Menjadi Istri Simpanan

Menjadi Istri Simpanan
Kembali Betemu Papa Dan Mama (Tamat)


__ADS_3

Malam harinya, usai makan malam, Genta dan Maurine berbincang di ruang kerja Genta.


"Apa selanjutnya?" tanya Maurine.


"Apa lagi, aku sudah minta Alvian mengorek informasi tentang Zack lebih mendalam. Dia tidak akan berani macam-macam, terlebih sampai melukaimu."


"Aku harapa ini semua segera berakhir, aku ingin hidup tenang dan bahagia bersamamu."


Genta memeluk Maurine, "Aku akan selalu membuatmu bahagia, Maurine."


***


Dilain tempat, Bobby pergi mendatangi Zack. Bobby mengembalikan uang dari Zack dan menolak bekerja sama dengan Zack.


"Sudah cukup, aku tak akan mengikuti kemauanmu lagi. Aku akan akhiri ini," kata Bobby.


"Apa kau bilang? kau tak bisa berakhir begitu saja. Aku masih harus balaskan dendam wanitaku," kata Zack.


"Aku tak akan sakiti putriku. Aku akan jalani sisa hidupku tanpa menyusahkannya," jelas Bobby.


Buk....


Satu hantaman mendarat diwajah Bobby. Itu, membuat Bobby jatuh tersungkur.


"Kau pengecut," maki Zack.


Zack mencengkram kuat krah kemeja Bobby dan menghajar Bobby. Bobby pasrah, ia menerima pukulan demi pukulan yang diberikan Zack.


"Maafkan aku Liana, Maurine. Aku tak bisa bahagiakan kalian berdua, aku hanya beban. Aku minta maaf," batin Bobby penuh penyesalan.


Tidak lama Zack didorong oleh seseorang, yang tidak lain adalah Alvian.


"Kaulah yang pengecut," sentak Alvian.


Alvian menolong Bobby, "Anda baik-baik saja, Tuan? maafkan saya datamg terlambat."


"Ya, aku baik-baik saja."


Alvian menatap Bobby, "Jika seseorang tidak mau lagi bekerja untukmu. Maka kau hanya bisa melepaskan, jangan menahannya."


"Kau berani banyak bicara dihadapanku," kesal Zack.


"Terserah saja, aku malas meladenimu," jawab Alvian, Alvian menatap Bobby dan tersenyum, "Mari ikut saya, Tuan."


Bobby mengangguk, ia dipapah Alvian menjauh dari Zack. Bobby dan Alvian pergi meninggalkan Zack, Alvian membawa Bobby bersamanya.


***


Nicky dan Liana duduk bersantai di ruang tengah rumah mereka. Setelah berbicara beberapa hal, akhirnya Nicky memberanikan diri menceritakan rahasianya pada Liana.


"Ada yang ingin aku sampaikan. Aku rasa sekarang adalah waktu yang tepat kau mengetahui ini," kata Nicky.


"Ada apa?" tanya Liana.


"Aku akan katakan sesuatu hal padamu. Hal yang mungkin saja membuatmu terkejut," jawab Nicky.


"Ada apa? katakan saja, aku siap mendengar."


"Sebenarnya, Nicholas dan Norry adalah putra Kakakku."


Liana kaget, "Apa? apa kau berguarau?" kata Liana.

__ADS_1


"Tidak sayang, aku bicara kebenaran."


"Bagaimana bisa, Nicky?" tanya Liana.


"Karena aku...," Nicky pun bercerita pada Liana.


Kata demi kata di dengar Liana. Liana tekejut, ada rasa kesal, rasa sedih dan kecewa. Ternyata masih ada hal yang seperti itu tersembunyi darinya. Liana berusaha menahan diri, ia tahu jika itu juga berat bagi suaminya. Merawat anak-anak dari mendiang istri pertama dan Kakak kandungnya, berusaha mencintai dengan setulus hati. Liana merasa Nicky begitu berlapang dada.


Liana menangis, Nicky pun meminta maaf dan berlutut dihadapan Liana.


"Maafkan aku Liana," kata Nicky menunduk.


Liana memeluk Nicky, "Kenapa kau baru bicara sekarang, Nicky. Kenapa kau terus menahannya. Hal ini pasti menyakitkan," kata Liana terisak.


"Aku bisa bertahan karenamu, karena kau selalu ada disisiku. Maafkan aku merahasiakan hal besar ini darimu," lirih Nicky.


Liana melepas pelukan, "Aku senang kau mau bicara jujur padaku. Dan, terima kasih untuk semuanya. Aku tidak marah, jangan minta maaf lagi. Aku hanya khawatir kau terluka, karena ini adalah kenyataan pahit."


"Sekarang aku lega. Akhirnya aku bisa jujur padamu, meski aku tak punya keberanian bicara jujur pada Nicholas dan Norry."


"Perlahan saja, semua butuh proses. Apapun keputusanmu, aku akan mendukungmu. Aku akan selalu berada disisimu," kata Liana.


"Terima kasih, sayangku...."


Liana tersenyum, "Ya," jawab Liana.


"Ayo tidur, ini sudah malam. Bukankah besok kau akan menemui Maurine?" kata Nicky.


Liana mengangguk, "Ya, ayo...," jawab Liana.


Nicky dan Liana akhirnya pergi dari ruang tengah menuju kamar tidur mereka untuk beristirahat.


***


Nicky dan Liana pergi kerumah Genta untuk menemui Maurine. Mereka disambut oleh Genta dan Maurine.


"Mama," panggil Maurine berjalan menghampiri Liana.


"Maurine," panggil Liana tersenyum.


Maurine dan Liana saling berpelukan. Maurine senang Mamanya mengunjunginya.


Liana melepas pelukan, "Bagaimana kabarmu?" tanya Liana.


"Sudah jauh lebih baik, Ma. Mama bagaimana?" tanya Maurine balik.


"Mama juga baik. Ah, iya..., sapalah Paman Nicky," kata Liana.


Maurine menatap Nicky, "Hallo, Paman. Apa kabar?" sapa Maurine.


"Hai, kabar baik. Paman senang melihatmu kembali sehat," kata Nicky.


"Silakan duduk," kata Maurine.


Disaat, Maurine, Liana dan Nicky ingin duduk. Genta datang dari arah pintu utamab memanggil Maurine.


"Sayang, tebaklah aku datang bersama siapa?" tanya Genta.


Maurine terkejut, "Kau mengejutkanku, sayang. Ada apa? siapa yang kau ajak?" tanya Maurine menghampiri Genta.


Maurine terkejut, matanya melebar. Sungguh diluar perkiraan, Genta datang memebawa Bobby bersamanya.

__ADS_1


Seketika Maurine terdiam, ia tidak tahu harus bicara apa. Tidak tahu harus bahagia atau sedih, atau bahkan murka, mengingat dirinya dijual oleh Papanya sendiri.


Air mata Maurine jatuh begitu saja, Maurine tidak tahu harus apa saat itu.


Bobby mendekat, ia menggapai tangan Maurine dan memegang erat tangan Maurine.


"Maafkan Papa, Papa bersalah padamu. Papa memang bodoh, Papa bukanlah Papa terbaik. Papa memang egois, tidak mau pedulikan perasaanmu. Papa datang kesini tidak memintamu utuk memaafkan semua kesalahan Papa, sayang. Papa hanya ingin mengucapkan selamat atas pernikahanmu yang sudah Papa lewatkan begitu saja. Papa ingin kau bahagia bersama suamimu dan anak-anakmu kelak. Papa sungguh minta maaf, papa sangat menyesal, Maurine. Papa menyesal," jelas Bobby dengan penuh penyesalan.


Liana kaget, ia tidak menyangka jika ia akan melihat Bobby seperti itu. Liana menatap Nicky, Nicky merangkul Liana dan tersenyum.


"Semua orang bisa berubah. Aku senang Bobby akhirnya sadar akan kesalahannya," bisik Nicky.


"Ya, kau benar. Aku hanya terkejut," bisik Liana.


Maurine juga terkejut, ia tidak menyangka jika Bobby akan meminta maaf padanya seperti itu. Belum sampai Maurine menjawab, Bobby kembali bicara untuk berpamitan pada Maurine.


"Jaga dirimu baik-baik. Papa akan pergi keluar kota dan tinggal bersama teman Papa. Papa tak akan bisa sering-sering datang. Boleh Papa menghubungimu jika Papa rindu?" tanya Bobby menatap Maurine dengan mata berkaca-kaca.


Maurine masih diam, ia sungguh tidak tahu harus menjawab apa. Semuanya begitu tiba-tiba baginya, situasinya juga diluar kendalinya.


"Kau pasti kesal, marah dan kecewa. Papa memang banyak melakukan kesalahan padamu. Dan tidak pantas untuk mendapatkan maafmu. Terima kasih sudah mau menemui Papa yang tidak berguna ini. Selamat tinggal, Putriku. Papa sayang padamu," kata Bobby.


Bobby menatap Genta, Bobby menepuk bahu Genta perlahan dan berbalik pergi. Melihat Papanya melangkah menjauh darinya, Maurine merasa sedih. Dadanya sesak, ia sangat merindukan Papanya, juga sangat ingin menjauhi Papanya. Perasaanya kacau seperti helaian benang yang terlilit.


Tiba-tiba saja Maurine memanggil Bobby, "Papa," panggil Maurine.


Bobby menghentikan langkahnya, ia berbalik dan menatap Maurine. Maurine terlihat berkaca-kaca, ia melihat keaeah Genta. Genta tersenyum dan mengangguk.


Maurine berlari menghampiri Bobby, ia memeluk Bobby begitu erat.


"Maafkan Maurine, Pa. Maurine tidak bisa menjadi Putri yang baik. Maurine sangat sayang pada Papa," kata Maurine menangis terisak.


Bobby menangis, "Maafkan Papa," kata Bobby mengusap punggung Maurine.


"Jangan pergi," kata Maurine.


"Papa tidak ingin menyusahkan mu lagi. Disana Papa akan bekerja," jawab Bobby melepas pelukan. Bobby menyeka air mata Maurine.


"Apa Papa akan baik-baik saja?" tanya Maurine.


Bobby mengangguk, "Tentu saja. Papa pasti baik-baik saja. Kau jaga dirimu baik-baik," kata Bobby.


"Pergilah besok, aku dan Genta akan antar. Jangan pergi sekarang," pinta Maurine.


Bobby terdiam, ia melihat kearah Genta. Genta mengangguk dan tersenyum, Bobby pun tersenyum dan menatap Maurine.


"Ya, Papa akan tinggal untuk hari ini. Terima kasih," kata Bobby.


Maurine tersenyum senang, ia mengajak Bobby masuk dalam rumahnya. Didalam rumah, Bobby bertemu Liana, dan Nicky. Meski canggung Bobby pun angkat suara menyapa Liana dan Nicky, begitu juga sebaliknya.


Tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Namun Maurine merasa senang, ia bisa melihat dan bertemu Papa juga Mamanya. Setidaknya, walau hanya sesaat mereka bisa kembali berkumpul. Kebahagiaan akan menghiasi kehidupan Maurine untuk selanjutnya.


Tamat....


***ig: dea_anggie


Line id: dea_anggie


Fb: dea anggie


Grup FB: Lelaki Bayaran Amelia

__ADS_1


❤❤❤❤❤


__ADS_2