
Ontario, Kanada.
Mengisahkan tentang gadis cupu yang diam-diam mencintai teman satu kelasnya yaitu Mark. Di malam pesta merayakan kelulusan sekolah, Rossela mendapatkan kejutan. Mark menyatakan cinta dan menciumnya di depan umum. Namun sayang, ternyata Rosse hanya dijadikan bahan taruhan saja. Mark hanya ingin merenggut kesuciannya.
🐣🐣🐣
Olive mengepalkan tangan. Dia tidak menyangka kalau Mark akan mencium gadis cupu itu di depan umum. Semua ini di luar permainan dan perjanjian yang merka sepakati. Mark miliknya dan sampai kapanpun hanya miliknya. Olive masuk ke dalam Villa mengikuti Mark dan Rosse.
"Kau tidak perlu mengantarku sampai masuk ke dalam kamar mandi 'kan?" Rosse menjatuhkan tangan Mike dari pundaknya. Dia masih grogi dan ingin menenangkan diri sejenak di dalam sini.
Mark terkekeh dan membenarkan kaca mata Rosse. "Kalau kau mengijinkannya, kenapa tidak?"
"No, Mark!" Rosse berlari kecil dan masuk ke kamar mandi.
Mark menatap nanar pintu yang masih tertutup, tiba-tiba ada seseorang yang memeluknya dari belakang.
"Kau jahat, Mark. Kenapa kau harus mencium kutu buku itu di depan umum?" Olive menghentakkan kakinya, wajahnya cemberut seperti benang kusut.
Mark memutar badan. "Kenapa marah? Kalian yang mau aku mengambil ciuman pertamanya kan? Aku hanya mengikuti permainan ini." Mark membelai rambut Olive.
"Tapi tidak harus di depan semua orang. Cupu itu pasti menjadi besar kepala. Sudahi permainan ini, Mark. Aku tidak mau kau melakukannya lebih jauh dari ini." Olivie menyubit perut Mark. Dia tidak rela Mark menyentuh gadis cupu yang tidak lebih cantik darinya.
"Tidak sekarang, aku bahkan baru memulainya. Malam ini akan aku buktikan kalau gadis itu sama dengan wanita yang lain. Aku hanya perlu sedikit merayu dan setelah itu dia pasti akan menyerahkan kesuciannya padaku." Mark tersenyum bangga, ia yakin akan memenangkan taruhan ini.
"Kenapa harus dia? Aku selalu rela melakukannya denganmu. Aku selalu datang kapanpun kau membutuhkan aku, aku selalu setuju menjadi penghangat ranjangmu!"
Mike memojokkan punggung Olive di dinding. "Jangan mengaturku. Kita tidak punya hubungan apapun selain memuaskan satu sama lain Jadi, jangan pernah kacaukan rencanaku!" Mike pergi meninggalkan Olive. Dia tidak suka ada orang lain yang mengatur hidupnya.
Olive menjadi khawatir, ia takut kelak suatu hari nanti Mark tidak lagi menemui atau memanggilnya. Olive tidak mau kehilangan tambang emas dan segala kemewahan yang diberikan Mark setelah berhasil menghangatkan ranjangnya.
"Kalau kau tidak mau maka, aku sendiri yang akan mengakhirinya." Olive sengaja menunggu Rosse di depan pintu kamar mandi.
Rossela menghilangkan rasa panas di wajah dengan cara membasuhnya dengan air namun, warna merah yang ditinggalkan masih jelas terlihat. Semua ini karena sikap manis Mark padanya. Rosse meraba bibirnya yang tadi dicium Mark. "Aku harap semua ini bukan mimpi. Aku sudah mencintai dan menunggumu selama tiga tahun ini, Mark." Degup jantungnya masih berdetak kencang. Rosse terkejut melihat Olive di depan pintu. Wanita cantik ini mendorongnya sampai kembali masuk ke kamar mandi.
"Kau senang?" Olive bersedekap dada. "Bagaimana rasanya dicium pria tampan seperti Mark? Apa setelah ini kau juga akan suka rela menyerahkan tubuhmu padanya?"
"Olive, kau bicara apa?" pekik Rosse.
"Jangan pura-pura bodoh! Kau pikir aku tidak tau kalau selama ini diam-diam kau mencintai Mark? Kau bangga sudah menyerahkan ciuman pertamamu untuknya? Apa kau pikir Mark sangat menyukaimu?" Olive menjatuhkan kaca mata Rosse dan menginjaknya sampai pecah. "Buka matamu! Mark hanya menjadikanmu sebagai bahan taruhannya saja. Mark tidak benar-benar mencintaimu. Kau adalah gadis cupu yang sedang dipermainkan. Apa kau pikir pria tampan seperti Mark bisa tetgila-gila padamu?" Olive tertawa mengejek Rosse. "Mustahil."
Telinga Rosse berdengung, matanya memerah, pandangannya terasa buram. "Kau bohong? Mark tidak mungkin sejahat itu."
"Kau jangan naif. Mark sudah menang karena sudah berhasil menciummu di depan umum. Setelah ini Mark akan mengambil kesucianmu. Tapi, kau jangan khawatir karena Mark sudah ahli dalam melakukannya."
Rosse menutup telinga, ia jijik mendengar ucapan Olive. Rosse menyangkal apa yang diucapkan Olive.
"Dengarkan baik-baik." Olive memutar rekaman percakapan dirinya dengan Mark beberapa saat yang lalu.
__ADS_1
Lutut Rosse melemah hingga tidak sanggup menopang tubuhnya. Rosse terjatuh dan terduduk di lantai yang licin. Kenapa Mark sejahat ini? Tidak apa selama ini Mark tidak melihatnya asalkan Rosse tidak merasakan sakit hati. Tapi, kenapa laki-laki itu tega menancapkan duri mawar di hatinya yang tulus ini?
"Keputusan ada di tanganmu. Pergi atau menyerahkan semuanya pada Mark," ucap Olive sebelum pergi meninggalkan Rosse.
"Pergi, aku harus pergi." Rosse memukul dadanya yang terasa sesak. Harusnya dari awal ia sadar kalau seorang pangeran tidak mungkin jatuh cinta pada upik abu cupu sepertinya. "Kau jahat, Mark ... aku akan belajar melupakan dan membencimu," gumam Rosse sembari menghapus air matanya.
Pintu diketuk dari luar.
"Kau masih di dalam, Rosse?" Mark menghkhawatirkan Rosse. "Boleh aku masuk?"
"Ja-jangan! Pergilah Mark. Aku masih lama di sini!" Rosse mengunci pintu kamar mandi. Dia tidak siap bertemu dengan laki-laki tampan berhati iblis itu.
"Apa kau sakit?"
"Tidak! Aku cum--
"Apa perlu aku mendobrak pintu ini?" ancam Mark.
Rosse menggigit kuku jemari tangannya. Dia memikirkan cara agar bisa keluar dari Villa tanpa dicurigai Mark.
"Lebih baik aku pura-pura tidak tau rencana Mark. Jika tidak, laki-laki itu bisa saja memaksa dan memperk*saku."
Rosse menghembuskan napas panjang sebelum membuka pintu.
"Satu!"
"Kau menangis?" Untuk pertama kalinya Mark melihat manik mata Rosse tanpa penghalang. Terlihat sayu dan teduh. "Di mana kaca matamu?"
"Ja-jatuh. Aku tidak sengaja menjatuhkannya!"
"Apa kau masih bisa melihat dengan jelas?" Mark menarik tangan Rosse untuk menuntunnya. Tapi, Rosse menepis tangannya. "Biar aku bantu."
"Tidak perlu, Mark. Aku bisa jalan sendiri aku harus pulang." Rosse berusaha menjauhi Mark. Tubuhnya bergetar ketika berjalan melewati Mark.
Mark menatapnya curiga. Dia tau kalau Rosse menyembunyikan sesuatu darinya. Tanpa ijin, Mark menarik tangan Rosse dan membawanya ke ruangan pribadi miliknya.
"Duduklah." Mark menarik tangan Rosse sampai terduduk di sampingnya. "Kau mau minum apa?" Mark memegang rambut kepang Rosse.
"Tidak perlu repot-repot. Sepertinya aku kurang enak badan. Aku harus pulang sebelum hari semakin malam."
"Kenapa buru-buru? Kita baru resmi menjalin hubungan. Tapi, kau sudah mau meninggalkan aku." Mark menghembuskan napas di leher Rosse sengaja menggodanya.
"Tolong jangan seperti ini, biarkan aku pergi. Kita tidak punya hubungan apapun."
Mata Mark memerah dia marah dan mencium bibir Rosse dengan kasar, tetapi Rosse menggigit bibirnya."Apa maksudmu, Rosse? Kau mau memermainkan, aku?" Mark menolak bahu Rosse sampai bersandar di sofa. Kemudian ia mengurung dengan kedua tangannya.
"Bukankah kau yang menjadikan aku sebagai bahan taruhanmu? Apa salahku? Kenapa kau sekejam ini, Mark?" Rosse menangis karena sorot mata tajam Mark melemahkan hatinya. Mulutnya ingin memaki tetapi, hatinya masih ingin mencintai Mark.
__ADS_1
***
"Kau...?" Tangan Mark mengendur. Dia terdiam melihat Rosse menangis.
"Lepaskan aku, Mark. Aku akan menganggap semua ini tidak pernah terjadi. Kita pun tidak akan saling bertemu lagi, bukan?"
Mark tidak suka mendengar ucapan Rosse. "Kau terlalu cengeng." Mark menghapus air mata yang mengalir di pipi mulus Rosse.
Rosse memejamkan mata, ia takut Mark akan melecehkannya seperti yang dikatakan Olive. "Aku mau pulang, Mirk," ucapnya lirih.
Wajah Mark berubah, rahangnya mengeras ia marah karena selama ini belum pernah ada wanita yang merengek minta pulang sebelum dia yang mengusirnya. Mark teringat taruhan itu dan dirinya harus menjadi pemenangnya.
"Kau tidak bisa keluar dari Villa ini tanpa ijin dariku!" Mark merobek dres yang dipakai Rosse. Tangannya mencoba memegang dada Rosse. Rosse meronta dan berteriak minta tolong tetapi, tidak ada satu orang pun yang datang untuk menolongnya.
Rosse tidak tau kalau Mark sudah membubarkan pesta dan hanya menyisakan dua pengawal di luar sana.
"Mark, jangan lakukan itu!" pekik Rosse. Suaranya seperti tertahan di tenggorokan karena Mark menyentuh bagian sensitifnya.
Mark meninggalkan jejak merah di leher dan dada Rosse. "Kau milikku. Hanya milikku. Jangan pernah bermimpi untuk pergi dariku!"
Wajah Mark semakin memerah, nafsunya pun semakin memuncak. Mark ingin menyelesaikan dan menguasai Rosse di bawah kungkuhannya.
"Aku tidak mau, Mark! Aku akan membencimu kalau kau nekat melakukannya!" Rosse memohon dan memukul dada Mark.
"Tidak ada yang bisa menghentikan, aku!" Mark kembali lagi menyatukan bibir mereka.
Rossela gadis cupu ini hampir terbuai oleh sentuhan Mark. Tetapi, akal sehatnya masih menguasai diri. Rosse berusaha meraih vas bunga yang ada di atas meja. Dia mencoba tenang agar Mark tidak menyadari gerakannya. Kini, vas bunga yang cukup berat sudah berada di tangannya.
'Maafkan aku, Mark," batin Rosse seraya menangis dan memukul kepala Mark dengan vas bunga.
Mark terkejut dan terpaksa melepaskan bibir Rosse. Dia merasa pusing akibat pukulan keras dibagian kepalanya kini, darah segar mulai mengaliri wajahnya.
"Ka-kau ...." lirih Mark. Dia terjatuh di lantai.
Rosse berdiri dan merapikan dresnya yang sudah robek. Dia gemetran melihat Mark terkulai lemas di bawah kakinya.
"Maafkan aku, Mark. Tolong maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyakitimu." Rosse pergi meninggalkan Mark yang sedang merintih menahan sakit akibat ulahnya.
Sudut mata Mark mengeluarkan cairan bening, ia pasrah melihat punggung Rosse yang semakin menjauh dan hilang dari pandangan mata.
7 Tahun Kemudian.
Lanjuta gak😅 Antara Dendam Dan Cinta
Hai Readers. Jadi gini untuk Hello Wife masih abu-abu dan sepertinya tidak bisa dilanjutkan di NT. Maaf ya. Nah, ini gantinya kalau ada yang mau baca bakalan aku publish di NT sampai tamat kalau level bagus😂
Jadi, adakah yang mau baca? Kalau nggak ada aku bawa ke W P. Terima kasih.
__ADS_1