Menjadi Istri Simpanan

Menjadi Istri Simpanan
Kau Menggodaku?


__ADS_3

Laura masih tetap pada posisinya. Dia belum tau apa yang dipikirkan Diko saat ini. Laura pikir ada masalah di kantor, mungkin saja ada berkas penting yang tertinggal di rumah.


"Hey, kau kenapa?" Lagi-lagi Laura hanya bisa bertanya. "Kau marah karena aku tidak ke kantor?" Laura tidak tau kalau Diko tidak mendengarnya tanpa disadari Laura memegang lehernya yang masih basah.


Laura tidak tau pergerakan kecilnya itu telah memancing hewan buas yang ada di seberang sana untuk segera melahapnya, sekarang dan detik ini juga.


"Kau sengaja menggodaku, ya?" Diko bergumam pelan. Dia menambah volume suara dan memadang headset di telinganya.


"Kau bilang apa? Kenapa suaramu terlalu kecil? Apa mungkin ponsel ini rusak?" Laura mendekatkan bibirnya pada camera kecil dan kembali bicara. "Kau mau aku datang ke kantor sekarang?"


Bibir merah bak buah chery itu semakin menarik perhatian Diko. "Apa kau sengaja menggodaku?" Jemari Diko meraba wajah terutama bibir Laura yang ntah sejak kapan membuat ia candu. "Licik sekali," imbuh Diko. Dia pikir Laura sengaja memancing sisi lain darinya.


"Menggoda? Untuk apa aku menggodamu? Tanpa digoda pun kau sendiri yang datang 'kan? Enak saja mau menuduhku." Laura mencibikkan bibirnya.


Diko hampir tersenyum mengingat bagaimana caranya masuk ke kamar Laura dan minta tolong agar Laura mau membantunya. Awalnya Diko ingin marah pada orang yang sudah memasukkan obat perangsang ke dalam minumannya tetapi, mengingat kegiatan panasnya dengan Laura di malam itu membuat suasana hati Diko mendadak berbunga.


"Kau sengaja tidak memakai pakaian saat menjawab telepone ku' kan? Apa namanya kalau tidak menggoda?" Diko bicara pelan tapi, terdengar jelas di telinga Laura.


Mata Laura membola, dia menyilangkan satu tangannya di depan dada, sungguh Laura tidak berniat untuk menggoda Diko. Bahkan, sakitnya saja masih terasa.


"Dasar kau mesum!"


"Kenapa marah? Bukannya kau senang kita sudah melakukannya?"


Wajah Laura memerah, bahkan aliran darahnya juga terasa panas, Diko benar-benar sudah mengulitinya harusnya Diko malu mengungkit masalah ranjang itu.


"Suahlah, kalau tidak ada yang penting aku akan menutup telep----


Diko memungkas ucapan Laura. "Kau tidak perlu datang ke kantor, aku akan pulang setelah meeting selesai. Aku ingin kita mengulanginya lagi." Diko mengakhiri percakapan yang membuatnya semakin bersemangat. Wajar bukan? Bukankah Laura memang istrinya?

__ADS_1


Laura masih terbengong. Dia menatap nanar benda pipih yang sudah berhasil membuat jantungnya hampir loncat keluar dari dalam tubuhnya.


"Diko ... sejak kapan kau jadi semesum ini?" Apapun itu, Laura berharap kelak Diko melakukannya karena cinta bukan hanya ***** belaka.


***


Meeting telah usai, meskipun tidak fokus namun Diko masih bisa bersikap profesional. Perusahaannya remi bekerja sama dengan perusahaan milik Daniel dan Nicky. Wira dan Andre sudah meninggalkan kantor Diko. Sedangkan Nick sengaja meluangkan waktu untuk makan siang dengan Diko.


Restoran yang tidak jauh dari kantor menjadi tempat pilihan Nick dan Diko. Di luar pekerjaan mereka bersikap seperti layaknya seorang teman bukan partner bisnis.


"Sepertinya kamu sedang gelisah, apa ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Nick sembari mengunyah makanannya. Dia melihat Diko selalu melirik jam di pergelangan tangannya.


"Bukan apa-apa, tapi aku harus pergi karena sudah ada janji dengan clien yang lain." Diko meminum segelas air putih pertanda ia sudah menyudahi makan siangnya. Diko sudah tidak sabar untuk pulang ke apartmen.


"Oh, tidak apa. Mungkin lain kali kita bisa punya waktu lebih untuk sekedar mengobrol." Nick tersenyum masam melihat kepergian Diko karena sebenarnya dia ingin mengajak Diko ke suatu tempat untuk sekedar menghilangkan penat bersama.


***


Supir taksi online bagaikan petunjuk arah untuk Laura. Menurut supir taksi itu alamat yang akan di tuju Laura hanya memerlukan waktu tempuh dua jam perjalanan, Laura yakin bisa kembali tepat waktu sebelum Diko pulang. Namun, di tengah perjalanan taksi yang memvawanya mendadak berhenti di tengah jalan.


"Kenapa, Pak?" tanya Laura setelah supir memeriksa bagian mesin.


"Maaf, taksinya mogok, Neng. Sepertinya saya nggak bisa bawa Neng cantik ke sana."


"Terus saya gimana?"


"Saya carikan taksi yang lain saja."


Laura tidak punya pilihan lain. Dia meraih tas dan keluar dari taksi. Perlahan, Laura menepi dan berdiri di pinggir jalan raya, dia menunggu taksi berikutnya.

__ADS_1


Bunyi klakson mobil mengejutkan Laura. Mobil sport warna hitam berhenti tepat di sampingnya. Seorang laki-laki tampan keluar dengan senyuman manis di wajahnya.


"Ini bukan kebetulan tapi, takdir." Nick membuka kaca mata hitam yang bertengger di pangkal hidungnya. "Takdir sudah menjodohkan kita."


Laura memutar bola matanya jengah. Di matanya Nick adalah pria yang narsis dan sok akrab dengannya. "Aku tidak mau diganggu," ucap Laura.


"Aku tidak mau mengganggu tapi, mau membantumu." Nick membuka pintu mobilnya. Dia keluar dari restoran di jam yang tepat. Siapa yang menyangka kalau akan bertemu dengan Aura?


Taksi untuk Laura pun menepi. Tetapi, Nick memberikan tips kepada supir dan menyuruhnya pergi.


"Sudahlah, biarkan aku yang mengantarmu."


"Kamu tidak tau aku mau ke mana 'kan?" Laura kesal karena Nick sudah membuang waktunya.


"Jangan remehkan, aku! Aku lahir dan besar di sini. Bahkan, jalan tikus pun tidak ada yang luput dari pantauanku," ujar Nick dengan bangga. Dia merebut kertas dari tangan Aura. Kening Nick mengkerut saat membacanya. "Kamu mau ke alamat ini?"


"Kamu bisa membawaku ke sana?" Laura tidak menolak ketika Nick menyuruhnya masuk ke dalam mobil.


Menurut penuturan bibi. Ayahnya pernah tinggal di tempat ini. Aura berharap ini alamat terakhir ayahnya.


***


Laura mematung melihat lahan luas berisi wahana permainan anak terbesar di kota. Biang lala, kora-kora dan masih banyak lagi.


"Apa ini memang tempatnya?" Laura tampak bingung. Dia tidak melihat ada rumah di tempat ini.


"Dulu tempat ini memang pemukiman penduduk tapi, setelah terjadi bencana alam beberapa tahun yang lalu. Pemerintah mengalihkan fungsi menjadi wahana permainan anak." Nick memerhatikan wajah Laura yang mendadak murung. "Memangnya siapa yang sedang kamu cari?"


Laura tidak menjawab, lemas yang ia rasakan di kedua kakinya. Dia menyandarkan punggungnya di batang pohon yang besar. Tujuan utama Laura datang ke tempat ini untuk bertemu dengan ayahnya namun, sepertinya harapan itu musnah.

__ADS_1


__ADS_2