Menjadi Istri Simpanan

Menjadi Istri Simpanan
Keguguran?


__ADS_3

"Nurut dan bekerja samalah denganku, Tiara! Aku tau kau tidak benar-benar mencintainya, ini kesempatanmu untuk menghancurkan dan menguras semua hartanya!"


PLAK!!!


Tiara geram sehingga ia menampar pipi Mike, jangankan Mike yang menurutnya tidak punya etika, Daniel yang arogan itu pun pernah berkali-kali ditamparnya. Tiara tidak sedikitpun menunjukkan ketakutannya. Sementara Mike sudah semakin geram dan memegang pipinya yang terasa panas.


"Kau memang tidak tau malu, Mike! Bisa-bisanya kau mengaku sebagai adiknya, sementara kau ingin menghancurkannya. Kau pun tidak mengenalku, jadi jangan salah menilaiku, Mike! Aku tidak akan membiarkan siapapun menghancurkan suamiku termasuk dirimu!"


Mike tergelak, ucapan Tiara terdengar seperti angin lalu yang syahdu. "Bagaimana bisa kau melindungi dan bertemu Daniel sementara kau ada di sini? Aku tidak akan melepaskanmu sebelum Daniel bersedia menyerahkan semua saham dan apapun yang dimilikinya, aku mau Daniel hancur sehancur-hancurnya!" Mata Mike menyalang merah, ia tetap teguh pada pendiriannya.


"Apa salahnya, Mike? Seharusnya kau datang dan memberikan pelukan hangat untuk kakakmu, bukan malah sebaliknya. Kau mengusik bahkan mengancamnya seperti ini?" Suara Tiara terdengar lirih, ia mencoba bicara baik-baik dengan Mike.


"Aku tidak butuh nasihatmu! Kau tidak merasakan apa yang aku rasakan, Tiara! Papa bahkan semua orang mengagumi dan memuji Daniel sementara, aku selalu dihantui bayangan papa, aku selalu dianggap sebagai boneka papa, tidak ada yang menghargai aku karena mereka menganggap hasil kerja kerasku tidak lepas dari pengaruh papa. Tapi, Daniel ... dia bisa berdiri sendiri tanpa bantuan papa dan dia tiba-tiba datang lagi untuk menarik simpati papa dan mendapatkan saham yang lebih besar dariku, apa mereka memikirkan perasaanku? Aku merasa dibuang, Tiara. Apa kau sudah paham?" teriakan Mike mendominasi kamar bahkan, terdengar sampai ke lantai dasar.


Tiara menghembuskan napas panjang. Dia mencoba mencerna penuturan Mike, semua terjadi bukan karena harta semata tetapi, adanya hubungan persaudaraan yang hancur sejak awal dan Tiara menemukan penyebabnya. Daniel pernah kelepasan bicara kalau Diko adalah anak dari istri kedua papanya dan besar kemungkinan kalau Mike dan Daniel tidak terlahir dari rahim yang sama.


"Kau merasa dirimu menjadi korban? Padahal Daniel adalah korban yang sesungguhnya, aku baru tau kenapa terkadang dia bersikap kasar dia hanya butuh perhatian, Mike. Sudah terlalu lama Daniel tinggal seorang diri di sini dia bahkan tidak memiliki apapun saat itu, apa kedua orang tuamu pernah datang mengunjunginya? Apa Daniel pernah menuntut sepersen harta yang memang seharusnya menjadi miliknya? Apa Daniel salah mempertahankan haknya? Ini bukan soal harta, melainkan harga dirinya yang tidak pernah dihargai. Apa kau tau itu?"


Tiara memukul dadanya yang terasa sesak, ntah mengapa ia merasa sakit memposisikan dirinya sebagai Daniel. "Keluarganya hancur, Mike. Dia memilih menyendiri dan jauh dari orang tuanya karena ada orang ketiga yang membuat Daniel tidak nyaman di rumah, apa kau memikirkan perasaannya saat itu?"


"Cukup, Tiara! Jangan mengingatkanku tentang hari itu!" sentak Mike, ia tidak mau mengingat hari di mana Daniel menghajarnya.


"Kenapa? Kau tidak bisa menipu dirimu sendiri, Mike. Kau tau ... hubungan darah lebih kental dari apapun. Sekeras apapun kau mencoba membencinya, kau tidak akan pernah bisa karena lukanya adalah lukamu juga."

__ADS_1


"Aku bilang diam, Tiara!" Mike mengambil vas bunga hias dari atas meja dan melemparkannya di dinding kamar hingga pecah dan jatuh diantara mereka.


Tiara terkejut saat serpihan benda tajam yang lancip itu melukai keningnya hingga berdarah. Tiara memilih mundur beberapa langkah menjauhi Mike yang masih terlihat murka.


***


Daniel berpacu dengan waktu, dia tidak akan membiarkan si bodoh Mike berkutik dan melukai Tiara apalagi di wilayahnya. Mike tidak mengenal banyak tempat di sini jadi ia yakin kalau Mike tidak bisa membawa Tiara pergi jauh dari ibu kota.


Beruntung ada seorang saksi yang sempat melihat Mike membawa Tiara, ia pun sudah mengetahui ciri-ciri mobil milik Mike.


Sampailah Daniel di bangunan tua yang sudah lama tidak dihuni namun, sepertinya masih terawat dengan baik. Beberapa orang menyebar untuk berjaga-jaga. Daniel masuk melalui pintu utama yang sudah dibuka paksa oleh dua pengawalnya.


Daniel mengedarkan pandangan ke penjuru arah mencari Tiara atau Mike, belum sempat Daniel membuka mulut, suara teriakan Mike dari lantai dua mengusik telinganya. Daniel merasakan sekujur darahnya mendidih, ia berlari menapaki satu persatu anak tangga.


"Seharusnya dari dulu aku membunuhmu agar kau tidak bisa mengusikku. Sekarang, tidak ada ampun untukmu!" Daniel membabibuta memukul Mike bahkan, darah segar sudah mengalir dari sudut bibirnya.


"Bunuh aku, Daniel! Cepat bunuh, aku!" Mike terbatuk saat mengucapkannya, tubuhnya sudah hampir terkulai lemas.


Melihat itu Tiara semakin ketakutan, dia berteriak dan memanggil Daniel namun, Daniel tidak menghiraukannya.


"Daniel, berhenti!" pinta Tiara.


"Bajingan ini sudah menyakitimu. Aku akan menghabisinya di depanmu, darah harus dibayar dengan darah!" Mike tersungkur di lantai. Daniel melayangkan tangannya di udara, ia ingin menghabisi Mike tetapi, tiba-tiba Tiara menghalangi dan memegang tangannya.

__ADS_1


"Dia tidak bersalah, Mike tidak menyakitiku," ucap Tiara lirih, ternyata dirinya juga takut melihat Daniel murka.


"Lepas! Jangan membela bedebah ini!" sentak Daniel, ia menarik tangannya. Tetapi, Tiara tetap tidak mau melepaskannya.


"Dia adikmu, bukan? Jangan sakiti dia, Niel. Aku mohon."


"Demi dia kau memohon padaku?" sentak Daniel, ia menarik tangannya secara kasar. Namun, tindakkannya membuat Tiara jatuh terduduk di lantai.


"Akhhhhh!!!" Tiara meringis kesakitan, dia memegang perutnya yang terasa sakit.


"Ti-Tiara." Daniel panik dan mendekap Tiara. "Maaf, ak-aku tidak sengaja. Di mana yang sakit?"


Tiara tidak mampu menjawab, dia menggigit bibirnya guna menahan sakit yang semakin parah.


"Da-darah," lirih Mike, dia masih di posisinya semula memperhatikan Daniel dan Tiara. "Di-dia keguguran," imbuh Mike lagi.


Jantung Daniel seperti berhenti berdetak, aliran darah berhenti mengalir hingga ia tidak merasakan kehidupan lagi, wajah Daniel menjadi pucat pasih ketika melihat darah segar mengalir dari pangkal paha istrinya.


"No, Tiara ... please. Bertahanlah, sayang!" Daniel menggendong dan membawa Tiara pergi. "Siapkan mobil sekarang!" teriak Daniel sembari menuruni anak tangga.


"Sa-sakit...." lirih Tiara, tubuhnya semakin lemah hingga ia tidak sadarkan diri.


"Maafkan aku, Tiara. Bangunlah. Bertahanlah anak baik, papa mohon bertahanlah." Daniel meneteskan air mata, sungguh dia tidak sanggup membayangkan segala kemungkinan yang akan terjadi, jika boleh memilih Daniel tidak mau lagi hidup sendiri, ia sangat ingin hidup bahagia bersama istri dan anaknya.

__ADS_1


__ADS_2