
"Kenapa masih hubungi aku? Aku nggak mau ngikutin perintahmu yang gila itu!" Rima sengaja mengangkat telepone di pantry kantor supaya tidak ada yang mendengar pembicaraannya dengan Dona.
"Ini untuk yang terakhir kali dan kamu yang harus melakukannya sendiri!"
"Nggak! Aku tetap nggak mau Dona!"
"Kalau kamu nggak mau aku bisa minta bantuan adikmu!
"Dona kamu gila, jangan bawa-bawa adik atau keluargaku yang lain."
"Terserah, keputusan ada di tanganmu. Aku tunggu kabar baiknya! Atau adikmu yang melakukannya!" Dona mengakhiri percakapan secara sepihak.
"Dona! Halo Dona!" Tanpa sadar, Rima mengeraskan suaranya.
Brak!!!
Pintu pantry dibuka dari luar Oca sudah berdiri di ambang pintu. Ya, sedari tadi ia mendengarkan percakapan Rima dan orang yang ia yakini adalah Dona.
"Dari awal aku udah curiga kalau ada yang nggak beres di sini." Oca memojokkan Rima di sudut ruangan, tepat di samping dispenser.
Wajah Rima menjadi pucat pasih namun, ia mencoba tenang. "Ap-apa maksudmu?" Rima menyimpan benda pipih miliknya.
"Jangan pura-pura, aku yakin kamu mau jadi pengacau di sini terutama ..." Oca menggantungkan ucapannya ia mencengkram lengan Rima sangat erat. "Merusak hubungan Diko dan Laura!"
Rima meringis kesakitan. "Jangan sembarangan nuduh, aku nggak kenal sama mereka berdua," kilah Rima tidak mau disalahkan.
Oca kehilangan kesabaran, mengambil segelas air putih dan menyiram wajah Rima sampai membasahi kemeja Rima.
"Aakkhh! Sampai segininya kamu nuduh aku tanpa bukti?" Rima mengusap wajahnya. "Aku bisa laporin kamu atas perbuatan yang tidak menyenangkan." Rima menolak bahu Oca.
__ADS_1
"Kamu pikir aku perduli?" Oca menarik rambut Rima. "Dengar ya perempuan ular. Aku nggak akan biarin kamu berhasil mengusik hubungan Laura dan Diko." Oca semakin menarik kepalan rambut yang ia pegang.
"Oca!!!" Rey mendengar keributan di pantry, ia terkejut melihat siapa orang di dalamnya. "Lepaskan dia!" sentak Rey marah.
"Nggak! Dia udah kurang ajar! Aku nggak akan lepasin dia gitu aja!" Oca tidak menghiraukan beberapa orang sudah memenuhi pantry.
"Tolong saya Pak Rey." Rima memasang wajah melas berusaha menarik simpati Rey.
"Jangan pancing amarah saya, Oca! Lepaskan dia atau kamu saya pecat!" Wajah Rey sudah mengetat, ia memegang tangan Oca yang menjambak rambut Rima. "Lepas!" titahnya lagi.
Tangan Oca mengendur, ia menatap Rey penuh dengan kecewa. "Sayangnya saya juga tidak mau ada di tempat yang sama dengan perempuan ular seperti dia!" Oca melepaskan Rima dan mendorong hingga punggungnya terbentur dinding. "Dia perempuan licik yang datang membawa niat jahat ke sini dan ya, aku memang nggak punya bukti tapi, kita lihat saja aku nggak akan biarin dia berhasil dengan rencananya." Mata Oca memancarkan kebencian pada Rima.
"Kamu berlebihan, kamu salah paham, Oca," lirih Rima.
"Munafik!" cibir Oca, kemudian ia melihat Rey. "Pak Rey memang punya kuasa di sini tapi, nggak perlu repot-repot memecat saya karena, mulai hari ini saya menundurkn diri!" Oca membuka name tag miliknya dan meletakkan di atas meja. "Saya permisi." Ia menyenggol bahu Rey dan keluar dari pantry.
Dengan kepalan di tangan Rey mengejar Oca. "Oca tunggu!" Rey tidak terima Oca mengundurkan diri. Ia semakin marah sebab Oca tidak menghiraukannya malah menghilang di balik litf yang sudah hampir tertutup rapat, Rey memasukkan jemari tangan di cela pintu sampai pintu lift terbuka lebar.
"Kesalahan yang mana? Urusan saya sama Rima, bukan sama Bapak!" seru Oca.
"Kamu tidak merasa bersalah setelah mengganggu pikiran saya selama ini? Saya memerhatikanmu dalam diam, saya ingin mengenal kamu lebih dekat tapi apa?" Rey menggelengkan kepala kecewa. "Kamu berikan saya kejutan yang tidak terduga!"
Oca memutar bola mata jengah.
"Saya nggak ngerti maksud Bapak, kalau Bapak marah karena saya udah kasar sama Rima saya pikir itu urusan Bapak dan saya nggak akan jelasin apapun sama orang yang dari awal nggak percaya sama saya!"
"Siapa bilang saya nggak percaya sama kamu?" Dengan kedua tangan ia mengurung Oca. "Bahkan, saya percaya dengan kehamilanmu ini," bisikan Rey.
Oca terpaku, ia tidak mengerti ke mana arah mereka bicara. "Saya juga percaya kalau selama ini Bapak tidak normal!" cobir Oca.
__ADS_1
Rey menajamkan telinga. "Kamu nuduh saya? Kamu bilang saya tidak normal? Kamu mau lihat seberapa normalnya saya?" Rey tersenyum sinis.
Oca mendadak ketakutan. "Bapak juga nuduh saya, bilang kalau saya hamil."
"Bukannya kamu memang hamil?" selidik Rey.
Oca menggeleng. "Laura yang hamil, tap--
"Kamu bilang apa? Laura yang hamil?"
Rey bersorak dalam hati, wajahnya sudah tidak kecew lagi.
"Iya dan saya nggak suka ada orang yang ganggu dia terutama Rima!" Oca kesal lagi.
"Ada yang kamu curigai dari dia?"
Oca mengangguk. "Kalau saya cerita, apa Bapak bisa percaya sama saya?" Oca menatap Rey penuh harap.
"Kalau kamu bisa percaya sama perasaan saya maka, saya akan percaya sama kamu." Dengan kedua telapak tangan, ia menangkup wajah Oca. "Saya suka sama kamu," ucap Rey.
Tentu, Oca tidak percaya begitu saja sebab selama ini Rey terlihat cuek dan jarang melihatnya dan sekarang pria ini menyatakan perasaannya.
Ting! Lift sudah berhenti. Di depan pintu sudah banyak orang yang mengantri, tanpa menghiraukan Rey dan semua ucapannya ia berlari kembali ke kubikelnya. Melakukan apa yang seharusnya ia lakukan.
***
Laura sudah kembali ke kamar hotel sementara Nick dan papanya masih berada di kamar mereka. Laura meminta waktu untuk menjelaskan sendiri hubungan mereka kepada Diko karena ia takut Diko masih marah bila membahas tentang Nick. Pelan tapi pasti Laura perlu waktu untuk mengungkapkan kebenarannya. Setidaknya sampai DNA itu bisa menjadi bukti yang nyata agar Diko percaya kebenarannya.
***
__ADS_1
Jangan lupa dijempolin, masih ada readers yang baca tapi nggak kasih jempol. Akoh jadi nggak semangat nulis. Yuk, saling menghibur, Vio nulis, readers ninggalin jejak. Terima kasih.