Menjadi Istri Simpanan

Menjadi Istri Simpanan
BEAUTIFUL IN WHITE


__ADS_3

Laura masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang. Diko berdiri tidak jauh darinya. Pria itu masih tersenyum padanya, menatapnya tanpa berkedip sedikitpun. Orang-orang disekitar tampak kompak memakai baju warna baby pink, dekorasi yang diusung pun bertema pesta pantai outdor berwaran putih bercampur baby pink. Semua merupakan warna kesukaannya.


"Tidak mungkin, semua ini bohong. Dia bukan suamiku lagi." Kakinya mundur lima langkah dan meragu, bagaimana tidak? Dalam beberapa hari ini Laura sudah belajar melupakan Diko, ia sudah menerima takdir yang memisahkan mereka, tapi kenapa pria itu hadir dalam sandiwara cinta yang meyakinkan ini?


Papa menahan tangan Laura agar putrinya tidak pergi. "Sayang, Diko masih menjadi suamimu. Laki-laki baik itu tidak pernah menceraikanmu, lihatlah dari dekat supaya kamu tahu betapa besar cinta yang ia miliki untukmu. Kamu tidak perlu meragukan dia."


Kedua tangan Laura mencengkram gaunnya, ia bingung kemana kakinya akan melangkah. Semua terlihat nyata. Tapi, bagaimana dengan surat cerai itu?


Kini, bukan cuma papa yang berada di sampingnya tapi, Nicky pun sudah berdiri dan memegang tangannya.


Laura menoleh dilihatnya Nicky tersenyum padanya. "Ap-apa ini mimpi? Papa dan Kakakku ada di sini?" Air mata Laura jatuh begitu saja, semua ini persis seperti khayalannya, berada diantara keluarga kandung yang akan mencintainya.


Nicky menghapus air mata Laura. "Jangan menangis lagi. Kami ada di sini untuk merayakan kebahagiaanmu. Percayalah, Diko sangat mencintaimu sama seperti kamu mencintainya."


Nick pun berusaha menahan air matanya, sudah banyak waktu yang mereka buang percuma tapi ia bersyukur bertemu Laura di waktu yang tepat. Ketika Laura dipenuhi cinta dari laki-laki yang sudah menjadi suaminya.


Nicky membelai ubun-ubun Laura. "Berjanjilah untuk selalu bahagia," ucapnya sembari menyeka sudut mata yang mulai basah.


"Kakak juga akan bahagia, kan?" tanya Laura lirih.


Nick diam sejenak, bagaimana bisa bahagia disaat wanita yang sudah mencuri hatinya tengah mendekam di penjara? Tapi, ia tidak mau merusak kebahagiaan Laura, tidak mau dibutakan kisah cinta yang belum di mulai.


"Melihatmu seperti ini saja sudah membuatku bahagia. Aku tidak butuh siapapun lagi, Laura," jawab Nick yakin.


"Sekarang waktunya Papa menyerahkan putri Papa yang cantik ini pada pria bertanggung jawab yang sudah menjadi suamimu." Papa melingkarkan tangan Laura di lengan kanannya.


"Kakak pun akan melakukan hal yang sama." Nick melingkarkan tangan Laura di lengan kirinya. "Mana senyummu, hem?" Nick tersenyum menggoda adiknya.


Laura tersenyum dan melihat lurus ke depan, kakinya melangkah pelan ke tempat di mana suaminya sudah menunggu. Taburan kelopak bunga mawar dan lagu romantis mengiringi perjalanannya.


Diko sudah kembali bernapas lega, ia yakin kalau Nicky dan mertuanya sudah berhasil meyakinkan Laura. Sekali lagi Diko terpesona melihat kecantikan istri yang ia rindukan.


BEAUTIFUL IN WHITE a song by WESTLIFE


So as long as I live I'll love you,


Selama aku hidup, ku kan mencintaimu


Will have and hold you


Akan memiliki dan memelukmu


You look so beutiful in white


Kau terlihat sangat cantik bergaun putih


And from now till my very last

__ADS_1


Dan mulai sekarang hingga akhir


Breath, this day I'll cherish


Nafasku, hari ini akan selalu ku kenang.


You look so beautiful in white.


What we have is timeless.


Apa yang kita miliki adalah abadi.


My love is endless


Cintaku tiada akhirnya


And with this my ring


Dan dengan cincinku ini


I say to the word


Ku katakan pada dunia


You're my every reason


You 're all that I belive in


Kau adalah segala yang ku percayai


With all my heart


Dengan separuh hatiku


I mean every word


Ku ucap setiap kata-kata sungguh-sungguh


So as long as I live I'll love you


Selama aku hidup, ku kan mencintaimu.


Will have and hold you


Akan memiliki dan memelukmu.


You look so beautiful in white.

__ADS_1


Kau sangat cantik bergaun putih.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Lagu itu berakhir ketika Laura dan Diko sudah saling berhadapan, saling memandang dalam keheningan. Nick dan Papa melepaskan tangan Laura.


"Papa percaya kalau kamu akan menjaga dan menyayangi anak Papa. Tidak ada laki-laki manapun di dunia ini yang bisa mencintai Laura seperti kamu." Papa menepuk lengan Diko dan menyerahkan Laura dengan sepenuh hati.


"Jaga adikku, Diko." Nicky ikut menimpali.


Diko tersenyum. "Saya berjanji untuk selalu mencintai Laura," ucap Diko lantang di depan semua orang, di depan karyawan kantor yang selama ini tidak tahu kalau Laura adalah istrinya.


Diko mengambil cincin pernikahan yang sempat dilepaskan Laura dan berlutut di depan istrinya.


"Bagaimana bisa pria yang begitu mencintaimu menyiapkan surat perceraian itu? Percayalah, aku tidak bisa hidup tanpamu. Tolong, terima aku dan jangan pergi lagi. Aku tidak mau kehilnganmu dan anak kita, aku tersiksa jauh dari kalian. Tolong maafkan kebodohanku dan pakailah cincin yang akan mengikat cinta kita untuk selamanya."


Diko sungguh-sungguh mengatakan isi hatinya, mendongakkan kepala dan menatap manik mata Laura.


Laura sudah menangis, hatinya tersentuh mendengar penuturan Diko. Benar, dari mata Diko ia bisa melihat cinta yang besar untuk dirinya.


Laura mengulurkan tangan, ia bersedia memakai cincin itu lagi. "Kamu lebih tahu, seberapa besar cintaku untukmu, Diko. Setelah ini kamu harus terima hukuman dariku," ancam Laura, meskipun cintanya tidak pernah pudar tapi, ia masih kesal karena diam-diam Diko bekerja sama dengan Oca bahkan, memantaunya dari juauh. Belum lagi mendiamkan salah paham tentang surat palsu itu. Tidak adil!


"Aku tidak akan menghindar dari hukumanmu, sayang." Diko menyematkan cincin di jari manis Laura, lalu berdiri dan mengecup kening Laura.


Riuh tepuk tangan dari para tamu semakin terdengar. Oca bahkan sampai menangis haru dan bangga sudah ikut merancang rencana Diko.


"Romantis, ya?" celetuk Rey tiba-tiba.


Oca buru-buru menghapus air mata. "Apa sih? Biasa aja!" jawab Oca tanpa melihat Rey.


Rey tertawa gemas. "Gimana kalau kita menikah juga?" tanya Rey.


Oca menoleh dan terbengong melihat kotak beludru warna merah di telapak tangan Rey. "Maksudnya?" Dahinya mengkerut sampai terlihat banyak garis di sana.


"Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku dan aku ingin kamu menjadi istriku." Rey mengmbil cincin berlian yang sudah ia siapkan dari jauh hari. "Hari ini dan di tempat ini aku melamarmu, Oca Andriani. Mau kah kamu menjadi istriku?" tanya Rey sungguh-sungguh.


Oca tidak tahu harus menjawab apa, memang Rey tampan dan mapan. Tapi, terkadang sikapnya sulit ditebak. Kadang cuek dan sekarang melakukan hal yang tidak terduga.


"Sudah terima saja!" teriak Nenek dan beberapa orang yang ada di sana.


***


Anggap saja ini Diko dan Laura๐Ÿ˜…



__ADS_1


__ADS_2