
PARIS
Sudah beberapa hari ini Daniel sibuk mengurus dokumen-dokumen penting di perusahaan, ia sengaja menyelesaikan urusan kantor lebih cepat dari waktu yang sudah ditentukan. Daniel sudah berancang-ancang untuk cuti panjang menemani Tiara selama 24 jam penuh menanti persalinan anak pertama meraka.
Meskipun Papa Remon memercayakan dan sudah memberikan jabatannya kepadanya, ia tidak mau semena-mena memanfaatkan kedudukan dan kekuasaan, Daniel tetap profesionl kerja seperti saat masih bekerja sama dengan Andre dan Wira di Indonesia.
Daniel tahu betapa sulitnya membangun dan mempertahankan perusahaan, sehingga ia tidak mau mengecewakan orang-orang yang terlibat di dalamnya.
Siang hari di rumah Daniel.
Mobil mewah milik Mike adik Daniel sudah terparkir di halaman rumah kakaknya. Mike sengaja datang untuk mengunjungi Tiara yang sedang hamil besar, tetapi para pengawal menghadangnya tepat di depan pintu utama.
Mike membuka kaca mata hitam yang bertengger di hidungnya. "Kenapa kalian menghalangi jalanku?" Mike memicingkan mata ia tidak suka seolah-olah dianggap penjahat di rumah kakaknya sendiri.
"Tuan Daniel melarang siapapun masuk ke rumah tanpa ijin darinya!" Seorang pengawal berbadan kekar berdiri di depan pintu, baru kali ini ia melihat orang asing masuk ke pekarangan rumah Tuannya.
"Aku ini adiknya kenapa harus minta ijin terlebih dulu? Apa kalian pikir aku ini penjahat, hah?"
Mike kesal setengah mati, bagaimana tidak? Dirinya baru saja tiba di Paris, tapi malah mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan.
Dari dalam rumah, Tiara tidak berpaling dari layar datar yang menampakkan tampilan CCTV di luar rumah.
"Ada keributan apa di luar?" tanya Tiara pada seorang pelayan yang sudah lama bekerja di rumah mertuanya.
"Sepertinya itu Tuan Mike? Mungkin, para pengawal tidak mengijinkan dia masuk, Nona."
"Mike? Bukankah dia menetap di Kanada? Cepat buka pintunya biarkan dia masuk!"
"Tapi kita belum minta Ijin Tuan Daniel, Nona."
"Apa bedanya suamiku dengan aku? Lagipula Mike bukan orang lain di keluarga ini." Tiara beranjak dari duduknya. "Sudahlah biar aku saja!"
"Baiklah, Nona tunggu di sini saja." Menahan tangan Tiara dan membantunya duduk dengan nyaman seperti semula.
"Kenapa kalian suka mempersulit?" gumam Tiara sembari melihat punggung pelayan semakin mengecil di matnya.
Beberapa saat kemudian.
__ADS_1
"Kakak Ipar!!" Mike merentangkan tangan, ia mendekati Tiara dan memeluknya tanpa ijin. "Bagaimana kabar kakak ipar dan calon keponakanku?" Mike melepaskan pelukannya dan memberikan buket bunga kepada Tiara.
Tiara canggung menerimanya. "Oh, kamu Mike ... harusnya tidak perlu repot-repot seperti ini dan kami baik-baik saja. Duduklah, Mike."
Tiara dan Mike duduk di sofa ruang keluarga, hanya ada meja kecil yang menjadi pembatas jarak antara mereka.
"Kapan sampai di Paris, Mike?" tanya Tiara basa-basi, ini pertemuan pertama selama ia berada di Paris.
"Aku baru saja mendarat di Paris. Kakak tau rumah ini menjadi tempat tujuan pertamaku," jawab Mike, ia memegang perutnya. "Dan aku sangat lapar!"
"Astaga, Mike! Ayo aku temani kau makan siang." Tiara meletakkan buket bunga di atas meja, lalu mengajak Mike ke ruang makan.
"Kau baik sekali kakak ipar, tidak salah Daniel memilihmu, sini biar aku bantu!" Mike memegang tangan Tiara. "Perutmu yang besar ini membuatmu susah berjalan."
"Kau yang terlalu berlebihan, Mike!" Tiara meminta pelayan menyiapkan makan siang untuk Mike?
Tidak menunggu waktu lama, makanan sudah tersaji di atas meja. Mike mulai lahap memakannya sementara Tiara hanya menemaninya saja.
"Kakak tidak makan?" tanya Mike sembari mengunyah makanan di mulutnya.
"Tidak Mike, kau lihat aku semakin gendut," canda Tiara, mereka berdua tertawa tanpa ada rasa canggung sedikitpun. "Boleh aku tanya sesuatu, Mike?" tanya Tiara sembari mengupas kulit jeruk.
"Kau sengaja pergi ke Kanada karena mau menghindari Daniel? Apa kau masih marah padanya?"
Mike tersenyum tipis. "Apa itu yang kalian pikirkan tentangku? Ayolah, aku bukan anak kecil lagi yang akan marah bila kehilangan mainan kesukaannya. Aku sudah dewasa dan secara tidak langsung kehadiran kakak sudah menyadarkan aku tentang arti keluarga yang sesungguhnya, apa artinya kedudukan dan kekayaan jika keluarga saling bermusuhan? Aku sudah sangat bahagia dengan hidupku, hidup di tengah-tengah keluarga yang harmonis, punya kakak ipar cantik dan---
"Dan kau sudah terlalu banyak memuji istriku!" Daniel memungkas ucapan Mike, ia berjalan cepat dan berdiri di belakang Tiara. "Kau di sini, Tiara?" Ia menahan pundak Tiara agar tetap duduk di tempatnya.
Tiara terkejut karena sudah lama Daniel tidak menyebut namanya. Biasanya pria ini akan memanggilnya sayang.
Mike tahu kalau saat ini Daniel sedang cemburu, ia tidak mau membuat suasana ini menjadi kacau, sembari tertawa ia kembali melanjutkan bicaranya. "Dan punya kakak sepintar Kak Daniel, aku mau bilang itu." Mike menghampiri Daniel dan memijit lengan kekarnya. "Kau semakin tampan saja, pasti kakak iparku ini mengurusmu dengan baik. Lenganmu saja semakin keras," pujinya.
Daniel semakin kesal. "Kau mau aku pukul, lagi?" Wajahnya masih cemberut.
"Hahahaha kau semakin mengerikan saja, kak. Aku datang ke sini cuma mau melepaskan rindu saja. Sudahlah aku pergi dulu, terima kasih makan siangnya, Kakak ipar!" Mike pergi meninggalkan Daniel dan Tiara di dapur, ia tahu kalau Daniel tidak benar-benar marah padanya.
Karena, hubungan mereka sudah semakin membaik.
__ADS_1
Daniel marah karena Tiara menghabiskan makan siang berdua dengan Mike tanpa ijinnya. Belum lagi bunga di atas meja semakin memanasi hatinya.
"Kalian sudah semakin akrab saja, ya? Kau bahkan menyambutnya dengan baik!" Daniel menarik kursi dan duduk di samping Tiara.
"Sayang, kenapa marah?" Tiara menggenggam tangan Daniel. "Sama adik sendiri kok cemburu, sih?"
"Biar bagaimanapun dia itu seorang pria, melihatmu tersenyum dengannya saja aku tidak suka, apa lagi kalian menghabiskan waktu berdua seperti ini?" Daniel mengeraskan suaranya, ya, sampai sekarang ia belum bisa mengontrol cemburunya.
"Terserahlah, susah bicara sama kamu! Kamu dibiarkan semakin menjadi, apa selama ini aku pernah ngeluh? Aku nggak pernah keberatan dikurung di rumah, selalu diawasi dari CCTV, kalau kalau keluar rumah pun harus dikawal. Apa aku pernah protes? Apa semua itu belum cukup untukmu?"
BRAK!!!
Tiara menggebrak meja dan beranjak pergi.
"Bukan begitu maksudku, Tiara!" Daniel merasa bersalalah kemudian menyusul Tiara, ia tidak melihat Tiara di ruang keluarga, samar-samar telinganya mendengar percakapan beberapa orang di ruang tamu. Kaki panjangnya melangkah cepat mencari tahu siapa lagi tamu yang datang ke rumahnya.
***
Andre dan Moza sengaja datang ke rumah Tiara untuk berpamitan, pesta pernikahan mereka sudah beberapa hari yang lalu digelar dan rencananya hari ini juga pengantin baru ini akan kembali ke Indonesia.
"Maaf, nunggu lama, ya kak?" Tiara memeluk Moza sangat erat, diciumnya pipi kakak yang sudah banyak berkorban untuknya. Tiara tidak bisa menahan tangisannya, ia sedih karena akan berpisah dari Moza.
"Kenapa nangis?" Moza mengelus punggug Tiara, melepaskan pelukannya lalu menghapus air mata yang mengalir di pipi adiknya. "Sayang lihat, adikku ini sudah dewasa dan sebentar lagi menjdi seorang ibu." Moza berusaha menahan air matanya, sebenarnya, ia pun berat pisah dari Tiara. Tapi, Moza sadar kalau Tiara sudah bukan tanggung jawabnya lagi.
Moza melihat Andre yang duduk di sampingnya. "Sayang, apa nanti perutku akan membesar seperti ini?" Moza mengelus perut Tiara.
"Kamu meragukan aku, ya?" Andre merangkul pinggang moza. "Nanti kita buktikan di rumah, ya," canda Andre diselingi tawa.
"Kamu, ini!" Wajah Moza merona, ia teringat bagaiman buasnya Andre ketika bersamanya.
Tiara menangis bahagia karena yakin kalau Andre akan menjaga kakaknya, ia lega karena Moza sangat bahagia menjalani pernikahannya.
Daniel datang dan panik melihat Tiara masih menangis, ia memeluk Tiara dan menyandarkan kepala istrinya di dadanya.
"Sayang, maafkan aku," ucapnya lirih dan sesekali mencium kepala Tiara.
***
__ADS_1
Menjadi Istri Simpanan hanya sampai 100bab, ya. Mungkin juga bisa kurang dari itu.