
*Harap Bijak Menyikapi Bacaan. Jangan lupa jempolin ya, readers sayang*
Nick sudah mengemudikan mobil di tengaj jalan raya bergabung dengan pengendara lain yang juga membelah kesunyian di malam hari. Sesekali jemari tangan Nick menari di atas stir mengikuti irama melodi lagu yang terdengar dari audio mobil.
"Lagi mikirin apa?" Nick melirik Laura sekilas. Laura tampak memeluk tubuhnya sendiri, Nick yakin jika Laura sedang kedinginan.
"Tidak ada." Laura tidak mau melihat Nick. Bayangan saat Nick dikejar beberapa orang di rumah sakit membuat ia harus waspada terhadap Nick karena bisa jadi laki-laki ini bermasalah dengan hukum.
Nick meneikan mobilnya lalu mengambil jas hitam yang masih tergantung rapi di bangku belakang. "Pakailah, mungkin bisa sedikit menghangatkan tubuhmu." Nick meletakkan jas miliknya tepat di pangkuan Laura dan kembali fokus mengukur jalan.
"Sebenarnya, kamu orang baik atau jahat?" cetus Laura sembari memakai jas Nick. "Ini jas kantoran. Kamu kerja di perusahaan mana? Atau kamu pencuri yang melarikan diri dari rumah sakit?"
Nick tergelak karena akhirnya wanita cantik ini mau bicara. "Itu milik majikanku. Aku supir pribadi bos pemilik salah satu perusahaan furniture." Nick berbohong. Sebenarnya perusahaan itu yang diwariskan keluarganya namun, Nick menolak untuk mengelolanya. Nick sudah berusaha lari ke luar negri dan hidup bebas seperti keinginannya namun, ia mengalami kecelakaan kecil dan berakhir di rumah sakit.
Nick mematikan mesin mobilnya tepat di depan sebuah bangunan apartmen yang menjulang tinggi. "Kamu tinggal di sini?"
"Hmmm." Laura membuka jas milik Nick. Tetapi, Nick melarangnya.
"Pakailah, di luar sangat dingin."
"Terima kasih, maaf karena aku sudah berburuk sangka dan merepotkanmu." Laura kesulitan membuka pintu mobil yang dikunci secara otomatis. "Jangan bercanda, Nick! Buka pintunya!"
"No, kamu harus jawab tiga pertanyaanku. Kalau tidak, jangan harap pintu itu akan terbuka." Nick tersenyum licik.
"Kau ini. Dua pertanyaan atau tidak sama sekali." Laura mengangkat dua jarinya memberikan pilihan untuk Nick.
Nick terpaksa mengangguk. "Siapa namamu?" tanya Nick.
"Aura!" jawab Laura cepat.
__ADS_1
"Nama yang cantik. Aura ... akhirnya aku tau namamu." Tempat tinggal dan nama sudah berhasil ia kulik. "Pekerjaan, hobi da--
"Hanya dua!" Laura mengingatkan. "Aku sekretaris di perusahaan D. Kau sudah puas? Sekarang buka pintunya!"
"Perusahaan D?" Nick terkejut. Perusahaan D yang direkomendasikan keluarganya untuk bekerja sama dengan perusahaan miliknya. Tapi, Nick malah menolaknya. Kalau perusahaan mereka bisa kerja sama dengan baik, besar kemungkinan mereka akan sering berinteraksi. Nick tersenyum dan membiarkan Laura pergi.
***
Diko tidak bermaksud meninggalkan Laura di pesta, awalnya Diko ingin mengajak Laura pulang tetapi beberapa teman lama mengajak Diko untuk bernostalgia di salah satu club malam yang tidak juh dari hotel.
Suara dentuman musik terdengar menggema di ruangan ini. Beberapa orang menari mengikuti irama musik yang dimainkan seorang DJ cantik. Sementara dua laki-laki dewasa tengah duduk ditemaani dua wanita sexy yang tidak berhenti menuangkan minuman untuk mereka.
"Ayolah, Diko. Apa kau tidak tergoda? Kau bebas memilih wanita yang kau suka." Abas memprofokasi Diko yang sedari tadi menolak wanita yang ingin menemaninya.
"Aku minum saja." Diko mengenggak segelas minuman keras. Dia ingin bebas melupakan ingatannya tentang Tiara, dan minuman ini salah satu pelampiasannya.
"Kau mau wanita yang mana? Mereka tidak akan menolakmu. Jangankan untuk duduk di sampingmu. Tidur di atas ranjangmu pun mereka mau." Abas tertawa. Di jaman ini beberapa laki-laki dewasa sudah lumrah hidup bebas hanya untuk bersenang-senang.
"Kau kenapa?" Abas memberikan minuman baru yang diam-diam diberi obat perangsang untuk Diko. "Minumlah!" ucap Abas.
Diko meletakkan minuman itu di atas meja. "Aku tidak mau menyentuh sembarangan wanita. Apa lagi yang tidak jelas asal-usulnya," ketus Diko.
Abas semakin tertawa. "Kau mau menyentuh wanita yang mana, huh? Apa jangan-jangan kau sudah menikah? Siapa istrimu? Apa wanita yang menganut hidup bebas seperti yang ada di sini? Kalau gitu apa bedanya? Aku yakin bukan kau orang pertama yang tidur dengannya."
Kepala Diko semakin terasa pusing. Dia mengambil minuman yang tadi ditolaknya. Dalam keadaan seperti ini wajah Laura terlintas di kepala. Apa Laura masih perawan?
"Jangan munafik, Diko. Kau sudah lama hidup di negara orang. Kau pun tau seperti apa kehidupan di sana."
Diko tidak menjawab sepatah katapun. Laura! Hanya ada Laura di kepalanya.
__ADS_1
"Kuberikan wanita cantik ini untukmu." Abas menyuruh wanitanya duduk di samping Diko.
Diko masih menjaga kesadarannya, ia hanya melirik wanita yang sudah bergelayut manja di lengannya. Tangan Diko bergetar ketika menghabiskan minuman pemberian Abas.
Diko memejamkan mata lidah dan tenggorokannya merasakan sensasi lain dari minuman ini. Aneh, tubuh Diko terasa panas.
"Mau lagi?" bisik wanita sexy yang sudah berani menyentuh rahang Diko. Dia tau kalau minuman Diko sudah dicampur dengan obat perangsang.
"Terima saja, dia bisa memberikan lebih dari ini," ucap Abas.
Diko semakin tidak karuan dia tau ada sesuatu yang tidak beres di dalam dirinya. Sebelum semua terlambat, ia bergegas pergi dan kembali ke apartmen.
***
Rasa kantuk dan lelah sudah tidak bisa dilawan Laura hingga ia tidur dengan masih memakai gaun pesta yang melekat di badan. Diko dan Laura tidur di kamar yang berbeda. Selama ini hubungan mereka biasa saja tanpa ada kontak fisik seperti pasangan suami istri yang lain.
Tanpa Laura sadari ada seseorang yang masuk ke dalam kamarnya. Diko tidak mabuk, ia masih sadar betul kamar siapa yang sedang ia tuju. Tubuh Diko semakin memanas ketika melihat Laura tidur pulas di atas ranjang, namun tiba-tiba hati Diko meragu saat melihat jas hitam yang tergantung di balik pintu kamar Laura. Apa benar dugaannya kalau Laura sama seperti wanita di luaran sana? Apa Laura sudah tidak suci lagi? Apa dirinya akan menjadi laki-laki yang kesekian untuk Laura?
Suara pintu yang ditutup kasar membangunkan Laura dari tidurnya. Laura terkejut melihat Diko.
"Di-Diko? Kamu sudah pulang?"
Diko tidak menjawab, panas yang menguasai tubuhnya membuat ia mengabaikan jas itu. Diko membuka satu persatu kancing kemejanya dan mendekati Laura.
"Ka-kau kenapa?" Laura duduk dan meraih selimut untuk menutupi tubuhnya. Laura menelan ludah melihat Diko sudah bertelanjang dada.
"Aku butuh bantuanmu," ucap Diko lirih. Perawan atau tidak itu soal belakangan asalkan Diko melampiaskannya dengan wanita yang sudah sah menjadi istrinya.
"Ban-bantuan apa?" Laura memerhatikan wajah Diko yang semakin merah padam bahkan Diko seperti sedang menahan rasa sakit. Laura menyentuh pipi Diko. "Kau sakit?" tanya Laura.
__ADS_1
Sentuhan Laura membuat Diko lepas kendali. Tubuhnya seperti tersengat aliran listrik. Diko menarik cengkuk leher Laura dan mencium bibirnya.
***