Menjadi Istri Simpanan

Menjadi Istri Simpanan
Mencoba Menahan Amarah


__ADS_3

Sebuah pesawat baru saja lepas landas dari Bandara International. Daniel dan Tiara sedang dalam perjalanan menuju Paris. Mobil ferari hitam milik Diko pun sudah meninggalkan Bandara. Pria yang wajahnya tampak kusut karena kelelahan ini memilih duduk di bangku penumpang dan membiarkan Rey membawa mobil kembali ke rumahnya.


Diko menyandarkan kepala di jok mobil, memejamkan mata berharap bisa sedikit mengurangi kantuknya. Namun, ia semakin gelisah ketika wajah Laura terlintas seolah memanggilnya.


"Aku belum menghubunginya." Manik mata itu menatap nanar ke arah luar jendela, hari sudah petang dan rintik hujan menemani perjalanannya. Diko mengambil handpone dari saku jasnya, ia mendesahkan napas melihat benda pipih tersebut mati karena kehabisan daya.


"Rey ... aku pinjam ponselmu. Aku mau menghubungi istriku." Rey satu-satunya orang kantor yang mengetahui status Laura sebagai istrinya.


Rey mengulurkan tangan memberikan benda pipih miliknya tanpa menoleh ke belakang.


"Ponsel sepenting ini harusnya kau beri paswoard." Ia sudah mulai menghubungi Laura.


Di rumah sakit, Oca masih setia menunggu di depan ruang rawat Laura. Sementara Nick masih belum keluar dari ruang rekan kerjanya, ntah apa yang mereka bicarakan yang pasti Oca masih berusaha menghubungi Diko.


Oca hampir tersedak roti coklat ketika tiba-tiba ponsel Laura berdering bahkan, suaranya menggema di lorong rumah sakit. Oca buru-buru mengangkat nomor baru tersebut.


"Oca di sini."


"Kenapa kau yang menjawabnya? Di mana Laura?"


Oca menjauhkan benda itu dari telinganya, ia seperti pernah mendengar suara ini, tapi di mana?


"Oca, kau mau dipecat?" teriakan Diko masih terdengar jelas.


Oca menggeleng meskipun lawan bicaranya tidak bisa melihat. Ia kembali berucap. "Pak Diko? Maaf, ponsel Laura sama saya, sedari tadi saya mencoba menghubungi bapak tap---


Diko bahkan tidak perduli alasannya. "Di mana Laura?"


"Di-di rumah sakit Permadani." jawabnya terbata, ia kembali bernapas lega karena Diko sudah mengakhiri panggilan tersebut.


"Tambah kecepatan mobilnya, Rey! Rumah sakit Permadani tidak jauh dari sini, bukan?" Pikiran Diko semakin tidak karuan, kenapa Laura bisa masuk rumah sakit?


***


"Kenapa diam, Nick? Bisa kamu jelaskan apa maksud ucapanmu, tadi?" Laura memaksakan diri untuk duduk tapi, Nick menahan kedua bahunya.


"Tetaplah berbaring, biar aku jelaskan padamu." Ia memerbaiki infus Laura dan duduk di samping Laura. "Apa kau pernah lihat tanda lahir seperti ini?" Nick langsung pada inti permasalahan ia pun tidak mau menunda waktu lebih lama lagi dan tidak mau membuat Laura bingung.

__ADS_1


"Itu ...." Laura mengamati tanda merah yang ada di lengan Nick. "Persis seperti milikku tapi, kenapa kamu juga ada? Apa semua orang juga punya tanda yang sama?"


"Tidak semua, Aura." Harapan Nick semakin bersemi, ia kembali mengancingkan kemeja miliknya. "Besar kemungkinan, kamu adalah adikku. Kita saudara kandung yang dipisahkan dari kecil." Rasanya ia ingin memeluk Laura seperti yang ia lakukan puluhan tahun yang lalu. Kenangan indah itu masih melekat di ingatan. Tapi , Nick tidak mau Laura salah paham padanya.


"Bohong...." Bibir Laura bergetar, matanya sudah mulai berkaca-kaca. "Aku minta tolong supaya kamu mencari tahu di mana keluargaku, bukan malah menipuku seperti ini?"


"Tidak ... jangan berpikir seperti itu, rumah lama di taman bermain itu adalah milik keluargaku, aku besar di sana sampai ayahku memberikan adikku yang masih merah pada orang asing, aku menangis, aku mengejar mobil mereka sampai menghilang dari pelupuk mataku, kamu adikku ... aku yakin itu."


Laura menangis, jika memang itu kebenarannya itu artinya ia memiliki seorang kakak tapi, bibi tidak bercerita soal ini, ia hanya memberikan alamat itu.


Nick menunjukkan foto seorang wanita yang saat itu masih muda, juga foto bayi yang ada dipangkuannya.


"Kamu lihat ini ... ini ibu kita. Wanita yang sudah melahirkan kita, kalau kamu masih ragu, kita lakukan tes DNA. Jika memang aku bukan bagian dari keluargamu maka, aku siap membantu kamu sampai berhasil menemukan keluargamu. Yakinlah, Aura ... aku tidak bermaksud menipumu."


Tangan Laura gemetaran, ia memaksakan diri untuk duduk, diambilnya foto hitam putih dari tangan Nick. Matanya sudah mengeluarkan air mata saat meraba foto wanita yang kemungkinan adalah ibunya.


"Ibu .... " Tangisan Laura semakin menjadi, ia mencium dan mendekap foto itu. "Harusnya aku memeluknya, bukan fotonya...."


Nicky pun menyeka air matanya, ia mengulurkan tangan menyentuh rambut Laura. "Maaf ... tanpa ijin darimu, aku sudah melakukan tes DNA. Aku mengambil sample darah dari lukamu. Maafkan aku, Laura."


Laura mendongakkan dagu. "Kapan hasilnya keluar?"


"Lalu ayah? Ada di mana? Kenapa tidak pernah mencarku? Kenapa kalian tidak mencari aku? Kenapa biarkan aku hidup seperti ini? Kenapa?" Ia memukul Nick dan meluapkan amarahnya.


Nick memegang tangan Laura dimana jarum inpusnya sudah terlepas. "Tenangkan dirimu, kita bicarakan ini nanti," bujuknya.


"Kalian jahat! Kalian jahat!" Laura masih tidak mau diam, kepalanya pun terasa semakin pusing.


Nick berinisiatif merangkulnya. "Maaf ... maafkan, aku," lirihnya tetap membelai rambut Laura.


Ting!!!


Pintu lift sudah terbuka, suara sepatu pantovel milik Diko dan Rey menggema di koridor rumah sakit, mereka berdua jalan terburu-buru menuju ruangan Laura.


Oca yang baru kembali dari kantin berniat mengejarnya, rasa khawatir tiba-tiba menyelimuti mengingat Nick masih berada di ruangan Laura.


"Pak Diko!" Teriakan Oca berhasil membuat Diko berhenti namun, hanya sesaat karena Diko kembali melangkah panjang.

__ADS_1


"Pak Diko, tunggu sebentar!" Ia mengejar Diko tapi, tangannya ditarik Rey.


"Bisa kau jelaskan?" Ia bertanya tanpa basa-basi.


"Ap-apa? Bapak bicara sepotong-sepotong nggak jelas."


Rey berdecak bodoh sekali wanita ini pikirnya. Ia meembawa Oca masuk ke dalam lift menuju gedung tertinggi di rumah sakit ini.


"Ceritakan kronologi kecelakaan itu tanpa ada yang terlewatkan!" Ia melepaskan Oca ketika sudah berada di rooftof.


***


Diko membawa kegelisahan menuju ruangan Laura, tangannya bergetar ketika membuka handle pintu, seketika tangan itu membentuk sebuah kepalan melihat Nick memeluk Laura.


"Apa yang kau lakukan disini?" Diko menutup pintu dengan kasar. Laura dan Nick sama-sama menoleh, Nick melepaskan tangannya dan mundur beberapa langkah menjauhi tempat tidur pasien.


Mata Diko bergantian melihat Laura dan Nick, pertanyaan demi pertanyaan sudah bersarang di kepala, sebenarnya ia ingin menghajar Nicky tapi, ia tahan karena tidak mau menambah penyakit Laura.


"Seben---


Diko memungkas ucapan Nicky. "Keluar!" Wajahnya sama sekali tidak bersahabat.


"Diko dengarkan dulu," lirih Laura, ia menghapus air mata dengan punggung tangannya.


"Kau masih sakit jadi, jangan banyak bicara." Diko bicara tanpa melihat wajah Laura, ia masih fokus menatap Nicky seakan menujukkan sikap kalau kehadiran Nicky tidak dibutuhkan di sini.


"Aku pergi, dulu. Cepat sembuh Laura." Ia tersenyum sebelum meninggalkan ruangan Laura.


Ruangan ini menyisakan Diko dan Laura. Laura masih menunduk sebab takut melihat wajah Diko, ia tau kalau suaminya ini marah padanya.


Diko melangkahkan kaki mendekati Laura, ia menghembuskan napas berusaha menetralkan emosinya. Dibelainya rambut halus Laura kemudian perlahan mengangkat dagu Laura sampai keduanya saling menatap satu sama lain.


"Jangan katakan apapun, saat ini aku sedang cemburu ... dan aku menahan diri untuk tidak menghajarnya, tadi."


Laura menangis , ia pikir Diko akan salah paham, ngamuk dan pergi meninggalkannya.


"Percaya padaku," pinta Laura dengan suara parau.

__ADS_1


"Aku percaya tapi, untuk sekarang jangan bahas apapun tentang laki-laki itu. Kamu paham?"


Suara Diko terdengar lembut membuat Laura tidak membantah apapun.


__ADS_2