Menjadi Istri Simpanan

Menjadi Istri Simpanan
MIS


__ADS_3

Double Up. Jangan lupa jempolin.


Setelah meeting usai, Diko kembali ke ruangannya masih memegang erat alat komunikasinya yang ia gunakan dengan dua anak buah yang ia tugaskan menjaga Laura dari jauh. Diko tidak mau Laura berada dalam bahaya hingga ia berinisiatif mengirimkan pelindung selama tidak berada di sampingnya.


Manik mata itu masih fokus melihat foto USG calon anaknya. Kini, pikirannya menjadi kacau karena Laura mengabaikan peringatannya.


"Kau masih berhubungan dengan dia." Rahang Diko mengeras melihat foto Laura masuk ke kamar hotel lain. Kamar yang ia yakini milik Nick. Pertanyaan muncul di kepala, kenapa Nick juga menginap di kamar hotel itu? Apa mereka sudah janjian?


Pintu dibuka dari luar, tanpa permisi Rey masuk dan duduk di sofa membaca surat pengunduran diri dari Oca.


"Anak itu sulit dikendalikan padahal, aku sudah membujuknya tapi dia masih tetap mengundurkan diri," gumam Rey terdengar di telinga Diko.


"Siapa yang mengundurkan diri?" Diko berpindah tempat dan duduk di depan Rey.


"Oca!" Rey menunjukkan surat dari Oca. "Gertakanku dianggap serius, dia tidak mau berada dilingkungan yang sama dengan Rima."


Diko mengernyitkan dahi. "Mereka punya masalah apa?"


"Ntahlah! Mereka bertengkar di pantry. Oca yakin kalau Rima bukan orang baik, dia curiga Rima punya niat lain datang ke sini."


Diko memijit pangkal hidungnya, kepalanya terasa pusing dengan masalah yang datang silih berganti. "Ini tugasmu, Rey! Urus mereka dan jangan biarkan Oca keluar dari sini!"


"Biar aku introgasi Rima lebih dulu! Aku yang terima dia bekerja di sini. Kalau tuduhan Oca benar maka aku sendiri yang beri perhitungan sama dia!" ucap Rey.


"Jangan!" Diko berubah pikiran. "Biar dia jadi urusanku. Panggil dia ke sini!" Diko menyandarkan punggungnya. "Aku butuh dia!" imbuhnya lagi.


"Urusan apa?" Rey heran karena selama ini Diko berusaha menjaga hati Laura dengan tidak berurusan dengan sekretarisnya tapi kini Diko membutuhkan Rima.


"Kerjakan saja perintahku!" ketus Diko.


Rey kembali mendesahkan napasnya. "Aku dengar istrimu sedang hamil, aku cuma mau bilang jangan sampai kau bertindak bodoh!" Ia pergi tanpa menoleh lagi.


***


Rima bisa bernapas lega karena Oca benar-benar keluar dari kantor. Ia merasa aman sebab tidak ada satu orang pun yang percaya pada ucapannya. Tapi, Rima merasa bingung karena tiba-tiba Diko menyuruhnya untuk pindah dan menempati apartmen miliknya.


"Tinggallah di sini untuk beberapa hari, Rima. Kau bisa melakukan apapun yang kau mau di sini tapi, jangan sekalipun masuk ke kamarku dan istriku yang ada di sana." Diko menunjuk kamar disudut dekat jendela.

__ADS_1


"Iya, Pak! Tapi ... Bapak tidak akan menginap di sini, kan? Emm saya cuma nggak mau orang-orang berpikiran yang tidak-tidak tentang kita."


"Mau saya datang bermalam sekalipun di sini tidak akan ada yang terjadi di antara kita, kamu paham?" Diko meletakkan ponsel dan kunci mobil di meja ruang tamu.


"Iya, Pak! Maaf!" Rima membawa koper berisi pakaiannya ke kamar lain yang ada di apartmen Diko.


Diko membuka jas hitam yang ia kenakan dan masuk ke dalam kamar miliknya. Ia memerhatikan setiap inci sudut ruangan yang menjadi saksi cintanya dengan Laura. Ia tersenyum mengingat malam indah itu tapi, senyuman itu memudar ketika mengingat Laura masih diam-diam menghubungi Nick.


"Tidak ... dia anakku, anak kandungku." Diko menepis bisikan yang menyuruhnya meragukan anak yang di kandung Laura. "Laura tidak mungkin berkhianat, dia tidak akan melakukan hal bodoh itu!" Diko berbaring di atas tempat tidur melipat tangan di bawah bantal dan memejamkan mata ia sudah bertekat untuk membalas Laura. Jika Laura tidak mengerti perasaannya maka, ia pun akan melakukan hal yang sama.


"Jangan tunggu aku, Laura ... aku tidak akan pulang." Sudut matanya mengeluarkan air mata, hatinya terasa berat mencoba jauh dari Laura dan calon anak mereka tapi, ia harus melakukannya.


***


Laura tidak bisa tidur dengan nyenyak, jam di dinding sudah menunjukkan pukul 10 malam tapi, Diko belum kembali ke hotel bahkan suaminya itu tidak mengangkat telepone darinya.


Begitu ke ruang tamu, ia tindak melihat tanda-tanda kehadiran Diko di sana, pekerja rumah pun mengatakan kalau Diko tidak pulang ke rumah. Lalu ada di mana suaminya itu?


Hanya menggunakan dres selutut ia keluar dari kamar, dilihatnya dua orang berbadan kekar tertidur di depan pintu kamar.


***


Taksi yang membawa Laura sudah menyusuri gelapnya malam. Sedari tadi Laura gelisah di bangku penumpang, memikirkan Diko yang masih tidak mau menjawab atau membaca pesan darinya.


"Kita sudah sampai, Neng." Supir taksi membuyarkan lamunan Laura. Mereka sudah sampai di bangunan yang menjulang tinggi.


"Terima kasih, Pak." Laura mengambil beberapa lembaran uang dari dompet. "Ambil saja kembaliannya!"


"Terima kasih, Neng. Saya tunggu di sini, ya!" ucapnya dengan sumringah.


"Terima kasih, Pak!" Laura keluar, ia berjalan menuju unit apartmen.


***


"Aku harap kamu ada di sini!" Ia menekan kode akses masuk ke dalam apartmen. Pintu sudah terbuka tapi, ruangan ini terlihat gelap.


Laura menghubungi Diko lagi, getaran ponsel di atas meja menarik perhatian Laura, ia merah benda pipih itu.

__ADS_1


"Ini hp Diko!" Laura tersenyum senang samar-samar ia mendengar suara dari dapur yang masih terang. "Kamu pasti terkejut aku datang ke sini." Langkah kaki Laura tidak terdengar, ia berjalan mengendap-endap seperti maling tapi, senyumnya hilang melihat sosok wanita tengah berdiri menghadap kompor.


Kenapa perempuan lain ada di apartmennya?


Tak!!


Ponsel miliknya dan milik Diko terlepas dari genggaman, hatinya panas membayangkan apa yang sudah dilakukan Diko dengan wanita asing ini.


Rima berbalik badan, ia pun terkejut melihat wanita cantik ini. "Siapa?" tanya Rima.


Laura mengepalkan tangan, ia berjalan cepat dan menampar perempuan yang memakai piyama tidur ini.


PLAK!!!


"Beraninya kau tanya aku siapa?" teriak Laura marah. "Kamu yang siapa kenapa ada di apartmen suamiku?" Suara Laura menggema di dapur.


Rima memegang pipi yang terasa panas, mana ia tau kalau wanita ini istri atasannya.


"Jawab! Kenapa kamu ada di sini!" Ia mencengkram lengan Rima. "Di mana suamiku?"


Rima kesakitan ketika kuku-kuku lancip Laura melukai lengannya, dalam keadaan seperti ini ia tetingat akan perintah Dona lagi. Ini kesempatan untuknya.


"Aku Rima dan jangan ganggu Diko, dia kelelahan di kamar!" jawab Rima.


Tangan Laura mengendur, telinga dan hatinya terasa panas, ia mundur beberapa langkah memerhatikan Rima.


"Apa katamu? Apa yang kalian lakukan?" tanya Laura suaranya terdengar lirih dan bergetar.


"Sama seperti apa yang kamu pikirkan!" Rima melangkah maju. "Kami melakukannya," bisik Rima meyakinkan Laura.


"Kurang ajar! Perempuan murahan! Beraninya kau lakukan ini?" Laura berteriak dan menjambak rambut Rima.


***


Sabar ya, Readers. Update sekali lagi kelar, kok:-) Kurang dari 5 bab lagi kita jumpa anak Tiara lalu menunggu detik-detik ketemu anak Laura dan TAMAT:-)


Sabar, ya

__ADS_1


__ADS_2