Menjadi Istri Simpanan

Menjadi Istri Simpanan
Liana Menemui Nicky


__ADS_3

Liana datang ke kantor suaminya, Nicky. Dengan perasaan campur aduk, Liana melangkah menuju ruangan suaminya itu.


"Selamat datang, Nyonya."


"Oh, hallo...."


Liana dan sekertaris pribadi Nicky saling bertegur sapa. Liana terlihat tidak fokus dan hanya menorehkan senyum kakunya.


"Silakan, Nyonya."


Dengan ramah Sekertaris membukakan pintu dan mempersilakan Liana masuk dalam ruangan Direkturnya.


"Terima kasih," jawab Liana yang langsung masuk dalam ruangan, tanpa mengulur waktu.


Pintu ruangan kembali ditutup oleh Sekertaris, Liana segara melangkah mendekati Nicky yang sedang duduk menatap layar komputer.


"Sayang," sapa Liana pada Nicky.


Nicky memalingkan wajah, "Sayangku, kau sudah datang. Duduklah," kata Nicky berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiri Liana yang tidak jauh darinya.


Nicky mengajak Liana duduk di sofa, Liana masih enggak untuk bicara. Namun, jika tidak bicara makan ia tidak akan cepat selesai menangani masalah Bobby.


Melihat Liana yang diam, Nicky menjadi cemas. Nicky menggapai tangan Liana yang duduk disampingnya, digenggamnya tangan Liana agar Liana itu merasa tenang.


"Katakan, ada apa sayang?" tanya Nicky.


"Hm, maafkan aku sebelumnya. Aku tidak tahu lagi, aku harus bagaimana dan harus apa. Tolong jangan marah," kata Liana.


Nicky mengernyitkan dahi, "Bicaralah," kata Nicky bersuara lembut.


"B-Bobby...," kata Liana terdiam sesaat.


Nicky melebarkan mata, "Ya, ada apa dengannya?" tanya Nicky tidak sabar.


"Bobby datang ingin mencari Maurine," kata Liana.


Nicky menghela napas panjang, "Sayang, jujur saja. Aku tidak paham dengan apa yang kau bicarakan, Bobby mencari Maurine, bukankah Maurine menolak ikut bersamamu dan memilih tinggal bersama Bobby?" tanya Nicky.


Liana menganggukkan kepala perlahan, "Ya, kau benar. Maurine memang sebelumnya tinggal bersama Bobby. Tetapi sudah beberapa waktu ini, dia tinggal bersama suaminya. Aku akan ceritakan sesuatu, Bobby menjual Maurine untuk menjadi pekerja club malam, untuk melunasi hutang. Ada seorang pria yang tertarik dengan Maurine, dan akhirnya menikahi Maurine. Dia adalah Genta Aiden, dia merahasiakan pernikahannya dengan Maurine karena alasan tertentu. Tidak tahu mengapa Bobby mendatangi perusahaan Genta dan mencari Maurine. Bukankah itu keterlaluan?" jelas Liana panjang lebar.


"Biarkan aku mencerna ucapanmu sayang," jawab Nicky.


Nicky menatap Liana, "Apakah kau bertemu dengan Genta?" tanya Nicky.

__ADS_1


"Ya, aku bertemu dengannya dan kami bicara empat mata sebelum aku menjenguk Maurine di Rumah Sakit."


"Apakah masalah Norry, ada kaitannya dengan Maurine? sehingga Genta bertindak? ah, maaf sayang. Aku hanya ingin tahu saja," kata Nicky.


"Ya, kau benar. Maafkan aku," kata Liana.


"Untuk apa meminta maaf, akulah yang bersalah. Ini sudah lama, tetapi Norry masih belum bisa menerimamu. Bukankah aku yang patut untuk disalahkan?" ucap Nicky.


"Kau sudah sangat baik padaku, Nicky. Jangan menyalahkan dirimu untuk ini. Aku yang gagal meluluhkan hati Norry," jawab Liana menatap Nicky dengan senyuman.


"Sudah-sudah, lupakan dulu masalah Norry. Hm, apa kau ada rencana sekarang?" tanya Nicky.


"Aku ingin menemui Bobby, bolehkah? umh, aku hanya ingin bertanya mengapa dia...," kata-kata Liana terputus oleh Nicky.


"Jangan dulu menemuinya. Aku akan minta bantuan seseorang untuk selidiki masalah ini. Jika seperti yang kau ceritakan, dia pasti sudah dilindungi seseorang. Untuk berjaga-jaga, jangan sampai kita lengah dan terpancing Liana."


Liana melebarkan mata, "Kau benar. Aku melupakan sesuatu. Bobby adalah pecundang, tidak mungkin dia benar-benar berani menemui Genta tanpa ada yang mendukungnya. Maaf, aku terlalu gegabah."


Nicky mengusap kepala Liana, "Tenangkan dirimu dulu. Aku akan urus ini untukmu, jangan khawatir. Oke," bujuk Nicky.


Liana menganggukkan kepala, "Terima kasih," kata Liana bersuara lembut.


"Ya, jaga kesehatanmu dan jangan terlalu banyak berpikir lagi. Aku menyayangimu," ucap Nicky mengecup kebing Liana dengan sangat lembut.


Liana memeluk Nicky, Liana merasa senang bisa bertemu dengan Nicky. Andai saja sejak awal bisa mengenal Nicky, andai saja dia tidak melarikan diri dalam perjodohan, mungkin nasib buruk tidak akan datang.


Nicky memeluk erat tubuh Liana yang begetar karena terisak. Nicky tahu, Liana sangat sedih dan merasa tertekan.


"Maaf," lirih Liana dalam tangisannya. Liana melepaskan pelukannya dan menundukkan kepala.


"Untuk apa? lihat mataku, Liana. Tolong," kata Nicky menadahkan dagu Liana sehingga ia bisa melihat mata Liana yang berkaca-kaca.


"Andai saja aku tidak melarikan diri, mungkin keadaan kita tidak seperti ini."


"Belum tentu. Kau lihat? kau pergi dan aku menikah, tapi aku kehilangan istriku sampai akhirnya aku bertemu denganmu kembali. Ini bukan kesalahamu, Liana. Pertemuan, perpisahan adalah takdir."


"Aku sungguh menyesal saat itu menolak perjodohan itu. Andai aku tau itu kau, Nicky. Andai aku tahu pria yang akhirnya aku nikahi adalah seorang pria yang brengs*k. Andai...," kata-kata Liana terhenti, Liana diam tanpa biacara lagi.


Nicky menyeka air mata Liana, "Dengar aku baik-baik sayang. Jangan pernah menyesali semua yang sudah kau lakukan. Itu adalah keputusanmu, apapun hasil keputusanmu kau harus bisa menerimanya. Kau mungkin menyesal bertemu dan menikah dengan Bobby, tetapi..., apakah kau lupa jika hal itu tidak terjadi, bagaimana Maurine hadir dalam hidupmu? mengisi hari-harimu," ucap Nicky.


Deg....


Deg....

__ADS_1


Deg....


Jantung Liana berdetak. Liana hampir saja melupakan sesuatu yang berharga. Dia hampir saja lupa, tanpa melalui hal yang sesalinya. Bagaimana bisa Maurine hadir, Maurine yang selama ini selalu disayanginya dengan sepenuh hati.


Apa yang diucapkan Nicky semuanya benar. Penyesalan memang datang diakhir cerita, dan menyisakan kepedihan yang mendalam.


"Kau tidak marah padaku?" tanya Liana.


Nicky menggelengkan kepala, "Tidak. Aku tidak pernah membencimu. Aku mencintaimu, sayangku."


"Nicky," lirih Liana memeluk Nicky erat-erat.


"Lupakan semua yang telah berlalu, Liana. Sekarang kau adalah istriku, jangan sungkan ataupun merasa canggung padaku. Sekian lama menikah, akhirnya kau mengungkapkan perasaanmu yang sesungguhnya padaku. Aku merasa bahagia, bukan karena kejadian yang menimpamu. Melainkan karena takdir kita yang begitu kuat."


"Mungkin, kau memang pria yang ditakdirkan Tuhan untukku, Nick."


Nicky melepas pelukan, "Oh, Tentu saja. Dimana lagi kau akan menjumpai pria tampan dan baik sepertiku?" kata Nicky menggoda Liana.


Liana tersenyum, "Kau ini, penyakit percaya dirimu mulai kambuh. Hahahaha," jawab Liana tertawa.


Nicky tersenyum, ia bahagia bisa membuat Liana mengakui perasaanya yang sejujurnya. Rasa bersalah, penyesalan memang selalu datang. Nicky berharap ia akan terus membuat istrinya itu tersenyum bahagia.


Meski pernah terluka karena ditolak mentah-mentah. Dulu, saat ia dan Liana akan dijodohkan, rasa bahagia tidak bisa diungkapkan lagi. Namun, seketika rasa bahagia berganti dengan kekecewaan yang terus disimpan oleh Nicky dalam hatinya.


Nicky yang tahu seperti apa Liana sudah mulai menyukai Liana hanya dengan memandang foto Liana. Sedangkan Liana, ia tidak pernah mau melihat foto calon suaminya, Nicky.


Saat Liana pergi dan akhirnya memutuskan hubungan keluarga. Disaat itulah Nicky mulai putus asa, ia pasrah dengan perjodohan yang diatur orangtuanya untuk yang kedua kalinya. Mencintai istri? Menyayangi istri? tidak pernah sama sekali dipikirkan oleh Nicky. Lalu bagaimana bisa Nicky berakhir dengan mempunyai Nicholas dan Norry? kedua putra dan putrinya adalah hasil hubungan gelap istrinya dan Kakak kandungnya. Istri Kakaknya tidak bisa mengandung dan melahirkan anak, sedangkan istrinya frustasi karena Nicky menolak untuk dilayani, dan begitulah sampai akhirnya Kecelakaan merenggut nyawa Kakak dan Kakak iparnya dalam perjalanan bisnis keluar negeri.


Sampai detik ini, rahasia itu tersimpan rapi. Hanya dirinya sendiri, mendiang istrinya dan dan mendiang Kakak juga Kakak iparnya yang tahu akan kejadian yang memalukan itu.


Bagi Nicky, anaknya ataupun bukan tidak masalah. Nicholas dan Norry adalah bayi yang tidak berdosa yang lahir dari rahim istri sahnya. Mau tidak mau Nicky akan memberi muka untuk mendiang istri dan keluarganya dengan mengakui Nicholas juga Norry adalah anaknya.


Mungkin, sekaranglah saatnya bagi Nicky untuk bahagia. Bahagia saat hidupnya sudah pada setengah jalan, bertemu dan menikahi wanita yang amat dicintainya. Tugasnya kini hanya perlu memberikan cinta, kasih sayang juga kebahagiaan untuk wanitanya, Liana.


"Asalkan kau bahagia, apapun akan aku lakuakan, Liana. Aku tidak ingin melihatmu bersedih dan menangis," batin Nicky.


***


ig: dea_anggie


Line id: dea_anggie


Fb: dea anggie

__ADS_1


Grup FB: Lelaki Bayaran Amelia


❤❤❤❤❤


__ADS_2