Menjadi Istri Simpanan

Menjadi Istri Simpanan
Kegilaan Felicia


__ADS_3

Genta melepas pelukan, Genta meminta Maurine menunggu di ruangannya. Jika tidak, takutnya Norry akan kembali menyerang Maurine dengan ucapan pedas atau melakukan hal tidak terduga.


Maurine menganggukan kepala tanda setuju. Alasan Genta ada benarnya, kenyataanya Norry selalu ingin menghinanya dan merendahkannya. Tidak peduli dimana saja jika ingin bicara maka dia akan bicara.


Genta pergi keluar dari ruangannya. Maurine tetap menunggu dan masih sibuk menatap sususan buku di dalam lemari.


***


Genta sudah sampai di ruang tunggu. Dia berdiri di depan pintu, sebenarnya sangat malas bertemu. Namun demi Maurine mau tidak mau Genta menemui Norry.


Genta membuka pintu ruangan dan masuk. Norry yang melihat Genta masuk langsung berdiri dari duduknya menyambut Genta.


Genta diam, berjalan mendekati sofa dan duduk di hadapan Norry. Genta duduk bersandar dan menyilangkan kaki. Matanya menatap norry tajam seakan langsung bertanya untuk apa datang dan ingin bertemu dengannya.


"Hallo, Direktur Aiden. Maaf mengganggu waktu Anda," sapa Norry canggung.


Genta bisa melihat Norry cemas. Senyum canggung yang terkadang melebar membuat Genta muak.


"Katakan ada apa?" tanya Genta.


"Anda tentu tahu. Saya datang atas permintaan Papa saya. Saya...," kata-kata Norry terpotong oleh Genta.


"Nona Sharloz, tolong katakan intinya saja. Saya tidak peduli yang lainnya," sela Genta tidak sabar.


"Iya Tuan," jawab Norry yang langsung diam.


"Uh, pria ini mengesalkan sekali. Aku baru ingin bicara dia sudah menyela," batin Norry mulai kesal.


"Lalu?" tanya Genta.


"Saya ingin mengajukan kembali permohonan kerjasama," kata Norry.


"Bukankah aku sudah katakan? aku hanya akan melanjutkan kerjasama yang sebelumnya. Tidak ingin terlibat lagi dengan kerjasama baru," jawab Genta.


"Tolong pelajari dulu Tuan," pinta Norry dengan nada lembut.


"Tidak," tolak Genta mentah-mentah.


"Tuan, ah..., maksud saya Direktur Aiden. Tolong beri kami satu kesempatan terakhir. Saya tahu saya bersalah pada Maurine. Saya mengakui kesalahan saya," ucap Norry.


"S*al sekali..., pria iblis ini tidak mau diajak bicara baik-baik. Aku sungguh menyesal sudah bermain api dengannya," batin Norry.


Genta hanya diam. Norry juga diam tidak bisa berkata-kata lagi. Suasana menjadi hening karena tidak ada yang bicara.


***


Felicia datang ke perusahaan. Dia langsung berjalan ingin menemui Genta. Seorang yang bertugas sudah melarang Felicia untuk tidak masuk. Karena tidak ada izin atau janji temu. Namun Felicia bersikeras ingin masuk, dia mendorong begitu saja seseorang yang menghadanganya.


"Nona, Anda tidak bisa masuk!"


"Jangan menghadangku, aku harus bertemu dengan suamiku."


"Nona tolong patuhi aturan," kata seseorang di hadapan Felicia.


"Diam dan minggir!" sentak Felicia yang langsung mendorong seseorang di hadapannya, dan berjalan cepat mencari ruangan Genta.


Seseorang berteriak dan memanggil pihak keamanan. Keamanan pun datang, menolong seseorang yang terjatuh di dorong oleh Felicia.


Petugas keamanan langsung berlari mengejar Felicia. Felicia berlari ke sembarang arah, di tengah jalan Felucia tidak sengaaja bertabrakan dengan Alvian.

__ADS_1


Alvian kaget, melebarkan mata saat tahu yang menabraknya adalah Felicia.


"Nyonya..., ah salah maksud saya Nona...," kata Alvian.


"Dimana Genta?" tanya Felicia dengan nada kasar.


Belum sampai Alvian menjawab, petugas keamanan datang ingin membawa Felicia keluar.


"Nona tidak boleh menerobos masuk perusahaan," kata petugas keamanan menarik tangan Felicia.


"Kau..., lepaskan!" sentak Felicia, "Kau tidak tahu aku istri Ditekturmu, huh?" kata Felicia berteriak.


Semua kaget mendengar ucapan Felicia. Beberapa karyawan langsung bergosip, menatap kearah Felicia.


Felicia tersenyum tipis, sengaja memancing perhatian semua orang untuk membuat malu Genta dan menghancurkan reputasi perusahaan.


Alvian menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Alvian tidak ingin masalahnya berlarut-larut.


"Tinggalkan saja, aku akan bawa dia menemui Direktur," kata Alvian menatap petugas keamanan.


"Baik Tuan," kata petugas keamanan yang langsung pergi.


"Kenapa Alvian? kau tidak jadi mengusirku huh? bawa aku menemui Direkturmu, aku ingin menuntut keadilan. Bagaimana bisa dia punya wanita simpanan!" teriak Felicia memanaskan suasana.


Semakin lama semakin panas. Beberapa karyawan ada yang mengambil gambar dan merekan video.


"Cukup!" sentak Alvian, "Jangan bicara lagi jika kau ingin bertemu Tuan," kata Alvian kesal.


"Wanita ini sungguh nekad! lihat saja, Tuan Genta pasti akan menyeretmu keluar dari sini," batin Alvian.


Alvian melihat sekitar, "Kalian hapus semua foto dan video yang kalian rekam. Jika sampai aku temukan ada yang masih menyimpan atau menyebarkan, kalian akan di pecat hari ini juga! Paham?" gertak Alvian menatap tajam.


"Kau jangan senang dulu, aku membawamu bukan berarti kau menang! aku hanya ingin pastikan, Tuanku tidak akan memungutmu lagi," ucap Alvian.


"Kau...," kata-kata Felicia terhenti. Felicia begitu kesal pada Alvian.


Alvian berbalik dan pergi, Felicia melihat sekeliling dan menunduk, Mengikuti di belakang Alvian. Alvian membawa Felicia bersamanya, Alvian menemui Nina dan bertanya mengenai Genta.


"Sekertaris Nina, Dimana Direktur?" tanya Alvian.


"Tuan Alvian, Direktur di ruang tunggu. Bertemu dengan seseorang."


Alvian sibuk bicara dengan Nina, dia tidak menyadari jika Felicia sudah masuk dalam ruangan Genta.


***


Maurine duduk di meja kerja Genta, dia melihat layar ponselnya dan tersenyum menatapi foto Genta.


Pintu ruangan terbuka, Maurine mengira itu Ganta. Maurine senang dan bangkit berdiri dari duduknya, berlari menuju arah pintu.


"Sayang kau kembali?" kata Maurine tersenyum senang.


Senyuman Maurine langsung menciut saat melihat yang datang bukan Genta, Melainkan Felicia.


Tidak hanya Maurine yang kaget, Felicia pun juga kaget saat mendapati Maurine ada di dalam ruangan Genta.


"Kau...," sapa Felicia.


Felicia dan Maurine saling bertatapan dan berhadapan, jarak mereka sedikit jauh. Felicia terlihat kesal, dia mengertakan gigi saat kembali mengingat merah-merah yang dia lihat di dada dan bahu Maurine.

__ADS_1


Felicia mengepalan tangan, berjalan cepat mendekati Maurine dan langsung menarim rambut Maurine dengan kuat.


"Ahhh, sakit! lepaskan," teriak Maurine.


Maurine mencengkram tangan Felicia, Maurine melawan saat Felicia menarik rambutnya. Maurine mencakar tangan Felicia dan menarik rambut Felicia.


"S*alan, kau j*l*ng!" tetiak Felicia.


"Apa kau gila? kau langsung menyerangku? kau wanita gila," ucap Maurine.


Maurine melihat kaki Felicia, dengan cepat Maurine menginjak kaki Felicia. Membuat Felicia berteriak kesakitan dan melepaskan tariakan rambutnya.


"Aaahh," teriak Felicia menunduk, melihat kakinya, "Kau berani mengijak kakiku huh? kau cari mati," kata Felicia murka.


"Apa? kenapa tidak berani, siapa kau langsung menyerangku. Aku tidak mengenalmu, dan kau bukan siapa-siapa yang harus aku takuti!" tegas Maurine dalam rasa canggung.


Ini pertama kalinya dia berani membentak dan melawan seseorang. Maurine mengumpulkan banyak keberanian saat itu.


***


ig: dea_anggie


Line id: dea_anggie


Fb: dea anggie


Grup FB: Lelaki Bayaran Amelia


❤❤❤❤❤


***


Kunjungi juga novel (TAMAT) saya yang lain.


•Lelaki Bayaran Amelia


•Pelukan Hangat Paman Tampan


•Pangeran Es Jatuh Cinta


(Season ke 2 dari Pelukan Hangat Paman Tampan)


•Pangeran Vampir


•Pangeran Vampir 2


•Vampir "Sang Abadi"


•Cinta Lama Yang Datang Kembali


•Mommy And Daddy


•Darren & Karren (Perjalanan Cinta)


•Suami Pengganti


•Oh My Husband


Jangan lupa like, rate dan isi kolom komentar. Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2