Menjadi Istri Simpanan

Menjadi Istri Simpanan
Kenapa Sulit Mengatakan Cinta?


__ADS_3

Harusnya ia mengatakan cinta, mengungkapkan rasa gelisah yang sudah bersarang di hatinya. Gelisah ketika menyebut nama Laura, gelisah ketika mengingat Laura di semua tempat. Ya, sudah beberapa hari ini pikirannya dihantui oleh satu wanita yang sudah lama ia kenal dan sudah resmi menjadi istrinya. Namun, ntah mengapa kata cinta sulit keluar dari bibirnya. Diko tidak berniat mengabaikan Laura, ia sengaja diam mencoba berdamai dengan diri sendiri, mengenali isi hati dan meyakinkan jika seluruh relung hati ini sudah diisi Laura yang sedari awal ia tolak kehadirannya.


Perasaan apa ini? Mata, telinga, semua organ tubuhnya terasa sakit melihat ada orang lain menatap Laura. Kenapa? Mungkinkah ia cemburu? Cemburu kenapa? Mungkinkah ia sudah mulai mencintai? Tapi, kenapa sulit sekali mengatakannya? Sekali lagi, ia pengecut dan terlalu takut kehilangan untuk yang kesekian kali. Diko sudah pernah menggenggam mawar tapi, tangannya tertusuk duri. Bagaimana jika wanita ini juga pergi?


"Jangan pergi, Laura. Kau bilang mau membantu agar aku bisa mencintaimu?"


Laura menjatuhkan tangan Diko dari pipinya, ia menghapus sisa-sisa air mata menggunakan punggung tangannya. Kenapa susah sekali memahami laki-laki ini?


"Percuma ... sekeras apapun aku membantu dan mencoba. Semua akan berakhir sia-sia karena kamu belum bisa berdamai dengan dirimu sendiri. Aku tidak mau berusaha menjadi lebih baik hanya untuk menarik simpatimu, jika kau cinta aku maka, katakan cinta. Jika tidak ... aku berhenti di sini jadi buang jauh rasa cemburumu yang tidak beralasan itu."


Pertama kalinya Laura bicara ketus, tidak ada senyuman, tidak ada keramahan di wajahnya. Sudahlah, bukankah kesabaran ada batasnya?


"Aku bukan wanita yang dianugerahi kesabaran melimpah dan tiada batas." Air mata ini keluar lagi. Biar! Biarkan ia mengungkapkan isi hatinya. Laura menghembuskan napas yang terasa sesak di dada. "Huh! Ya ... aku memang wanita penggoda, aku berhasil menggodamu sampai kau bersedia menikahi aku, kau pikir aku sangat mencintaimu?"


Rahang Diko mengeras, urat-urat kecil di kening sudah mulai terlihat, ia hanya diam mendengarkan ocehan Laura.


Laura tidak takut ia memaksakan senyum dan memegang kedua bahu Diko. Laura berjinjit dan berbisik. "Wanita penggoda ini hanya menjalankan tugas merayumu dan mengalihkan hartamu kepada papaku. Papaku bahkan sudah lama mengecapku sebagai wanita penggoda."


Laura kembali pada posisi semula, telapak tangannya bermain di wajah Diko, memukul dan menampar kecil semaunya. "Aku sudah biasa mendengarnya tapi, hari ini terasa sangat sakit ketika kata itu terucap dari bibirmu, aku baru sadar kalau kau memang tidak pernah memikirkan perasaanku jadi, biarkan aku melakukan hal yang sama."


Diko tidak terima jika Laura berencana menjauhinya. "Aku sudah minta maaf."


"Tidak ... maafmu hanya untuk memulihkan keadaan, bukan untuk memulihkan perasaanku." Laura berlari sampai menemukan kamar berukuran besar yang mungkin sudah disiapkan Diko menjadi tempat istrahat mereka.


Tangisannya semakin menjadi, ia terduduk di lantai dan mengutuk keadaan ini?


"Kenapa? Kenapa harus seperti ini?" Ia memukul dadanya yang terasa sesak.


***


Tiga jam sudah berlalu, Diko masih berlalu-lalang di depan kamar Laura, mengetuk, memanggil dan menunggu pintu yang masih tertutup rapat. Berulang kali ia mengacak rambutnya. "Laura yang susah dimengerti atau aku yang sudah keterlaluan?" Diko merasa bersalah karena sudah membuat Laura teringat papanya.


"Laura, buka pintunya."


Hening.

__ADS_1


"Laura, kamu tidak mau makan?"


Hening.


"Huh! Ok sabar dan coba lagi." gumam Diko. "Laura ... mama mencarimu."


"Jangan bawa-bawa mama!" teriak Laura dari dalam kamar.


Diko mendapat angin segar. "Jangan seperti anak kecil, ayo kita bicara," bujuknya.


"Pergilah, aku mau istrahat!"


"Perutmu masih kosong, jangan tidur dulu. Daniel dan Tiara baru saja menelepon, dia mengundang kita makan malam di rumahnya bukannya tidak sopan kalau kit---


CEKLEK


Pintu dibuka dari dalam, Laura sudah berhenti menangis bahkan, sudah selesai mandi. "Kau bohong?" tuduhnya.


Laura masih marah dan kecewa, ia mencoba mengabaikan Diko. Belajar bertahan dan menyiapkan hati jika suatu hari nanti jarak diantara mereka semakin melebar, semoga ia kuat jika memang perpisahan itu terjadi. Untuk apa menanti sesuatu yang tidak pasti? Dirinya mencintai Diko namun, ia tidak mau dibutakan cinta.


Diko menggeleng pasti. "Tidak, bersiaplah." Diko merangkul bahu Laura dan mengajaknya masuk ke dalam kamar.


"Lepas!"


"Jangan marah-marah, nanti cepat tua." Diko membuka lemari dan memilih gaun untuk Laura. "Pakai ini." Ia menyerahkan gaun cantik berwarna biru yang menjuntai sampai mata kaki.


Menjelang malam, mereka tiba di halaman rumah Tiara. Laura masih mengunci rapat mulutnya, tidak banyak bertanya seperti biasa.


"Buka pintunya!" ketus Laura, ia marah karena Diko masih mengunci pintu mobil.


"Kamu cantik tapi kalau marah, cantukmu bisa hilang." Diko menyentuh pipi Laura. "Mau marah sampai kapan?"


Laura malas bicara.


"Kamu mau hadiah?"

__ADS_1


"Terserah!"


Diko menyerah membujuk dan tidak mau membuat suasana hati Laura semakin kacau, akhirnya ia membiarkan Laura keluar.


"Kenapa perempuan kalau sudah ngambek susah dirayu? Sudah dipuji, nggak juga mau luluh, jawabannya terserah." Ia mengekori Laura dari belakang.


***


Gumpalan daging di dalam rahim Tiara kini, sudah mulai membesar dan Tuhan sudah memberikan nyawa pada calon anaknya, perut Tiara semakin memmbesar dengan bantuan canggih alat medis mereka bisa mendengar detak jantung dan jenis kelamin anaknya.


Diprediksi, Tiara akan melahirkan seorang bayi laki-laki dalam hitungan beberapa bulan lagi. Daniel sudah tidak sabar ingin menyambutnya. Ia juga sudah menyiapkan kamar khusus untuk baby boy jagoan kesayangan, lengkap dengan mainan dan segala keperluan dang jabang bayi, akan seperti apa anaknya nanti?


"Mas, aku semakin gemuk. Kamu masih cinta kan sama aku?" ntah sudah yang keberapa kali pertanyaan itu terlontar dari bibirnya. Wajah, badan, tangan perut dan kaki sudah semakin membesar.


"No ... Perempuan hamil itu cantik, sayang. Seperti kamu, aura keibuanmu semakin terlihat, kesabaran dan kedewasaanmu juga bertambah, tidak lagi marah-marah ya ... meskipun sekarang sering ngambek dan nangis tanpa alasan."


"Tuh kan kamu ngeluh." Tiara menyubit paha Daniel yang duduk di sampingnya. "Makanya kamu jangan kerja aja biar aku nggak ngambek." Ia berbalik arah memunggungi Daniel.


Daniel memeluk dan mengusap perut Tiata dari belakang. Ia menyandarkan dagu di bahu Tiara. "Mas bule calon papa ini nggak ngeluh, Mas cuma jawab pertanyaanmu saja. Kamu harus tau bahwa, tidak akan ada yang bisa merubah cinta ini meskipun kita sudah mengalami perubahan fisik. Rambut memutih, kulit mengeriput, badan mulai membungkuk, cintaku tetap sama dan utuh untuk Mutiara," bisik Daniel.


Tiara terharu, ntahlah hormon kehamilan membuat perasaannya cepat berubah, sedih, marah dan bahagia disaat yang bersamaan. Beruntung Daniel selalu sabar menghadapinya. Tiara membaur ke pelukan Daniel meskipun perutnya terasa mengganjal namun, ia tetap merasakan dekapan hangat dari suaminya.


"I love you, husband," ucap Tiara tersipu.


"Love you to, My wife." Daniel mencium ubun-ubun Tiara.


Semudah itu mengatakan cinta? Daniel dan Tiara tidak menyadari kalau sedari tadi sudah ada pasangan suami istri yang sedang bertengkar berdiri tidak jauh dari mereka.


'Kenapa aku sulit mengatakan cinta?' batin Diko.


***


Perempuan kalau sudah ngambek, udahlah tahan diam berhari-hari😂


Visual Diko dan Laura segera di upload di instagram Violla536.

__ADS_1


__ADS_2