannya itu bertambah sedih.
"Lihatlah aku yang pengangguran ini! Kuhabiskan stok makanan di dapur, persediaan daging di kulkas pun sudah tidak ada lagi. Semua kumasak untuk temanku, tapi wanita hamil ini tidak mau menyentuh makananku!" seru Oca, ia sengaja mengeraskan suaranya.
Laura menoleh dan melihat nampan berisi makanan yang masih utuh. Rasanya ia sudah kehilangan selera untuk makan, bahkan minum susu hamil pun terasa mual.
"Aku nggak lapar," lirih Laura masih duduk di tepian tempat tidur. "Aku juga nggak punya uang untuk bayar pengangguran sepertimu."
Oca berdecih. "Kau mengejekku? Meskipun aku pengangguran tapi, sisa gajiku masih banyak asal kamu tau aja, ya!" Naik ke atas tempat tidur dan duduk di samping Laura.
Laura tersenyum dan meraih tangan Oca. "Terima kasih sudah ada untukku dan sudah ijinkan aku tinggal di rumah ini." Laura bersyukur karena masih ada Oca yang mau mendengarkan dan menghibur saat sulit seperti ini.
"Aku nggak butuh terima kasihmu." Oca meraba perut Laura. "Yang aku mau keponakanku ini tumbuh sehat.Tapi, kau tega sudah biarin dia kelaparan." Bibir Oca mengerucut, wajahnya cemberut. "Boleh melupakan masalahmu dengan dia tapi, jangan lupakan anakmu ini. Dia butuh nutrisi dan asupan gizi dari makanan yang dikonsumsi ibunya!" Oca tidak berhenti mengomel. "Semua ini salah Diko!" Ia semakin kesal saja.
"Dia tidak salah. Semua terjadi karena komunikasi yang buruk. Dari awal aku tidak berkata jujur karena takut dia meragu dan tidak menerimaku sementara dia takut masa lalunya terulang lagi. Semua orang tau dalam menjalin hubungan hal yang paling penting adalah saling percaya dan menerima kekurangan satu sama lain. Bagaimana bisa terlaksana kalau komunikasi tidak berjalan seperti seharusnya? Kau lihat, kehancuran yang terjadi."
Laura membuang napas kecewa, kecewa pada diri sendiri dan kecewa pad keadaan. Keadaan di mana tidak bisa memertahankan rumah tangganya.
Oca mencoba mengerti, ia mengambil surat yang tadi ditunjukkan Laura. "Bukannya tidak boleh bercerai dalam keadaan istri sedang mengandung?" Oca memang belum menikah tapi, ia cukup paham dengan hukum pernikahan.
Laura tersenyum pahit. "Anggap saja latihan. Setelah anak ini lahir, aku sendiri yang akan mengurus semuanya. Aku bisa besarkan anak ini sendirian tanpanya." Laura menyeka sudut mata yang basah. Demi anak yang ada di dalam kandungan, ia berjnji tidak akan menangis lagi.
Oca memeluk Laura dan menguatkan temannya itu, ia menyuapkan makanan untuk Laura dengan penuh perhatian dan kasih sayang.
***
Tidak ada yang bisa memutar waktu. Tidak ada juga yang bisa menebak seperti apa jalannya takdir kehidupan. Tidak ada yang namanya kebetulan semua terjadi atas kehendak pemilik kehidupan. Hanya saja sebagai manusia Diko baru menyadari betapa besar ego yang ia miliki.
__ADS_1
Rasa acuh dan tidak perduli, ingatannya sempat lama dipenuhi oleh satu wanita yang bernama Tiara, hingga ia abaikan teman kecil yang bernama Laura. Hingga ia melupakan fakta kalau Laura adalah anak angkat di rumah itu.
Ternyata, takdir masih berpihak pada Laura yang sudah memertemukannya dengan pria paruh baya yang masih memejamkan mata. Diko semakin merutuki kebodohannya sendiri. Andai saja ia tidak egois, kesalah pahaman ini pasti tidak akan terjadi.
Di hari itu juga ia membantu Nick mengurus segala administrasi pemindahan ayah mertuanya ke rumah sakit lain yang memiliki fasilitas medis lebih lengkap berharap kesehatanya segera membaik.
Nick masih bungkam perihal Rima. Meskipun kecewa dan penasaran ia tetap diam tidak mau menambah masalah lebih banyak lagi, dirinya hanya fokus memantau ayah dan juga berusaha mencari Laura.
Menjelang petang sampailah Diko di hotel, ia kembali masuk ke kamar dengan tubuh lelah, kesal, kecewa pada diri sendiri dan menyesal. Menyesal karena kini Laura pergi darinya.
"Kenapa pergi? Bukan aku yang menyuruhmu pergi." Ia menggenggam cincin pernikahan yang ditinggalkan Laura. Kemana ia harus mencari Laura? Bahkan ponsel wanita itu ada di tangannya.
Dering handphone mengalihkan perhatiannya. Vidio call dari Paris.
"Sayang, kenapa susah sekali dihubungi?" Wajah mama sudah terlihat di sana. "Kalian baik-baik saja kan? Akhir-akhir ini perasaan Mama gelisa memikirkan kalian. Dimana Laura? Cepat panggilkan menantu Mama."
Diko semakin tidak karuan, jangankan mama dirinya saja tidak tahu Laura ada di mana.
"Syukurlah kalau begitu. Cepat pangilkan Laura," pintanya dengan nada memaksa.
"La-Laura ... dia masih di kamar mandi. Nanti aku hubungi Mama lagi." Satu kebohongan lagi yang ia ciptakan. Diko bahkan memaksakan senyumannya supaya Mama tidak curiga.
"Biar Mama tunggu sebentar. Mama sudah sangat merindukan menantu Mama itu. Kapan kalian kembali ke Paris?" tanya Mama lagi.
Jemari tangan Diko mengetuk-ngetuk meja rias. Ah, ia semakin gugup saja. Khawatir Mama tahu kalau ia sedang menutupi sesuatu.
"Diko masih harus manghandle beberapa pekerjaan di sini. Nanti kalau semuanya sudah beres, kami pasti kembali ke Paris."
Raut wajah Mama terlihat kecewa. "Kesibukan di kantor tidak akan ada habisnya Diko! Yasudah cepat panggilakan Laura!"
Diko mati kutu lagi, ia bingung cari alasan lain. Belum sempat ia membuka mulut, Tiara sudah muncul di balik layar.
__ADS_1
"Hai Kak Diko!" Tiara melambaikan tangan, pipinya bertambah bulat. Sepertinya berat badan wanita itu semakin bertambah. "Kapan ke Paris?"
Diko tersenyum kecut. "Kamu kapan melahirkan? Laura tidak sabar untuk menggendong anakmu."
"Justru anak ini menunggu kalian, dia mau disambut sama uncle dan aunty. Bayinya mau seluruh keluarga ada di sini, iya kan Ma?"
Mama tersenyum di balik layar. Posisi mereka sedang duduk di lantai beralaskan karpet berbulu halus dan lembut. Ponsel itu berdiri tegak menghadap mereka. Daniel tiba-tiba berjongkok dan merangkul Tiara.
"Apa kehadiran Papanya saja tidak cukup, sayang?" Mencubit kecil pipi Tiara lalu menciumnya.
Tiara tertawa karena semakin hari suaminya ini semakin cemburuan, sayang, perhatian tapi terkadang menjengkelkan.
Tiara melingkarkan dua tangan di pinggang Daniel dan menyandarkan kepala di dada bidang yang ditutupi kaos berwarna hitam.
"Kehadiran ayahnya yang utama, sayang...." Tiara bermanja di sana. Daniel mencium puncak kepala Tiara lalu menghadap camera.
"Tinggalkan pekerjaanmu di sana, datanglah ke pesta pernikahan Andre dan Moza. Apa kau tidak mau menjadi saksi kebahagiaan teman lamamu?" tanya Daniel, ia baru kembali dari hotel yang akan menjadi tempat pesta Andre dan Moza digelar.
Lagi-lagi Diko membuang napas berat. "Hmmm Baiklah, aku akan pulang dalam waktu dekat."
Mama ikut bicata. "Janji, ya! Mama juga mau mengadakan pesta resepsi untukmu dan Laura."
"Resepsi?" Diko mengernyitkan dahi, ia tetingat sesuatu yang harus ia lakukan. "Ma, nanti Diko hubungi lagi." Panggilan itu terputus, Diko bergegas ke kamar mandi dan bersiap mencari Laura, ia tahu harua mencri Laura di mana. Pertama ia akan menyiapkan pesta kejutan untuk istrinya itu.
***
Tiara sudah mau melahirkan, hayo sudah ketemu gambarannya?😅 Nanti kalau TAMAT kita ketemu di cerita MARK DAN ROSSELA ini covernya aja dulu.
Sabar ya, Cintah
__ADS_1