Milik CEO Muda

Milik CEO Muda
Mama Sakit.


__ADS_3

"Ke ruangan gua sekarang!" begitulah isi chat Eric pada Rian.


Ting...


Rian melihat ponselnya baru saja mendapat notifikasi. Ia membuka isi chat Eric, saat Eric memintanya ke ruangan dia juga langsung bergegas ke ruangan sahabatnya itu.


"Ada apa?" Rian sudah ada di dalam ruangan Eric, dia langsung duduk di kursi depan meja kebesaran Eric.


"Gua mau bicara hal penting." ucap Eric dal mode serius.


"Apa?" Rian memajukan badannya melihat Eric tampak sangat serius.


"Gua mau, saat Dinda melamar magang di sini, dia langsung keterima." ucap Eric to the point.


"Ohh, pantas serius, ternya soal istri." goda Rian jahil.


"Bisa nggak usah sebut-sebut istri?"


"Emang Dindakan istri lu, bukan istri gua." Rian mulai ceplas ceplos.


"Udah ikutin aja perintah gua."


"Emang kapan Dinda mau lamar kerja?" tanya Rian.


"Belum tahu, beberapa hari yang lalu gua ngelihat surat lamaran kerjanya, ternya perusahaan yang dia tuju di sini."


"Emang dia nggak tahu gitu, kalau perusahaan yang dia tuju itu perusahaan lu?" Rian kira awalnya Eric yang meminta Dinda kerja di perusahaan ini, tapi ternyata Dinda juga tidak tahu perusahaan Eric.


"Enggaklah."


"Miris banget, istrinya nggak tahu apa-apa tentang suaminya." ucap Rian dalam hati.


"Ric, lu masih belum tinggal sekamar sama Dinda?" tanya Rian tiba-tiba.


"Nggak."


"Lu masih perlakuin Dinda kayak art?"


"Iyya, pasti."


"Lu beneran nggak cinta sama Dinda?"


"Nggak!"


"Belum ada perasaan apa-apa yang tumbuh?"


"Nggak ada!"


Setiap pertanyaan Rian selalu dijawab singkat dan bertolak belakang dengan keadaan sesungguhnya di hati Eric, hanya saja Eric masih belum menyadari dan terlalu gengsi untuk mengakuinya.


"Kalau sampai Dinda lelah sama lu, lalu dia minta cerai dari lu bagaimana?" Rian mulai memancing Eric untuk mengungkapkan perasaannya.


Tidak ada jawaban yang ditunggu Rian, Eric terdiam dengan mulut terbungkam rapat.

__ADS_1


"Kenapa diam?"


Belum ada jawaban yang keluar dari mulut Eric.


"Takut Dinda beneran minta cerai yah?"


"Udah sana keluar, kerja nggak usah bahas yang aneh-aneh."


*****


"Dinda, kamu udah pernah pergi melamar kerja belum di kantor yang kamu tuju?" tanya Sima sang mahasiswi program pertukaran mahasiswi dari universitas di Bogor.


"Belum, kamu udah belum?" tanya Dinda kembali.


"Belum, nanti kita bareng yahh." ajak Sima, sambil merangkul bahu Dinda.


"Ok. Tapi kantor yang kita tuju sama nggak?"


"Kamu emang lamar dimana?"


"Pratama Group."


"Ish, perusahaan yang kita tuju sama kok! Kamu ini buat kaget aja." ucap Sima yang sudah melipat tangannya di dada.


"Hehehe, yah siapa tahu tempatnya beda, kan sia-sia kalau barengan tapi tempatnya beda." bela Dinda.


"Tapi kamu, mau pindah lagi ke Bogor kalau sudah di terima?" Dinda merasa sedih mengingat jika Sima adalah mahasiswi program pertukaran mahasiswi. Ini baru pertama kali Dinda dekat dengan seseorang di kampus, biasanya banyak yang menghindari Dinda, karena status Dinda yang kurang mampu.


"Aku ada kabar baik!" ucap Sima tiba-tiba.


"Aku udah urus surat pindahku dari kampus lamaku!"


"Hah? Maksud kamu, aku nggak ngerti Sim." ucap Dinda dalam mode laload.


"Ihh kamu ini, aku mau pindah kampus, bukan pertukaran lagi tapi, PINDAH." Sima menekan kata pindah tepat di depan Dinda.


"Hah? Yang bener Sim?" refleks Dinda membuatkan matanya mendengar kabar itu.


"Iyya dong demi kamu, aku pindah, kalau di kampus lama, aku nggak punya teman tapi di sinikan ada kamu." posisi Dinda dan Sima sama-sama tidak mempunyai teman di kampus, mereka selalu dikatakan kutu buku oleh teman-temannya, karena jika waktu istirahat bukannya nongkrong malah ke perpustakaan.


"Makasihh, aku baru punya teman yang sangat dekat sekarang."


Mereka saling melempar senyum yang manisnya satu sama lain.


*****


"Mama mau makan apa?" ucap pak Hasan mengelus kepala istrinya yang sedang sakit.


Setelah sholat subuh, Mama Eric melanjutkan kembali tidurnya, hal itu sangat aneh bagi Pak Hasan, ini baru pertama kali dia melihat istrinya kembali tertidur setelah sholat subuh, biasanya setelah sholat subuh ia langsung ke dapur untuk masak sarapan.


"Sepertinya Papa harus panggil dokter Mila." Pak Hasan meninggalkan istrinya sebentar.


"Halo?"

__ADS_1


"Halo."


"Saya Pak Hasan, bisa nanti ke rumah saya, istri saya sedang sakit."


"Oh, Iyya pak nanti saya jadwalkan dokter Mila ke rumah bapak. "


"Kalau bisa secepatnya yah, Terima kasih."


Pak Hasan sudah menutup telponnya, lalu kembali masuk ke dalam kamar.


"Tunggu, sebentar lagi dokter Mila akan datang." pak Hasan memijat kepala istrinya yang mengeluh masih berdenyut.


Saat menjelang magrib, pak Hasan sudah menelfon Eric untuk mengabari jika Mamanya sedang sakit. Kata Eric dia akan ke rumah sebentar menjemput Dinda, karena Dinda langsung pulang setelah dari toko roti.


*****


Eric baru saja sampai di rumah dan langsung masuk sambil memanggil Dinda dengan berteriak.


"Kau sudah siap?" teriak Eric dari lantai atas.


"Sudah Tuan." Dinda membawa hanya membawa pakaian beberapa lembar di dalam tas ranselnya.


"Matikan semua lampu, lalu keluar." perintah Eric lalu mulai melangkah keluar rumah.


"Ehh, tunggu Tuan kita sama-sama keluar." Dinda mencegah Eric yang akan keluar, tentu saja dia takut mematikan lampu sendiri lalu keluar rumah.


"Ck, yah sudah biar aku saja, kalau kau malah lama." Eric berinisiatif sendiri yang melakukannya, kalau menunggu Dinda yang penakut pasti akan lama.


"Ayo!" Eric menarik tangan Dinda agar berjalan lebih cepat.


Dalam perjalanan, Eric begitu fokus menyetir, dia sangat khawatir dengan kondisi Mamanya.


"Tuan, pelan-pelan saja tidak usah ngebut-ngebut, yang penting kita selamat dulu." Eric menyetir sangat kencang, membuat Dinda mencengkeram kuat ujung bajunya.


Kurang lebih satu jam mereka sudah sampai, Dinda hanya menghela nafasnya saat sudah melihat rumah yang di tujunya sudah di depan mata.


"Bagaimana keadaan Mama Pah?" Tanya Eric sudah berada dalam kamar orang tuanya, sedangkan Dinda hanya mengekor di belakang Eric.


"Dokter tadi bilang kalau Mama sudah mulai membaik." jawab pak Hasan.


"Dari tadi Mama tidur?" kini giliran Dinda yang bertanya.


"Baru aja tidurnya."


"Kalian ke kamar saja dulu istirahat, nanti kalau Mama sudah bangun baru ke sini."


"Iyya Pah." Eric meninggalkan kamar orang tuanya begitu juga dengan Dinda.


"Tuan, Dinda tidur di sini juga?" tanya Dinda sudah berada dalam kamar bersama Eric.


"Tentu saja, kalau kau di kamar lain bisa-bisa Mama dan Papa curiga nanti." ucap Eric sambil membuka jasnya, disusul kemejanya.


Melihat Eric membuka pakaiannya, Dinda langsung membalikkan badannya menghadap ke pintu.

__ADS_1


*****


Like, coment, beri gift dan vote guyss 🖤❤️


__ADS_2