Menjadi Istri Simpanan

Menjadi Istri Simpanan
Semua Akan Baik-Baik Saja


__ADS_3

Mike sengaja tidak menjawab satupun pertanyaan yang dilontarkan Mama Delia. Mike hanya mau Mama Delia melihat sendiri apa yang selama ini ditutupi Daniel dari semua orang. Tidak apa Daniel marah padanya yang penting Daniel dan Tiara tidak merasa sendirian, ada keluarga yang menyayangi mereka. Mike pun hanya ingin mencoba memperbaiki kesalahannya. Sampailah mereka di depan pintu kamar yang masih tertutup rapat. Mama Delia, Diko dan Laura semakin penasaran dibuatnya.


Mike memegang handle pintu, ia menatap satu persatu wajah yang ada di sana. "Istri Daniel dirawat di sini," ucapnya lirih. Mama Delia terkejut dibuatnya. "Dia hampir mengalami geguguran," imbuh Mike kemudian.


"Kau bercanda, Mike? Kapan Daniel menikah? Apa maksudmu dia hampir keguguran?" Mama Delia menarik tangan Mike, dia kecewa dan marah karena Daniel tidak pernah cerita tentang wanita manapun yang dekat dengannya bahkan, pertunangannya yang dibatalkan dengan seorang model itupun tidak pernah diungkit Daniel. Apa Daniel memang sudah tidak pernah menganggapnya ada? Apa Daniel masih kecewa karena dari awal dirinya mempertahankan pernikahannya dengan suaminya dan memilih merawat Diko dan Mike? Apa Daniel belum benar-benar berdamai dengan keadaan?


"Kau bohong, Mike?" Bahkan suara Delia hampir tidak terdengar, tubuhnya melemas dan hampir terjatuh beruntung Diko sigap menahan punggungnya. "Tidak mungkin."


Hati Diko seperti diketuk palu, dia yang dimaksud Mike adalah Tiara. Detak jantung ini masih terlalu kencang bila mengingat apapun tentang wanita itu. Kenapa masih harus sesakit ini? Sudah lama mereka tidak bertemu, dulu Diko pergi dan berjanji akan kembali lagi untuk Tiara dan anak yang dikandungnya tetapi, Diko tidak pernah mengira kalau akan ada benteng kokoh yang terbentang diantara mereka. Sosok Daniel yang tidak pernah berniat meninggalkan Tiara.


Inikah yang dinamakan cinta tidak harus saling memiliki? Cinta yang tulus adalah cinta yang tidak mengharapkan balasan dari orang yang dicintai, cinta yang sesungguhnya adalah merelakan cinta itu bahagia dengan orang lain. Namun, hati ini butuh waktu untuk ikhlas.


"Benar, Ma ... Daniel sudah menikah." Dengan isyarat mata, ia meminta Mike untuk membukakan pintu. Kini perlahan dan pasti pintu itu sudah mulai terbuka lebar, Diko melepaskan Mama Delia namun tidak sedikitpun kakinya ikut melangkah maju.


Mama Delia sudah berada di ambang pintu, meskipun samar ia masih bisa mendengar percakapan Daniel dan seorang wanita yang wajahnya masih tertutup punggung kokoh Daniel. Delia bahkan ikut menitikan air mata, dia pikir selama ini anaknya sudah baik-baik saja, dia pikir selama ini Nielnya bisa mendapatkan apapun yang ia inginkan tetapi ternyata, Daniel berat mendapatkan cintanya.


Hingga, wajah pucat yang masih terlihat cantik itu sudah bisa dilihatnya dengan jelas. Perempuan itu memejamkan mata namun, air matanya masih mengalir deras.


"Di-dia menantuku?" lirih Delia. Kemana saja dia selama ini kenapa tidak tau tentang menantu dan cucu yang hampir gugur itu?


Saat Tiara membuka mata, ia terkejut dengan kehadiran seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik bahkan sangat cantik. Wanita itu terpaku melihatnya, kedua mata mereka saling mengunci hingga perlahan Tiara melepaskan pelukannya dari Daniel.


Danie merapikan rambut Tiara yang berantakan. Dia memperhatikan Tiara yang diam seperti menahan gugup. "Kamu kenapa? Aku panggilkan dokter, ya?" Pelan-pelan Daniel berdiri tetapi, Tiara meraih tangannya.


"Ja-jangan pergi lagi, jangan tinggalkan aku dan anak ini." Tiara melingkarkan tangannya di pinggang Daniel, ia membenamkan wajahnya di sana. Tiara takut Daniel akan pergi bersama wanita asing yang kehadirannya belum diketahui Daniel.


"Aku tidak akan meninggalkan istri dan anakku ini." Daniel membelai halus kepala Tiara.

__ADS_1


"Jadi benar kalau dia istrimu?" Delia sudah berdiri tepat di belakang Daniel.


Daniel yang terkejut sontak memutar badan dan terpaku melihat Mamanya ada di depan mata.


"Ma-mama?"


"Dasar anak bodoh! Kenapa kau tidak pernah cerita kalau kau sudah menikah?" Delia yang masih kecewa memukul dan menarik lengan Daniel sampai sedikit menjauhi ranjang pasien.


"Kenapa Mama ada di sini?" Daniel ingin berdebat namun, ia tau kalau ini bukan waktu dan tempat yang tepat.


"Kenapa kau tidak menganggap Mamamu ini? Apa kau menganggap aku sudah mati?" Delia masih marah namun, saat melihat Tiara yang sepertinya ketakutan ia memelankan suaranya. Delia mendekati Tiara.


"Ma---


Daniel bermaksud mengajak Mama Delia keluar dan menjelaskannya di luar sana namun, Mama Delia memungkas ucapannya.


Delia berdiri di samping tempat tidur Tiara, persis menempati posisi Daniel yang sebelumnya. Delia menjulurkan tangan menyentuh kepala Tiara yang masih diam dan merunduk.


Tiara memejamkan mata dan menikmati belayan tangan yang terasa hangat ini, sebelumnya mengetahui jika wanita ini adalah Mama Daniel membuatnya takut dan khawatir kalau orang kaya ini akan menolak kehadirannya yang sama sekali tidak sebanding dengannya.


Delia duduk tepat di bibir tempat tidur, menatap Tiara dan juga perutnya yang masih tertutup baju pasien. Delia meraih dagu Tiara. "Angkat kepalamu, Nak!" Kini, ia sudah kembali bersitatap muka dengan menantunya. "Daniel menyakitimu?" Tiara menggeleng lemah. "Siapa namamu?"


"Ti-Tiara," jawab Tiara lirih.


"Kau istri Daniel?" Delia ingin memastikannya sekali lagi dari bibir Tiara.


"I-iya. Ak-aku---

__ADS_1


"Oh, menantuku." Delia mencium kening Tiara. "Maaf ... Mama terlambat mengetahui kehadiranmu, cucuku baik-baik saja 'kan?" Delia meraba perut Tiara. "Anak keras kepala ini menyembunyikan kalian dariku." Delia melirik Daniel lalu kembali melihat Tiara.


"Mulai hari ini, Mama akan menjaga kalian berdua. Daniel atau siapapun tidak akan bisa lagi menyakiti kalian."


"Bukan aku yang menyakitinya, Ma. Semua ini salah Mike." Daniel tidak terima disalahkan, karena tidak mau Mamanya mengambil alih Tiara dan calon anaknya.


"Justru Mike yang membawa Mama ke sini. Papa pun pasti marah karena kau sudah sembunyikan menantu dan cucu kami." Mama Delia berhenti mengomel setelah melihat air mata sudah menggenangi wajah Tiara yang masih pucat pasih.


"Jangan menangis." Delia memeluk Tiara. "Semua baik-baik saja, sayang," bisiknya.


Tiara semakin tersedu karena merasakan pelukan hangat seperti pelukan dari wanita yang sudah melahirkannya, wanita yang sudah meninggal dunia dan wanita yang tidak sempat melihat cucunya. Kehadiran Mama Daniel seolah mengobati kerinduan akan hadirnya sosok seorang ibu.


"Mama ada di sini, Nak," ucap Delia, ia semakin mendekap Tiara.


"Ma-Mama ...." Semua terasa seperti mimpi, bagaimana bisa wanita asing ini memeluk dan ia panggil mama?


"Iya ... panggil aku Mama."


Daniel seperti melihat dua bidadari berpelukan di depannya, pemandangan ini sudah sedikit mengurangi beban pikirannya bahkaan ia pun tersenyum senang melihat Mama Delia tampak menyayangi dan menerima Tiara.


Namun, di sisi lain ada hati yang masih terluka dan belum berhasil menemukan penawar lukanya. Diko enggan masuk ke ruangan Tiara, ia takut belum sanggup menerima kenyataan. Namun, Diko berharap Tiara bahagia dengan keputusan dan kehidupannya. Diko menyandarkan punggungnya di dinding, ia yakin kalau Mama Delia pasti akan menyayangi Tiara tanpa membedakan atau membandingkan dengan anak-anaknya yang lain. Apa yang akan dia katakan jika berhadapan dengan Tiara, nanti? Diko menghela napas berat dan memutuskan pergi melewati Laura tanpa bicara sepatah katapun.


Laura tidak tau harus apa, dari awal ia memperhatikan Diko dalam diam, rasanya ia ingin memberikan semangat namun, apalah daya jika dirinya pun merasakan hal yang sama. Mencintai tanpa harus memiliki. Di saat Laura akan masuk ke ruangan Tiara untuk meminta maaf, Diko sudah pergi tanpa menghiraukannya. Sementara Mike sudah pergi tidak lama setelah Mama Delia menemui Tiara.


"Aku harus ke mana?" Laura gamang memikirkan ke mana kakinya akan melangkah. Dirinya tidak tau banyak tentang tempat ini dan akhirnya memutuskan untuk pergi menyusul Diko yang sudah menghilang dari pandangannya.


***

__ADS_1


Readers sayang, wadoh ini Vio lama tidak muncul, ya. Ntahlah ... akhir-akhir ini RL nggak bisa diganggu gugat. Jadi nggak sempat liat naskah yang udah diketik. Jangan nungguin malam pertama Diko dan Laura😅


__ADS_2