Menjadi Istri Simpanan

Menjadi Istri Simpanan
Kesal


__ADS_3

Norry menemui Nicky di ruang kerja Nicky. Saat membuka pintu ruang kerja Nicky, Norry melihat Liana ada di dalam ruangan sedang menemani Nicky berbincang, Liana membawa kotak makan siang untuk Nicky, Nicholas dan Norry.


"Hai Pa," sapa Norry.


"Kau datang, ayo duduk dan ambil kotak makan siangmu. Mamamu memasak makan siang untuk kita, kakakmu juga akan datang."


"Tidak, terima kasih. Aku sedang diet," jawab Norry.


"Oh," jawab Nicky ber-oh ria.


Melihat ada Liana, Norry mempunyai sebuah rencana. Liana duduk di sofa di hadpaan Nicky dan Liana.


"Pa, Papa tau aku dari mana dan bertemu siapa?" tany Norry menatap Nicky.


"Siapa? bukankah kau mengatakan bertemu Direktur Aiden?" jawab Nicky.


"Ya, Direktur Aiden dan simpanannya. Papa tau simpanan Direktur Aiden?Hm..., aku ragu untuk bicara," kata Norry melirik ke arah Liana.


Nicky mengernyitkan dahi, "Jangan mengurusi hal yang tidak ada hubungannya denganmu Norry. Papa sudah katakan, jaga sikapmu didepan Liana!" jelas Nicky.


"Papa, apakah Papa tahu? demi menjalin kembali kerja sama itu aku harus berlutut? putrimu ini bersimpuh dilantai, Papa! Papa masih mengatakan tidak ada hubungannya?" keluh Norry kesal.


"Apa maksudmu? kau berlutut?" tanya Nicky.


"Tanyakan pada Istri tercinta Papa, bagaimana dia mendidik putri kesayangannya sehingga menjadi wanita penggoda dan perayu. Dia merayu Direktur Aiden, dan membuatku harus menanggung malu! aku kesal, aku kecewa. Papa tidak peduli lagi padaku," sentak Norry yang langsung bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan ruangan Nicky.


"Norry...," panggil Nicky.


"Norry kembali," teriak Nicky.


Blammmm....


Pintu ruangan tertutup keras membuat Nicky dan Liana kaget. Liana mencoba menenangkan Nicky, menahan Nicky agar tidak emosi.


***


Norry berjalan menuju ruangannya. Dijalan, Norry berpapasan dengan Nicholas. Nicholas menyapa Norry dan di tanggapi dengan jawaban yang pedas.


"Hai, ayo keruangan Papa. Mama datang membawa kotak makam siang," sapa Nicholas.


"Tidak perlu mengajakku, kau pergi saja sendiri. Aku sudah muak dengan wanita itu," jawab pedas Norry yang langsung melangkah pergi.


Nicholas mengeryitkan dahi, "Apa ada masalah? mungkinkah Norry sudah menemui Papa dan Mama Liana?" batin Nicholas.


Nicholas menatap kepergian Norry, Nicholas menggelengkan kepala perlahan. Dia menarik napas dan menghela napas, tidak bisa berkata-kata lagi dengan sikap kasar Norry. Nicholas berbalik, kembali melangkah menuju ruangan Nicky.


***


Di ruangan Norry, Norry emosi dan kesal. Hari itu adalah hari sial baginya. Norry sungguh sangat membenci Maurine, Norry merengut menatap dengan tatapan tajam keluar jendela kantornya.


"******! kau lihat saja, aku Norry akan membalasmu berkali-kali lipat. Atas dasar apa kau mempermalukanku, aku dan kau berbeda. Kau hanya sampah, berbeda denganku yang memang sudah terlahir sebagai seorang putri. Bebek buruk rupa, bagaimana bisa menjadi seekor angsa berbulu emas? sampah tetap sampah!" gumam Norry menggerutu.


***


Malam harinya....


Liana menghubungi nomor telepon di ponsel Liana yang lama. Dan diterima oleh Genta, Genta dan Liana berbicara di telepon.


(Percakapam di telepon)


"Hallo, Maurine...," sapa Liana.

__ADS_1


"Maaf, Maurine susah tertidur. Dengan siapa saya berbicara," tanya Genta.


"Ini Mamanya, Anda?" tanya balik Liana..


"Genta, Suami Maurine. Senang berbicara dengan Anda," jawab Genta.


"Su-suami? kapan Maurine menikah? kenapa aku tidak tahu?" tanya Liana bingung, karena mendengar kabar yang mengejutkan.


"Pernikahan kami belum berjalan lama," jawab Genta.


"Apa terjadi sesuatu?" tanya Liana lagi meeasa khawatir.


"Maaf, saya tidak punya hak menjelaskan ini semua. Bagaimana dan seperti apa yang terjadi pada kami saat ini, lebih baik Anda bicara dengan Maurine secara pribadi. Saya akan bicara pada Maurine untuk menemui Anda dan mengatur jadwal pertemuannya."


"Baiklah, sampaikam salamku untuk Maurine. Dan untukmu, seperti apapun kau, aku harap kau bisa dengan baik menjaga Maurine. Terima kasih," ucap Liana.


"Ya, saya mengerti."


Liana mengakhiri panggilannya. Genta meletakan kembali ponsel Maurine kedalam laci nakas. Genta berbaring di samping Maurine dan menyelimuti tubuhnya sendiri dengan selimut. Tangan Genta melingkar erat di perut Maurine. Genta memejamkan mata dan terlelap tidur.


***


Keesokan harinya....


Genta sudah rapi dengan stelan jasnya dan sarapan. Genta kembali mengingatakan Maurine untuk tidak menunggunya saat jam makan malam.


"Aku banyak pekerjaan hari ini sayang. Jangan menungguku untuk makan malam, kau ingat kan hari ini ada temanku yang ulang tahun."


"Hmmm, iya. Aku ingat, aku belum setua itu sampai lupa ucapanmu kemarin."


"Oh, aku ingin memberitahumu sesuatu. Semalam, Mamamu menghubungimu. Maaf, aku lancang menerima panggilannya. Mamamu ingin berjumpa denganmu," ucap Genta.


"Aku hanya mengatakan aku suamimu saat Mamamu bertanya. Aku tidak ada bicara hal lain, justru aku ingin kau sendiri yang bicara pada Mamamu. Aku tidak ingin salah bicara," jawab Genta.


"Lalu?" tanya Maurine.


"Lalu? pikirkan kapan kau siap bertemu Mamaku, dan kabari Mamamu. Ponsel lamamu ada di dalam laci nakas, kau bisa gunakan itu untuk menghubungi Mamamu. Ingat, jangan hubungi Papamu, aku tidak mau kau terlibat lagi dengannya. Kau paham?" Jelas Genta.


"Aku mengerti sayang," jawab Maurine.


"Kau tidak marah kan aku melarangmu bicara dengan Papamu?" tanya Genta.


Maurine menggeleng, "tidak. Aku mengerti maksudmu," jawab Maurine tersenyum.


Genta menghela napas, "Jujur saja Maurine, aku tidak menyukai sikap Papamu. Aku tahu, kau sangat sayang pada Papamu. Karena hanya dia keluargamu, tolong pikirkan kembali bagaimana dia memperlakukanmu. Jangan lupakan bagaimana kau berikan pada Rey! aku tidak ingin berdebat masalah ini," jelas Genta.


Maurine berjalan mendekati Genta, merangkuk Genta dari belakang dan mencium lembut pipi dan leher Genta.


"Jangan kesal, aku sangat mengerti maksudmu. Makanlah sarapanmu," jawab Maurine.


Genta menghela napas lagi, "Aku memang tidak bisa marah atau kesal padamu Maurine. Kau selalu bisa memenangkan hatiku," kata Genta.


Maurine tersenyum, "Jika begitu jangan kesal dan marah. Ayo tersenyum, kau sangat tampan saat tersenyum sayang."


Mendengar bujuk rayu Maurine, Genta akhirnya tersenyum. Maurine senang, Genta tidak jadi kesal dan bisa langsung tenang.


***


Hallo semua..


Terima kasih sudah mau berkunjung dan membaca novel saya..

__ADS_1


Jangan pernah bosan menunggu update selanjutanya ya..


Jangan lupa like,☆☆☆☆☆ dan isi kolom komentar..


Jangan lupa berikan vote juga ya..


Kunjungi juga di novel saya yang lain. Dengan judul,


•Lelaki Bayaran Amelia (Season 1&2) (End)


•Pelukan Hangat Paman Tampan (End)


•Pangeran Es Jatuh Cinta (End)


(Season ke 2 dari Pelukan Hangat Paman Tampan)


•Pangeran Vampir (End)


•Pangeran Vampir 2 (SEASON 2) (End)


•Vampir "Sang Abadi" (End)


•Cinta Lama Yang Datang Kembali (End)


•Mommy And Daddy (CLYDK 2) (End)


•Darren & Karren (Perjalanan Cinta) (CLYDK SEASON KE 3) (End)


•Suami Pengganti (End)


•Oh My Husband (End)


•The Hit Man In Love


•Jatuh Cinta Pada Tetangga


•Dendam Permaisuri Kepada Kaisar


Jangan lupa like, ☆☆☆☆☆ dan isi kolom komentar.. vote juga dong..


Terimakasih..


Untuk pembaca yang ingin join grup FB/WA silakan..


Untuk yang ingin follow ig saya juga silakan..


ig: dea_anggie


Line id: dea_anggie


Fb: dea anggie


Grup FB: Lelaki Bayaran Amelia


❤❤❤❤❤


Bye bye..


Salam hangat,


"Dea Anggie"

__ADS_1


__ADS_2