
Nick mengajak Laura duduk di bangku taman. Dia memberikan sebotol air mineral untuk Laura. "Minumlah, tenangkan dirimu." Nick tidak tau mengapa ia merasa sangat mengenal Aura. Wajah manis Aura seperti tidak asing di matanya. Bahkan, sejak pertemuan pertama di rumah sakit ia sudah terhipnotis dan ingin mengenal Aura lebih dekat lagi.
"Terima kasih." Laura tidak bersemangat lagi. Dia hanya menggengam botol minuman yang tidak sedikitpun ia resapi. Mata Laura masih menatap lurus wahana permainan yang dikerumuni anak-anak.
"Mau bermain? Biar aku temani." Nick masih berusaha menghibur Aura.
"Tidak, aku mau pulang saja," tolak Aura. Dia akan memikirkan cara lain untuk mencari keluarganya.
"Tapi aku tidak mengijinkanmu pergi dengan wajah ditekuk seperti ini." Nick meraih tangan Laura supaya Laura tidak bisa pergi ke mana-mana.
"Lepaskan tanganmu, Nick."
"Tidak, sebelum kamu ceritakan tujuanmu datang ke tempat ini. Tidak mungkin kamu datang ke sini tanpa tujuan'kan?"
Laura terdiam. Dia tidak punya teman dekat yang mau mendengarkan keluh kesahnya. Bahkan, Diko tidak pernah peduli padanya, dari awal suaminya itu berpikir masa bodoh dengan apa yang akan ia lakukan yang penting Laura tidak mengganggu urusan Diko. Sekarang ada Nick. Pantaskah ia cerita dengan orang lain yang baru dikenalnya? Tapi, kalau dipikir-pikir sepertinya Nick memang orang yang baik.
"Kenapa diam? Aura ... aku ini orang yang bisa memegang rahasia. Kamu jangan khawatir, aku tidak punya niat jahat padamu. Anggap saja kita sudah lama berteman."
Laura menghembuskan napas panjang. "Ak-aku mencari seseorang. Aku pikir mereka masih tinggal di sekitar sini ternyata aku salah. Aku tidak tau kalau tempat ini sudah berubah." Laura menangis karena merasa menjadi anak yang terbuang dan pada akhirnya ia akan kembali lagi pada keluarga angkat yang hanya berpura-pura menyayanginya.
Nick melepaskan tangan Aura. Dia meletakkan sapu tangan kecil di tangan Laura. "Maaf, aku sudah membuatmu menangis. Hapuslah air matamu, tenang saja aku bisa membantumu mencari mereka."
Laura menyeka air mata dengan kain halus pemberian Nick. "Kamu mau menolongku?" tanya Luara disela isakan tangisannya. Nick mengangguk. "Tapi, aku akan merepotkanmu."
"Pasti merepotkan dan ini tidak gratis." Nick tersenyum dia suka menggoda Laura. "Aku bercanda, aku sangat mengenal tempat ini. Bahkan, aku lahir dan besar ini." Nick menunjuk komedi putar. "Kamu lihat itu? Dulu bangunan tua berdiri di sana. Itulah rumahku, istanaku, tempat mainku, bahagiaku, tawaku, tangisanku ada di sana. Tapi, semua berubah saat dia ada dan pergi diwaktu yang bersamaan." Nick memaksakan senyumannya tetapi, matanya berubah menjadi memerah mengingat kenangannya di waktu kecil.
"Kamu sedang mengenang sesuatu? Aku bahkan tidak punya sesuatu yang bisa aku kenang," sesal Laura. "Siapa yang pergi?" Laura memegang lengan Nick.
Nick menoleh melihat Laura. Dua orang yang awalnya tidak saling mengenal ini seakan memiliki ikatan batin yang sama dan bisa mersakan penderitaan satu sama lain.
"Ibuku," lirih Nick."Ibuku meninggal setelah melahirkan adikku." Air mata itu jatuh juga. Ya, begitulah Nick. Dia tidak bisa menahan perasaannya ketika mengingat wanita yang melahirkannya.
"Maaf." Laura mengelus lengan Nick."Aku tidak bermaksud membuatmu sedih." Tangisan Laura ikut pecah. Dia bahkan tidak pernah berada di pangkuan ibunya.
"Kenapa kamu yang nangis?" Nick tertawa. "Wanita memang mahkluk yang paling cengeng. Dulu itu rumah nenekku, kami sudah biasa berpindah tempat. Tapi, kenangannya tidak akan pernah terlupakan. Sudah jangan menangis." Nick menghapus air mata Laura.
"Aku merindukan ibuku!" Laura semakin histeris. "Aku bahkan tidak tau di mana tempat peristrahatan terakhirnya. Aku tidak tau ayahku di mana. Aku tidak tau kenapa ayah tega menjualku pada orang lain? Aku lebih kasian daripada dirimu, Nick. Setidaknya kamu pernah tertawa dengan ibumu. Setidaknya ayahmu tidak menjualmu. Setidaknya kamu tidak hidup dengan memikul beban berat!" Laura memukul dadanya yang terasa sesak.
Nick terpaku dan mencerna ucapan Laura. Dia seperti merasakan apa yang dirasakan Laura. Nick merasa dejavu dengan ucapan Laura. Nick teringat ketika ibunya melahirkan dan ketika ayahnya memberikan bayi merah kepada orang lain.
__ADS_1
Mungkinkah?
"A-Aura...." Nick memegang kedua sisi lengan Laura agar menghadapnya. "Siapa yang kamu cari?" Jantung Nick berpacu semakin cepat. Mungkinkah mereka memiliki hubungan darah?
"Keluargaku, Nick. Ayahku," jawab Laura ketika sudah lebih tenang.
Tubuh Nick bergetar, tangannya terjatuh begitu saja. Matanya masih mengunci manik mata Laura. Apa sekarang Tuhan sudah mengabulkan doanya? Apa Laura adalah adik kandungnya yang pernah dicium ketika masih bayi?
"Kamu bisa membantuku mencari mereka?" Laura menggantungkan harapannya pada Nick.
Nick mengangguk dalam pikiran yang masih menerka-nerka.
Dering ponsel Laura mengalihkan perhatiannya. Laura mengambil benda pipih itu di dalam tas dan masih tertera nama Diko di sana.
"Ha---
"Kau di mana?" Suara laki-laki itu sudah mendominasi. "Aku sudah di Apartmen. Kenapa kau tidak ada?"
Laura menjauhkan Handpone dari telinganya karena suara Diko hampir memekakan telinganya.
"Ak-aku di luar," jawab Laura.
"Luar mana? Jangan menyusahkan aku. Bagaimana kalau kau nyasar?"
"Share lokasi, aku akan menjemputmu."
"Tidak per---
"Sekarang, Laura!" Diko menutup telepone.
"Dia punya kebiasaan memungkas ucapan orang lain dan mengakhiri telepone seenaknya, tidak sopan!" rutuk Laura.
"Aku harus pergi, Nick." Laura memasukkan benda pipih miliknya ke dalam tas. "Terima kasih untuk hari ini. Maaf aku sudah mereptkan kamu."
"Santai saja. Kamu mau ke mana? Biar aku antar." Sebenarnya Nick berat berpisah dari Laura terlebih lagi masih banyak yang ingin ditanyakan kepada wanita berambut pirang ini.
Laura menolak tawaran Nick. Dia tidak mau Diko salah paham dengannya. Akhirnya Nick mencarikan taksi untuk Laura.
***
__ADS_1
Diko marah dan membanting jas hitamnya di lantai. Dia marah karena Laura tidak ada di Apartmennya.
"Aku sengaja pulang lebih awal tapi kau tidak ada di rumah. Lihat saja setelah ini akan aku habisi kau!" Diko membuka dasi dan menggulung lengan kemejanya sampai ke siku.
Tangan Diko gemetaran membaca pesan yang dikirimkan Laura. Istrinya itu sedang berada di sebuah pusat perbelanjaan.
"Kau mainnya terlalu jauh." Diko meraih kunci mobil yang tadi dilemparnya dan pergi menjemput Laura.
Di pusat perbelanjaan. Laura memoles wajahnya di salon kecantikan untuk menyamarkan sembab di wajahnya. Dia tidak mau Diko curiga melihatnya.
"Sudah selesai. Nona cantik sekali."
"Semua wanita cantik."
"Tapi, Nona Laura memang sangat cantik. Bahkan, tanpa makeup pun jauh lebih cantik." Laura tertawa tapi, tawanya memudar saat melihat bayangan Diko di cermin.
Diko terpesona melihat kecantikan Laura. Dia pikir Laura sudah berbelanja dan menghabiskan banyak uang seperti kebanyakan wanita di luar sana tetapi ternyata Laura hanya duduk manis di salon.
Diko berdehem. "Kau sudah selesai?"
"Sudah, kita pulang sekarang." Laura menjadi canggung karena Diko terus memperhatikan penampilannya.
Diko mengeluarkan ATM dari dompetnya. "Pakai ini."
"Tidak perlu, aku bisa bayar sendiri," tolak Laura.
"Aku tidak suka dibantah. Cepat selesaikan aku tunggu di luar." Diko membuka pintu yang terbuat dari kaca dan memunggunginya. Dia menunggu Laura di sana.
Setelah menyelesaikan urusannya Laura menghampiri Diko.
"Terima kasih sudah mau menjemputku. Maaf aku merepotkanmu."
Diko hanya diam melihat Laura dari ujung kaki sampai ke ujung rambut.
Laura merasa dikuliti Diko. Dia berjalan mendahului Diko. Tetapi, Diko menarik tangannya.
"Jangan pergi tanpa ijinku. Cantikmu hanya untukku saja. Jangan tunjukkan di depan orang lain."
Laura tersenyum. "Kau mulai takut aku dilirik laki-laki lain." Laura mengedipkan satu matanya.
__ADS_1
Diko berdecih. "Kau sudah besar kepala." Diko menggandeng tangan Laura.
Laura mencubit pipi Diko. "Kenapa tidak mau ngaku?" Laura tidak mau membuang kesempatan, ia bermanja dan menyandarkan kepalanya di lengan Diko. Diko tersenyum dibuatnya.