
Di bawah umur dan belum punya KTP harap mundur teratur.
***
Permukaan kulit yang kenyal dingin dan lembut dari dua manusia yang berlainan jenis ini semakin menempel dan saling meresapi satu sama lain. Dalam hati Laura tidak percaya kalau Diko menciumnya bahkan, tangan Diko sudah membuka resleting gaun yang ada ada di balik punggung Laura. Laura hampir tidak bisa bernapas. Apakah ini mimpi? Kenapa Diko menciumnya? Apakah laki-laki ini sudah menerimanya sebagai istrinya atau Diko hanya mempermainkannya saja?
Laura ingin memberontak namun, ia tidak punya tenaga untuk melakukannya karena Diko tidak memberikan celah padanya bahkan, untuk bergerak saja Laura susah melakukannya hingga akhirnya ia menikmati ciuman Diko. Ciuman pertama ini membuat Laura seperti mabuk kepayang dan tanpa sadar Laura membalas ciuman Diko.
Menyadari jika Laura kesulitan bernafas membuat Diko terpaksa melepaskan tautan bibir mereka. Namun, nafsunya semakin membara. Diko menatap mata sayu Laura kemudian menyatukan kening mereka.
__ADS_1
"Kamu mabuk?" Aroma minuman keras tercium sampai ke dalam rongga hidung Laura."kamu menciumiku dalam keadaan tidak sadar? Sebenarnya ada apa denganmu?" Tangan Laura semakin mencengkram kuat selimut tebal di bagian dadanya. Laura takut Diko melakukan hal yang lebih jauh lagi dan akan membuat Diko menyesali perbuatannya sebab dari awal mereka menikah Laura tahu jika Diko tidak berniat sedikitpun menyentuhnya.
"Aku sadar Laura, aku tahu apa yang aku lakukan. Aku menginginkanmu malam ini dan kamu harus melakukan tugasmu sebagai istriku." Diko menarik selimut dan membuangnya ke sembarang tempat. Bahu putih mulus Laura terpampang nyata di depan mata membuat insting lelakinya semakin menggila. Diko menurunkan gaun Laura sampai berhasil memperlihatkan bagian dada Laura yang masih tertutup kain pelindung.
Belum sempat Laura bicara Diko sudah kembali lagi mencium bibirnya bahkan tangan Digo menggerayangi setiap permukaan kulit Laura. Diko seperti singa lapar yang memakan mangsanya dan Diko meninggalkan beberapa tanda merah di leher Laura.
Tubuh Laura semakin lemas. Ciuman Diko semakin dalam sampai membuatnya kembali terlentang di atas ranjang. Sebagai seorang istri yang baik tentu saja Laura dengan sukarela melakukan tugasnya, menyerahkan mahkotanya kepada suami yang ia cintai. Laura ingin membuat suaminya bahagia, merasa nyaman dan mungkin dengan begitu Diko akan bisa mencintainya dengan tulus seperti dia mencintai Diko.
"Sa-sakit," ucap Laura lirih, ia mencengkram kedua bahu Diko. Bahkan, sudut matanya mengeluarkan cairan bening ketika merasakan sakit saat Diko menyatukan tubuh mereka.
__ADS_1
Diko semakin semangat karena yakin jika Laura masih perawan dan belum pernah disentuh laki-laki manapun selain dirinya. "Aku tidak akan menyakitimu." Diko melakukannya dengan lembut. Kening, kelopak mata, hidung dan seluruh wajah Laura tidak luput dari bibirnya.
Diko berhasil membuat Laura seperti terbang melayang ketika mendapatkan pelepasannya. Berbeda dengan Diko yang masih berbacu mengikuti insting untuk memuaskan hasratnya. Ntah berapa dosis obat yang dicampurkan ke dalam minuman itu. Hingga beberapa saat kemudian akhirnya Diko pun melepaskan benihnya di dalam rahim Laura.
"Laura ...." Diko menyebut nama Laura ketika sensasi itu memuncak di kepala. Barulah Diko menarik dirinya.
Diko menutupi tubuh polos Laura dengan selimut putih yang sedikit ternoda bercak merah. Laura yang sedikit kelelahan dan kesakitan hanya diam dan memejamkan mata. Laura malu mengingat suara ******* yang keluar dari mulutnya. Sementara Diko memilih ikut merebahkan dirinya di samping Laura.
***
__ADS_1
Nggak bisa lebih panas dari ini. Ya✌