Milik CEO Muda

Milik CEO Muda
Seperti Ayah dan Anak.


__ADS_3

Happy Reading!!!


"Kenapa?" Dinda bertanya kenapa tiba-tiba Eric memintanya berhenti memanggilnya tuan?


"Ikuti saja perintah ku, tidak usah banyak tanya." Eric membisik Dinda dengan jarak yang sangat dekat, hidung mancungnya hampir menyentuh pipi Dinda.


"Sudah kau lanjut tidur saja lagi, perjalanan masih jauh." saran Eric yang mengubah nadanya menjadi sangat lembut.


"Nanti saja Tu.., ehh Mas." Eric sudah melotot mendengar Dinda hampir memanggilnya dengan sebutan tuan lagi.


"Kau juga tidur saja tidak usah selalu menatap ke sini!" Eric membentak pria itu lagi.


"Kalau kau sampai mencuri pandang ke sini lagi, kau akan kembali ke rumahmu tanpa kedua bola matamu itu."sambungnya yang sudah mengecilkan volume suaranya.


Dinda kembali melanjutkan tidurnya, tapi kali ini dia menyandarkan kepalanya di jendela pesawat, terlihat sangat tidak nyaman.


Melihat Dinda kembali tertidur, Eric menaikkan bagian bawah kursi yang berfungsi untuk menaikkan kaki penumpang ketika ingin tertidur. Eric menatap kaki putih mulus Dinda yang terpampang nyata di depannya, Dinda memang menggunakan rok sebatas lututnya.


Fasilitas di pesawat yang dipesan Eric itu memang kualitas yang lumayan tinggi, biasanya digunakan para orang-orang terpandang saja. Eric baru sadar bagaimana jika dia memesan kursi yang terpisah dari Dinda, mungkin banyak mata pria yang akan selalu memandanginya.


Eric memperbaiki rok yang Dinda kenakan, karena roknya tersingkup naik ke atas sehingga hampir memperlihatkan setengah pahanya. Eric menutupnya dengan selimut sambil menelan ludah melihatnya.


"Lihat ke depan, kau lupa kata-kataku tadi hah?"seakan-akan Eric mempunyai mata di samping kepalanya, karena dapat mengetahui apa yg pria itu lakukan.


"Om ini kenapa selalu marah-marah sih? lagian aku melihat gadis itu bukan Om , ngapain Om yang sewot?" kesabaran pria itu sudah habis karena selalu di tegur oleh Eric.


"Heh, tidak usah menyebutnya gadis, dia itu istriku, mengerti!!" ini pertama kalinya Eric mengakui Dinda sebagai istrinya, tapi Dinda tidak mendengar apa yang Eric katakan tadi.


"Hahaha.., tidak mungkin Om Suaminya, kalian terlihat seperti Kakak Adik.., eh maksudku Ayah dan Anak." pria muda itu meledek Eric sambil tertawa.


"Terserah kau jika tidak percaya." Eric berbalik mengambil kepala Dinda di letakkan kembali di kepalanya dan jangan lupa tangan Dinda kembali di genggamnya.


Perjalanan dari Bali ke Jakarta dilewati dengan penuh drama yang diciptakan Eric dan pria muda itu, hingga akhirnya Eric dan Dinda sudah lending di bandara Internasional Soekarno-Hatta.


Saat Eric dan Dinda ingin mengambil koper mereka, pria yang di pesawat tadi melihat masih ada cela di samping Dinda, ia mengambil kesempatan berdiri di samping Dinda namun aksinya ditangkap lagi oleh Eric, melihat itu Eric menarik Dinda ke depannya membuat pria itu mendengus kesal.


Eric memberikan tatapan sinis pada pria itu sambil tersenyum mengejek.


"Dasar Om-om tua bangka!!"ucap pria muda itu dalam hati dengan mengepalkan tangannya.


Melihat pria muda itu kesal, Eric memajukan badannya mengambil kopernya, terlihat seperti memeluk Dinda dari belakang, Eric menoleh ke samping kanan memastikan pria itu tidak baik-baik saja.


"Apa??"Eric mengucapkannya tanpa suara seperti meledek pria itu.


Pria muda itu mengambil kopernya lalu melangkah pergi dengan kesal.

__ADS_1


"Tuan itu kopernya satu lagi." Dinda berbalik mengatakannya pada Eric, Eric sendiri terkejut oleh gerakan Dinda karena gerakannya tadi membuat mereka semakin lebih dekat dari sebelumnya.


"Ekhm, ya sudah kau ambil yang itu, aku yang bawa ini." Eric menetralkan kembali pikiran dan perasaannya yang tak karuan dengan melangkah mundur lalu berbalik memunggungi Dinda.


"Sudah tuan." Dinda muncul dari belakang Eric.


"Ayo mobilnya sudah ada." Eric sudah memanggil sopir yang selalu mengantarnya ke kantor untuk menjemputnya.


"Kau telfon Mama, katakan kalau kita sudah sampai." perintah Eric ketika sudah sampai di rumah.


"Iyya tuan."


Tuut... tuut....tuut...


"Halo assalamualaikum Maa?"


"Wa'alaikumsalam, kalian sudah sampai?"tanya mama Eric.


"Iyya ma, kita baru saja sampai di rumah."ucap Dinda.


"Kalian istirahat saja dulu, pasti sangat lelahkan?"


"Iya Ma, Dinda tutup dulu telfonnya kalau begitu, assalamualaikum."


Selesai bicara dengan mertuanya, Dinda menelfon ibu dan bapaknya di panti untuk mengabarinya, dia tidak ingin lupa lagi seperti saat dia berangkat ke Bali, sampai ibunya yang meneleponnya.


"Halo, Bu?"


"Halo, Dinda kamu masih di Bali?"tanya Bu Tini.


"Dinda sudah di Jakarta Bu' ini baru aja Dinda sampe di rumah."


"Oh, Ibu kira kamu masih di Bali."


"Udah dulu ya Bu', Dinda emang mau ngabarin ibu sama yang lainnya."


"Iyya nak, kamu istirahat saja."


"Assalamualaikum Bu."


"Wa'alaikumsalam Nak."


Setelah selesai Dinda kembali ke ruang tamu untuk memberikan segelas air putih untuk Eric.


"Ini Tuan."

__ADS_1


"Tuan jika tidak adalagi yang mau tuan suruhkan, Dinda mau ke kamar dulu."pamit Dinda.


"Eehmm" Eric hanya berdehem menanggapinya.


Saat Dinda mengambil tas ranselnya dan satu kopernya, Eric melihatnya dari belakang, Eric terbiasa dengan Dinda dalam satu kamar pasti akan aneh jika dia masuk ke kamar tapi sendiri.


Eric juga sidah masuk ke dalam kamarnya dia langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur tanpa membuka sepatunya. Dia merasa aneh tinggal sendiri di kamarnya, biasanya saat di hotel Dinda akan mengajaknya bicara walau hanya sekali-kali.


Dert...dert...dert...


Eric mengambil ponsel di saku celananya, ternyata Rian yang meneleponnya.


"Halo?" Rian menelfon Eric untuk menanyakan keberadaannya sekarang.


"Ehmm, kenapa nelfon malam-malam?"


"Eeh udah sampe belum?"


"Udah baru aja sampainya , cuman mau nanyain itu?" tanya Eric malas mengangkat telfon, tapi melihat nama Rian di layar ponselnya dia tetap mengangkatnya, takutnya ada berita yang penting.


"Apasih jutek banget, gue mau ke rumah lu besok pagi?" karena besok sudah hari weekend Rian berencana mau ke rumah Eric untuk meminta tanda tangannya untuk beberapa berkas penting.


"Mau ngapain ke sini?"Eric bangkit dari tidurnya.


"Mau minta tanda tangan lu, buat berkas proyek"


"Oh, ya udah ke sini aja."


"Eehh, btw lu duduk sama Dinda atau nggak pas di pesawat?" tanya Rian yang mulai memancing amarah Eric karena teringat pada pria di sampingnya.


"Iyya terpaksa gua duduk deket sama dia." ucapnya bohong.


"Yakin... terpaksa??"


"Yakinlah."jawab Eric lagi.


"Seandainya lu nggak duduk sama Dinda, udah deh gue yakin banyak banget yang akan ngegodain bini lu di pesawat, yahh secara Dinda kan masih muda dan poin terpenting adalah..." Rian menggantung ucapannya membuat Eric penasaran.


"Apa?"


"Istri lu cantik."Rian mengucapkannya dengan berbisik dan langsung mematikan ponselnya.


*****


Like, coment and vote guyss.🖤❤️

__ADS_1


__ADS_2