
Tok tok tok...
"Mas ada Mama sama Papa di bawah."Dinda sengaja merubah panggilannya dari Tuan menjadi Mas karena dia tidak ingin mertuanya tahu keadaan rumah tangganya. Dinda dari tadi mengetuk pintu itu tapi tidak ada jawaban dari dalam.
"Mas, kamu di dalam."Dinda bertanya lagi tapi tetap tidak suara, jadi ia memutuskan untuk masuk ke dalam kamar itu dengan hati-hati.
Dinda menelusuri kamar itu, kamar yang sangat luas dengan nuansa hitam abu-abu. Dinda sampai mengetuk pintu kamar mandi, siapa tahu Eric ada di dalam sana. Tapi jawaban yang di dapat tetap nihil.
Dinda berbalik badan ingin keluar kamar, tiba-tiba saja Eric langsung ada di belakangnya.
"Apa yang kau lakukan di kamar hah?" tanya Eric dengan wajah datar bak tembok.
"Maaf saya lancang masuk Tuan, tapi Mama dan Papa ada di bawah, mereka mencari Tuan."Dinda mengatakan apa tujuannya.
"Lalu kenapa kau masuk ke sini?siapa yang mengizinkan mu?berani sekali kau!"Dinda benar-benar takut dengan Eric, terlebih ada Mama dan Papa di bawah.
"T-tadi d-Dinda mengetuk pintu tapi tidak ada jawaban, j-jadi Dinda masuk untuk mengecek a-apa Tuan ada di dalam atau t-tidak." dengan susah payah Dinda menyelesaikan ucapannya, dia takut nanti Eric salah paham kenapa dia masuk ke kamar Eric sembarangan.
"Keluar kau."perintah Eric.
Baru Dinda ingin membuka pintu sudah ada Mama Eric di depannya, sontak membuat Dinda kaget.
"Eh Mama."
"Ericnya mana? Mama tungguin kalian di bawah tapi kalian nggak muncul-muncul." dari tadi Mama dan Papa Eric sudah menunggu sangat lama di bawah, bahkan mamanya pun sudah berkeliling-keliling di area rumah itu.
"Ee.., itu mah."Dinda menjawab gugup pertanyaan mertuanya.
"Maa, maaf Eric tadi habis olahraga, jadi agak lama Dinda manggil Eric." melihat Mamanya datang Eric berjalan menuju wanita yang telah melahirkannya itu, jangan lupa dia merangkul pinggang kecil Dinda di depan mamanya berhasil mengagetkan empunya.
"Mama tunggu Eric di bawa saja, Eric mau mandi dulu sebentar."Mamanya hanya mengangguk menanggapi perintah anaknya.
Setelah Bu' Hasna berbalik ingin pergi, Dinda berniat ingin menyusul, tapi Eric mencekal tangannya.
"Aku belum selesai bicara." cegah Eric.
"Masuk aku ingin mengatakan sesuatu."Dinda hanya menuruti apa yang disuruhkan oleh Eric.
"Dengar jangan sampai kau mengadu pada Mama ataupun Papa tentang semua peraturan yang ada di rumah ini, kalau aku tau kau mengadu,"Eric menunduk mensejajarkan wajahnya dengan Dinda yang menunduk.
__ADS_1
"Kau akan mendapat hukum yang akan berat. Mengerti?"
"Mengerti Tuan." Eric menunjuk pintu sebagai isyarat Dinda keluar dari kamar.
Saat Dinda sampai ke bawah dia menemukan Mama dan Papa Eric sedang bersantai di ruang tamu.
"Ma , Pa!" sapa Dinda yang langsung duduk di samping mamanya.
"Ehh, kamu sendiri? Eric mana?"tanya mama.
"mas Eric baru mandi Ma, jadi Dinda duluan saja" jawab Dinda.
Mamanya mengangguk menanggapi jawaban Dinda.
"Bagaimana nak tinggal di sini, kamu betahkan?"giliran papanya bertanya .
"Alhamdulillah, baik Pa, Dinda betah kok tinggal di sini."jawab Dinda bohong, tidak mungkin juga dia mengatakan yang sebenarnya, bisa-bisa dia akan di hukum nanti.
"Eric memperlakukan mu dengan baik kan sayang, dia tidak kasar atau yang lainnya kan?" mama Eric terus saja melayangkan pertanyaan yang tentu saja dijawab Dinda dengan bohong.
Eric sudah selesai mandi dan turun ke bawah , Eric dapat mendengar pertanyaan mamanya pada Dinda tadi. Jadi Eric menghentikan langkahnya untuk mendengar jawaban gadis itu.
"Mas Eric baik Ma, dia selalu memperlakukan Dinda dengan sangat baik." jawab Dinda yang membuat Eric lega.
"Kamu sering lembur di kantor?"tanya papanya.
"Iyya pa, Eric masih mengerjakan proyek dengan klien dari Singapura."jawab Eric.
Lama berbincang bersama, tanpa mereka sadari waktu semakin berjalan hingga menunjukan pukul 11.30.
"Eric, jaga Dinda baik-baik yah perlakukan dengan baik."pesan mamanya sebelum naik ke mobil, yang hanya di angguki oleh Eric, sedangkan Dinda hanya senyum menanggapi permintaan mertuanya itu yang sangat mustahil bagi Eric.
Setelah mobil itu benar-benar menghilang dari hadapan Eric dan Dinda, Eric menarik tangan Dinda dengan kasar membawanya masuk ke dalam rumah. Pemandangan itu tidak luput dari tatapan Bi' sum dan mang Diman , Bi' sum ingin menolong tapi dia juga takut dengan Tuan rumah itu.
Eric langsung menghempaskan tubuh Dinda di atas kasur kecil nan tipis di hadapannya, dahi Dinda sakit karena terbentur dinding hingga berdarah, Eric tidak menghiraukan riingisan Dinda yang kesakitan.
Flashback on.
"Dinda kamu masuk kuliah hanya berapa hari dalam se-pekan?"tanya papa Eric
__ADS_1
"Hanya tiga kali Pa."
"Baiklah Papa akan mengurus surat izin mu di kampus."
"Kenapa harus mengurus surat izin pa? kita mau ke mana?" tanya Dinda yang tidak tahu apa-apa.
"Kalian berdua akan pergi honeymoon satu pekan di Bali, Papa nggak beliin tiket yang ke luar negeri karena, takutnya ada pekerjaan mendadak kalian yang tidak bisa tertunda, jadinya papa sama Mama pilihnya yang dekat-dekat saja." penuturan papanya itu sangat membuat Eric dan Dinda kaget bukan main.
"Dinda kamu setuju kan sayang buat pergi honeymoon? Mama nggak sabar pengen punya cucu.Seekarang mama Eric sangat bersemangat walau bukan dia yang akan honeymoon.
"Iyya Ma Dinda setuju kok." jawaban Dinda itu sudah menyalakan api dalam hati Eric , Eric benar-benar ingin memberikan pelajaran pada gadis itu.
"Eric nggak setuju Ma , La , Eric ada banyak pekerjaan yang tidak bisa di tinggalkan."tolak Eric mentah-mentah dengan permintaan orang tuanya .
"kan ada Rian sementara yang bisa menggantikan kamu, lagian nggak akan lama juga kok, kan cuma satu pekan."solusi papanya yang tentu saja Eric tetap menolaknya , dia tidak tahu apa yang akan dilakukan dengan gadis yang di bencinya itu selama satu pekan berduaan.
"Eric pergilah nak , lagian honeymoon itu bukan setiap bulan juga kok perginya. Setelah pulang dari honeymoon kamu boleh bekerja lagi kok, cuma satu pekan Sayang , yahh." Mamanya sudah membujuk Eric , dan seperti biasa Eric tidak bisa menolak permintaan wanita yang melahirkannya itu, sangat sulit tuk menolak.
"Hhh, Iyya Eric akan usahakan pergi."akhirnya Eric mengalah juga.
"Ya sudah besok jam 10 kalian akan berangkat yahh."
"Iyya pa." jawab pasangan suami istri yang baru berumur 5 hari itu.
Flashback off.
"Kau tahu kesalahan mu dimana hah?"Dinda hanya bisa menggeleng sambil memegang dahinya yang ternyata mengeluarkan sedikit darah.
"Kenapa kau menerima tawaran papa dengan mama untuk honeymoon? kau taukan jika hanya melihat mu saja aku sangat jijik apalagi harus tinggal dengan mu di hotel selama seminggu, apa kau tidak punya rasa malu?"Eric bertanya sambil mendirikan Dinda yang terduduk tadi dengan cara menarik sebelah lengan Dinda, sungguh Dinda hampir pingsan akibat benturan di kepalanya itu.
"Dinda hanya tidak ingin mama dan papa kecewa jika kita menolaknya tuan."jawab Dinda dengan badan yang sudah gemetar hebat sambil berderai air mata.
"Hah, sepertinya kau memanfaatkan ini demi menikmati fasilitas yang akan diberikan oleh papa kan? mengaku saja kau jika ingin bersenang-senang, dasar manusia tidak tahu malu, bisanya cuman menikmati fasilitas orang kaya saja!" Dinda sudah tidak sanggup menahan bobot tubuhnya sendiri yang mulai melemah , hingga penglihatannya mulai gelap.
*****
like , coment and vote guyss 🖤❤️
***hai reader's jangan lupa berikan masukan yahh di kolom komentar .
__ADS_1
I hope you enjoy read this novel.
love you guyss byee***..