
Meskipun masih marah dan kecewa, Nick tetap tidak bisa mengabaikan pria yang tiap hari semakin lemah ini, bagaimanapun pria yang kulitnya sudah mengeriput ini adalah ayah kandungnya. Nicky Pakula hanya bisa berjanji akan membawa Laura kehadapan ayahnya secepat mungkin. Bukan ia tidak berusaha hanya saja ia tidak menemukan Aura di apartmennya. Menurut informasi yang ia dapat, wanita itu sudah tidak tinggal di apartmen itu lagi. Nick juga berusaha mengorek informasi dan menemui Laura di perusahaan milik Diko namun, informasi wanita cantik itu dijaga ketat dan sangat dirahasiakan.
"Secepatnya, Pa ... Nick akan bawa dia ke rumah ini." Janji sudah ia ucapkan. Nick akan berusaha meyakinkan Laura untuk melakukan tes DNA di salah satu rumah skit ternama.
***
Dua minggu sudah berlalu, selama itu juga Laura hanya menggunakan bikini atau lingerie selama di Lombok. Baik itu di pantai, di kolam renang, di setiap ruangan ia mempertontonkan lekuk tubuhnya di depan Diko. Tentu, Diko sangat menyukainya. Bila Laura kedinginan, ia akan mendekapnya, tidur di bawah selimut yang sama, bahkan terkadang Laura hanya memakai kemeja putih miliknya.
Sempurna, bulan madu berjalan sesuai harapan. Diko dan Laura berharap bulan madu ini tidak berakhir sia-sia. Semoga setelah ini Laura tidak datang bulan dan segera mendapatkan garis dua. Semoga semua berjalan sesuai harapan dan keinginan, sesuai doa yang siang malam dipanjatkan.
Beberapa foto dengan berbagai gaya selama mereka bulan madu sudah menjadi wallpaper dinding kamar, foto Laura dan Diko juga menjadi wallpaper handpone masing-masing, bulan madu sudah berakhir dan saatnya kembali ke aktifitas seperti biasa.
"Kamu mau ngantor?" Laura mengekori Diko seperti tidak rela ditinggal Diko.
"Iya sayang, Daniel sudah menunggu di kantor." Ia melingkarkan alroji di pergelangan tangannya, sudah jam 3 sore tapi ia harus tetap datang ke kantor.
"Aku ikut." Laura memeluk Diko. "Aku mau sama kamu," rengeknya seperti anak kecil.
"Aku cuma sebentar, petang nanti sudah sampai di rumah."
"Aku tetap ikut, aku nggak mau di rumah sendirian."
"Hey ...." Diko menangkup wajah Laura. "Kenapa manja, hem? Kurang bulan madunya?" Ia mengecup kening Laura. "Aku nggak boleh egois, kamu kan tau kalau mama sudah kembali ke Paris. Daniel dan Tiara juga akan menyusul ke sana, jadi aku harus menghandle dua perusahaan sekaligus. Janji ... setelah urusanku selesai, aku langsung pulang."
"Tapi Daniel punya sahabat yang bisa menangani semuanya 'kan?"
"Tetap saja, aku harus ikut memantaunya. Sebagai partner, adik dan sahabat." Ia memeluk Laura. "Sudah, ya ... aku cuma pergi sebentar saja."
Laura menahan tangan Diko. "Apa Tiara berencana melahirkan di sana?"
"Ntahlah, aku tidak tau. Daniel bilang mereka berencana tinggal lebih lama di Paris mengingat ini pertama kali Tiara datang ke rumah utama. Kalau jadi nanti aku mengantarkan mereka ke Bandara."
"aku ikut, ya." Bibir Laura mengerucut. Ia seperti seekor anak kucing yang takut kehilangan induknya. Diko merampas ciumannya.
__ADS_1
"Kamu istrahat saja, jangan kerjakan apapun."
"Tapi---
"Kamu masih capek, istrahatlah!" Diko benar-benar pergi meninggalkan Laura sendirian di rumah.
Laura merasa bosan padahal, mobil Diko baru menghilang dari pandangan mata, kalau tau seperti ini lebih baik mereka tidak kembali ke Ibu kota. Lebih baik menetap di pulau sunyi dan terpencil asalkan tetap bersama Diko. Dalam keadaan seperti ini, tiba-tiba perutnya terasa lapar. Laura ingin makan pitza tapi, tidak tau harus beli di mana.
"Oca kamu di mana?" Akhirnya ia menghubungi Oca, Laura berharap Oca tidak sedang sibuk.
"Aku di kontrakan, kenapa?" jawab Oca dari seberang sana. "Liburannya sudah selesai? Kenapa sudah hampir dua minggu ini ponselmu tidak bisa dihubungi?" Suara Oca sudah meninggi, ia tidak sabar ingin mengemukakan kecurigaan yang bersarang di kepala, bisa-bisanya Laura dan Diko libur dalam waktu yang bersamaan, apa hubungan sepupu sedekat itu?
"Oh ... susah sinyal." Laura menjawab dengan asal sebab, tidak mungkin berkata jujur kalau Diko memang sengaja mematikan daya ponsel mereka.
Setelah membuat janji untuk bertemu di suatu tempat, akhirnya Laura keluar rumah mengendarai mobil sendiri, ia akan menungu Oca di taman kota yang tidak jauh dari rumah.
Dari seberang jalan, Oca melambai kearah Laura. Perempuan ini baru saja turun dari ojek online, ia bermaksud menyeberang jalan untuk menemui Laura. Laura juga melakukan hal yang sama, ia meninggalkan kursi taman dan mulai mendekati jalan raya, Laura melangkah dengan kepala yang tertunduk, menyimpan ponsel ke dalam tas jinjing yang ia pegang. Sayang, Laura tidak menyadari ada mobil sedan yang sedari tadi sudah mengincarnya. Bahaya mengintai Laura.
"Laura, awas!!!"
Mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi dan meninggalkan korban yang sudah terjatuh dengan luka akibat ulah pengendaranya.
"Laura!!!!" Oca berlari, tubuhnya lemas melihat Laura tergeletak di sana. "Tolong ...! Tolong!!" Ia berusaha minta tolong dan menghentikan setiap mobil yang melintas. "Tolong, tolong teman saya!" pinta Oca pada laki-laki yang pernah ia lihat di kantor Diko.
"Kenapa?" Ia membelah kerumunan yang ada, seketika tubuhnya terpaku melihat Laura yang ia yakini sebagai adik kandungnya sedang merintih menahan petih. "Aura!!!"
***
Beberapa petugas medis berjalan cepat sembari mendorong brangkar rumah sakit menuju ruangan guna menangani pasien yang terluka akibat kecelakaan. Mereka tampak sigap menangani Laura. Beruntung, wanita cantik ini tidak mengalami luka parah, Laura mendapatkan jahitan di beberapa titik lengan dan sebgian punggungnya.
"Laura, kamu nggak apa-apa?" Oca orang pertama yang masuk ke ruangan setelah Laura sadarkan diri.
Laura masih bisa tersenyum meskipun wajahnya masih pucat. "Ponselku, mana? Aku harus menghubungi Diko," jawabnya lirih.
__ADS_1
"Suamimu nggak bisa dihubungi, aku sudah mencobanya berulang kali tapi, tetap nggak aktif."
Laura terkejut, ia ingin bertanya tapi bibirnya terasa keluh. Ia hanya memberi isyrat lewat mata.
"Iya, aku sudah tau semuanya." Oca menunjukkan foto yang menjadi gambar terdepan di handpone Laura. "Apa mungkin sepupu semesra dan sedekat ini? Nggak wajar 'kan? Kalian terlihat in tim." Oca merasa seperti seorang detektif yang berhasil memecahkan satu masalah.
"Jangan bilang sama siapa-siapa, Ca ...."
"Terpaksa." Oca mendesahkan napas lega. "Aku nggak akan ikut campur hubungan orang kaya seperti kalian. Tapi ...." Oca menggantungkan ucapannya. Ia mengambil kursi kecil dan duduk di samping Laura. "Aku pikir ada orang yang sengaja nyelaki kamu. Aku liat dengan mata kepalaku sendiri kalau mobil itu sengaja mebambah keceptan saat kamu melintas tadi."
"Masa, sih?" Laura tidak percaya karena ia merasa selama ini tidak punya musuh.
"Aku yakin seyakin-yakinnya." Oca memasang wajah serius.
Tok ... tok ... tok.
Pintu di ketuk dari luar, kepala Nicki menyembul di sana.
"Boleh aku, masuk?" Wajahnya masih tetlihat panik.
"Aku harus mengalah." Mau tidak mau Oca yang pamit undur diri, ia menunggu di depan pintu sembari terus mencoba menghubungi Diko.
"Syukurlah, kamu nggak apa-apa." Nick berdiri di samping tempat tidur pasien.
"Kamu yang bawa aku ke sini? Terima kasih, ya," lirih Laura.
"Harusnya dari dulu aku memang harus melindungi kamu."
Laura mengernyitkan dahi. "Maksudnya."
"Cepat sembuh, biar aku ceritakan semuanya."
"Tidak ... apa yang kamu sembunyikan dariku?" Laura menuntut jawaban.
__ADS_1
***