
Sebuah mobil berhenti didepan halaman sebuah Gereja. Genta membuka pintu mobilnya dan keluar dari dalam mobil, lalu menutup pintu mobil kembali. Dengan langkah cepat berjalan ke sisi lain mobil untuk membuka pintu mobil. Genta membuka pintu mobil dan Maurine pun keluar dari dalam mobil. Genta menutup pintu mobil dan menatap Maurine dari atas sampai bawah. Genta sudah siap dengan mengenakan Tuxedonya. Maurine juga sudah siap dengan mengenakan gaunnya.
"Sudah siap?" tanya Genta.
"Iya," jawab Maurine tersenyum.
"Pengantin wanitaku sangat cantik," puji Genta.
"Terima kasih, kau juga sangat tampan."
Genta tersenyum, mengulurkan tangan dan di sembut oleh Maurine. Maurine dan Genta berjalan masuk menuju sebuah gereja.
"Disaat pengantin wanita lain berjalan berdampingan sengan ayah mereka, hanya aku yang berjalan bersama calon suamiku. Papa, hari ini putrimu akan menikah. Semoga putrimu bisa bahagia," batin Maurine dengan mata berkaca-kaca dibalik penutup kepalanya.
"Maaf Maurine, bisa saja aku memanggil Papamu datang. Tetapi aku tidak sanggup mengatakan jika Papamu berada di kantor polisi sekarang. Kau pasti akan sedih," batin Genta.
Genta dan Maurine sudah masuk di pintu dan berjalan menuju Altar. Hanya ada seorang pendeta, bibi Anna dan Alvian yang menjadi saksi upacara pemberkatan pernikahan Genta dan Maurine.
Sesampainya di depan Altar, pendeta memulai proses upacara pemberkatan pernikahan. Maurine merasa gugup, perasaannya campur aduk.
"Oh Tuhan, hanya satu pintaku. Jadikan ini pernikahan pertama dan terakhirku. Aku ingin hidup bahagia," batin Maurine berdoa.
"Genta Aiden, bersediakan engkau menerima Maurine Stella sebagai istrimu, dalam segala keadaan. Dalam suka maupun duka, sehat maupun sakit, kaya maupun miskin. Bersediakah untuk mau mengasihi dan mencintainya seumur hidupmu."
"Saya bersedia," jawab Genta tanpa ragu-ragu.
"Maurine Stella, bersediakah engkau menerima Genta Aiden sebagai suamimu, dalam segala keadaan. Dalam suka maupun duka, sehat maupun sakit, kaya maupun miskin. Bersediakah untuk mau mengasihi dan mencintainya seumur hidupmu."
"Sa-saya..., sa-saya bersedia," gagap Maurine karena gugup.
....
Begitulah sampai pada akhirnya mereka di sahkan menjadi sepasang suami dan istri. Alvin mendekat dan memberikan sebuah cincin pada Genta. Genta menyematkan cincin pernikahan di jari manis tangan kanan Maurine.
Bibi Anna mendekat dan memberikan sebuah cincin pada Maurine. Maurine menerima dan menyematkan cincin pernikahan di jari manis tangan kanan Genta.
Genta membuka menutup kepala Maurine dan langsung mencium bibir Maurine sangat lembut.
Prokk....
Prokk....
Prokk....
Prokk....
Suara tepuk tangan Alvian dan bibi Anna juga pendeta menyambut hari bahagia Genta dan Maurine.
Genta melepas ciuman dan mencium kening Maurine penuh perasaan. Alvian mendekat dan meminta Genta juga Maurine menandatangani sebuah surat dokumen. Genta dan Maurine mengikuti arahan Alvin dan menandatangani berkas dokumen tersebut.
"Selamat Tuan dan Nyonya. Selamat menempuh kehidupan baru," kata Alvian memberikan selamat.
"Terima kasih Alvian," jawab Maurine.
"Selamat Tuan Genta, Nyonya Maurine. Semoga selalu bahagia," kata Bibi Anna memberikan selamat.
"Terima kasih Bibi," jawab Maurine memeluk Bibi Anna.
Bibi Anna mengusap punggung Maurine, "Selamat Nyonya," bisik Bibi Anna menangis haru.
Maurine melepas pelukan, menyeka air mata Bibi Anna. Maurine tersenyum cantik menatap Bibi Anna.
"Kedepannya Bibi harus banyak mengajariku mengurus rumah dan menjadi istri yang baik," ucap Maurine.
"Iya Nyonya," jawab Bibi Anna.
"Bibi, jaga rumah baik-baik. Aku dan Maurine akan langsung pergi," ucap Genta.
"Baik Tuan," jawan Bibi Anna.
"Alvian, bantu aku mengurus perusahaan. Aku akan membawa Nyonyamu berjalan-jalan beberapa hari. Jika ada apa-apa kau bisa kirim pesan dan email padaku."
"Saya mengerti tuan," jawab Alvian.
Genta menggandeng tangan Maurine untuk pergi meninggalkan gereja. Maurine masih bingung, hanya bisa mengikuti Genta. Maurine tidak menyadari jika Genta sudah menyiapkan kejutan untuknya. Genta dan Maurine masuk kedalam mobil dan melesat pergi.
"Bagaimana Bibi. Bibi senang?" tanya Alvian.
__ADS_1
"Tentu saja. Nyonya Maurine adalah Istri sah Tuan Genta sekarang. Bagaimanapun Nyonya Maurine jauh lebih baik dari wanita jahat itu. Aku hanya akan mau mengakui Nyonya Maurine dan hanya mau melayaninya saja."
"Masalah Pribadi Tuan Genta, jangan sampai di ketahui oleh Nyonya Maurine. Bibi, kita tidak boleh mencampuri urusan pribadi Tuan. Biarkan Tuan yang menjelaskan semuanya sendiri," jelas Alvian.
"Aku tahu. Seharusnya, orang yang bicara seperti itu adalah aku. Kau anak nakal," kesal Bibi Anna.
"Haha..., maafkan aku Bi. Ayo, aku antar Bibi pulang."
"Kau menginaplah dirumah, Tuan dan Nyonya tidak ada. Setidaknya ada kau yang bisa menemaniku," kata Bibi Anna.
"Hm, bagaimana ya? beri anakmu ini makanan lezat jika ingin di temani," jawab Alvian menggoda Bibi Anna.
"Anak nakal, hanya tau makan saja. Bekerja dengan benar, dan cepatlah menikah. Minta istrimu memasak makan untukmu," jawab Bibi Anna menggoda balik Alvian.
"Bibi, mencari istri tidak semudah mencari uang. Bibi tau itu kan," jawab Alvian dengan wajah memelas.
"Kasian sekali, ayo pulang dan makan. Mau sup iga? atau sup jamur?" tawar Bibi Anna.
"Yeahhhhh..., makanan lezat Ayah datang...," kata Alvian gembira.
Bibi Anna hanya tersenyum dan menggelengkan kepala pelan melihat tingah Alvian yang seperti anak-anak.
***
4 jam kemudian....
Genta dan Maurine masih di perjalanan. Mereka melewati perjalanan jauh.
"Kita akan kemana? sudah 4 jam perjalanan kita," tanya Maurine.
"Ke tempat yang hanya bisa kita habiskan bersama. Kita akan ke rumah pantai sayang," jawab Genta.
"Rumah pantai?" ulang Maurine.
"Hm..., di kota tidak akan pemandangan indah. Aku akan mengajakmu pergi ke kota yang banyak pemandangan indah, " jawab Genta.
Maurine melihat kearah luar kaca mobil, "Wahhhh..., lihatlah itu pantai. Indah sekali," seru Maurine menatap lekat kearah luar.
"Kau suka?" tanya Genta.
"Bersabarlah, kita akan segera sampai sayang."
Tidak lama Genta menghentikan laju mobilnya. Maurine melihat sebuah rumah sederhana yang indah dekat pantai.
"Ini?" tanya Maurine.
"Rumah ku beristirahat jika aku datang kesini. Sudah lama tidak kesini," jawab Genta.
Genta keluar dari mobil, begitu juga Maurine. Maurine melihat sekeliling, bibirnya tersenyum melihat pemandangan yang indah.
"Boleh aku ke pantai?" tanya Maurine.
"Boleh, ayo kita ke pantai bersama."
Mendengar kata Boleh dari Genta, Maurine langsung melepas sepatunya dan mencincing gaunya tinggi-tinggi. Dia berlari mendekati pantai, Maurine tidak sabar bermain ombak.
Melihat istrinya begitu senang, Genta melepas sepatunya dan tuxedonya. Menyisakan kemeja putih yang melekat di badannya. Genta berlari kecil menyusul di belakang Maurine.
Maurine sampai di tepi pantai, Maurine melihat pantai dengan ombaknya yang tenang. Maurine berdiri menutup mata menikmati tiupan angin yang menerpa wajahnya. Dari belakang Genta datang dan langsung memeluk Maurine.
"Aku menangkapmu," bisik Genta di telinga Maurine.
Maurine membuka mata perlahan, memegang tangan Genta yang melingkar di perutnya.
"Terima kasih," ucap Maurine.
"Hanya terima kasih?" jawab Genta.
Maurine melepas tangan Genta dan berbalik menghadap Genta. Maurine mengalungkan tangannya ke leher Genta dan mencium pipi Genta.
"Muaaachh...."
"Terima kasih sayang," ucap Maurine tersenyum cantik.
Genta tersenyum, mendekat dan mencium bibir Maurine. Tangan Genta lekat memeluk pinggang ramping Maurine. Ciuman itu berlangsung lama, keduanya terlihat begitu menikmati ciuman masing-masing.
Puas berciuman, Maurine melepas ciumannya dan memeluk Genta. Maurine memendamkan wajahnya dalam pelukan Genta. Genta begitu erat memeluk, dia mencium puncak kepala Maurine.
__ADS_1
"I love you babe," bisik Genta ditelinga Maurine.
Maurine tersenyum, dia merasa bahagia saat itu. Punggungnya masih bisa merasakan hembusan angin, gaun juga kakinya basah karena ombak yang menggulung ketepian. Beberapa saat kemudian, Maurine melepas pelukan dan menatap Genta. Senyum cantik terus mengembang dan menghiasi wajah Maurine.
Genta menadahkan tangannya, Maurine menyambut tangan Genta. Genta mencium punggung tangan Maurine.
"Ayo," ajak Genta.
Genta menggandengan tangan Maurine berjalan. Satu tangan Maurine mencincing gaun yang agar kakinya bebas berjalan. Maurine dan Genta menghabiskan waktu bersama dipantai sampai sore.
***
Hallo semua..
Terimakasih sudah mau berkunjung dan membaca novel saya..
Jangan pernah bosan menunggu update selanjutanya ya..
Jangan lupa like,☆☆☆☆☆ dan isi kolom komentar..
Jangan lupa berikan vote juga ya..
Kunjungi juga di novel saya yang lain. Dengan judul,
•Lelaki Bayaran Amelia (Season 1&2 End)
•Pelukan Hangat Paman Tampan (End)
•Pangeran Es Jatuh Cinta (End)
(Season ke 2 dari Pelukan Hangat Paman Tampan)
•Pangeran Vampir (End)
•Pangeran Vampir 2 (SEASON 2) (End)
•Vampir "Sang Abadi" (End)
•Cinta Lama Yang Datang Kembali (End)
•Mommy And Daddy (CLYDK 2) (End)
•Darren & Karren (Perjalanan Cinta) CLYDK SEASON KE 3 (End)
•Suami Pengganti (End)
•Oh My Husband (End)
•The Hit Man In Love
•Jatuh Cinta Pada Tetangga
•Dendam Permaisuri Kepada Kaisar
Jangan lupa like, ☆☆☆☆☆ dan isi kolom komentar.. vote juga dong..
Terimakasih..
Untuk pembaca yang ingin join grup FB/WA silakan..
Untuk yang ingin follow ig saya juga silahkan..
ig: dea_anggie
Line id: dea_anggie
Fb: dea anggie
Grup FB: Lelaki Bayaran Amelia
❤❤❤❤❤
Bye bye..
Salam hangat,
"Dea Anggie"
__ADS_1