
Malam harinya....
Nicky diam-diam pergi dari rumah. Nicky pergi menemui Bobby tanpa istrinya, Liana. Nicky berharap pertemuannya dengan mantan suami istrinya tersebut berjalan lancar. Nicky hanya ingin bertanya beberapa hal pada Bobby secara pribadi tanpa melibatkan Liana.
Setelah menempuh hingga 30 menit perjalanan. Nicky tiba di rumah yang ditinggali Bobby. Setelah menerima informasi dari orang yang dibayarnya, Nicky memutuskan untuk menemui Bobby dengan pertimbangkan yang matang.
Pintu tumah sederhana itu diketuk Nicky, ia terlihat tidak sabar untuk menemui Bobby.
Tok....
Tok....
Tok....
Suasana hening, tidak ada pergerakan apa-apa. Beberapa kali Nicky mencova mengetuk, ia sangat berharap Bobby keluar dan menemuinya. Nicky melihat sekeliling dan kembali mengetuk pintu rumah Bobby sekali lagi. Namun, lagi-lagi tidak ada jawaban atau pergerakan.
"Apa dia sudah pindah?" gumam Nicky kembali menatap lekat rumah dihadapannya.
Nicky mendesah, ia berbalik dan hendak pergi untuk kembali pulang. Disaat bersamaan Nicky berbalik, disaat itu pula Bobby datang dari arah lain untuk masuk dalam rumahnya. Bobby berjalan terhuyung, ia dalam keadaan setengah mabuk.
Bobby menatap Nicky dan mengabaikan Nicky, seolah tidak mengenali Nicky. Nicky pun memanggil Bobby dan menghentikan langkah Bobby.
"Bobby," panggil Nicky.
Bobby berhenti dan berbalik, ia menatap Nicky.
"Kau siapa?" tanya Bobby.
"Kau tidak mengenalku?" tanya Nicky.
Bobby melangkah mendekati Nicky, "Kau...," kata Bobby terdiam.
"Ya, ini aku."
"Kau...," kata Bobby lagi, "untuk apa kau datang? kau pencuri," ejek Bobby menatap tajam arah Nicky.
"Aku? pencuri? jika aku pencuri, kau adalah pecundang, Bob. Ingatlah, Liana tidak akan pergi meninggalkanmu tanpa alasan. Wanita mana yang tahan kau siksa hah?" sentak Nicky emosi.
"Apa yang salah, dia istriku."
"Istri bukan untuk kau siksa. Bukankah kau berjanji akan membuatnya bahagia? kau sudah gagal, Bobby."
"Diam," sentak Bobby melebarkan matanya.
"Dulu Liana, sekarang Maurine. Istrimu pada akhirnya pergi meninggalkanmu, dan serakarang putrimu. Kau sungguh malang," ejek Nicky dengan sengaja.
Bobby tersulut emosi. Nicky sengaja memancing emosi Bobby untuk mengorek informasi dari Bobby.
"Kau pencuri br*ngs*k. Beraninya kau banyak bicara dihadapanku," kesal Bobby yang pada akhirnya marah.
Nicky diam tidak bicara, matanya terus menatap mata Bobby yang masih melebar. Bobby tidak tahan lagi dan terus menerus mengumpat dan memaki Nicky. Menuduh Nicky sebagai pencuri, yang sudah mencuri istrinya Liana dari sisinya.
Bobby tidak sadar akan kesalahannya. Bukan karena Nicky, melainkan karena sikap dan perilaku Bobby lah, yang membuat Liana pergi meninggalkan Bobby.
Karena Bobby juga, pada akhirnya Maurine bisa menemukan kebahagiannya bersama Genta.
"Kaulah penyebab kehancuran keluargaku!" seru Bobby.
Nicky tersenyum, "Sampai kapan kau akan terus seperti ini, Bob? Sadarlah! ini semua terjadi karena kau, kaulah dalang dibalik perginya Liana dan Maurine. Jika mereka sekarang hidup bahagia, aku harap kau bisa menerima. Kau patutnya bersyukur, kau tidak bisa bahagiakan mereka tapi ada orang lain yang mampu memberikan cinta dan ketulusan pada mereka."
__ADS_1
"Aku tidak butuh kau menguruhiku. Aku berhak melakukan apa yang ku mau, jangan mengaturku, Nicky!"
Lagi-lagi Bobby berteriak dan membentak Nicky. Nicky menyipitkan mata elangnya, ia sungguh tidak tahan dengan ucapan dan kata-kata kasar Bobby. Ingin rasanya memukul, memberi pelajaran pada Bobby.
"Terserah kau mau dengar atau tidak. Ini peringatan terakhir, jangan usik Maurine. Kau tidak tahu seperti apa seorang Genta Aiden. Jangan harap kau akan hidup tenang! Aku tahu kau dipekerjakan seseorang, ntah siapapun dia. Urungkan niatanmu, jangan sampai kau pertaruhkan hidupmu hanya untuk hal tidak berguna. Kau masih bisa hidup dengan baik," ucap Nicky yang langsung pergi.
Bobby terdiam, kedua tangannya mengepal. Rasa kesalnya masih terlihat, amarah dan murkanya juga masih menumpuk. Bobby sangat tidak suka mendengar ucapan Nicky, namun Bobby tidak ingin merusak rencananya dengan Zack kalau harus menyerang Nicky.
"Si*l, aku sangat kesal padanya. Dialah yang pecundang, bukan aku!" geram Bobby.
Bobby langsung masuk kedalam rumahnya. Pintu rumahnya ditutupnya dengan kasar sehingga menimbulkan suara yang sedikit gaduh.
Disisi lain, dari dalam mobilnya Nicky mengamati sekitaran rumah Bobby. Nicky mengambil napas dalam-dalam lalu mengembuskan napas perlahan.
"Kenapa dia sangat keras kepala. Siapa orang yang bekerjasama dengannya?" gumam Nicky.
Nicky pun melajukan mobilnya untuk kembali pulang ke rumah. Setelah kepergian Nicky, seseorang muncul dari bali pohon dan terlihat sedang menghubungi seseorang.
(Percakapan dalam telepon)
"Saya telah kirim sebuah video," kata seseorang itu.
"Ya, aku akan lihat nanti. Kau terus awasi Bobby," jawab seseorang diujung telepon.
"Ya, Tuan. Sesuai perintah Anda. Kami akan terus berjaga dan memantau Bobby."
"Laporan saja apa yang kau lihat, juga kau dengar. Kirim juga foto dan video jika diperlukan. Aku masih harus tangani masalah lain," jawabnya menjelaskan apa yang harus dilakukan orang-orangnya.
"Baik, Tuan."
Seseorang tersebut mengakhiri panggilan dan terus berjaga disekitar rumah Bobby ditemani beberapa rekannya.
***
"Kau pergi?" tanya Liana.
"Kau tidak tidur?" tanya balik Nicky.
"Aku tanya kau jawab. Jangan balik bertanya," kesal Liana.
Nicky berjalan mendekati Liana, "Maaf," kata Nicky.
"Kau kemana?" tanya Liana lagi.
"Hmm...."
"...."
Suasana hening, Nicky bingung antara bicara atau tidak. Namun Nicky juga tak ingin menyimpan apa-apa dari Liana.
"Tak ingin jawab?" tanya Liana lagi.
"Berjanjilah, kau tidak boleh marah atau kesal jika aku beritahu."
Liana mengernyitkan dahi. Mata cantiknya menatap Nicky lekat.
"Lupakan saja, aku sudah tidak ingin dengar."
Liana pergi, berjalan mendekati tempat tidur. Disusul oleh Nicky dibelakangnya.
__ADS_1
"Liana," panggil Nicky. Liana hanya diam.
Nicky duduk di tepi tempat tidur, disamping Liana.
"Baiklah, aku akan bicara. Aku menemui Bobby," kata Nicky.
"Apa?" Kaget Liana.
"Maaf, aku tidak bicara padamu, tidak mengajakmu. Aku tidak ingin kau melihat pria tidak bertanggung jawab itu, aku tidak mau kau dipersulit lagi oleh orang jahat itu."
"Bukankah kita sudah sepakat untuk datang bersama setelah kau mengirim orang memeriksa? kau tidak percaya padaku, Nick?" Liana terlihat sedih.
"Bukan seperti itu sayang, maafkan aku. Aku sungguh ingin bebrbicara sesuatu saja pada Bobby, tanpa adanya kau."
"Baiklah, aku mengerti. Lalu, apa yang kalian bicarakan? Bobby tidak melukaimu kan?" tanya Liana serius.
"Tidak, Bobby tidak melukaiku. Hanya saja..., ya, begitulah. Kau tentu tahu cara bicara dan sikapnya yang kasar."
Liana terdiam sesaat, "Dia tidak berubah ternyata," ucap Liana lirih.
Nicky menatap Liana yang sedang mengalihkan pandangan, "Kau baik-baik saja?" tanya Nicky.
Liana menganggukan kepalanya perlahan, "Ya, aku baik-baik saja. Aku hanya menyayangkan hidupnya yang seperti itu."
"Liana, boleh aku bertanya?" tanya Nicky.
Liana menatap Nicky, "Ada apa?" tanya Liana.
"Jika Bobby berubah, akankah kau memaafkannya? Maksudku, kau akan berubah tidak lagi membencinya?" tanya Nicky.
Liana menatap dalam mata Nicky, "Kenapa tiba-tiba bicarakan ini, Nick?" tanya Liana.
Liana menjulurkan tangan dan meraba lembut wajah Nicky, "Pertanyaanmu, mengarah pada sesuatu. Akankah kau takut jika perasaanku akan berpaling? apa kau berpikir jika aku akan kembali bersama dengan Bobby? benar begitu?" ucap Liana dengan yakin.
Nicky sedikit menunduk, ingin mengatakan itu semua namun ia tidak punya keberanian. Nivky hanya bertanya pertanyaan yang biasa saja.
"Aku sudah tidak membencinya, aku juga sudah memaafkannya. Namun, aku tak akan pernah kembali pada Bobby. Aku mencintaimu sekarang, dan itu akan aku lakukan sampai akhir usiaku," kata Liana.
Nicky menatap Liana. Hati Nicky tersentuh oleh ucapan Liana, sungguh ia tidak menyangka jika Liana akan berkata demikian.
"Maafkan aku bertanya hal yang tidak perlu dipertanyakan lagi. Aku bahagia, aku sangat bahagia mendengar ucapanmu. Aku mencintaimu," ucap Nicky tersenyum senang.
"Jika aku ada di posisimu, akupun pasti akan bertanya hal yang sama. Itu wajar saja," kata Liana.
"Jangan pernah pergi meninggalakan aku, Liana. Teruslah bersamaku, apapun yang akan terjadi, seberapa besar sulitnya hari-hari yang akan kita jalani nantinya. Aku ingin melaluinya bersamamu."
Liana tersenyum, ia menganggukan perlahan kepalanya dan langsung memeluk Nicky. Nicky membalas pelukan Liana, ia mengeratkan pelukannya.
***
ig: dea_anggie
Line id: dea_anggie
Fb: dea anggie
Grup FB: Lelaki Bayaran Amelia
❤❤❤❤❤
__ADS_1