
Oca buru-buru berjongkok dan mengambil paper bag berisi pakaian untuk Laura yang baru saja ia dapat dari seorang kurir.
'Mereka ngapain? Pak Rey normal? Jadi dia pria normal? Pak Rey suka sama perempuan dan itu Dona? Ah, kenapa harus perempuan itu?' Oca mulai bermonolog dalam hati.
"Minggir!"
Suara Rey menyadarkan Oca. Gadis berambut pendek ini sigap berdiri dan menggeser kakinya memberikan ruang untuk Rey dan Dona melewatinya.
Sementara Rey menarik paksa tangan Dona dan mengusirnya secara tidak hormat.
"Jangan biarkan perempuan ini masuk ke kantor ini lagi!" Rey mengibaskan jas di depan satpam dan Dona yang tidak terima dengan perlakuan Rey.
"Nggak bisa, Rey! Kalian harus kasih aku kesempatan sekali lagi untuk perbaiki kesalahanku!" Seakan urat malunya sudah putus, Dona tidak perduli pada orang-orang yang menertawakannya.
"Jangan buang waktumu di sini. Harusnya kau bersyukur karena pak Diko tidak memperpanjang masalah ini dan soal pemecatanmupun, kau tetap mendapatkan pesangon!"
"Tapi Rey ak--
Ray berbalik badan."Bawa dia pergi!" Dua satpam yang berjaga pun sigap menarik dan mengusir Dona tanpa menghiraukan teriakannya.
"Aku nggak terima, tunggu pembalasanku, Laura!" Dona bersumpah akan menghilangkan senyuman Laura dari wajahnya.
Diam-diam Oca mengikuti Rey, ia kembali terbirit-birit masuk ke dalam lift ketika melihat Rey pergi meninggalkan Laura.
"Tadi tampak mesra, kenapa sekarang seperti sedang bertengkar? Oh, aku jadi kepo sama hubungan dua mahkluk aneh itu." Oca masih penasaran lupa menutup pintu lift hingga kini sudah ada orang lain di dalamnya.
"Apa yang kau lihat." Rey menekan tombol lift, ia bicara tanpa melihat wajah Oca.
Kelopak mata Oca terbelalak, ia mundur beberapa langkah menjauhi Rey. Oca tidak menjawab, pikirannya masih melayang meningat kabar slentingan tentang Rey yang misterius dan tidak pernah tampak dekat dengan wanita manapun. Jangan-jangan dia---
"Kau bisu?" Rey memerhatikan bayangan Oca dari dinding lift. Oca spontan menggeleng. "Jangan sampai aku mengulangi pertanyaan yang sama," imbuh Rey seraya memutar badan menghadap Oca.
Oca semakin gugup. "Ak-Saya tidak lihat apapun, itu tadi cuma ya ... bukan apa-apa." Oca memaksakan senyumnya.
Rey melangkah maju. "Kalau sampai setelah ini aku dengar berita mura han tersebar maka, aku tidak akan melepaskanmu," ucapnya tepat di telinga Oca.
GLEK!!!
Musim durian, sepertinya biji durian yang ia makan kemarin tersangkut di tenggorokan Oca, apa yang harus ia lakukan?
__ADS_1
Ting!!!
Oca bersyukur, lift berhenti tepat pada waktunya, ntah dapat keberanian dari mana sekuat tenaga ia mendorong Rey dan pergi menerobos orang-orang yang ad di depan pintu lift.
"Aku tidak melihat apapun!!!" teriak Oca sembari berlari menyelamatkan diri.
Rey memicingkan mata melihatn Oca pergi.
***
Pakaian formal yang dibeli Oca sudah melekat di tubuh Laura, masih kemeja warna putih namun kini, ia memakai celana hitam berbahan slimfit yang membuat menampilannya masih tampak elegant.
Jam kantor sudah usai, Laura dan Diko sudah berada di dalam perjalanan menuju suatu tempat. Sedari tadi Diko tidak bicara sepatah katapun bahkan mengabaikan pertanyaan Laura.
"Kita mau ke mana?"
"Ini bukan jalan ke apartmen."
"Kita mau ke rumah Tiara?"
"Kita mau ke rumah Mama?"
"Rumah siapa?" tanya Laura ketika sudah masuk melalui pintu utama, sebuah bangunan dua lantai lengkap dengan furniture mewah di dalamnya membuat Laura terpana.
"Rumah kita." Diko menggulung lengan kemejanya sampai ke siku. "Mulai hari ini kita tinggal di rumah ini." Ia berdiri tepat di samping Laura.
Laura menoleh. "Hah? Serius? Kapan kamu siapkan semua ini?"
"Kamu terlalu banyak bertanya, yang penting semua barang-barang dan kebutuhanmu sudah tersedia di sini jadi kau tidak perlu lagi datang ke apartmen." Ia meraih tangan Laura dan mendudukannya di sofa tunggal tepat di ruang tamu. Diko membungkuk dengan dua tangannya yang kekar mengurung Laura.
"Di mana kau bertemu dengannya?" tanya Diko. Kening Laura mengkerut sepertinya tidak paham apa yang dimaksud Diko.
"Pertemuan di ruang meeting kalian tampak akrab satu sama lain dan di kantin tad---
Laura memungkas ucapan Diko. "Nick?" lirihnya.
Diko meraih dagu Laura dan mencium bibirnya. Laura tercengang karena Diko menciumnya dengan kasar.
"Dia Nicky. Bukan Nick!" tegas Diko. "Mesra sekali panggilanmu untuknya!"
__ADS_1
Laura mengusap bibirnya."Sama saja, orang yang sama." Ia tidak paham kenapa Diko bersikap seperti ini.
Diko berdiri tegap dan mengepalkan tangan. "Kau tidak pernah datang ke sini sebelumnya, kenapa kau bisa mengenalnya? Di mana kau menggodanya?" Diko teringat jas yang ada di kamar Laura tampak sama dengan jas yang dipakai Nick.
JEDER!!!!
Menggoda? Darah Laura terasa mendidih, apakah ia terlihat seperti wanita penggoda? Kenapa Diko tidak bisa menihat hal positif darinya?
Laura berdiri dan memukul dada Diko dan berteriak. "Kau yang membuat aku mengenal dia! Kau meninggalkan aku di rumah sakit, kau tidak memikirkan aku yang ketakutan berada di tempat itu, kau tidak tau bahaya apa yang mengintaiku! Dan ...." Laura menggantungkan ucapannya, matanya sudah mulai berkaca-kaca mengingat perlakuan Diko terhadap Tiara. "Kau membawa Tiara pergi di pesta pernikahannya, kau pergi tanpa menghiraukan perasaanku, apa kau tau apa yang aku rasakan?"
Laura mengecilkan suaranya, ia kembali menunjuk dada Diko. "Kau pergi meninggalkanku di malam itu, kau tidak perduli padaku, bukan? Kau pikir siapa yang mengantarku pulang ke aparmen?" Laura tertawa namun, manik matanya mengeluarkan air mata.
Diko terdiam tangannya sudah mulai melemah, ia mengulurkan tangan untuk mrnghapus air mata Laura tapi, Laura menepis tangannya.
"Menggoda?! Apa aku tampak seperti wanita murahan?" Laura semakin tertawa. "Bodoh ... aku bodoh!" Laura menarik kerah kemeja Diko. "Apa kau lupa siapa yang masuk ke dalam kamarku? Apa aku yang menggodamu terlebih dulu? Apa aku seperti wanita murahan karena tidak menolakmu?" teriak Laura, ia mendorong dan memukul dada bidang Diko.
Diko mencerna ucapan Laura dan membiarkan istrinya meluapkan emosinya.
"Bolehkah aku menyerah? Kau suka pergi dan meninggalkan aku semaumu, bukan? Pergilah Diko ... pergilah. Lebih baik kau yang pergi karena, jika nanti aku yang pergi." Laura terisak dan sekilas memejamkan mata. "Aku sulit untuk kembali padamu dan mungkin, perasaanku tidak lagi sama."
"Laura...."
Laura tidak perduli lagi, ia berlari menaiki anak tangga menuju lantai dua. Diko pun mengejarnya.
"Lepaskan aku!" teriak Laura ketika Diko meraih tangannya. "Lepaskan!"
"Nggak!" Diko semakin mengeratkan pegangannya. "Maaf ... maafkan aku." Diko mendekap Laura ke dalam pelukannya, tangannya membelai rambut Laura yang masih menangis di dadanya."Maaf kalau selama ini aku sudah terlalu banyak menyakitimu, ucapanku tadi ... semua karena aku cemburu, Laura."
Perlahan, kedua telapak tangan itu menangkup wajah Laura, ia tatap manik mata Laura yang merah karena menangis. Mata sayu Laura masih menyiratkan kekecewaan meskipun Diko mengaku kalau ia sedang cemburu.
"Aku cemburu melihat istriku dekat dengan laki -laki lain. Jangan buat aku cemburu, Laura."
🌹🌹🌹
Visual Daniel dan Tiara sudah ada di Instagram, foto baby boy juga ada, kalau kurang jelas bisa lihat di fb. Kalau mentemen kurang cocok dengan visualnya bisa bayangin dengan visual pilihan masing-masing ya.
Instagram. : Violla536
Facebook : Violla
__ADS_1
Terima kasih