Milik CEO Muda

Milik CEO Muda
Pekerjaan Baru Dinda.


__ADS_3

Pagi ini Dinda memasak apa yang sudah di ajarkan Mama Eric padanya kemarin. Dinda memasak pancake dengan topping madu dan roti bakar isi keju. Untuk minumnya susu coklat panas kesukaan Eric.


Semua menu sarapan sudah siap, Dinda naik ke atas untuk memanggil Eric sarapan, tapi pas sampai di depan pintu kamar, Dinda berpikir apakah Eric tidak akan marah jika di panggil makan? Pertanyaan itu terus berputar di pikiran Dinda sampai-sampai dia tidak sadar jika pintu di depannya sudah terbuka lebar.


"Apa yang kau lakukan di depan sini?"tanya Eric tanpa ekspresi serta nada dinginnya.


"Ehh Mas."Dinda sontak kaget dengan suara bariton Eric.


"Maaf maksudnya Tuan." Dinda baru sadar jika dia memanggil Eric barusan dengan kata Mas padahal Eric sudah berkata semalam jika dia membenci sebutan itu.


"Sarapan sudah siap di bawah Tuan." sambung Dinda yang lagi-lagi tetap melihat lantai marmer di bawahnya.


Eric berlalu di depan Dinda setelah di panggil Dinda barusan. Eric memang sudah lengkap dengan pakaian kantornya sejak tiga puluh menit yang lalu, tapi dia memeriksa kembali berkas yang dikirim Rian semalam.


Melihat makanan didepannya, Eric langsung minum susu dan makan pancake di depannya. Masakan Dinda tidak terlalu buruk menurut Eric, meski ini pertama kalinya Dinda membuat masakan itu.


Kantor Pratama Group.


Eric memasuki kantor, saat ia melewati lobby utama semua karyawan menyapa CEO itu.


"Selamat pagi Pak." sapa para karyawan tapi Eric jangankan menyapa kembali, melirik saja tidak.


"Kenapa lama sekali sih Ric?" ucap Rian yang sudah duduk di dalam ruangan Eric walau yang punya ruangan tidak ada, berhasil membuat Eric kaget sangat terkejut.


"Lu bener kayak setan tau nggak , masuk ke ruangan orang yang pemiliknya nggak ada." Eric benar-benar emosi di buat oleh manusia di depannya. Eric melempar bantal yang ada di dekatnya ke wajah Rian.


"Yaa eleh.., biasanya juga gitu." bela Rian yang di bilangi setan oleh sahabatnya.


"Makanya hentikan kebiasaan lu bego'."


"Iya iya bakal di ilangin kalau bisa, tapi kayaknya nggak bisa deh Ric." memang Rian tipikal orang yang susah serius jika sudah dengan orang yang sudah dekat.


"Ayo cepat, satu jam lagi kita ada meeting nih."ajak Rian yang melihat Eric sudah duduk di singgasananya.


"Masih ada satu jam , masih lama."tolak Eric.


Rian satu-satunya orang yang di kantor yang mengetahui tentang pernikahan Eric, hal itu tentu saja membuatnya penasaran dengan malam pertama sahabatnya itu, maklum otak Rian yang me*um itu sudah tidak terkontrol dengan rasa keponya.


"Eeh Eric gue mau nanya sesuatu yang penting ke lu."ucap Rian yang mendekati meja Eric.

__ADS_1


"Ehh apa?"tanya Eric tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop di depannya.


"Malam pertamanya gimana rasanya??"tanya Rian dengan menaik-naikkan alisnya.


"Nggak ada."jawab Eric cuek.


"Yang bener, masa Iyya istri cantik di anggurin sih, tahan banget lu."ucap Rian yang sama sekali tidak percaya.


"Jangan membahas gadis itu, aku tidak menyukainya."


"Loh itukan istri lu, masa Iyya lu benci sih."


"Karena gue nggak suka liat di depan gue, gue cuma terpaksa menikahi gadis itu karena permintaan mama, selebihnya gue nggak suka" Eric sangat membenci Dinda saat ketemu di hotel saat itu, karena dia menerima perjodohan ini.


"Jadi lu mau ngejalanin pernikahan tanpa cinta?"Rian mulai penasaran dengan cerita Eric.


"Gue bakal cari cara agar gadis itu pergi dari rumah tanpa gue usir , supaya mama nggak suka sama dia." rencana Eric untuk mengusir Dinda tanpa paksaan sudah dimulai sejak mereka pindah ke rumah baru, karena itulah Eric ingin cepat-cepat pindah.


"Caranya?"


"Dengan menyiksanya di rumah , seperti menjadikannya pembantu."jawab Eric simpel.


"Hah yakin nggak bakalan jatuh cinta?"Rian melihat Eric dengan senyuman


Panti Asuhan.


"Bu' udah telfon Dinda hari ini nggak? sejak Dinda menikah kita belum pernah menelfon untuk menanyakan kabar." sejak semalam Pak Bahar memang ingin menelfon Dinda karena adik-adiknya di panti merindukan kakaknya itu. Mereka selalu menanyakan kabar Dinda dan kapan Dinda pulang.


"Belum pak , ini ibu baru ingin meneleponnya." sambil pergi mengambil ponsel di atas meja.


Tidak butuh waktu banyak untuk Dinda mengangkat telpon, kerena Dinda sekarang memang mengerjakan tugas kuliahnya di kamar.


"Halo , assalamualaikum Nak."


"Wa'alaikumsalam Bu'." jawab Dinda kegirangan


"Nak, kamu apa kabar ? baik-baik sajakan? mereka memperlakukan mu dengan baik kan?" Bu Tini menyerahkan Dinda dengan berbagai pertanyaan.


"Bu' pertanyaannya satu-satu dong Bu'."Dinda tertawa mendengar pertanyaan Bu Tini barusan

__ADS_1


"Astagfirullah , maaf Ibu' terlalu bersemangat."


"Apa kabar kamu di sana?"


"Dinda baik-baik saja Bu, semaunya juga baik pada Dinda." jawab Dinda.


"Tapi tidak dengan suami Dinda Bu'." kali ini Dinda mengucapkannya dalam hati, dia tidak mau Ibunya khawatir dan memikirkan masalah ini.


"Syukurlah Nak, adik-adik kamu di sini sudah sangat kangen sama kamu, mereka selalu menanyakan kapan kamu ke sini."


"Dinda juga kangen sama mereka Bu, oh Iyya kemana mereka?" tanya Dinda.


"Mereka kan ke sekolah, dari tadi mereka berangkat." jawab Bu Tini.


"Oh Iyya ya Bu', Dinda sampai lupa kalau mereka ke sekolah kalau jam segini'."


"Ya sudah Ibu tutup dulu yah telfonnya, Ibu mau memasak untuk makan siang dulu." Bu Tini menyudahi panggilannya dengan mengucap salam di akhir panggilan.


Setelah panggilan telepon selesai, Dinda juga keluar kamar untuk melanjutkan bersih-bersih, mulai menyapu, mengepel dan pekerjaan rumah yang lain. Sebelum pergi ke kantor tadi Eric sudah memberikan list pekerjaan yang harus di kerjakan Dinda di rumah.


flashback on.


Eric selesai sarapan mendatangi Dinda di dapur yang sedang mencuci piring.


"Hei, setelah aku pulang aku tidak mau melihat debu sedikit pun di rumah ini."Eric mengejutkan Dinda yang mencuci piring.


"Iyya Tuan."Dinda menjawab perintah dari pria yang ber-status suaminya itu.


"Semua pekerjaan rumah di sini kau yang harus melakukannya, meskipun ada Bi' Sum dan Mang Diman. Tugas Bi Sum hanya mengontrol pekerjaan mu dan Mang Diman hanya akan membuka pagar jika ada tamu, di sore hari mereka akan pulang." Eric menjelaskan dengan panjang lebar tugas yang harus dikerjakan Dinda sendiri.


"Kau tinggal di sini makan, minum, memakai air dan listrik , tentu saja itu semua membutuhkan uang bukan? tidak ada yang gratis sekarang, jadi kau harus membayarnya dengan mengerjakan semua pekerjaan rumah di sini."sambung Eric yang maju mendekati Dinda.


"Tuan , tapi saya ada kuliah juga."ucap Dinda.


"Maka dari itu pintar-pintarlah mengatur waktu, ingat jika kau ini mahasiswa sekaligus pembantu, jadi aturlah waktu sebaik mungkin."ucap Eric yang menatap Dinda mulai ujung kaki hingga rambut.


"Menjijikkan."ucap Eric melangkah pergi meninggalkan Dinda di dapur.


flashback off.

__ADS_1


*****


like, coment and vote guyss 🖤❤️


__ADS_2