
Kesehatan pria berambut putih itu semakin membaik, kabar bahagia ini membuat Diko dan Nick bisa bernapas lega. Sedari tadi, ketika membuka mata bibirnya tidak berhenti menyebut nama Laura.
"Di mana putriku?" Wajahnya kecewa sebab tidak melihat Laura di sekelilingnya. Hanya ada Diko, Nick dan seorang petugas medis yang menemaninya. "Dia belum memaafkan aku." Dadanya terasa sesak, ia mengabaikan peringatan dokter untuk tidak berpikir terlalu keras.
"Pa ... Laura ada di rumah, dia baik-baik saja. Bukankah Laura pernah bilang kalau dia sudah memaafkan Papa?" Nick memegang telapak tangan Papa yang sudah mengeriput, memberikan kekuatan untuk Papa yang sudah bisa meninggalkan kursi roda.
"Kenapa nggak jenguk, Papa?" Pria tua yang masih memakai baju pasien ini melihat Diko dan bertanya, "Dia siapa?"
Diko mendekati tempat tidur pasien dan meraih tangan Ayah mertuanya. "Saya Diko, maaf baru sekarang datang menjenguk Papa." Membungkukkan badan dengan canggung.
"Papa?" Dahinya semakin keriput, ia bingung kenapa Diko memanggilnya Papa.
Nick merangkul Diko. "Tidak, Pa ... justru Diko yang memindahkan Papa ke rumah sakit ini. Dia ini suami Laura." Nick tidak mau menunda waktu agar hubungan Diko dan Laura kembali membaik dan berharap hidup bahagia menikmati waktu yang sudah terbuang dengan Papanya.
"Su-suami? Adikmu sudah menikah?" Raut wajahnya berubah lagi, terkejut, haru, bahagia dan kecewa karena ia terlambat mengetahui pernikahan anaknya. "Siapa yang menikahkan Laura? Siapa yang menjadi walinya?" Sungguh ia menyesal dan menyalahkan dirinya sendiri.
"Orang tua angkat Laura yang mengatur pernikaahan kami. Diwakilkan wali hakim dan disaksikan beberapa orang di sana dan kalau tidak salah ada juga kerabat Bibi yang jika diingat wajahnya mirip dengan wajah Papa." Diko menjelaskan sesuai apa yang sudah terjadi.
"Bibik?" Pria tua ini semakin menangis. "Dia pasti adik mendiang istriku yang sudah merawat Laura sedari bayi. Ternyata dia memenuhi janjinya. Semua salahku, aku dibutakan harta hingga menjauhi sanak saudaraku. Aku yakin paman kalian, adik kandungku yang sudah menikahkan kalian. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya. Dia mungkin masih marah hingga tidak mencari aku."
Isakan tangis terdengar pilu, karena keadaan dan hilangnya komunikasi membuat pernikahan anaknya harus diwakilkan. Nick pun tidak bisa berkata lagi, ia sedih membayangkan hidup yang dijalani Laura selama ini.
Diko mengeratkan genggaman tangannya dan menghapus air mata Ayah mertuanya. "Pa ... semua sudah berlalu, yang terpenting pernikahan kami sah dan tidak melanggar norma atau peraturan yang ada. Sekarang, kita buka lembaran baru yang akan diisi dengan kebahagiaan. Cepat pulih dan kita jemput Laura dan calon cucu Papa." Mengingat itu Diko menjadi semakin rindu.
"Cu-cucu?" Ia terkejut dan takut salah dengar.
Diko tersenyum. "Laura sedang mengandung anakku. Anak pertama kami," jawab Diko.
__ADS_1
Kedua telapak tangan keriput itu terangkat dan mengusap wajahnya, ia berulang kali mengucap syukur sebeb sampai saat ini Tuhan masih memberinya waktu dan kesempatan mendengar kabar bahagia ini.
"Kita pulang, Nicky ... Papa sudah sembuh." Papa meyakinkan Nick dan semua orang kalau sudah sembuh dan memaksa untuk ke luar dari rumah sakit.
***
Rasanya seperti sudah satu tahun Diko tidak bertemu istrinya. Perasaan ini sangat menyiksa batinnya. Tanpa sepengetahuan Laura, Diko tidur di sebelah kamar Laura, ia akan pulang ketika Laura sudah terlelap. Bahkan, sudah beberapa hari ini, setiap pagi Diko yang menyiapkan susu hamil untuk Laura.
"Rasanya aneh," cetus Laura setelah menghabiskan segelas susu hamil buatan Oca.
"Kenapa?" tanya Oca.
"Semakin terasa buatan Diko." Laura menghela napas kecewa, sekeras apapun ia berusaha membenci Diko tetap saja jauh di lubuk hatinya ia sangat merindukan Diko.
"Nggak mungkinlah, Diko mana mungkin bisa buat susu untukmu. Datang ke rumah ini aja nggak pernah!" Ntah sudah berapa kebohongan yang diciptakan Oca.
Oca memberikan gaun putih menjuntai untuk dipakai Laura, lengkap dengan perhiasan cantik dan juga memanggil penata rias terbaik untuk merias Laura. Kini, Laura terlihat semakin cantik seperti putri di negri dongeng. Nenekpun ikut andil dalam sandiwara ini. Membantu Diko menjalankan rencananya.
"Ayo, nanti kita terlambat." Umur boleh tua tapi, terkadang jiwa nenek masih muda. Nenek terlihat bugar memakai kebaya dari Diko. Ya, Laura tidak tahu kalau semua yang mereka pakai hari ini dari Diko.
"Kita sudah ditunggu. Ini hari spesial resepsi pernikahan cucu teman nenek dan kita jadi tamu istimewa di sana." Akting yang luar biasa.
"Kalau penampilanku seperti ini, mereka pikir aku pengantin wanitanya, Nek ... Laura di rumah aja, ya," bujuknya.
"Nggak bisa!" Oca menggandeng Laura menuju mobil mewah yang dikirimkan Diko. "Mobil sudah disediakan, Tuan Putri."
Laura tidak bisa menolak selain masuk ke mobil yang akan membawa mereka ke tempat yang ia sendiri tidak tahu ada di mana.
__ADS_1
***
Mobil yang membawa Laura, Oca dan Nenek sudah berhenti di tempat acara. Sudah ada banyak mobil mewah memenuhi area parkir. Karangan bunga bertuliskan selamat dan do'a berjejer rapi di sepanjang jalan. Tapi, tidak tertulis nama kedua mempelai di sana.
Nenek membaur dengan tamu yang lain. Sementara Laura dan Oca mulai menginjakkan kaki di atas pasir putih pantai Bali.
"Oh, jadi ini pantai Bali? Dulu dia mau mengajakku ke sini." Raut wajahnya menjadi sedih lagi ketika teringat ucapan Diko yang akan membawanya bulan madu ke Bali.
Oca tetap diam dan menggandeng Laura membelah kerumunan, kehadiran Laura menarik perhatian orang-orang yang ada di sana, Laura merasa mengenal wajah beberapa tamu yang hadir. Tapi, ia lupa di mana pernah melihat mereka.
Langkah kaki Laura terhenti ketika melihat sosok pria tua berjas hitam berjalan mendekatinya. Pria itu tidak lagi duduk di kursi roda. Terlihat gagah dan tersenyum sampai berdiri dihadapannya.
"Papa ada di sini? Papa sudah bisa jalan? Papa sudah sembuh?" Laura hampir tidak percaya, ia melihat Oca memint penjelasan tapi, Oca melepaskan tangannya.
"Ya ... Papa ada di sini untuk kamu." Ia memeluk Laura, sudut matanya sudah mulai berkaca-kaca. "Berbahagialah, Nak ... kamu pantas bahagia." Suranya bergetar menahan haru.
"Makasih, Pa...." Menggigit bibir bagian bawah, menahan tangisan agar tidak pecah, agar Papa tidak tahu kalau hatinya sedang kacau. "Laura bahagia melihat Papa sembuh seperti ini," jawab Laura lagi.
Pelukan itu terlepas, Papa meraih tangan Laura. "Seseorang sudah menunggu kamu." Ia menggandeng tangan Laura. Semua orang memberi jalan untuk mereka bahkan, menyambut mereka dengan taburan ribuan kelopak bunga mawar.
Laura merasa diistimewakan, belum hilang kebingungan yang bersarang di otak, ia kembli dikejutkan dengan kehadiran sosok pria gagah dan tampan berdiri tidak jauh darinya.
"Di-Diko?" Laura hampir jatuh beruntung Oca sigap menahan tubuhnya.
"Se-semua ini?"
"Iya ... pesta pernikahanmu dan Diko. Maaf Laura, selama Diko menyiapkan pesta kejutan ini, aku harus bersandiwar di depanmu. Lihatlah ... suamimu ada di sini," ucap Oca.
__ADS_1